
Bang Rinto menyelimuti Anye. Ia terus memegang tangan istrinya.
Ponsel Bang Rinto bergetar, ada panggilan telepon masuk dari Bang Satriyo.
"Selamat siang. Ijin arahan Abang..!!" jawab Rinto.
"Selamat siang. Kamu benar mau berangkat?" tanya Bang Satriyo memastikan.
Bang Rinto menoleh menatap istrinya yang baru saja tenang. Setelah sadar tadi Bang Rinto sungguh kewalahan menghadapi kemarahan Anye yang menurutnya sangat berbeda. Ia sungguh tidak tega, tapi sebagai prajurit.. tentu saja aja ada pilihan yang tidak bisa menjadi pilihan.
"Siap Bang"
"Besok pagi kamu sudah harus geser, menggantikan Arben"
"Siap laksanakan perintah...!!"
"Ya sudah, lanjut..!!"
"Siap.." Bang Rinto memutuskan panggilan teleponnya.
"Kenapa?" tanya Anye datar.
"Jangan marah lagi. Abang nggak mungkin begitu"
"Abang dinas luar besok" jawab Bang Rinto.
"Berapa lama?" Anye lumayan kaget mendengar suaminya akan berangkat dinas lagi.
"Belum tau" Bang Rinto mengusap rambut Anye dengan sayang.
"Abang sudah janji nggak akan pergi lagi..!! Anye nggak mau di tinggal" kata Anye lalu memalingkan wajahnya.
"Abang nggak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Andai pilihan itu ada, Abang juga ingin terus sama kamu, Menjaga Sen sama-sama. Tapi Abang juga punya tanggung jawab dalam pekerjaan Abang. Negara ini adalah pemilik jiwa dan raga Abang"
"Lantas apa hak Anye sebagai istri Abang?" tanya Anye.
"Saat Abang berada di rumah, di dekatmu.. Abang hanya milikmu tanpa kecuali. Tapi saat Abang bekerja untuk negara. Tidak ada jaminan Abang milikmu lagi. Dampingi Abang dengan doa-doamu. Jaga buah hati kita, jaga nama suami karena Abang hanya percayakan tiga hal itu padamu"
"Anye nggak mau di tinggal" Anye sudah menangis terisak.
"Sebentar saja. Abang mau cari Abangmu" ucap jujur Bang Rinto.
"Abang tau?? Abang mau ke daerah itu lagi?" tanya Anye.
"Iya.. Abang tau. Abang sudah ingat semua. Makanya tadi Abang di bawa ke ruang kesehatan"
__ADS_1
"Tempat itu berbahaya Bang"
"Disana sangat indah. Percayalah.. Abang sambil jalan-jalan disana" jawab Bang Rinto.
"Kalau Anye yang pergi dari Abang, apa Abang sanggup? Kenapa harus istri yang merasakan di tinggalkan sedangkan Abang tidak merasakan hal yang sama"
Bang Rinto tau Anye sudah berada pada titik terendahnya menghadapi banyaknya persoalan dalam hidup. Ibarat air yang diisi penuh, mungkin saat ini air itu sudah tumpah. Bang Rinto memeluk dan membelai sayang sang istri.
"Jangan membandingkan hal yang tidak bisa dijadikan perbandingan..........."
"Sanggup atau tidak??" tanya Anye.
"Abang nggak sanggup. Kita manusia punya rasa, punya hati. Kenapa pikiran itu bisa hinggap di pikiranmu? Abang meninggalkan istri di rumah juga berat dek, karena kami para suami sudah ketergantungan secara emosional dengan pasangan. Kami juga ingin di manjakan, yang perlu kamu tau.. kami menunjukan sisi rapuh dan lemah di hadapan istri. Seperti sekarang, Abang sedang merasakan di fase itu"
Anye langsung menghambur memeluk suaminya.
"Lain kali jangan menyentuh wanita lain dan cepat temukan Bang Ezhar.. Abang hanya milik Anye. Anye nggak mau kelemahan Mbak Nissa akan mempengaruhi rumah tangga kita"
Bang Rinto mengulum senyum.
"Iya, Abang janji akan selesaikan, seluruh dalam diri Abang hanya kamu 'pemiliknya' "
Anye mengecup Bang Rinto penuh cinta, ada getaran rasa disana. Dalam diri Bang Rinto pun akhirnya menanggapi perlakuan Anye namun ia masih berusaha keras mengontrol hasratnya.
Anye melepaskan pelukannya dengan kecewa karena Bang Rinto tidak membalas hal yang sama seperti biasanya. Anye berbaring kembali menghadap dinding dengan kesal. Bang Rinto mengusap punggung Anye, membujuk istrinya tanpa kata.
Bukannya Abang nggak mau dek. Nggak ada suami yang menolak saat istrinya ingin di belai manja.. hanya saja entah kenapa belakangan ini Abang lebih ingin menjagamu. Takut sekali jika terjadi sesuatu sama kamu.
