Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 95. Selamat datang kerusuhan.


__ADS_3

Bang Zaldi berjongkok. Seperti biasa hanya 'pura-pura' muntah karena tidak ada lagi yang keluar dari perutnya.


"Mana yang namanya Miranda??" Arnes melepas sandalnya bersiap melempar 'wanita' yang bernama Miranda.


"Abang jawab Baang..!!" Sebuah sandal sudah hampir melayang.


"Gimana mau jawab? Abang mual" jawab Bang Zaldi.


"Beraninya ya Abang makan berdua sama Miranda"


"Abang khan piket dek. Terus siapa yang mau kasih makan si Miranda sama Jangkung. Adi belum berani" jawabnya kemudian mual lagi. Bang Zaldi baru bisa menjawab setelah Arnes menanyainya.


"Oohh.. kudanya Arnes namanya Miranda??" jawab Arnes tanpa rasa bersalah.


"Terus kenapa Abang muntah?"


"Abangmu itu yang keterlaluan. Miranda di kasih makan sirsak. Abang mual"


Mual??? Kenapa belakangan ini Abang jadi aneh? Apa aku hamil??"


:


"Mbak, masih belum pulang khan? Bisa nggak Arnes titip belikan........"


...


Sore hari Arnes cemas sekali, ia mondar-mandir kebingungan sampai kemudian Bang Zaldi masuk ke kamar dan menyisir rambutnya. Seketika Arnes langsung memeluk punggung Bang Zaldi.


"Kenapa nih, minta di ehem-eheem ya?" tak buang waktu lama Bang Zaldi berbalik badan dan menciumi sela leher Arnes. Gairahnya seke merangkak naik.


"Abaang iihh.."


"Kenapa sih, Abang nggak tahan nih. Abang janji nggak akan selingkuh secantik apapun Miranda" kata Bang Zaldi saat melirik Arnes dari cermin.


"Bukan ituuuu"


"Terus??" tanya Bang Zaldi bingung.


"Arnes hamil Bang. Gimana nih?"


"Aahh.. bercanda kamu. Abang sudah hati-hati kok. Nggak mungkin lah jebol dek"


"Kita ke Om Noe yuk Bang..!!" ajak Arnes.


-_-_-_-_-


Dokter Immanuel terkikik geli mendengar cerita Bang Zaldi yang mendatanginya ke tempat praktek sore itu.


"Sumpah, bodoh banget lu Bang. Sudah berapa kali ngegarap bini masih aja tetap Oneng"


"Maksudmu apa? Ngomong yang jelas" tanya Bang Zaldi kesal.


Dokter Immanuel mengambil kalender lalu menunjukan pada Bang Zaldi.


"Sudah nggak pintar, marah lagi. Hari-hari yang Abang tabrak tiap hari itu, masa suburnya Arnes. Nah, waktu hari aman malah banyak Abang anggurin. Naahh.. dari cerita tadi. Gue yakin pasti ada lupanya lu angkat Bang. Ngaku nggak..!!!"


"Iya Om. Benar"


"Eehh.. kapan Abang nggak angkat?????" protes Bang Zaldi saat dirinya masih berpikir keras.

__ADS_1


"Sering banget Bang" jawab Arnes polos.


"Duuhh.. kenapa kamu nggak bilang? keenakan juga kamu. Kalau kamu tau Abang sudah mode terbang tuh di ingatkan" Bang Zaldi menepuk dahinya.


"Kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Sudah jadi anak juga"


"Apa Abang bisa mengontrol diri kalau sudah begitu??" tanya Arnes sudah ingin menangis saja.


"Jadi Abang nggak masalah nih?"


"Aduuhh.. jangan nangis donk dek. Abang pasti tanggung jawab" Bang Zaldi menghapus air mata Arnea.


"Abang nggak pernah ada masalah. Abang harap kamu bisa ikhlas dek, ini semua bukan dia yang minta.. tapi kecerobohan kita berdua, terutama Abang"


Arnes memeluk Bang Zaldi. Dokter Immanuel rasanya ingin tertawa terbahak melihat pasangan ini. Mana ada suami yang tidak bertanggung jawab setelah membuat istrinya hamil.


...


"Widiiihh.. gol lagi Bang?" tanya Om Adi hampir tak percaya pendengarannya.


"Iya donk, Ini pembuktian Di. Abang nggak gagal jadi pejantan" jawab Bang Zaldi dengan sombongnya, tapi harus di akui Om Adi.. DanSat sungguh luar biasa.


"Duluan ya Di, Ibu komandan minta nasi goreng nih" pamit Bang Zaldi tidak berani meninggalkan istrinya terlalu lama.


//


"Kenyang Bang. Abang habiskan..!! Arnes mau cuci kaki, ngantuk" Arnes menyingkirkan piringnya padahal baru dua suap melahap nasi gorengnya.


Kejadian seperti ini yang selalu membuat Bang Zaldi sedih. Istrinya tidak mau makan dan lemas.


"Temani Abang makan sebentar..!! Nanti Abang temani ke kamar mandi. Jangan jalan sendirian" ucap Bang Zaldi mulai dengan segala tingkah protektif nya.


Arnes mengangguk lalu melipat kedua tangannya. Ia bersandar pada meja, perlahan matanya terpejam dan tertidur.


Bang Zaldi segera menghabiskan nasi gorengnya lalu segera tidur.


"Jangan kaget kamu ya kalau nanti lihat perut Abang nggak kotak lagi. Tiap kamu makan, Abang jadi bak sampahmu dek" gerutu Bang Zaldi.


