Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 15. Kangen kamu.


__ADS_3

"Astaga Zaldiiiii.. dasar bocah sableng. Berani sekali dia" Papa Rinto begitu geram melihat kelakuan Bang Zaldi apalagi saat melihat Arnes tersipu dan begitu menikmati.


"Ya ampun.. bisa jantungan aku lihat kelakuan mereka berdua"


"Papa tutup mata saja. Tidak perlu tegang begitu. Papa ini seperti nggak pernah muda aja" ucap Bang Bima meskipun ada rasa waswas juga dalam hatinya.


***


Bang Zaldi membuka pintu mess nya. Tiga jam perjalanan dan satu jam perjalanan kembali ke mess begitu membuatnya lelah karena hatinya pun terasa lelah. Baru empat jam berlalu tapi rasa sepi dan merindukan sosok Arnes disisinya.


Bang Zaldi segera menuju sumur yang letaknya lumayan jauh dari mess. Memang tempat ini masih sangat terbatas soal fasilitas dan Bang Zaldi terus berpikir keras, cemas jika nanti Arnes tidak betah tinggal di tempat seperti itu. Pasalnya ia mengingat saat di kampungnya saja, Arnes terlihat sangat bingung dan takut, apalagi harus menjalani kehidupan yang parah disana. Tidak ada gas, yang ada hanya kompor minyak tanah.


//


Bang Zaldi melihat boneka bebek pemberian Arnes.


"Sudah empat hari bersamanya tapi kenapa selalu terasa kurang ya Beck.." Bang Zaldi bergumam sendiri dengan si Becky pemberian Arnes.


tok..tok..tok..


Ada suara ketukan pintu. Bang Zaldi segera bangkit dan membuka pintunya.


"Lama amat bro.. Ini aku mau kembalikan ularmu. Istriku takut setengah mati. Apalagi sekarang Yeni lagi hamil. Rewel banget" kata Bang Irfan.


"Ya sudah.. mana sini..!! Thanks ya mau jagain ularku" ucap Bang Zaldi.


"Sama-sama" jawab Bang Irfan.


"Eehh sob.. kita di kirim satgas nih ke perbatasan. Perintahnya baru turun nanti malam untuk besok berangkat"


"Aduuuhh.. aku mau pengajuan nikah tiga bulan lagi. Berapa lama kita tugas?" tanya Bang Zaldi.


"Paling cepat tiga bulan, tapi kalau aplosan lambat ya enam bulan" Bang Irfan pun tak begitu paham dengan berita tersebut.


"Ya Tuhan.. aku sudah nggak mau tunda nikah lagi. Badanku sudah ngilu semua" ucap Bang Zaldi membuat Bang Irfan terbahan melihat ekspresi menyedihkan littingnya itu.


***


Dengan banyaknya pertimbangan akhirnya Danyon mengalihkan tempat tugas Bang Zaldi untuk mengawasi keamanan klinik kesehatan pedalaman selama tiga bulan.


-_-_-_-_-


"Kamu perawat dalam khan? Nggak usah repot-repot membawakan saya minuman. Disini banyak air minum. Kopi, teh dan lain-lain sudah disediakan" tolak Bang Zaldi pada seorang perawat wanita bernama Aning.


Satu bulan ini Bang Zaldi sedikit kewalahan menghadapi sikap Aning yang sedikit agresif padanya.


"Nggak apa-apa Bang. Saya senang kok bisa bantu Abang"


"Maaf Aning.. sebaiknya kamu tidak bersikap seperti ini lagi. Saya sudah punya calon istri di Jawa. Satu bulan lagi saya akan pengajuan nikah dan akan langsung menikahinya juga. Jadi tolong jaga sikapmu..!!" Bang Zaldi memang tegas jika ada sesuatu hal yang tidak sesuai dengan hatinya.


"Ini jaman apa Bang. Jaman modern. Banyak yang memilih mendua karena jarak memisahkan. Selama wanita Abang itu ada disana, biar disini aku yang menjadi pelipur lara Abang" kata Aning.


"Tolong keluar dari ruangan saya sekarang juga...!! Saya tidak menaruh hati pada wanita manapun selain calon istri saya"


Aning pun meninggalkan tempat dengan rasa kesal. Bang Zaldi segera membuang kopi buatan Aning dan membuat kopi sendiri untuk dirinya.


