
"Mohon maaf pak. Ini rumah siapa?" tanya wanita itu.
"Ini rumah saya" jawab Brian dengan tenang.
"Apa tidak apa-apa kalau saya kesini pak??" tanya wanita itu.
"Nggak apa-apa" jawab Brian santai tapi hatinya cukup waswas karena ia sedang membawa wanita lain pulang ke rumah.
...
Brian mencium kening Anye.
"Dek.. bisa bangun sebentar..!!" Bang Brian membangunkan Anye dengan lembut.
Perlahan Anye membuka matanya.
"Kenapa Bang?" mata Anye masih sembab karena terlalu banyak menangis.
"Abang nabrak perempuan dek, luka. Bisa bantu Abang obatin dia??" tanya Bang Brian
"Abang bawa wanita lain ke rumah ini???" Anye menanggapi suaminya dengan datar.
"Daripada Abang bawa dia ke hotel. Kamu pilih mana?" Bang Brian pun berucap datar.
"Terserah Abang" jawab Anye pelan.
...
"Terima kasih" ucap wanita itu saat Anye selesai memakaikan perban di keningnya.
"Saya Anyelir.. siapa nama mbak?" tanya Anye.
"Saya Riani" jawab wanita itu.
Brian tak menanggapi apa yang terjadi di dalam sana. Ia hanya mendengarkan saja tanpa ingin ikut campur dengan urusan kedua wanita itu.
#
"Kenapa mbak bisa tertabrak mobil Bang Brian??" tanya Anye.
"Saya kabur dari suami saya" jawab Riani dengan sedih.
"Boleh saya tau apa sebabnya? Karena wajah dan tangan mbak banyak lebam" tanya Anye.
"KDRT. Sejak menikah suami saya selalu kasar. Saya mengajukan perceraian tapi suami saya selalu menolak dengan berbagai alasan. Dia sayang sama saya, tapi dia juga ringan tangan sama saya." jawab Riani.
Anye terdiam tak sanggup berkomentar. Ternyata dalam hidup ini masih banyak yang harus ia syukuri. Bang Brian dan Bang Rinto tak pernah sekalipun main tangan dengannya. Bang Rinto memang pria yang kaku dan tegas, Bang Brian lembut dan romantis tapi keduanya tidak pernah menyakiti fisiknya. Ia semakin sedih tak bisa menyakiti hati kedua pria yang kini mengisi hidupnya.
"Saya ingin lepas dari suami saya. Saya tidak bisa menjabarkan cinta apa yang dia punya.. posesif atau psikopat"
"Dimana kamu dan suamimu tinggal?" tanya Bang Brian mulai menanggapi cerita Ariani.
"Di asrama..........."
...
"Kenapa kamu ingin dia disini? Kita tidak tau apakah dia bicara benar atau tidak" tanya Bang Brian tidak setuju jika Ariani harus ikut tinggal bersama mereka.
"Setidaknya kita hindarkan dia dari kekerasan sampai Abang temukan info tentang dia" jawab Anye.
"Itu salah dek. Itu berarti kita sudah lancang masuk ke dalam masalah rumah tangga orang lain. Bagaimanapun dia masih punya suami meskipun suaminya itu kasar.
"Masalahnya bukan ikut campur, tapi menjauhkan wanita ini dari kekerasan Bang. Apa Abang tega melihat ada perempuan di aniaya??" tanya Anye.
__ADS_1
"Oke, Abang akan cepat cari info agar Ariani segera keluar dari rumah ini. Tapi dia tidak bisa tinggal disini. Kamu paham..!!" jawab Bang Brian.
"Besok pagi kita bicarakan lagi. Kepala Anye sakit sekali Bang" Anye tidak ingin membahas hal ini lagi.
#
"Istri saya sedang hamil, mungkin suasana hatinya sedang tidak begitu baik. Maaf kalau mungkin ada respon yang tidak menyenangkan dan terkesan ikut campur" kata Brian saat ia berniat memulangkan Ariani. Anye sudah tidur dan tidak tau Bang Brian akan mengembalikan Ariani pada suaminya.
"Tidak masalah pak. Saya yang sudah mengganggu dan merepotkan bapak" kata Ariani.
"Mana kartu identitasmu. Saya perlu identitas aslimu.." Bang Brian datar sekali berbicara dengan Ariani.
Istri dari Serma Anang. Dia istri anggota markas?
Bang Brian nampak biasa saja meskipun dalam hatinya bertanya-tanya mengapa Riani bisa di perlakukan buruk oleh suaminya.
"Tolong saya pak. Saya ingin pisah" kata Riani penuh permohonan.
"Ariani.. bukannya saya tidak mau membantu. Saya dan suamimu beda kesatuan. Tidak ada kewenangan bagi saya untuk masuk ke dalam masalah ini" jawab Bang Brian.
Ariani menangis sesenggukan.
"Saya mengerti pak. Maaf saya mengganggu ketenangan keluarga bapak. Kalau begitu saya pamit saja pak"
"Asrama itu tidak jauh dari sini. Biar saya yang antar kamu pulang..!!" kata Bang Brian.
-_-_-_-_-
Tengah malam Brian mengantar Ariani pulang tanpa sepengetahuan Anye. Brian melewati penjagaan ketat saat melewati gerbang kesatrian.
#
Nama Serma Anang terpampang jelas di dinding samping pintu rumah dinas itu. Brian mengetuk pelan pintu rumah itu. Tak lama pintu rumah Ariani terbuka lebar. Disana berdiri seorang pria berkacak pinggang.
