
"Apa-apaan kamu ini Righan. Kamu mau saya bertengkar sama Arnes macam apa. Lihat itu, gara-gara sepotong roti, saya nggak bisa masuk kamar" tegur Bang Zaldi.
"Tadinya saya kira say hello saja nggak apa-apa Bang. Mana saya tau Arnes ngamuk sampai seperti itu"
"Dasar racun lu" Bang Zaldi memasang tampang kesalnya, bagaimana tidak.. malam ini mungkin dirinya harus rela tidur di ruang tv karena Arnes tidak mau keluar kamar. Ia hanya berharap Arnes lapar atau ingin ke kamar mandi saja.
"Adikmu itu sekarang lagi di incar pejantan lain. Lalu bagaimana caramu menjaga Arnes?? Kamu peka atau tidak sudah memasukan adikmu ke mulut buaya???"
"Maaf Bang, saya nggak mikir sampai kesana" jawab jujur Bang Righan.
"Kamu ini memang minta di bantai..!!!!" bentak Bang Zaldi terbawa emosi.
"Ya Allah, kenapa aku bisa bertemu kakak ipar sebodoh ini..!!!" Bang Zaldi mengusap dadanya.
Tak lama pintu kamar Arnes terbuka. Baru saja Bang Zaldi berdiri, Arnes kembali menutup pintu saat melihat wajah suaminya.
"Tuh khan, apa kubilang. Kalau sudah begini... repot" Bang Zaldi kembali duduk. Ia memutar otak bagaimana caranya agar Arnes mau kembali bicara dengannya.
"Keluar Rig..!! Kamu harus bantu saya..!!!"
...
"Bang, jangan Bang..!! Abang boleh lakukan yang lain tapi tolong jangan ini..!!" kata Bang Righan.
"Tapi hanya ini yang bisa cepat buat dia keluar dan pastinya mau bicara sama saya"
"Aahh sudahlah terserah Abang. Yang jelas saya sudah ingatkan" ucap Bang Righan tidak yakin.
"Saya tanggung jawab. Arnes khan istri saya. Gimana sih kamu..!!"
//
Malam pukul sembilan. Arnes mendengar ada suara suara bergesekan di dekat pintunya. Jantungnya berdegup kencang karena sebenarnya ia memang penakut seperti mamanya.
"Suara apa ya??" ia berniat memanggil Bang Zaldi. Tapi karena menyadari dia sedang marah maka gengsinya mengalahkan rasa takutnya.
Bang Zaldi sedang duduk santai di ruang tamu sambil memainkan gamenya dan menunggu reaksi dari sang istri.
"Bang.. nggak apa-apa benar nih??" tanya Bang Righan.
"Lu nih laki bukan sih?? Takut amat" jawab Bang Zaldi.
"Laki lah Bang, mau saya buktikan.. takut Abang gemetar aja"
"Eehh.. jangan sombong lu ya. Yang ada elu yang gemetar, adikmu aja saya pegang langsung jadi tuh si Ibra. Kurang apalagi????" ucap kedua pria congkak ini saling adu kesombongan.
"Abaaaaaang...!!!!!" terdengar suara jerit melengking dari dalam kamar. Ibra pun akhirnya ikut menangis mendengar suara mamanya.
bluuunggghh...
suara Ibra semakin kencang terdengar tapi sudah tidak ada lagi suara Arnes.
"Bang, dobrak Bang..!! Perasaan saya nggak enak ini" kata Righan.
Mau tidak mau kepanikan Righan mempengaruhi Bang Zaldi.
Secepatnya Bang Zaldi menendang pintu kamarnya, satu kali tendangan.. pintu itu terbuka lebar.
"Arneeees..!!!!" mata Bang Zaldi terbelalak kaget melihat kaki Arnes terlilit ulat phyton peliharaannya. Bang Zaldi berlari mengangkat Ibra yang jatuh terjungkal dari ranjang. Luka kemarin kembali berdarah. Bang Righan mengambil alih keponakannya.
Tangan Bang Zaldi sibuk melepas ularnya dari kaki Arnes. Saking sulitnya terlepas, ia mengambil pisau lipat yang selalu ia bawa di sakunya karena panik. Kepalanya seakan buntu tidak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Apa kubilang Bang. Abang mau bunuh Arnes?????" bentak Bang Righan.
"Eehh.. jangan di tusuk Bang. Semprot pakai parfum" kata Bang Righan.
Bang Zaldi segera menyemprotkan parfum di kepala ularnya hingga lilitan itu terlepas.
"Dek.. Bangun sayang..!!"
Mata Arnes perlahan terbuka, ia sangat ketakutan. Ia meremas kuat celana pendek Bang Zaldi.
"Ularnya Abang sampai kamar" ucapnya terbata-bata.
"Yang mana??"
"Ular Bang, ular....!!!!" Arnes meremas bibir bang Zaldi.
"Iyo dek, maaf"
"Aaarrghh.. perut Arnes sakit Baaanngg..!!!!"
//
Malam yang kacau itu semakin kacau. Bang Zaldi mengompres perut Arnes yang menegang karena ulah usil Bang Zaldi. Arnes meringis kesakitan.
"Kamu lari ke depan beli K*****i Rig..!!" perintah Bang Zaldi.