"Abang rindu kamu dek. Semoga cepat kita bersama, Abang pengen merasakan di urus istri" gumamnya penuh beban.


***


"Selamat ya dek..!! Kamu sudah jadi Sarjana Peternakan. Maaf.. Abang nggak bisa ikut disana. Abang lagi tugas di tengah kampung. Ini saja sulit cari sinyal" kata Bang Zaldi yang menghubungi Arnes dan mengikuti acara wisudanya secara online. Istrinya itu mendapatkan nilai terbaik di jurusannya dan mendapatkan apresiasi dari pihak universitas.


"Iya Bang. Mudah-mudahan gelar ini berguna" jawab Arnes.

__ADS_1


"Jangan bilang begitu. Setiap pendidikan yang kita terima pasti akan berguna nantinya entah secara langsung atau tidak langsung. Bersyukurlah karena masih bisa menempuh pendidikan yang memadai" nasihat Bang Zaldi.


"Ngomong-ngomong, cepatlah kesini dek. Tugas Abang sudah mau selesai nih."


Arnes menoleh melihat ekspresi papanya yang nampak datar meskipun mama tersenyum bahagia mendengarnya.


"Bilang iya dek" bisik Mama Anye di telinga Arnes.


Papa mau menjawabnya tapi Mama Anye mencubit pinggang Papa Rinto.


"Papa nggak boleh begitu, menghalangi niat baik seseorang itu nggak baik pa"


"Iya ma"


Arnes kembali fokus pada sambungan teleponnya.


"Mudah-mudahan cepat ya Bang"


"Aamiin dek. Abang sudah nggak tahan sendirian" bisik Bang Zaldi yang tidak tau kalau ponsel itu di dengarkan Papa Rinto dan juga Mama Anye. Mata Papa Rinto sampai melotot karena cemas.


***


Tiga bulan sudah berlalu, berkas yang di kumpulkan Arnes belum juga selesai dan itu membuat Bang Zaldi semakin frustasi. Mana bisa dengan taring Papa Rinto tetap saja pengumpulan berkas itu jadi lama. Belum lagi soal pengajuan di Sulawesi.. akan semakin lama dan membuatnya stress.


"Kurang apalagi sih dek. Berangkat aja lah kamu kesini. Nanti berkas lainnya menyusul. Abang transfer uang lagi untuk kamu berangkat kesini ya" kata Bang Zaldi.


"Kurang foto lagi Bang, Background salah lagi"


"Kalau hanya foto saja, di urus di sini juga bisa. Besok pagi kamu berangkat..!!" kata Bang Zaldi tak mau tau. Bang Zaldi memutus panggilan telepon lalu menghubungi Papa Rinto.


Arnes mendengar suara dentuman musik yang kencang di sana. Ia mengirim pesan singkat pada Bang Zaldi.


//


"Percayalah Dan.. Saya tidak akan menyakiti Arnes seperti apa yang pernah Bang Guntur lakukan"


Bang Zaldi sungguh sangat terpukul mendengarnya, tapi perasaannya pada Arnes sudah begitu dalam.


"Baiklah pa. Insya Allah"


//


BZ : Abang ada di pesta adat dek. Ada yang menikah. Nggak sampai maghrib Abang sudah di barak lagi.


( Bang Zaldi mengirim foto dirinya bersama rekan yang lain )


A : Kenapa perempuan disana cantik sekali Bang. Awas kalau Abang berani melirik. Arnes taburin pasir mata Abang nanti.


BZ : Nggak mikir kesana dek. Satu perempuan anak Pak Rinto aja ngajak ribut setiap hari. Mana sempat Abang melirik yang lain.


Sedang asyiknya menghubungi Arnes, ada seorang wanita langsung duduk di pangkuan Bang Zaldi, gadis itu adalah Aning dan terlihat mabuk berat. Aning yang berada di pangkuan Aning terlihat sangat agresif sampai berani mencium bibir Bang Zaldi.


"Astagfirullah hal adzim..!!!!!" Bang Zaldi sangat marah dengan kelakuan Aning.


"Angkat wanita ini dan jauhkan dari saya..!!!!!!!!!" perintah Bang Zaldi pada anggotanya.