"Siapa laki-laki ini????" tanya Anang menunjuk wajah Riani dengan amarah memuncak.
"Maaf mas, Riani salah" ucap Riani dengan takut.
Tangan Anang langsung berayun hendak menampar pipi Ariani tapi Brian segera menarik Ariani ke belakang punggungnya untuk melindungi wanita itu.
"Tangan untuk membelai sayang seorang wanita. Bukan untuk menamparnya..!!" tegur Brian.
"Waahh.. ternyata kamu sudah punya pembela. Sudah berapa lama kamu selingkuh sama dia????" bentak Anang.
"Aku nggak selingkuh mas. Mas yang sudah selingkuh" pekik Ariani. Ia seperti sudah trauma mendapat perlakuan buruk.
"Itu karena kamu nggak bisa memberiku anak. Dasar wanita tidak tau terima kasih. Aku menikahi wanita lain untuk mendapatkan anak"
"Keparat, pria macam apa kau ini???" Brian sungguh jengkel melihat pria kasar seperti Anang.
Anang langsung masuk ke dalam kamar tak tau apa yang sedang ia lakukan. Tak lama Anang kembali menyeret sebuah koper besar lalu mengangkat dan melemparnya di hadapan Brian.
"Bawa pergi wanita itu dari hadapanku..!!" ucap Anang di hadapan Brian.
"Dengar Ariani.. Kau sudah lama ingin pisah dariku. Mulai detik ini kau bukan istriku lagi..!!!"
"Heehh.. pria gila..!! Tarik ucapanmu.. Kamu mau ceraikan Ariani??????" Brian terpancing amarah dengan situasi ini.
Anang langsung menutup pintu rumahnya dengan kasar.
"Ini sudah ketiga kalinya Pak" ucap Ariani.
"Astaga.. masalah apa lagi ini..!!!" Brian mengusap wajahnya, ia bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin pula ia membawa Ariani ke rumahnya, apalagi harus menjelaskan pada Anye karena Anye sudah memberi peringatan agar ia mencari informasi dulu tentang Ariani.
__ADS_1
....
"Terima kasih ya Jeri.. kamu sudah mau meminjamkan kontrakanmu untuk Ariani. Saya janji akan menjelaskan pada tunanganmu tentang masalah ini" kata Brian.
"Siap.. terima kasih Dan"
"Tolong rahasiakan dulu dari istri saya perihal masalah ini. Kamu tau khan kondisi rumah tangga saya sedang goyang. Saya tidak mau masalah ini mempengaruhi kehamilan istri saya" ucap Brian setengah memohon.
"Saya mengerti Dan"
Brian menepuk bahu Jeri sebagai tanda terima kasih.
-_-_-_-_-
"Abang darimana?" tanya Anye sambil menggeliat saat melihat Bang Brian sedang menggantung jaketnya.
"Dari pos utama. Ariani di jemput suaminya" jawab Bang Brian dengan santai.
"Yang benar Bang?? Semudah itu???" tanya Anye lagi.
"Nggak usah kamu pikirkan rumah tangga orang. Pikirkan anak-anakmu saja" kata Bang Brian lalu mengecup kening Anye.
"Cepat tidur lagi. Abang mau buat susu dulu untuk Seno"
Anye merasa janggal dengan jawaban Bang Brian tapi ia tetap berusaha percaya dengan pria yang masih menjadi suaminya dalam status 'abu-abu'.
***
Berkas amelden Rinto hampir selesai. Tumpukan berkas dan segala hal yang bersangkutan tentang pengembalian status dan salinan surat pindah sudah berada di tangannya. Dua hari ini ia baru bisa mengenakan seragamnya kembali.
Rinto bersandar di tembok gudang senjata sambil membaca surat keputusan perpisahannya dengan Anye dari daftar riwayat hidupnya. Ia menengadah berharap hatinya tidak perih lagi.
"Mudah-mudahan segera selesai semua masalah Abang" ucap Gathan yang ikut duduk disamping Bang Rinto bersama Bang Arben. Gathan langsung sibuk dengan ponselnya.
"Takdir di surat ini hanya keputusan segelintir manusia, tapi tak ada yang bisa menghapus apa yang sudah di takdirkan Tuhan. Saya tidak pernah mengucap kata terkutuk itu di hadapan istri saya Anye" ucap Rinto dengan tegas.
"Kamu harus kuat Rin. Kamu nahkoda yang membawa kapalmu yang akan berlabuh. Pandailah menatap arah gelombang, banyak karang tak terlihat. Semua tanggung jawab itu harus kamu pikul meskipun rintangan di sekelilingmu. Ingat, mematikan mesin di tengah laut juga penuh pertimbangan matang" nasihat Bang Arben.
"Astaga.. Anye..!!" Gathan mengusap tengkuknya yang terasa panas.
"Anye kenapa????" Rinto langsung merespon segala hal yang menyangkut tentang Anye.
"Abang baca sendiri..!!" Gathan menyerahkan ponselnya pada Bang Rinto.
Setelah membaca berita itu Bang Rinto langsung berlari menemui Bang Satriyo.
...
"Abang.. ijinkan saya menemui Anye..!!"
"Rinto.. semua berkasmu masih dalam proses" kata Bang Satriyo.
"Saya harus menemui Anye Bang. Anye sedang dalam masalah"
"Tapi Rinto.. tanpa penyelesaian berkas itu, statusmu belum valid" kata Bang Satriyo membujuk Rinto.
"Abang ijinkan atau tidak, saya tetap akan berangkat. Saya mengundurkan diri dari kesatuan..!!"
.
.
.
__ADS_1