Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
82. Kesempatan kedua.


__ADS_3

"Anyeeeee.." Mama Dinda histeris sampai pingsan. Ayah Rama mengusap dadanya merasakan kepahitan yang sama.


"Uhuukk.."


"Sakit sekali Bang" Anye menggelinjang kesakitan.


"Alhamdulillah Ya Allah.." ucap syukur Bang Rinto mengalahkan segala kesenangan yang ada.


Dokter Wira secepatnya menangani Anye kembali bersamaan dengan bidan yang selesai menangani persalinan Anye.


Rinto meluruskan perlahan kaki Anye setelah mendapatkan perawatan. Rinto menciumi tangan Anye, ia sungguh takut kehilangan istrinya. Baru kali ini Anye melihat suaminya acak-acakan dan tampak berantakan.


"Pak.. di adzani dulu bayinya!!" kata seorang perawat.


Rinto bergegas mengambil air wudhu.


...


Rinto menerima bayi kecil itu. Beratnya hanya 2 kilo dan panjangnya masih 44 cm. Air mata itu kembali meleleh saat melihat putranya menggeliat kecil.


Suara adzan mengalun merdu membuat bayi kecil itu tenang dalam dekapan papanya.


"Maaf Bang, anak kita laki-laki"


"Abang sudah bilang, mau laki ataupun perempuan.. Abang tetap sayang. Terima kasih segala perjuanganmu yang rela melahirkan anak Abang" ucapnya sendu.


Tak berapa lama, pijakan Rinto tidak seimbang.. dengan sigap Brian mengambil bayi mungil itu agar segera masuk di inkubator sedangkan Gathan menyangga Abangnya yang kini benar-benar tumbang. Tubuhnya demam tinggi.


-_-_-_-


"Kenapa Bang Rinto belum sadar ya ayah?" tanya Anye saat melirik suaminya yang belum sadar juga.


"Rinto pasti syok sekali. Kamu sama saja dengan Mamamu, tidak tahan sakit. Ayah nggak bisa membayangkan bagaimana kalau tadi hal buruk benar-benar terjadi. Rinto pun mungkin akan ikut mati mendadak. Minimal gila" jawab Ayah Rama saat menyadari cinta Rinto untuk putrinya begitu besar.


Rinto menangis terisak dalam tidurnya, panasnya masih tinggi.


"Bagaimana cara menyadarkan Rinto" gumam Ayah Rama.


"Bang Gathan.. tolong bawa Anye dekat sama Bang Rinto..!!"


"Tapi lebam di badanmu?"


"Anye kuat Bang. Tolong..!!" pinta Anye.


Tak menunggu waktu lama Gathan mengangkat adiknya perlahan untuk dekat dengan Bang Rinto.


Anye sedikit membungkuk lalu mengecup bibir Bang Rinto.


"Abang.. cepat bangun..!! Kalau Abang nggak mau bangun.. Anye mau pergi ke tempat yang Abang nggak suka" bisik Anye setengah mengancam.


Perlahan mata Bang Rinto merespon. Sungguh kata-kata istrinya langsung menggoyahkan hati.


Di amatinya perlahan saat Bang Rinto mulai membuka mata.


"Prankmu keterlaluan sayang" suara Bang Rinto masih tercekat.


"Abang masih punya hutang sama Anye" kata Anye.


"Hutang apa?" tanya Bang Rinto tak kalah lemas.


"Cobek Hello Kitty Anye belum Abang ganti" jawab Anye.


"Laa Ilaha Illallah.. Mau berapa? Ukuran berapa?


"Pokoknya harus Hello Kitty "

__ADS_1


Tangan Bang Rinto meraba mencari ponselnya. Gathan pun menyerahkan ponsel milik Abangnya.


"Hallo Pot..!!" Bang Rinto menghubungi rekan seperjuangannya yang dinas tidak jauh dari puncak.


"Tolong belikan saya cobek.. bentuk Hello Kitty..!! Besar, sedang, kecil.. Angkut semua! Kirim pakai ekspedisi tecepat..!!!!" ucapnya lalu menutup sambungan telepon lalu memasukan ponsel itu ke saku bajunya.


"Sudah khan dek? Apalagi?" tanya Bang Rinto.


"Abang bilang sayang..!!" pinta Anye.


Bang Rinto bangkit perlahan dari posisinya. Ia menarik Anye ke dalam dekapannya.


"Abang sangat sayang sekali sama kamu" bisiknya di telinga Anye.


Anye merasa begitu nyaman dan tenang berada dalam dekapan sang suami. Perlahan Anye tidak kuat untuk berdiri karena tenaganya belum benar pulih.


Tak perduli dengan dirinya sendiri. Bang Rinto mencabut infusnya dan langsung mengangkat Anye kembali ke ranjang.