Para anggota bahkan teman Aning tidak ada yang berani membantah dan menatap mata Bang Zaldi yang begitu marah.


Setelah para anggota memindahkan tubuh Aning. Bang Zaldi segera meninggalkan tempat bersama para anggota.


"Ning.. Pak Zaldi sudah pergi. Kamu memang hebat bisa mendekatinya."


"Belum tentu calon istrinya secantik aku. Aku ini anak pemilik tanah terluas disini. Nggak mungkin lah Bang Zaldi pilih wanita kelas rendah, pasti ujung-ujungnya juga pilih aku. Lihat saja nanti" jawab Aning dengan percaya diri.

__ADS_1


"Tapi dia mau menikah Ning" kata teman Aning.


"Biar saja. Aku jauh di atas segalanya" senyum Aning masih merasa menang.


"Eehh.. ngomong-ngomong sudah di buat rekaman videonya khan??"


...


"Saya mau kembali sekarang juga ke Batalyon Bang. Besok calon saya mau datang..!!"


"Tunggu donk Zal. Calon istrimu mau di taruh dimana??? Aplos anggota baru besok sore"


"Astaga Abang.. Jangan mundur terus lah Bang. Lelah saya disini, Abang tiap Minggu sudah mundurkan waktu pergantian anggota. Mereka juga punya keluarga lah Bang. Saya juga punya urusan" protes Bang Zaldi.


"Oke Zal. Saya minta maaf.. Saya yang lalai. Besok pagi saya kirim anggota pengganti"


"Sekarang Bang. Besok saya mau jemput calon saya."


"Oke Zal.. oke.. dua jam lagi anggota geser kesana.


***


Bang Zaldi menurunkan tas rangselnya dengan kesal.


"Saya minta maaf Zal. Saya memang salah" kata Danyon Bang Acep.


"Senior mah nggak pernah salah" jawab Bang Zaldi.


"Oke.. Sebagai permintaan maaf saya. Kamu saya ijinkan bawa calonmu untuk tinggal di rumah dinas yang akan kamu pakai setelah menikah nanti. Sudah di bersihkan anggotamu. Kamu tinggal masuk saja. Tapi dengan catatan.. kamu nggak boleh tinggal di sana karena kamu belum menikah. Kamu tetap wajib pulang ke mess. Saya sudah beri kelonggaran lho Zal. Ini intern kita saja"


"Naahh.. kalau ini saya terima Bang" senyum Bang Zaldi mulai mengembang.


"Awas saja kamu Zal. Di larang mencuri waktu. Nggak boleh berlama-lama di rumah dinas hanya berdua"


"Siap Abang. Terima kasih"


***


Bang Zaldi bersandar di ruang kedatangan menunggu Arnes datang. Sudah banyak orang berlalu lalang tapi Arnes belum juga kelihatan.


"Kemana dia, lama sekali" Bang Zaldi sudah gemas dan cemas menunggunya.


"Ada apa sih Bang. Kok daritadi belum kemana-mana"


"Jabang bayiiii.. sejak kapan kamu duduk disitu dek??????" Bang Zaldi kaget karena ternyata Arnes sedang duduk di belakangnya.


"Sudah lima belas menit yang lalu. Memangnya Abang nggak tau???" jawab Arnes.


"Itu mulut opo terompet to dek. Kenapa nggak nyapa daritadi cah ayuuuuu...?????" tegur Bang Zaldi.


"Arnes sengaja. Mau lihat wajah Abang kalau lagi kangen sama Arnes" kata Arnes.


"Polahe koyo uget-uget kok di kangeni" ucap Bang Zaldi dengan bahasa khasnya.


"Halaahh.. gayanya Abang. Ntar kalau Arnes godain.. Abang kelojotan lho" jawab Arnes yang sebenarnya memang sangat ceria membuat Bang Zaldi sedikit menyimpan senyumnya.


"Nggak usah sengaja mancing. Kamu ini benar-benar pengen Abang jungkir ya..!!"


"Coba aja kalau berani, biar Abang di tempeleng Papa" ancam Arnes.


"Tapi maaf sayang.. kalau Zaldi junior sudah terlanjur akrobat di perutmu, Papa mau bilang apa cantikku??" jawab Bang Zaldi sambil memakai kacamatanya dan menarik koper dan tas jinjing Arnes dengan gagah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2