Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
28. Aku lelakimu.


__ADS_3

Jangan dikira laki-laki nggak bisa tertular mual ya. Ada yang sudah mengalaminya lho. 🤭🥰🙏


🌹🌹🌹


"Masih sakit perutnya?" tanya Rinto saat melihat Anye mulai bangun dari tidurnya.


"Abang???? Abang kenapa?" Anye berjingkat dari tidurnya saat melihat tangan Bang Rinto juga tertancap selang infus sama seperti dirinya. Wajahnya seperti mayat hidup.


"Nggak apa-apa. Jangan begitu bangunnya. Pelan-pelan..!! Masih sakit nggak?" tanya Bang Rinto.


"Nggak begitu Bang. Hanya nyeri sedikit" jawab Anye.


Ayah Rama datang membawa jahe hangat untuk Rinto. Karena Rama pernah mengalami seperti Rinto, tentu saja ia sudah tau bagaimana caranya mengatasi calon papa muda ini.


"Minum dulu..!!"


Baru mencium baunya saja sudah membuat Rinto semakin lemas.


"Nggak kuat yah" Rinto berjalan lagi ke dalam kamar mandi.


...


"Abang kenapa yah?" tanya Anye.


"Biar dia rasakan dulu bagaimana sakit dan susahnya saat istri mengandung buah hatinya. Ini juga perjuangan. Rinto khan pengen banget punya anak." jawab Rama pada Anye.


Rinto kembali di bopong anggotanya kembali dari kamar mandi.


"Gathan.. kamu temui dokter..!! Abangmu ini nggak bakalan kuat kalau nggak di rawat" perintah Rama pada Gathan.


Rama segera melonggarkan sabuk dan melepas kancing baju menantunya yang kembali tidak sadar.


"Parah banget kamu le, dulu ayah juga begini tapi ya nggak mendeman ( mudah mabuk ) macam kamu gini" gumam Rama akhirnya tidak tega juga melihat Rinto.


...


Anye sudah bisa bangun. Sekarang malah berganti Anye yang merawat Bang Rinto yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Selang infus dan oksigen membantu menambah energi sang Danki.


Para anggota turut prihatin dengan kondisi Danki mereka tapi tak bisa menahan tawanya.


"Nggak elit banget sih sakitmu. Sakit tuh demam berdarah, malaria.. ini mual karena bini hamil" ledek Brian yang hanya bisa di balas lirikan Rinto. Saat ini Rinto benar-benar mati kutu. Hanya tanda f**k untuk menunjukkan kesalnya Rinto mendapat ledekan Brian.


***


Satu minggu sudah berlalu, musim hujan tiba mengguyur Batalyon dan Markas.


"Kamu di rumah saja, nggak usah berangkat ke kampus. Jalanan licin sekali" Rinto sudah terlihat lebih baik, hanya badannya tampak lebih kurus. Ngidam simpatik membuatnya rewel soal makan.


"Iya Bang. Anye juga pengen ijin aja hari ini. Badan Anye nggak enak"


"Kenapa?? Apa yang sakit??" Bang Rinto begitu sigap saat sedikit saja ada keluhan dari sang istri.


"Sedikit pusing saja Bang" jawab Anye.


Rinto memang merasakan tubuhnya sudah lebih sehat, tapi kalau Anye harus sampai mual parah, hal itu malah akan semakin membuatnya cemas. Pasalnya ia sebagai laki-laki saja hampir menyerah, bagaimana kalau sampai Anye yang merasakannya.


Rinto melihat jam tangannya, hari sudah semakin siang tapi hari ini Rinto ada keperluan di luar.

__ADS_1


"Abang harus segera berangkat. Abang pasti segera pulang. Kamu nggak apa-apa khan Abang tinggal sebentar?"


"Abang berangkat aja. Jangan cemaskan Anye"


***


Rinto benar-benar tidak fokus dalam pekerjaannya karena terus memikirkan Anye yang sedang sendirian di rumah. Kehamilan istrinya baru tujuh Minggu. Masih sangat kecil dan rawan.


"Rinto.. kamu paham atau tidak???" tegur Dan Rivaldi saat Rinto tidak fokus pada arahannya.


"Siap salah"


Dan Rival mendatangi bangku Rinto dan menampar pipi anak buahnya itu. Bukan karena marah, tamparan adalah teguran sayang untuk menyadarkan anak buahnya agar tidak terus lalai.


"Kamu jangan ceroboh.. Ini di Medan perang. Sebentar lagi kamu berangkat latgab. Kalau arahan saja tidak kamu dengar bagaimana kamu melindungi dirimu? Tidak melindungi dirimu sama saja menyakiti anak istrimu di rumah. Mereka menunggumu. Butuh kehadiranmu sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah"


"Siap..!!"


***


Pikiran Rinto tidak tenang saat ia kembali pulang ke rumah, saat itu hujan turun dengan derasnya. Lamat matanya melihat ada Seruni di pinggir jalan dan nampak kesakitan memegangi perutnya yang sudah membesar. Mungkin sekitar lima bulan. Kemungkinan besar saat masih dirinya masih dekat dengan Seruni, wanita itu sudah melakukannya dengan Hengky. Perasaan kesal itu muncul tapi itu sudah tidak penting lagi. Baginya saat ini.. Anyelir adalah segalanya untuk Rinto.


Rinto menepikan mobilnya dan menghampiri Seruni. Tak tau ponselnya berbunyi.. Anye menghubunginya.


"Kamu kenapa?" tanyanya di bawah guyuran hujan.


"Aku baru pulang, memergoki suamiku berjalan dengan perempuan lain" ucap Seruni sambil menangis kencang.


"Kamu lewat jalan mana???" tanya Rinto.


"Lewat kebun belakang Batalyon" jawab Seruni terbata.


