Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 55. Inikah cemburu.


__ADS_3

Harap kebijakan pembaca..!!!!!!! Nara sudah mengingatkan. Tolong kerjasamanya 🙏🙏


🌹🌹🌹


Arnes mengobati luka di dahi putranya. Wajahnya masih saja cemberut. Mulutnya tak berhenti mengomel seolah membaca satu bab novel dengan kecepatan seratus Mbps.


"Abang minta maaf, sini Abang obati" pinta Bang Zaldi.


"Nggak usah sentuh-sentuh..!!!! Abang ngobrol aja tentang tentara perempuan bohay yang Abang temui di Sudan" cerocos Arnes yang ternyata mendengar percakapan antara Bang Zaldi dan Bang Righan.


Bang Zaldi menggaruk kepalanya dengan cemas. Entah dirinya harus beralasan apa. Sudah 'mencelakai' putra semata wayangnya, kini harus kena ceramah akibat dirinya ketahuan membicarakan wanita lain.


"Ya ampun dek. Itu khan hanya rasa kagum melihat makhluk Tuhan" jawab Bang Zaldi dengan suara makin melemah karena ragu ia akan mendapatkan hukuman tambahan.


Tepat saat itu Om Adi melintas di depan rumah Bang Zaldi.


"Selamat pagi Bang..!!" sapanya pada Bang Zaldi dan Bang Righan.


"Pagiii.." jawab Bang Zaldi dan Bang Righan bersamaan.


"Pagi Om Adiii ..Eehh lagi Lari pagi Om??" Arnes menjawab sapaan Arnes.


"Ini baru selesai lari pagi Mbak.. cari hiburan. Jaga badan biar di uber cewek gituuu" jawab Om Adi.


Bang Zaldi melirik kesal melihat istrinya tersenyum manis pada pria lain. Senyum malu-malu kucing membuat pipi istri Zaldi itu memerah.


"Masuk dek.. obati Ibra di dalam" ucapnya tegas.


"Buat kopi satu lagi untuk Adi"


Melihat tatapan mata kesal dari sang suami, Arnes pun bergegas masuk ke dalam rumah.


Dasar wanita, nggak bisa di kasih pemandangan perut kotak-kotak langsung aja melotot matanya. Aku kurang gagah apa?? Kurang jantan bagaimana?? Setelah ini Abang buat adiknya Ibra masuk ke perutmu. Kapok nggak tuh.


"Sejak Abang pulang dari Sudan, istri Abang lebih banyak senyum lho" Letda Adi membuat Bang Zaldi tersadar dari lamunannya.


"Yo jelaass. Abang sayang-sayang kok. Nggak pernah telat manjain. Wajar aja kalau istri happy gitu" kata Bang Zaldi dengan sombongnya.


Bang Righan tertawa mendengar Bang Zaldi berkoar. Jelas sekali adik iparnya itu begitu cemburu pada Letda Adi. Adik litting Righan itu memang ramah dan tidak kaku seperti Bang Zaldi. Bahkan dengan Arnes pun Adi sangat baik.


Bang Zaldi memang tidak begitu mengenal Letda Adi karena perwira muda itu baru saja tiba di Batalyon saat Bang Zaldi sedang penugasan di Sudan dan pastilah hanya Arnes dan Righan saja yang tau sifat dan karakter Letda Adi.


"Ini Bang kopinya" Arnes menyerahkan segelas kopi pada Bang Zaldi dengan tatapan wajah datar tapi tidak saat melihat Adi dan itu semakin membuat Bang Zaldi panas terbakar.


"Di minum Om kopinya" senyum Arnes sambil berlalu meninggalkan Bang Zaldi yang hatinya sedang panas dingin.


"Terima kasih mbak" jawab Adi masih dalam batas kesopanan yang wajar tapi entah kenapa rasa kesal Bang Zaldi tidak bisa di hilangkan begitu saja.

__ADS_1


"Ijin Abang. Abang mau geser ke Jawa kapan ya?" tanya Adi.