***
Malam hari hanya sedikit sekali obrolan, itupun hasil kerja keras Bang Rinto yang mencoba membuka percakapan meskipun Anye hanya sedikit menanggapi usaha Bang Rinto. Suami Anye itu paham mungkin masih ada sisa marah akibat insiden 'Mbak Nissa' dan 'main tembak-tembakan' tapi yang Bang Rinto tidak paham adalah marahnya Anye. Apapun yang dilakukannya seakan tidak pernah ada benarnya.
"Dek, besok pagi-pagi sekali Abang berangkat. Apa iya Abang mau di kasih rambut sampai pagi" tegur Bang Rinto pelan.
"Abang khan nggak mau Anye, jadi tidur sama rambut aja" jawabnya ketus.
"Ya sudah sini..!! Rambut pun juga bagian dari dirimu" Dibelainya dengan sayang sang pemilik rambut indah itu hingga tertidur pulas meskipun sesekali Anye marah karena tidak ingin di sentuh mungkin karena masih ada sisa kesal.
***
"Abang berangkat.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya sesaat setelah menciumi wajah putranya yang masih tidur. Berat sekali rasanya meninggalkan anak dan istrinya.
"Berangkatlah Bang..!!" Anye menerima uluran tangan dari suaminya untuk berpamitan tanpa memandang Bang Rinto. Sebenarnya Anye ingin sekali mengantar dan bersikap biasa saja tapi entahlah, ada hal yang tidak ia pahami jika memandang wajah Bang Rinto rasanya jadi sangat kesal.
"Assalamu'alaikum.." Bang Rinto tidak sanggup berkata apapun lagi, ia lalu berbalik badan dan segera melangkah.
__ADS_1
Anye menjawab salam itu dalam hati. Tapi setelah Bang Rinto pergi.. mulutnya tidak berhenti mengomel.
"Pergi saja Bang, pergi yang jauh.. Tidak usah kembali. Kalau perlu Abang cari perempuan yang tidak suka mengomel, lembut seperti Mbak Nissa. Dia lembut dan dewasa.. tidak seperti Anye yang suka marah sampai Abang tidak menginginkan Anye lagi. Bilang saja Anye semakin gendut dan tidak menarik lagi di mata Abang"
Bang Rinto bersandar di bibir pintu, melipat kedua tangan di depan dada mendengar istrinya bicara seperti rangkaian gerbong kereta yang panjang. Senyum kecil tersungging mendengar istrinya.
"Ini ada apa? kenapa ngomongnya ngelantur kemana-mana?" tanya Bang Rinto dengan lembut.
Anye menoleh melihat Bang Rinto yang belum jadi pergi. Secepatnya Anye menghapus air matanya dan bersikap dingin lagi.
"Kenapa kembali?"
"Kopel rim Abang tertinggal" Bang Rinto duduk di samping Anye. Badannya condong mendekati Anye. Istri Rinto itu gugup saat wajah mereka beradu dalam jarak yang semakin dekat.
"Kamu siap kalau Abang tidak kembali lagi? Atau minimal Abang cari perempuan lain?" tanya Bang Rinto kemudian mundur yang ternyata hanya mengambil kopelrim di belakang punggung Anye.
"Terserah"
"Abang pernah memikirkannya.."
Seketika Anye menoleh membawa wajah murka dan hampir terlepas air matanya.
"Itu sebelum bertemu denganmu. Abang ingin mati dan ingin mencari perempuan lain sebagai pelampiasan rasa marah, kecewa dan ingin melepas rasa rindu" ucap Bang Rinto.
"Tapi sekarang tidak lagi. Abang ingin hidup karena Abang sedang mencintai seorang wanita yang sudah Abang halalkan. Abang tidak tau apa sebabnya kamu jadi seperti ini, tapi Abang nggak marah.. itu tanda sayangmu untuk Abang. Hanya saja.. ada baiknya kamu doakan suamimu yang menyebalkan ini agar selalu sehat, pulang dan pergi dengan selamat di medan tugas. Istri sholehahnya Abang mau khan mendoakan Abang yang terbaik? Kecuali kamu sudah benar siap jadi jandanya Rinto Dirgantara" tegur Bang Rinto dengan lembut, ia tidak akan memakai emosinya saat ini karena ia merasa Anye sungguh tidak seperti biasanya.
Anye memainkan tangannya dan belum menjawab.
"Abang pergi ya..!! Doa istri menyesuaikan" pamit Bang Rinto dengan tegurannya lalu segera berjalan.
Anye menghambur memeluk punggung Bang Rinto.
"Semoga Abang selalu sehat, tidak ada kendala apapun. Berangkat selamat, pulang dengan selamat utuh tanpa kurang suatu apapun" doa dan harapan Anye.
Senyum Bang Rinto lalu berbalik badan.
"Aamiin.. Aamiin Ya Allah.. Terima kasih ma. Papa pergi dulu..!! Papa cinta kamu ma. Assalamualaikum" satu kecupan mendarat di kening Anye, satu lagi mendarat di bibir Anye
"Wa'alaikumsalam pa" Anye menunduk tersenyum, manis sekali mendinginkan hati Bang Rinto.
.
.
.
__ADS_1