
Bang Zaldi mengganti pakaian Arnes karena tau istrinya sudah merasa tidak nyaman. Keringat dingin mengucur dari dahi Arnes dan Bang Zaldi segera memberinya obat.
"Terima kasih ya Bang"
"Sama-sama. Tidurlah..!! Nanti sakitnya berkurang" kata Bang Zaldi.
Arnes menggangguk. Sifat onar istrinya mendadak hilang, kembali kalem seperti Arnes yang pernah Bang Zaldi kenal dulu.
"Kalau kamu sehat, besok sudah boleh pulang"
"Arnes sehat Bang. Kita pulang ya..!!" ajak Arnes.
"Siaap.. tapi bukan ke rumah kita. Kita tinggal rumah transit dulu. Barang kita rusak dek. Banyak barang yang hilang termasuk berkas" ucap sedih Bang Zaldi.
"Semuanya Arnes taruh di atas plafon rumah Bang" jawab Arnes.
"Astagfirullah.. kamu manjat?????"
"Iyaaa"
"Ya Tuhan.. masih untung anak kita selamat, kamu nggak jatuh dek" jawab Bang Zaldi yang menyembunyikan fakta bahwa putri mereka Zafia ada indikasi terkena asma.
"Besok Abang minta tolong anak-anak buat cek apa saja yang kamu letakan di atas sana"
***
Para ajudan tak punya pilihan lain selain mengikuti style pak DanSat. Kacamata pink, baju pink, sampai sepatu juga warna pink. Penyambutan baby Zafia sungguh meriah.
"Kita duduk dimana Bang? Satu mobil Abang isi balon warna pink" tanya Arnes.
"Tolong kalian bawa balon-balon ini pakai motor..!!" perintah Bang Zaldi pada anggota yang mengikutinya menggunakan motor.
Suka tidak suka akhirnya para pria gagah itu harus membawa balon itu sepanjang jalan pulang ke rumah nanti.
...
Perlahan Arnes berjalan masuk ke dalam rumah berpegangan pada lengan Bang Zaldi. Rasa peningnya terkadang masih suka terasa.
"Masih belum kuat ya?" tanya Bang Zaldi.
"Kuat Bang" jawab Arnes sambil mencoba terus berjalan.
"Ijin Bang, biar saya gendong Fia. Abang jalan sama mbak Arnes. Saya takut mbak Arnes jatuh" kata Om Adi.
Bang Zaldi pun menyerahkan baby Fia lalu mengangkat Arnes hingga ke kamar.
"Nanti di pakai kursi rodanya. Kalau nggak kuat jangan dipaksa"
Arnes tersenyum kecil menanggapi suaminya.
Anak-anak kecil di asrama berlompat kegirangan melihat banyaknya balon berwarna pink di rumah transit DanSat.
__ADS_1
"Kalian mau balon?? Nanti minta sama om Made ya. Om mau tidurkan adek Fia dulu ya. Kalau kalian nggak ribut.. nanti om kasih hadiah..!!" ucap Bang Zaldi membujuk anak-anak agar tidak berisik dan mengganggu Arnes serta baby Fia yang akan beristirahat.
"Iya Om.."
...
Bang Zaldi menggeleng heran melihat seluruh berkas penting ada di atas atap rumah. Ada pakaian dinas, pakaian anak-anak sampai telur ayam, rambutan dan durian pun bisa naik ke atas atap.
"Istriku benar-benar sempurna. Mana ada orang dalam bencana masih sempat menyelamatkan rambutan, durian dan telur ayam kecuali Arnesku seorang" gumam Bang Zaldi.
"Ijin Dan.. Sudah tidak ada lagi" kata Made.
"Oke, istirahatlah. Terima kasih ya. Makan siang dulu sama yang lain"
Opa Rama tertawa melihat barang yang di sembunyikan cucunya. Wanita hamil memang terkadang bertingkah luar biasa. Jika teringat masa mudanya dulu, terkadang merasa rindu saat menemani Dinda menjalani masa kehamilannya.
"Kalau tidak busuk ya di makan sama-sama saja daripada mubadzir"
***
Bang Zaldi mengakhiri bacaan Al-Qur'an nya sambil menggendong Fia kecil.
"Jadi anak sholehah ya nak..!! Jangan nakal. Kasihanilah Mamamu yang sudah mengandungmu. Papa saja tidak berani melawan mamamu nak. Sudah cukup papa lihat mama menangis" gumamnya sambil mencium pipi Fia.
"Abang.. makan dulu..!!" Arnes memanggil Bang Zaldi dari arah dapur.