"Paling tidak, satu bulanan lagi. Ada masukan?"


"Saya mau titip hadiah untuk adik perempuan saya. Dia seumuran dengan mbak Arnes. Tingkahnya pun mirip mbak Arnes. Maaf ya Bang, setiap saya melihat mbak Arnes.. saya teringat dengan adik saya" ucap Adi.


"Dimana alamatnya, biar nanti di antarkan rekan disana ke rumahmu" kata Bang Zaldi.


"Nanti saya kirim lewat pesan" jawabnya pelan.


"Kamu kenapa jadi melow begitu?" tanya Bang Zaldi.


"Ijin Bang. Saya tidak punya orang tua. Hanya dia adik perempuan satu-satunya yang saya punya. Saya bekerja, saya hidup, untuk Berlian" jawab Adi.


"Oke, saya mengerti"


-_-_-_-_-


"Om Adi bilang apa Bang?"


"Titip hadiah untuk adik perempuannya" jawab Bang Zaldi.


"Oohh begitu. Cantik nggak Bang?"


"Mana Abang tau dek. Abang khan nggak pernah ketemu"


"Kalau di lihat dari wajah Om Adi yang ganteng sih pasti adiknya juga cantik" kata Arnes dengan ekspresi membayangkan bagaimana rupa adik Om Adi.


"Heemb Bang. Tinggi, kekar, terlihat maskulin" jawab Arnes gemas membayangkannya.


"Waahh.. benar-benar cari perkara kamu ya" Bang Zaldi membuka kaosnya.


"Lihat dan amati sampai puas. Abang kurang apa nyenengin kamu?? Badan sama saja, tinggi sama, apa Abang kurang jantan. Abang setrum.. muntah kamu nanti dek"


"Daripada Abang, ngelihatin cewek Sudan. Arnes juga kurang apa??" tanya Arnes tak kalah kesal.


"Kurang ajar......" Bang Zaldi langsung menyerang Arnes tanpa ampun.


***


Pagi ini Bang Righan mengasuh Ibra karena Batalyon sedang mengadakan acara kenaikan pangkat. Karena banyak anggota yang naik pangkat.. Danyon memutuskan untuk membuat panggung hiburan sederhana.


Bang Zaldi berlutut menekuk satu kakiny. Ada perasaan campur aduk tak terlukiskan. Air mengguyur tubuh Bang Zaldi hingga basah kuyup. Danyon menempelkan pangkat Kapten di pakaiannya. Di pangkat itu juga sang ibu tidak bisa menyaksikan dirinya dalam pangkat satu tingkat lebih tinggi tapi disisi lain hatinya bahagia karena sudah ada Ibra dalam hidupnya.


Kini giliran Arnes membasahi tubuh suaminya. Baru saja akan mengguyurnya, Bang Zaldi menarik Arnes dan memeluknya erat. Arnes kaget sekali mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Banggakah kamu menjadi istri Abang??" tanya Bang Zaldi dalam linangan air mata.

__ADS_1


"Tentu saja Arnes bangga. Abang adalah Imam, suami untuk Arnes, dan ayah terbaik untuk Ibra" jawabnya.


"Jangan tinggalkan Abang. Abang hanya punya kamu dan Ibra" ucap Bang Zaldi terdengar sesak.


"Nggak akan Bang. Arnes mencintai apa adanya Abang" jawab Arnes.


Cukup lama Bang Zaldi memeluk istrinya, hingga batinnya terasa tenang, lega dan lebih lapang.


"Selamat ya Bang. Semoga dengan pangkat yang setingkat lebih tinggi ini, Abang bisa lebih bijaksana. Lebih amanah dalam menjalankan tugas dan yang pasti bisa menjadi panutan para prajurit yang Abang pegang nantinya" kata Arnes.


"Terima kasih banyak dek. Insya Allah Abang akan memegang teguh amanah ini dengan baik" Bang Zaldi pun menghapus air matanya. Ia menyadari pakaian Arnes telah basah karena ulahnya.


