
Bang Zaldi Aru bisa tidur menjelang jam setengah tiga pagi. Rasa gelisahnya mulai hilang tapi hingga tidur pun masih terbayang wajah Arnes. Entah kenapa hanya wajahnya saja yang terus mengganggu hingga rasanya ia frustasi di buatnya.
...
Arnes memasak sayur kangkung, ikan asin dan sambal. Bang Zaldi sangat menyukai masakan sederhana itu padahal yang Arnes tau biasanya rata-rata kebanyakan pria yang telah memiliki pangkat akan cenderung berhura-hura bahkan pemilih.
"Abang suka makan apalagi Bu?" tanya Arnes.
"Sambal terong, sambal pete sampai tumis daun pepaya juga Abang doyan. Abang nggak begitu suka daging ayam tapi kalau tahu dan tempe nomer satu" jawab ibu.
Anye mengangguk sambil menumis cah kangkung. Dalam hati Arnes masih penasaran tentang masa lalu Bang Zaldi.
"Bu, apa dulu Abang banyak pacarnya?" tanya Arnes hati-hati.
"Abangmu itu nggak pernah jalan sama perempuan. Setau ibu juga nggak pernah pacaran tapi ibu selalu kewalahan dengan tingkahnya. Abangmu sering terlibat tawuran tapi itu semua sesuai dengan kepintarannya. Karena logikanya dan IQ nya itu.. Bang Zaldi bisa menangkap bandar narkoba, gangster dan geng motor hingga ia di tawari masuk kepolisian dan tentara, tapi yaaa.. Abangmu itu ternyata sangat mencintai lorengnya" jawab Ibu.
"Arnes nggak tau lho Bu kalau Abang punya prestasi seperti itu" kaya Arnes.
Ibu tersenyum mendengar celotehan menantunya.
"Makanya Abangmu kaku sekali dengan perempuan. Kebiasaan berkumpul dengan laki-laki buat Abangmu kurang pintar interaksi dengan perempuan. Tapi sepertinya Ibu lihat Abang anteng sama kamu ndhuk"
...
Arnes mengambilkan sarapan Bang Zaldi yang tertunda. Usai sholat subuh tadi Bang Zaldi tidur hingga pukul sepuluh.
"Apa begitu caranya mengenalkan tempat baru sama istri. Di tinggal tidur sampai jam sepuluh?" sindir Arnes.
"Maaf dek. Kepala Abang sakit, makanya lanjut tidur" kata Bang Zaldi.
"Setelah makan, Abang ajak kamu ke kebun, kita petik kelengkeng sama durian"
Berhubung Arnes pun suka dengan buah kelengkeng, ia sangat sekali saat Bang Zaldi mengajaknya.
...
Arnes berjongkok dan memakan satu gerombol kelengkeng dan beberapa buah rambutan yang Bang Zaldi petikan untuknya.
"Abang sudah taruh buah ini di gubuk, kenapa kamu tarik kesini? Minggir disana makannya. Ini pohon durian, buahnya sudah tua. Kalau kamu sampai tertimpa buahnya, Abang nggak mau tolong" ancam Bang Zaldi.
"Lagipula di sini sesekali ada kera yang masuk. Abang nggak mau juga berurusan dengan kera"
Arnes terus mengunyah tanpa mengindahkan ucapan Bang Zaldi.
"Terserah lah. Dasar kepala udang.. kalau sudah berurusan dengan makhluk memamah biak sepertimu itu sulit penyelesaiannya" Bang Zaldi pun meninggalkan Arnes.
Tak berapa lama ketika Bang Zaldi sedang menghitung keranjang hasil panen, ada buah durian matang pohon meluncur kencang dan menimpa Arnes yang sedang menikmati kelengkeng hingga tersedak.
"Aaaaaahh.. sakiit" pekiknya
Arnes merasa kesakitan di punggung, ia juga masih menepuk dadanya karena tak sengaja menelan biji kelengkeng, belum lagi tanpa ia sadari ada seekor kera turun dari pohon dan merampas tas Arnes.