Secepatnya Bang Zaldi berdiri dan membawa Fia menemui Arnes.
"Arnes bosan Bang" jawabnya memercing sakit.
"Ini sudah lima hari tapi kamu tetap kesakitan. Abang antar ke rumah bidan ya..!! Yang dekat sini saja" ajak Bang Zaldi. Rasa khawatir itu tetap bersarang dalam hatinya sejak kejadian kelahiran Fia.
"Sebenarnya nggak apa-apa sih Bang. Jahitannya juga sudah mulai kering kok"
"Iya.. Abang hanya cemas saja. Biar lebih lega sebaiknya kita periksa saja"
-_-_-_-_-
Bu bidan sudah memeriksa kondisi Arnes.
"Ini biasa pak. P******a membengkak dan lokia keluar banyak. Semua karena proses persalinan yang agak sedikit memaksa" kata Bu Bidan.
"Sementara kurangi aktivitas dan banyak istirahat"
Ya Allah dek, ini sekarang bukan Abang ya yang bilang, tapi Bu bidan. Banyak istirahat..!!!!!" Bang Zaldi sampai jengkel karena terlalu cemas.
"Mulai hari ini sampai benar-benar sembuh. Kamu duduk di kursi roda..!!"
"Iihh.. buat apa sih Bang. Malu tauu.. seperti Arnes sakit parah aja..!!" tolak Arnes.
"Kalau jahitannya dedel gimana? Mau kamu di neci ulang????"
__ADS_1
***
Seperti saat kelahiran Ibra, Bang Zaldi menyerukan yel-yel perjuangan dan hymne khas seorang tentara membuat Arnes geleng kepala. Bang Zaldi hanya ingin memperkenalkan dunia militer pada putrinya tanpa ingin putrinya menjajaki dunia militer seperti dirinya.
"Nggak perlu jadi tentara ya neng. Kamu cukup jago kempo, seperti mamamu" bisik Bang Zaldi.
***
Satu setengah tahun berlalu.
Bang Zaldi sungguh menikmati perannya sebagai seorang papa. Selama memiliki Zafia, Bang Zaldi jauh lebih kalem. Bahkan pria itu bersedia mengumpulkan bunga-bunga di taman untuk memenuhi keranjang Fia, tak jarang Bang Zaldi ikut mendorong troli kecil mainan Fia.
"Abang Ibra.. Abang Ryan.. turun..!!! Jangan bergelantungan seperti Om Chiko" kata Bang Zaldi saat putranya memanjat pohon jambu air.
"Abaang Ibraa.. Abaang Ryan..!!! Turuuuunn..!!!! Dengar papa..!!!" perintah Arnes yang langsung dituruti kedua putranya tanpa perdebatan.
"Amazing.. suara mamanya bikin anak-anak nurut Bang?" tanya Om Adi.
"Iyalah. Kalau Arnes sudah teriak, lima kecamatan tunduk semua" jawab Bang Zaldi.
"Saya jadi pengen nikah Bang"
"Sudah sana.. lanjuut..!!"
"Calonnya nggak ada Bang. Nggak ada yang mau sama saya kali ya Bang? Atau Abang bisa promosikan saya jadi mantu idaman terbaik..!!" kata Om Adi.
"Serda Mona cantik lho Ad, kamu nggak mau coba dekati?" tanya Bang Zaldi.
"Galak dia Bang. Saya nggak suka perempuan galak"
"Kamu kira istri saya kurang galak bagaimana Ad. Jangan di lihat galaknya.. body oke, gampang punya anak sudah cukup" saran Bang Zaldi.
"Apa si Cila saja. Sertu Cila. Bohay Aaadd.."
braaakk...
Punggung Bang Zaldi terhantam tas hitam yang jatuh di hadapannya. Jadi Ani sama Cila bohay ya Bang??? Arnes nggak ada apa-apanya lagi. Abang pikir badan Arnes rusak karena siapa??" Arnes geram sekali mendengar celotehan sang suami memuji wanita lain.
"Nggak dek.. Abang hanya kasih semangat Adi biar pilih Serda Mona atau Cila" Bang Zaldi sudah cemas bukan main melihat kemarahan Arnes.
"Aaaahh sudahlah. Banyak alasan saja Abang ini" Arnes menyambar tasnya lalu berjalan pulang.
"Dek... sayang..!!"
Aduuhh.. gawat kalau mamanya Neng Popon sudah ngambek. Drama 40 hari aja dulu pernah tertunda parah. Gimana lagi nih bujuknya.
.
.
.
__ADS_1
.