"Hoee.. Rin.. jangan ngawur..!!" Brian sampai melotot melihat Rinto yang tak peduli dengan dirinya sendiri.


"Jalan masih setengah tiang sudah berani cabut infus" tegur ayah Rama.


"Saya sudah sehat..!!" jawabnya tanpa peduli yang lain lagi.


Ponsel Bang Rinto berdering.. ada pesan singkat dari Alex.


Ijin Danki.. Ibu Wiza marah dan mengamuk akan menuju ke ruang rawat ibu, karena ibu menikamkan sangkur ke tubuh 'calon ayah tiri' Danki. Beliau sedang melapor pada pihak yang berwajib.


Wajah Bang Rinto langsung berubah murka. Tapi ia berusaha tidak menampakkan di hadapan Anye.


"Kamu tiduran sebentar ya sayang..!! Abang keluar sebentar. Ada yang mau laporan" senyum Bang Rinto sungguh menunjukan kalau pria itu begitu menyayangi Anye.


"Ia Bang. Jangan lama-lama ya..!!" Pinta Anye.


...


"Rinto.. mana perempuan laknat itu? Dia sudah menikam calon suami mama. Calon ayah tiri kamu"


"Siapa yang anda maksud? Asal anda tau.. yang menikam b******n itu saya.. bukan Anye..!!" kata Rinto. Meskipun tubuhnya jauh dari kata sehat, tapi ia berjanji pada diri sendiri, tidak akan pernah mempertemukan lagi ibunya itu dengan Anye.


"Nggak mungkin, dia sayang mama. Pasti wanita sial itu yang sudah merayunya. Kamu saja kena bujuk rayunya" teriak Mama Wiza.


"Heeh wanita sial.. keluar kamu jangan pura-pura lemah untuk menarik perhatian putraku...!!! Akan kupenjarakan kamu. Pergi kamu dan anakmu dari kehidupan putraku..!!!"


plaaakkk...


"Sudah cukup bicaramu.. Jangan ganggu rumah tangga saya lagi..!!!" bentak Bang Rinto.


"Rintoooo..!!!!!!! Kamu tampar mama demi membela p*****r sialan itu???? Surga ada di telapak kaki Mama" teriak Mama Wiza.


Bang Rinto hendak menampar mamanya lagi. Amarahnya sudah sampai di titik puncak. Semua anggota disana melihat Danki yang hampir tidak pernah kasar dengan perempuan bisa menjadi murka tanpa kendali. Ayah Rama pun tak kalah kaget melihat menantunya sampai ikut menghalangi dan menurunkan tangannya. Tapi terus terang Ibu Wiza memang sangat keterlaluan.


"Kau ingin kupanggil ibu tapi sikapmu tidak pernah mencerminkan sikap seorang ibu. Saya tetap berterima kasih karena kau telah menghadirkan saya ke dunia meskipun saya tidak pernah meminta di lahirkan dari rahim wanita sepertimu..!!!" ucap Rinto tak bisa lagi menahan rasa marahnya.


Ardi mengambil alih Rinto dari Rama.


"Jangan sekali-kali lagi kamu khilaf mengangkat tanganmu. Beliau tetap seorang wanita dan tetap seorang ibu" Ardi memeluk Rinto sebagai seorang anak.


"Dengarlah wahai seorang ibu. Anakmu yang durhaka ini sudah berani menamparmu. Biar surga dan neraka menjadi urusanku. Tapi saya juga seorang suami yang harus melindungi jiwa raga dunia akhirat istri saya yang saya minta di hadapan Allah" Rinto memalingkan wajahnya.


"Bawa wanita ini segera keluar dari kota ini atau masukan dia ke dalam sel tahanan" perintah Rinto tegas.


"Jika saya ataupun orang di sekitar saya melihat anda dan pria simpanan anda masih ada disini..!! Tidak ada ampun untuk kedua kali. Pergilah jika masih ingin ada kata ibu dari bibir saya..!!!!!"


Mama Wiza begitu ketakutan. Ia segera pergi mengikuti brankar Bobby yang sudah di dorong pindah dari rumah sakit itu entah kemana.

__ADS_1


Setelah Mama Wiza pergi, Rinto menubruk Papa Ardi. Tangisnya baru pecah, ia mengepalkan tangannya yang sempat menampar ibu kandungnya.


"Kenapa harus dia ibu kandungku?????? Aku tidak memintanya..!!!!!!!!!!!" teriak Rinto. Ia berantakan tak bisa memikirkan apapun selain kericuhan keluarganya.


Anye tertatih pelan di temani Gathan. Dari jauh tadi Anye melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan Bang Rinto dan ibunya.