"Dek.." Mata Bang Zaldi melotot di buatnya. Ia membuang kertas hitungan dagang dan segera berlari menghampiri Arnes yang masih tertelungkup di bawah pohon durian.
__ADS_1
"Astagfirullah.. ya ini hasilnya kalau nggak nurut suami. Ada aja khan"
"Abang jangan ribut, tolong ambil tas Arnes..!! di sana ada barang kesayangan Arnes" ucap Arnes sampai menangis.
"Nggak usah di kejar. Nanti Abang ganti. Keranya bawa tasmu tinggi sekali"
Arnes semakin menangis entah apa yang dirasakannya.
"Tapi kamu bagaimana dek??"
"Arnes nggak apa-apa Bang. Cepat selamatkan barangnya" pinta Arnes.
//
Dengan usaha keras, Bang Zaldi melempar tali **** untuk mengambil tas Arnes di atas pohon.
"Alhamdulillah dapat" Bang Zaldi segera turun dari pohon dan membawa tas itu pada Arnes yang sudah menunggunya di gubuk.
"Ini tasnya. barang apa sih dek?"
Arnes segera mengambil tas itu lalu melihat isinya dan ternyata barang kesayangan Arnes masih ada lalu mengangkatnya tinggi.
"Alhamdulillah masih ada Bang"
"Ya Allah, hanya lipstik???"
"Abang jangan meremehkan. harga lipstik ini tadinya seratus empat puluh lima ribu. Arnes bisa dapat dengan harga lima puluh delapan ribu" ucap Arnes.
"Astaga dek. Gara-gara lipstik obralan nyawa suamimu sampai mau di obral juga" Bang Zaldi sudah pasrah dengan tingkah Arnes ini.
"Sakiit" ucapnya meminta perhatian Bang Zaldi. Tertimpa durian memang sakit.. tapi ternyata melihat Bang Zaldi murka lebih membuatnya takut.
Bang Zaldi menjadi tidak tega dan menyudahi acara marahnya. Sedikit di bukanya pakaian Arnes dan terlihat memar bengkak seperti tertusuk.
"Kamu ini. Kalau nggak bikin Abang pegang balon hijau kenapa sih?"
"Apa itu Bang?" tanya Arnes.
"Kalau sudah meletus... hatiku sangat kacau"
Arnes tertawa terkikik mendengarnya tapi seketika langsung hilang saat Bang Zaldi memencet memarnya.
***
Malam ini Arnes sudah tidur nyenyak setelah Bang Zaldi memijat dan memberikan salep di luka lebam Arnes. Bang Zaldi terus melihat wajah Arnes dan membelai pipinya. Hatinya masih belum begitu percaya kalau ia sudah memiliki Arnes dalam hidupnya.
dddrrtt.. ddrrrtttt.. ddrrrtttt..
Bunyi ponsel yang terus bergetar itu sempat di abaikan Bang Zaldi. Tapi karena terlalu mengganggu akhirnya Bang Zaldi melihat berita di ponselnya juga.
"Aduuuhh.." Bang Zaldi menepuk dahinya saat melihat namanya di plot untuk mengawasi bangun desa selama tiga minggu terhitung mulai ia tiba di Sulawesi nanti.
***
__ADS_1
"Dek.. Abang kena plot mengawasi bangun desa selama tiga minggu. Kamu disini saja sama Mama Papa ya. Tiga minggu lagi baru nyusul ikut Abang ke Sulawesi" kata Bang Zaldi.
Arnes kaget sekali, baru saja menikah tapi sudah harus di tinggal bertugas oleh sang suami.
Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Arnes memantapkan hatinya.
"Arnes ikut Abang ke Sulawesi" jawabnya dengan yakin.