"Kapten Erzaldiii.. kumpul..!!! Joged dulu kita..!!!!!" ajak Danyon.


"Abang goyang dulu ya. Nggak enak sama yang lain" kata Bang Zaldi meminta ijin pada istrinya.


"Ingat ya Bang, jangan macam-macam. Sekali Abang bertingkah, setoran tunai macet..!!!" ancam Arnes.


"Iyaa.. ini khan perintah dek. Sudah di atur"


//


Baju Bang Zaldi yang basah sudah kering dan berganti dengan keringat yang membasahi wajah. Dengan lenturnya Bang Zaldi bergoyang mengikuti irama musik.


Sesuai perintah, Bang Zaldi bersama Irfan, Righan dan perwira yang lain naik ke atas panggung lebih dulu. Awalnya tidak ada yang membuat Arnes khawatir karena pakaian penyanyi tersebut bisa di bilang sangat sopan dan tidak terlalu membentuk lekuk tubuh. Namun lama kelamaan penyanyi tersebut mulai bertingkah. Penyanyi tersebut mendekati Bang Irfan dan Bang Adi membuat Yeni istri Bang Irfan meradang.


Lembar demi lembar Bang Irfan lepaskan dan penyanyi itu semakin agresif. Yeni yang kesal segera mengambil langkah seribu. Disana Arnes terus memperhatikan Bang Zaldi dan benar saja, wajah Bang Zaldi begitu terbawa suasana. Suami Arnes pun dengan mudahnya melepas lembar demi lembar uang bahkan sempat menggoda sang biduan yang akan mengambil lembaran uang itu dari tangan Bang Zaldi. Biduan itu pun tersipu malu.


Arnes menarik nafas panjang, hatinya pun dongkol, hatinya ingin sekali menangis kencang melihat tingkah suaminya.. tapi daripada ribut, ia pun mencari cara agar Bang Zaldi cemburu dengan cara yang elegan. Ia sangat tau Bang Zaldi tidak seberapa dekat dengan Om Adi. Arnes pun memulai mencari perkaranya.


Arnes sengaja berjalan ke arah Bu Irawan yang sedang mengasuh Ibra. Arah itu juga melewati Om Adi yang sedang mengadakan dokumentasi.


"Aduuuhh..!!" Arnes terjatuh dan terpekik karena kakinya terkilir. Niat hati ingin pura-pura jatuh malah pergelangan kakinya sungguh terkilir.


"Mbak Arnes?? Mari saya bantu..!!" dengan sopan Om Adi mengulurkan tangannya. Arnes melirik Bang Zaldi yang terlihat akrab dengan biduan tersebut. Hati istri mana yang tidak sakit meskipun sedikit banyak ia tau Bang Zaldi tidak akan melewati batas.


"Pak Kapten.. boleh minta nomor telepon tak??" tanya biduan tersebut di atas sana.


"Maaf mbak, saya hanya di minta Danyon untuk nyawer. Tolong jaga sikapnya ya mbak, Istri saya ada di bawah" pinta Bang Zaldi saat biduan itu mulai bertingkah tidak wajar. Dari atas panggung, Bang Zaldi bisa melihat dengan jelas Adi sedang membantu Arnes untuk berdiri entah apa yang terjadi tadi hingga Adi membantu istrinya.


"Aduuh Oomm.. perut saya sakit" pekik Arnes saat merasakan sakit luar biasa pada bagian perut. Bibir Arnes pun memutih. Nafasnya tiba-tiba juga menjadi sesak. Arnes memegang kuat lengan Om Adi.


"Saya bantu mbak. Mohon maaf, saya lancang" Adi segera membawa Arnes untuk duduk.


"Laahh.. di biarin tambah ngelunjak. Apa-apaan dia itu??? berani sekali dia sentuh istriku..!!!" Bang Zaldi turun dari panggung tanpa pamit. Rasanya dadanya sudah terbakar saking geramnya melihat Arnes dan Adi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2