Semua yang ada disana melihat ada ibu Danki dan mereka segera meninggalkan Anye berdua dengan Bang Rinto, memberi ruang untuk Danki dan istrinya.


Papa Ardi melepas pelukannya. Bang Rinto mulai menyadari Anye berdiri tak jauh darinya. Secepatnya ia menghapus air mata dan bersikap seolah semua biasa saja.


"Kenapa malam begini keluar dek. Banyak angin" tegur Bang Rinto berjalan dan meraih pinggang istrinya.


"Abang lama sekali.."


"Maaf.. Abang hanya merokok saja. Kamu khan nggak suka lihat Abang merokok" alasan Bang Rinto.


Satu persatu mereka meninggalkan Anye dan Bang Rinto tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Hanya Ayah Rama, Papa Ardi, Gathan dan Brian berjaga tak jauh dari sana.


Anye menunduk sakit saat terlalu lama berdiri.


"Aawwhh Abaang.. Sakit sekali" ucapnya saat merasakan kram otot perut dan terasa ada yang mengalir deras.


Bang Rinto langsung mengangkat Anye untuk duduk di sampingnya.


"Abang bilang tunggu sebentar, Kenapa takut sekali Abang tidak akan kembali lagi"


"Kenapa juga harus bicara seperti itu. Apa sayang Abang untuk Anye hanya bualan? Apa Anye terlalu anak-anak hingga Abang tidak mau berbagi perasaan karena usia Anye terlalu muda????" Anye menegur Bang Rinto yang mengambil duduk di sampingnya.


Bang Rinto langsung memeluk Anye.


"Jangan berpikir seperti itu..!!"


"Terus kenapa??" tanya Anye.


"Abang belum bisa menerima kehadiran ibu di hidup Abang, Apalagi kehadirannya sampai mencelakaimu dan Sen" jawab jujur Bang Rinto.


Anye merasakan suaminya gemetar, detak jantungnya tidak beraturan. Anye beralih mendekap Bang Rinto di dadanya. Benar saja, suaminya itu meringkuk dan mengepalkan tangan.


"Hari ini Abang telah menunjukan seburuk-buruknya Abang sebagai seorang pria, yang kasar, tak tau diri, tak punya rasa terima kasih, durhaka........"


"Sudahlah Abang.. Tidak ada yang bisa menilai sifat dan sikap sebagai seorang manusia. Seperti kata Abang. Biar nerakaku aku yang menanggungnya" Anye ikut menangis, tangannya mengusap untuk menenangkan sang suami dari emosi dan amarah.


"Masih maukah kamu menerima suami seperti Abang? Mempertaruhkan hidup dan matimu bersama pria kasar, kaku dan kejam tanpa belas kasihan? Abang hanya putra dari seorang psk jalanan yang tidak jelas asal usulnya. Entah dari b******n mana Abang terlahir. Abang di buang, di telantarkan tanpa air susu ibu. Dimana nuraninya saat dia membuang Abang" tanya Rinto.


"Anye tau Abang sudah sangat menahannya. Anye tau Abang kesakitan, tapi ingat Bang.. bayi terlahir dari takdirnya tanpa dosa. Abang tidak salah.. tapi jangan di ulang ya Bang. Jangan biarkan hati Abang sekeras karang. Gunakan tangan ini untuk membelai manja istrimu, gunakan perasaan untuk bicara dengan wanita mu dari hati ke hati.. dan pakailah akal pikirmu untuk membahagiakan Anye jika Anye layak mendapatkannya"


Sejadi-jadinya Bang Rinto menangis meraung menumpahkan segala perasaan hanya di hadapan istrinya hingga dalam hatinya begitu sesak.


"Istighfar Bang, seperti Abang selalu menguatkan dan membesarkan hati Anye"


Bang Rinto menarik nafasnya kemudian beristighfar.


"Astagfirullah hal adzim.. Laa Ilaha Illallah.."


Setelah beberapa saat akhirnya Bang Rinto sudah mampu menguasai diri.


"Abang menangis bukan karena dia, sejak Abang tau siapa dia.. hati ini terasa mati dan tidak bisa merasakan manisnya hidup. Wanita seperti dia hanya racun, sampah masyarakat" ucapnya meskipun terasa berat di dada.


"Tapi Abang menyadari.. Abang lebih baik mati jika kehilanganmu dalam hidup Abang, kamu bidadari di hati.. sehidup sesurganya Abang. Kamu berbeda.. mengetuk hati Abang hingga ke dasarnya, itu salah satu alasan mengapa Abang tidak bisa mengucapkan kata sayang.. Karena mencintaimu, menyayangimu.. tak bisa Abang jabarkan lagi bagaimana rasanya dan seberapa besarnya"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2