***


Sedari tadi Bang Zaldi merokok dan makan permen mint untuk mengurangi rasa mualnya. Kali ini DanSat sudah lebih pintar mencari akal agar dirinya tidak oleng menanggung hasil perbuatannya pada Arnes.


"Ijin Dan.. ini ubi nya" kata Made.


"Terima kasih ya. Oya ya, itu buah sirsaknya sudah di panen apa belum? Nggak kuat saya lihatnya"


"Siap.. sudah"


Bang Zaldi kembali mendatangi Miranda.


"Terima kasih ya cantik. Kalau nggak karena kamu mana tau kalau queen Arnes lagi bawa anak papi. Kamu pintar sekali" puji Bang Zaldi pada kuda betinanya. Matanya terpejam menepuk badan si kuda betina, sungguh terharu rasanya mendengar sang istri kembali mengandung. Hatinya terbolak balik mengingat perjalanan dirinya bersama sang istri.


Abang janji akan menjagamu baik-baik. Apapun akan Abang lakukan demi kamu sayang.


"Abang lagi apa?" sapa Arnes yang entah sejak kapan datang disana mengagetkan Bang Zaldi yang sedang kusyuk.


"Astagfirullah hal adzim.. kamu bikin kaget aja dek"


"Jangan bilang Abang mulai ada hati sama Miranda ya" ledek Arnes.

__ADS_1


"Hmm.. mulai lagi khan. Terus ada apa nih tiba-tiba ada disini?"


"Ehmm.. anu bang.. itu.." Arnes ragu mengatakannya ia sungguh takut.


"Kenapa? Kamu pengen apa? Kalau Abang bisa, apa sih yang nggak buat kamu" kata Bang Zaldi sambil membenahi jilbab Arnes.


"Boleh nggak Abang menunggangi di Jangkung?"


"Haaaaahhh.. No..!!!!! Pulang sekarang" mimik wajah Bang Zaldi berubah begitu mendengar permintaan Arnes. Jantungnya berdetak kencang mencemaskan bayinya.


"Arnes khan baru bilang. Kalau nggak boleh ya nggak apa-apa, kenapa Abang marah???" Arnes berjalan cepat meninggalkan Bang Zaldi yang masih berdiri di tempatnya.


"Ya Allah.. Ini sebenarnya siapa sih yang salah. Kenapa kamu yang marah" ucap Bang Zaldi dengan keras.


"Arneess.. pelan jalannya..!!!!!" bentak Bang Zaldi.


Arnes terus berjalan dengan kesal karena Bang Zaldi terus memarahinya.


"Gustii Allah.. Iki kudu piye??" Bang Zaldi mengusap dadanya agar bisa lebih sabar menghadapi istrinya. Kakinya pun melangkah menyusul Arnes. Hatinya melemah bukan berarti kalah.


"Abang yang salah, maaf ya. Abang hanya cemas sama si kecil, sulit sekali dapat si kecil kita ini"


"Arnes khan sudah bilang kalau nggak boleh ya nggak apa-apa. Abang ini memang pemarah sekali" jawab Arnes.


"Iyaa, maaf. Ya sudah ayo naik sama Abang, tapi janji harus nurut sama Abang. Jangan bertingkah sampai buat si Jangkung lari kencang"


//


Bang Zaldi menambahi bantalan busa agar perut Arnes tidak berguncang.


"Ayo sini.. pelan..!!!" Bang Zaldi mengulurkan tangannya agar Arnes bisa naik.


"Jangan buka kaki..!! Jangkung masih galak ini" Bang Zaldi mengapit kedua kakinya agar istrinya duduk tenang. Bang Zaldi sedikit menyentak perut si Jangkung. Perlahan hewan gagah itu berjalan pelan.


Begitu si Jangkung berjalan, Arnes malah bersandar di dada Bang Zaldi karena merasa takut.


"Abang kok bisa tunggangi kuda?" tanya Arnes sambil memeluk erat Bang Zaldi. Bang Zaldi mengarahkan si jangkung ke bukit belakang kompi.


"Dulu setiap hari Abang naik sapi. Abang khan anak desa. Nggak punya mainan mahal, hanya sapi sebagai mainan Abang. Membajak sawah juga tidak pernah jauh dari Abang" jawab Bang Zaldi sambil sebelah tangannya memegangi perut Arnes seraya menjaga calon bayinya.


"Kamu senang naik seperti ini?"


"Iya Bang, senang. Arnes nggak pernah naik seperti ini. Naik motor saja di marahi"


"Wajar sayang.. mungkin kalau Abang punya peri kecil, Abang akan seposesif papa" jawab Bang Zaldi.


"Dek, kamu jangan salah mengerti kalau Abang marah. Abang bukannya tidak sayang. Abang sangat sayang sama kamu, hanya saja terkadang permintaanmu buat Abang takut. Ini ada dedek bayinya sayang"


"Maaf ya Bang. Hamilnya Arnes selalu buat rusuh dan keributan"


"Buatlah sesuka hatimu, tidak ada yang melarang asal Abang masih bisa mengontrol tindakanmu. Kita nikmati segala prosesnya, biar kita bisa mengingatnya sebagai kenangan saat kita tua nanti. Hal yang tidak akan pernah terulang lagi seumur hidup kita. Terima kasih ya kamu sudah mau bersusah payah mengandungnya. I love you my queen. the greatest alligator wife"


Angin sepoi mengantarkan kehangatan dua pasang mata yang saling menatap.


"Jangan lihat Abang begitu kenapa sih. Abang nggak kuat neng. Tanggung jawab kamu..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2