"Jiiiaahh ogaahh.. masa pria gagah beli gituan???" tolak Bang Righan sambil berkaca dan memakai pomade milik Bang Zaldi.
"Righan.. nggak sempat pikir gagah kalau istrimu sakit. Kalau nggak bisa urus istrimu percuma saja.. pria gagal" jawab Bang Zaldi.
"Iyeeee.. Abaaaang"
...
"Air hangat lagi saja Bang..!!" pinta Arnes.
"Lain kali kunci kamar pakai rantai kapal sekalian..!! Ini devinisi kualat sama suami karena sok marah" ucap Bang Zaldi tapi tetap saja hatinya tidak tega melihat istrinya kesakitan karena terjatuh.
//
Akhirnya hingga pagi Bang Zaldi hanya mengurusi Arnes yang sedang kesakitan.
"Alhamdulillah.. sudah reda sakitnya" Bang Zaldi memijat pelipisnya.
"Niat bikin istri kapok, malah aku ketiban sial" gumamnya.
***
Bang Zaldi menatap rumahnya bersama Arnes. Di rumah itu segala kenangan indah tentang dirinya juga sang istri hingga kehadiran Ibra pun terjadi di rumah ini. Sungguh rumah itu meninggalkan suka dan duka untuknya.
Ia pun melangkah membawa surat perintah tugas.
...
"Tiga hari lagi Bang??" tanya Arnes saat sore hari yang santai mereka sedang berbincang berdua sambil menidurkan Ibra.
"Iya dek..!!" Bang Zaldi bersendawa memijat tengkuknya yang terasa berat.
"Dek, tolong kerokin Abang donk..!!" pinta Bang Zaldi.
"Sini Abang tiduran.."
__ADS_1
Dengan telaten Arnes mengoles punggung Bang Zaldi. Tapi suami Arnes itu terus saja gelisah.
"Dek ganti minyak aromaterapi punyamu yang lavender saja. Abang nggak kuat bau minyak anginnya"
Arnes menuruti permintaan suaminya tanpa banyak protes dan segera mengambil minyak angin lavender lalu mengoles pada punggung Bang Zaldi.
"Hhkkk.. nggak enak baunya dek, kadaluarsa ya?" tanya Bang Zaldi menutup hidungnya rapat.
"Nggak lah Bang, Arnes beli baru" jawab Arnes.
"Ganti aroma lainnya dek..!!!"
Arnes menggantinya dengan aroma melati.
"Aduuhh.. baunya bikin Abang sesak" protes Bang Zaldi.
"Ya ampun Abang. Daritadi Arnes diam saja mendengar protes dari Abang. Sebenarnya Abang kenapa?? Maunya bagaimana??" tanya Arnes sudah kehilangan kesabaran.
Bang Zaldi langsung meringkuk di paha Arnes. Badannya panas.
"Baunya nggak enak semua, kamu punya minyak angin yang lain nggak?"
"Ini terakhir ya Bang..!!" Arnes nggak punya yang lain lagi"
Bang Zaldi mengangguk. Arnes pun mengambil minyak angin itu dari dalam laci lalu mengoles di punggung Bang Zaldi.
"Pakai ini saja dek, jangan di ganti lagi..!!"
"Oohh.. Abang suka wangi green tea" gumam Arnes.
Tak lama Bang Zaldi pun tertidur, badannya masih saja hangat. Arnes melihat punggung Bang Zaldi yang bergores warna merah. Tidak tega melihat super hero nya tumbang.
***
Siang hari, Om Adi dan Bang Righan memapah Bang Zaldi yang sepertinya tidak sanggup untuk berjalan. Nafas suami Arnes itu tersengal, wajahnya memucat, bibirnya kering.
"Ya Allah Abaaaang..!! Abang kenapa?" pekik Arnes.
"Mungkin sakitnya kambuh Nes. Waktu Zaldi di Sudan juga sakit seperti ini. Tekanan darahnya tiba-tiba naik. Sepertinya kurang istirahat, Batalyon sedang padat kegiatan" kata Bang Irfan yang juga ikut mengantar Bang Zaldi.
...
"Hhkkkk.. mana minyak anginmu dek? Abang nggak kuaatt..!!!!!" Bang Zaldi terus saja muntah sampai membuat Arnes bingung.
"Biar saya bantu bawa Abang ke kamar mbak" kata Om Adi.
"Iya om, terima kasih" jawab Arnes yang melihat Bang Righan sedang bermain jaran kepang bersama Ibra.
//
Bang Righan dan Om Adi memutuskan untuk tidur di rumah Bang Zaldi karena suami Arnes itu masih belum ada tanda lebih baik.
"Dek, jangan jauh-jauh" pinta Bang Zaldi yang terdengar dari ruang tv.
( Bang Zaldi meminta Arnes mengusap badannya, seluruh tubuhnya terasa sakit dan lemas, kepalanya pening berputar-putar, perutnya terasa teraduk kuat )
"Dek.. Abang di sayang donk" pinta Bang Zaldi terdengar manja.
Om Adi dan Bang Righan terkikik geli. Senior yang terkenal garang itu kini lemah dan tunduk di tangan pawangnya.
.
__ADS_1
.
.