
"Sudah Zal jangan tarik urat. Kamu belikan saja dulu..!!" saran Opa Rama.
Bang Zaldi pun segera menyambar tasnya dan membeli apa yang di minta istri tercinta.
...
"Nggak enak, Arnes nggak mau lagi Bang..!!" kata Arnes sambil meletakan gelas jusnya di atas meja.
Bang Zaldi hanya terpaku melihat Arnes hanya menghabiskan dua teguk jus.
"Nggak enak?? Masa sih? Ini nanas madu kok" protes Bang Zaldi sambil menyeruput jus milik Arnes.
Setelah meneguknya, rasanya enak.. tidak ada yang salah. Sekarang baru Bang Zaldi paham kalau ngidamnya bumil pasti hanya mengerjai dirinya saja.
"Owalaah ndhuk, ngerjain papa kamu ya..!!" Bang Zaldi berjongkok dan menciumi perut Arnes. Gemas sekali rasanya
"Kapan kita ketemu nak. Papa kangen..!!"
"Nanti pa, si Eneng masih kecil" jawab Arnes sudah mulai berubah sifat lagi. Kini senyumnya lah yang semanis nanas madu.
"Papa sabar ma. Selalu sabar" Bang Zaldi mengecup kening Arnes.
-_-_-_-_-
Malam hari Bang Zaldi berunding dengan Dokter untuk membicarakan penyembuhan Ryan. Sebagai 'orang tua' Ryan, hati Bang Zaldi ikut sakit. Bayi sekecil Ryan harus menanggung apa yang telah orang tuanya lakukan dulu. Penyakit itu memang bisa sembuh dengan obat tapi tetap saja perasaannya tidak tega jika setiap harinya si kecil Ryan harus terus meminum obat hingga putranya benar-benar sembuh.
:
"Apa tidak ada cara lain Bang?" tanya Arnes ikut cemas memikirkan Ryan.
"Bay, coba hubungi Ghara. Tanyakan apa istrinya bisa mengobati Ryan..!!" pinta Bang Zaldi yang tiba-tiba teringat istri Ghara yang bisa mengobati almarhumah istri Bayu dulu.
Bang Bayu pun secepatnya menghubungi Bang Ghara yang sedang berada di Jawa.
::
"Katanya bisa Zal. Tapi butuh waktu untuk pengemasan dan pengiriman" kata Bang Bayu.
"Berapa lama itu Bay.. anakku butuh obatnya segera"
"Jawa sedang musim hujan Zal, sabarlah sedikit..!! Kita jaga Ryan sama-sama" Bang Bayu menenangkan Bang Zaldi yang sungguh mencemaskan putranya.
Tiba-tiba Bang Bayu mengingat sesuatu, ia pun mengetik pesan lalu mengirimnya.
"Allahu Akbar.. kamu ini nggak ada pekerjaan lain???" Bang Zaldi berjalan dan menyambar rokoknya yang sudah hancur di patahkan Arnes.
"Ini baru Abang beli lho dek. Mana tinggal sisa sebatang lagi..!!" ingin rasanya Bang Zaldi menjitak Arnes tapi dirinya terlalu menyayangi istrinya itu.
"Abang cuekin Arnes daritadi" protes sang istri.
"Bukan cuek sayang. Abang lagi urus tentang pengobatan Ryan selanjutnya" jawab Bang Zaldi.
__ADS_1
Melihat istrinya masih terdiam tanpa ekspresi, Bang Zaldi pun tau kalau Arnes sedang ingin merajuk manja dengannya.
"Ini yang kangen sama Papanya siapa? Mama apa Neng Popon??"
"Neng Popon" jawab Arnes.
Bang Zaldi mencium perut Arnes yang besar.
"Oohh.. mamanya Neng Popon nggak kangen ya? Padahal Papanya kangen banget"
"Kangen.. sedikiiiit" Jawab Arnes malu-malu.
"Besok pagi sudah boleh pulang. Jadi malamnya sudah bisa kangen-kangenan lagi" bisiknya merayu Mama Neng Popon.
Opa Rama dan Papa Rinto hanya menggeleng melihat kedua orang yang bagai di mabuk asmara itu.
***
Kiriman paket dari Jawa sudah tiba. Ternyata Tuhan masih mempermudah segalanya, panas terik membuat produksi jamu pesanan Bang Zaldi segera jadi tanpa halangan, cargo pesawat pun juga segera sampai tepat waktu.
Bang Zaldi membongkar paketan tersebut dan heran ada dua obat disana.. untuk Ryan dan juga untuk dirinya.
"Laahh.. ini obat apa ya? Siapa yang pesan?" tanya Bang Zaldi. Saat membuka bungkusnya langsung tercium aroma pahit.
"Itu aku yang pesan. Lebih baik kamu tidak minum obat itu sambil mengurangi dosisnya. Mudah-mudahan obat dari Nada bisa buat kamu bisa keluar dari ketergantungan obat itu" jawab Bang Bayu.
"Saya khan sudah bilang tidak ingin lanjut minum obat setan itu........"