"Tapi dek. Abang nggak ada di rumah. Rumah itu juga belum di renovasi. Kalau tengah malam kamu mau ke kamar mandi bagaimana? Kamu juga belum biasa nimba air. Lagipula Abang belum lapor secara tertulis kalau kita sudah menikah. Laporan secara lisan saja tidak cukup" kata Bang Zaldi. Sekarang Bang Zaldi baru merasakan yang namanya benar-benar cemas.
"Arnes khan sudah jadi istri Abang. Kalau nggak ikut Abang dari sekarang, bagaimana Arnes bisa belajar dan mandiri" jawab Arnes.
"Hmm.. begini saja. Kamu tinggal di kontrakannya Seno, dia khan beda kesatuan sama Abang. Nanti setelah Abang pulang dari penugasan. Abang langsung lapor Danyon"
Arnes mengangguk menyetujui saran Bang Zaldi.
Ibu tersenyum melihat awal yang baik dari putra dan menantunya. Hati beliau tidak sedih atau risau saat Bang Zaldi berpamitan untuk pergi bertugas karena ini sudah menjadi sebuah resiko memiliki anak seorang abdi negara. Hanya waktu seperti ini saja beliau bisa merasakan kehadiran sang putra. Jika jauh, Bang Zaldi tak pernah lupa menghubunginya dan itu sudah cukup.
***
Papa Rinto melihat Bang Zaldi sibuk membuat packing barang dan pakaian Arnes di ruang tamu. Asap mengepul karena menantunya itu sedang menjepit sebatang rokok di sela bibirnya. Ia masih belum percaya, terlebih belum ikhlas putrinya akan segera ikut dengan Zaldi yang kini sudah menjadi suami Arnes.
Papa Rinto hanya duduk diam di samping Bang Zaldi kemudian berganti melihat Arnes yang sudah tidur di dalam kamarnya, bergelung nyaman di ranjang.
"Belum tidur pa?" sapa Bang Zaldi.
"Belum ngantuk Zal"
Bang Zaldi paham jika mertuanya masih belum rela dirinya membawa Arnes. Tapi kini Arnes adalah istrinya. Kemanapun ia melangkah.. Arnes akan selalu ada dalam dekapannya.
"Saya mohon ijin membawa Arnes ya pa"
Papa Rinto tersenyum mendengarnya.
"Iya, bawalah dia kemanapun kamu pergi. Ingat Zal. Istri jangan di letakan di kaki, juga tidak untuk kamu letakan di kepala. Letakan dia di dalam hati karena jika dia sudah ada di hati, surga itu bisa kamu rasakan. Menyatukan dua kepala itu sulit.. kuncinya hanya banyak sabar dan ikhlas" kata Papa Rinto.
"Papa sudah dengar kalau Arnes ingin bekerja. Apa kamu mengijinkannya??"
"Saya ijinkan dalam pengawasan saya sampai dia bosan. Karena sebenarnya mencari nafkah adalah tugas saya pa. Nanti pasti ada saatnya dia lelah dan sadar kalau wanita lebih baik ada di rumah. Saya salut dan bangga dengan wanita yang kuat membantu ekonomi keluarga di luar sana. Tapi pribadi saya.. saya ingin istri saya mengatur seluruh kegiatan rumah tangga, mendampingi saya secara langsung. Saya terlalu lelah melihat dunia yang keras" jawab Bang Zaldi.
"Sejujurnya saya ingin sekali punya istri yang manja" ucapnya dengan senyum.
"Seleramu saya seperti papa" kata Papa Rinto.
"Manja itu nggak susah di buat jinak pa" bisik Bang Zaldi.
"Waahh.. tapi kalau sudah cemburu yo montang manting kamu Zal. Belum terasa kamu tertimpa batunya kalau istri cemburu"
Papa Rinto dan Bang Zaldi sama-sama menarik nafas dan membuangnya kasar.
.
.
__ADS_1
.
Skip jika tidak sesuai dengan hati. 🙏🙏🙏