Rinto terbelalak melihat Seruni ambruk ke arahnya dengan banyak darah terlihat di kakinya. Rinto segera mengangkat Seruni, dan segera membawanya ke rumah sakit.


***


"Bapak suaminya???" tanya perawat disana pada Rinto yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia begitu cemas saat tau ada dua puluh panggilan tak terjawab dari istrinya.


"Bukan.." Jawab Rinto datar. Ia segera menghubungi Papa Ardi karena Hengky sedang tidak bisa di hubungi.


Seruni menangis dan di dorong di atas brankar. Ia meraih tangan Rinto. Tanpa sadar Rinto pun mengikuti arah brankar itu ke ruang tindakan karena Seruni terus menangis dan itu membuat Rinto sedikit tidak tega.


Tak sengaja Anye baru keluar dari ruangan dokter Wira di temani Gathan dan ia melihat Rinto berpegangan tangan dengan Seruni. Rinto sangat kaget, ia melepaskan pegangan tangannya.


Dengan tenang Anye mendekati suaminya. Baju Rinto basah dan terkena noda darah, bahkan tangannya pun masih membekas darah Seruni.


"Kakak kenapa?" tanya Anye menyapa Seruni.


"Maaf.. suamimu yang harus mengantarku..!!" ucap Seruni kembali meraih tangan Rinto, susah payah Rinto melepasnya.


"Abang khan juga harus tau kalau kehamilanku ini sudah lima bulan. Saat itu aku dan Abang masih ada hubungan." Seruni menjelaskan secara ambigu hingga orang bisa berpikir lain tentang ucapannya.


Rinto kelabakan mendengarnya, takut Anye kembali salah paham dan mempengaruhi kandungannya.


Anye tiba-tiba mual dan menjatuhkan diri ke dada Rinto. Dengan sigap Rinto mendekap Anye. Rinto sangat cemas dengan keadaan Anye.


"Kenapa kamu disini dek??"

__ADS_1


"Anye mual Bang..!! Pusing.. anakmu ini rewel sekali.. nggak mau di tinggal papanya" rengek Anye begitu manja, tangannya mengarahkan tangan Rinto agar mengusap perutnya yang masih datar. Anye manja sekali sambil menyelipkan tangannya ke dalam baju Rinto.


"Abang gendong ya..!! Anye nggak kuat jalan" ucapnya.


Kini Rinto paham istrinya membalas Seruni dengan cara halus.


"Abang gendong.. Mau sampai mana?" jawab Bang Rinto. Tak ayal sikap keduanya membuat Seruni meradang.


"Bawa pasien ini. Nanti penanggung jawabnya akan datang" perintah Rinto pada perawat.


Rinto pun meninggalkan tempat sambil menggendong Anye sesuai permintaan istri tercinta meskipun itu pura-pura.


"Gathan.. kamu tolong bawa mobil saya ke tempat pencucian mobil. Minta di bersihkan seluruhnya tanpa sisa. Saya tidak mau ada jejak Seruni disana. Saya pulang bawa mobilmu..!!" perintahnya pada Gathan.


"Siap Bang..!!" Gathan segera meninggalkan tempat.


"Turunkan Anye..!!" ucap Anye bernada kesal. Agaknya sekarang Bang Rinto harus menerima setiap kemarahan istrinya.


"Jalan licin..!!" jawabnya tenang.


"Biar saja. Terpeleset sekalian juga nggak ada pengaruhnya untuk Abang. Abang lebih mementingkan Kak Seruni padahal Anye sudah menghubungi Abang berkali-kali" ucapnya sambil menangis.


"Apa maksud ucapannya?? Abang juga harus tau kandungan dia sudah lima bulan. Apa Abang yang melakukannya????" Anye berontak ingin segera turun.


Tetap dengan tenang Rinto mendudukan istrinya dengan perlahan lalu masuk ke dalam mobil.


"Jawab Bang. Jangan diam saja..!!!!!!" pekik Anye.


"Abang mau jelaskan apa? Istri Abang sedang marah" jawab Bang Rinto sambil melepas seragam luarnya.


"Jelaskan apa yang dia katakan dan kenapa Abang berduaan ada disini?????" kesal Anye.


"Kalau kamu temukan Abang di tempat maksiat sama Seruni baru kamu marah. Dia kesakitan saat hujan lebat, Abang menolongnya karena rasa kemanusiaan.. nggak ada maksud apa-apa. Soal kehamilannya.. itu benar benih dari Hengky" ucapnya dengan serius.


"Kenapa Abang yakin sekali?" tanya Anye.


"Sebenarnya itu masalah Abang dengan Hengky dan Seruni. Abang tidak ingin mengingatnya lagi" jawabnya dengan tegas.


"Apa Kak Seruni mengkhianati Abang saat Abang masih bersama kak Seruni?"


Bang Rinto hanya tersenyum menatap mata Anye lalu membelai rambutnya yang panjang.


"Jadilah istri yang Sholehah. Jaga kehormatan diri. Abang titip nama di bahumu" Tangan Rinto bersiap menyalakan mobilnya.


"Dek... terima kasih ya sudah percaya sama Abang. Abang tidak akan mengkhianatimu dan akan terus menjadi lelakimu"


"Iya Bang" senyum Anye seakan terhipnotis melihat rambut Bang Rinto yang acak-acakan tapi terlihat semakin tampan.


"Hmm..Terus itu tadi siapa ya yang merengek minta di sayang.. nggak mau di tinggal Papa Rinto.. mamanya atau anaknya??" tegur Rinto menyadarkan Anye pada kelakuannya tadi.


"Kalau mamanya boleh nggak Bang??"


"Boleh banget cintaaaa.." Bang Rinto mencubit gemas pipi Anye.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2