"Tapi caramu untuk tidak mengkonsumsinya sama sekali itu terlalu ekstrim Zal. Kalau kamu benar-benar tidak tahan, kamu bisa mati" kata Bang Bayu
"Kamu pikir apa tiga hari itu seperti lima menit? Remeh sekali kau bicara..!!" tegur Bang Bayu tak habis pikir dengan pola pikir littingnya itu.
"Kami yang melihatmu saja ikut hampir mati. Kami ini juga mikir Arnes dan anak-anakmu. Kamu tau nggak bagaimana Arnes menangisimu? Arnes nggak mau makan, dia yang paling sakit Zal. Hatinya sakit, badannya pun juga sakit" kata Bang Bayu.
"Kamu jangan asal bicara seolah aku tidak memikirkan nasib anak dan istriku. Segala apapun yang kita lakukan dan kita pilih pasti akan menimbulkan resiko Bay.. termasuk mati karena obat laknat itu. Tak taukah kamu hatiku sudah sesakit apa saat tau aku menyakiti tubuh istriku sendiri" jawab Bang Zaldi.
"Kalian tidak perlu berdebat seperti ini..!!" tegur Opa Rama.
"Zaldi.. tidak ada salahnya kita coba segala cara untuk kesembuhanmu. Caramu tidak salah, mungkin jika Opa atau Papamu di hadapkan dengan situasi seperti ini mungkin kami juga akan memilih penyelesaian sepertimu tapi cara Bayu juga tidak salah. Jadi kita coba saja pilihan ke dua"
"Iya Opa" jawab Bang Zaldi.
-_-_-_-_-
Malam hari Ryan sangat tenang setelah minum obat racikan Nada. Kini giliran Bang Zaldi yang harus mencobanya.
Opa Rama dan Papa Rinto melarang keras Arnes melihat semuanya karena perut Arnes kini sudah semakin membesar.
"Abang pasti baik-baik saja. Sebelum subuh sudah pulang. Hanya di barak saja. Jangan ikut ya...!!" kata Bang Zaldi membujuk Arnes.
...
__ADS_1
Arnes sangat gelisah hingga tidak bisa tidur, ia mondar-mandir di dalam kamar sembari menggigiti telunjuknya dengan cemas.
Hari sudah menunjukan pukul tiga pagi tapi tak ada satu pun yang mengabari nya tentang keadaan Bang Zaldi.
Di tempat lain, di barak sana.. Bang Zaldi sudah hampir mati menahan rasa sakit. Tubuhnya seakan remuk babak belur, segala yang di lihatnya berbayang, tangannya kebas, nafasnya tiba-tiba hilang timbul.
"Bagaimana ini Bang???? denyut jantungnya mau hilang" pekik Bang Bima mengagetkan semuanya.
"Ambil oksigen Bim..!!!!" Perintah Bang Bayu sambil menekan dada Bang Zaldi.
Bang Bima segera mengambilnya. Lalu ikut menangani Bang Zaldi.
Bang Bima, Bang Bayu, Opa Rama dan Papa Rinto melihat Bang Zaldi merasa sangat tersiksa.
"Tolong panggilkan istriku" pintanya lirih.
:::::
"Dek, maafin Abang. Banyak sekali salah Abang sama kamu" ucapnya terbata.
"Abang ngomong apa? Mau bilang apa? Kalau Abang sok-sokan mau ninggalin Arnes.. sandal ini melayang di wajah Abang" Arnes tak kuasa menahan tangisnya melihat Bang Zaldi sekuatnya menahan rasa sakit.
"Apalah Abang ini. Nggak cocok jadi tentara. Arnes hampir mati melahirkan anak Abang tapi hanya segini saja Abang tidak mampu??????" Sengaja Arnes meledek Bang Zaldi untuk membuang rasa cemasnya.
"Jahatnya istri Abang, tapi ini nggak sakit. Masih sakit saat jauh dari kamu" ucapnya masih sempat menggombal.
"Boleh Abang tidur?" Bang Zaldi meringkuk di paha Arnes, ia meminta Arnes mengusap dirinya.
"Nggak boleh, Abang harus nyanyi dulu. Kalau Abang nggak mau nyanyi, Arnes hajar Abang pakai jurus kempo" ancam Arnes.
"Abang pengen tidur sayang..!!" ucap Bang Zaldi seperti sebuah permohonan. Ia menciumi perut Arnes hingga tak terasa air matanya menetes.
"Tak pernah papa bayangkan bisa sebahagia ini menantikan kehadiranmu putri kecilku. Bahagialah kamu bersama Mama dan dua Abang"
"Abaaaanngg.. jangan bicara aneh-aneh. Kita akan bahagia bersama" Arnes memeluk Bang Zaldi dengan erat.
"Abaaaaaaaaang..!!!!!!" teriaknya saat tidak merasakan apapun lagi dari suami tercintanya.
🥀🥀🥀
"Neeess.. Arnes.. sadar dek..!! Bangun.. buka matamu..!!!!"
"Bang.. Abaang, jangan tinggalin Arnes" ucapnya masih begitu sedih berlinang air mata.
Tangan kekar itu sampai tak berani berhenti mengusap perut Arnes yang menegang kuat.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan budayakan spoiler. Nikmati alur ceritanya..!!!!!