Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 42. Jangan lemah.


__ADS_3

Bang Zaldi menggendong Arnes masuk ke dalam rumah. Para ajudan hanya bisa tersenyum melihat tingkah Lettu Erzaldi yang begitu posesif pada istrinya.


"Ijin Dan.. ibu sakit??" tanya seorang ajudan Papa Rinto.


"Nggak, istri saya sedang hamil mas" jawab Bang Zaldi.


"Waahh Alhamdulillah.. Dan. Semoga lancar dan sehat selalu sampai persalinan"


"Aaminn.. terima kasih banyak"


"Ijin Dan.. ini saya juga sedang menunggu hari kelahiran anak pertama saya"


"Oya?? Waahh.. hadiah di bulan ini ya. Menyambut kelahiran anak. Prediksi laki apa perempuan??" tanya Bang Zaldi.


"Insya Allah perempuan Dan"


"Oke mas, saya bawa istri masuk dulu ya. Lumayan nih bobot satu rangsel tempur" ucap Bang Zaldi meskipun tidak terlihat seperti membawa beban. Ya memang istri PasiIntel itu sangat mungil.


"Siap Dan"


-_-_-_-_-


"Obat anti mualnya ada nggak Zal??" tanya Mama Anye.


"Ada Ma" Bang Zaldi terburu-buru mencari obat Arnes hingga obat itu jatuh berantakan.


"Apa Arnes tinggal disini dulu sampai mabuknya hilang??" Papa Rinto memberi saran.


"Nggak mau Papaaaa.. Arnes mau ikut Abang" pekiknya membuat Mama, Papa dan Bang Zaldi kaget.


"Aduuhh Arnes.. Iyaaaa..!!!! Ya sudah kalau mau mau ikut Abangmu. Nggak usah teriak" kata Papa Rinto.


"Papa ini mau pisahin Arnes dari Abang" ucapnya sensitif terlalu mendramatisir.


"Kamu bicara lah berdua sama Arnes. Papa pusing" Papa Rinto menarik tangan Mama Anye agar keluar dari kamar.


Bang Zaldi hanya bisa menyunggingkan senyum menghadapi bumil. Arnes yang dulu lincah sekarang menjadi lemas. Wajahnya yang segar kini jadi malas memoles make up dan skin care.


"Arnes ikut Abang" rengeknya lemah.


"Siap.. Laksanakan perintah Ibu Pasi." jawab Bang Zaldi tak banyak bicara. Melihat Arnes seperti ini saja sudah mengoyak batinnya.


"Cepat tidur, Abang mau packing baju dulu. Kamu mau bawa apa? Mumpung masih di Jawa"


"Makanan frozen" pinta Arnes.


"Kalau itu nggak boleh sayang. Abang buat sendiri aja. Makanan frozen banyak pengawetnya. Kasihan perkembangan dedek bayi. Sabar dulu ya.. ngalah" bujuk Bang Zaldi.


Arnes mengangguk saja karena tenaganya tidak cukup untuk berdebat.


...


Bang Zaldi bersandar lelah lalu mengambil sebatang rokok. Kegiatan malam sudah usai, ia pun bisa me time dengan tenang. Tak lama Bang Bima datang dengan di antar anggotanya sampai ke rumah Papa Rinto.


"Baru sampai Bim?? Ku kira sudah sampai mess"


"Abang kira mudah membujuk perempuan??" jawab Bang Bima.


"Kamu membujuknya?????" tanya Bang Zaldi tidak percaya.


Bang Bima tersenyum penuh arti.


"Iya.."

__ADS_1


***


Beberapa anggota mengantar Lettu Zaldi beserta istri ke Bandara. Barang bawaan Lettu senior itu sudah overload empat puluh kilogram. Bang Zaldi benar-benar melengkapi kebutuhan bumil karena rata-rata di pelosok, mereka sulit mendapatkan barang itu.


"Kamu beli apa saja Zal. Bagasi mu full" tanya Papa Rinto.


"Macam-macam. Kasur santai, susu bumil, camilan, vitamin, pakaian hangat.. banyak lagi pa" jawab Bang Zaldi.


Papa menepuk bahu Bang Zaldi. Perhatian Bang Zaldi pada putrinya sudah tak diragukan lagi. Papa Rinto bisa bernafas lega dan tenang. Tak lama Arnes datang bersama Mama. Mereka berdua baru saja dari toilet.


Bang Bima sibuk mengatur barang Bang Zaldi yang keterlaluan beratnya. Semalaman ia merepotkan orang banyak. Entah bagaimana para ajudan bisa mendapatkan barang-barang itu di jam malam, nyaris pagi hari. di


"Oke Nes, suamimu ini sudah membuat kita lelah. Sehat-sehat kamu disana ya. Jangan ribut sama Abang" Bang Bima memeluk dan mencium pipi adik perempuan satu-satunya.


Arnes melow. Dalam kehamilan pertama ini, ia banyak menangis, pemarah, sensitif sekali.


"Abang tetap sayang Arnes khan?"


"Ngaco.. pertanyaan apa itu??" Bang Bima tertawa terbahak mendengarnya.


Arnes langsung sesenggukan mendengarnya.


"Aduuuhh.. sudah donk sayang. Masa istri perwira cengeng begini. Mana Arnesnya Abang yang dulu. Kita partner gelut khan??" ledek Bang Zaldi agar istrinya tidak menangis lagi. Ia menyadari kehamilan Arnes ini pasti sangat berat. Mual hebat di tanah rantau, sedikit banyak pasti akan mempengaruhi baik fisik maupun mental Arnes.


Arnes menarik nafas berusaha melawan segala rasa baik perasaan dan pikiran yang mungkin akan mengganggunya.


"Arnes kuat Bang" ucapnya dengan tegar.


"Gitu donk cantik..!!!"


Panggilan dari bandara menyerukan bahwa pesawat mereka akan segera berangkat. Arnes dan Bang Zaldi pun berpamitan kemudian masuk menuju pesawat


***


"Abang antar ke toilet ya?"


"Nggak Bang. Arnes nggak apa-apa" jawab Arnes.


Bang Zaldi pun tidak bisa berbuat apapun jika Arnes memang tidak ingin ke toilet.


-_-_-_-_-


Rafli sudah datang menjemput Bang Zaldi dan Arnes bersama Bang Righan karena Bang Seno sedang ada acara di luar kota bersama Sabrina.


Barang mereka sudah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Arnes pingsan seketika di samping Rafli yang membelakanginya.


"Ibu.. "


"Pak Righan.. Ibu pingsan" kata Rafli panik.


"Arnes..!!" Bang Righan ikut panik dan segera mengangkat adiknya. Bang Zaldi yang baru selesai menerima panggilan telepon bersikap siaga dan berlari menghampiri.


"Pingsan ya Rig??" Bang Zaldi segera mengeluarkan inhaler dari dalam saku bajunya.


"Iya Bang. Kenapa ini Bang?? Arnes sakit kah??" tanya Bang Righan.


"Nggak.. Mau launching keponakan. Makanya teler nggak kira-kira" jawab Bang Zaldi. Ia menyadari pasti Arnes sudah semampunya mengendalikan diri untuk tidak manja dan demi mengalahkan rasa mabuknya, tapi apa daya.. istri Zaldi itu benar-benar tidak kuat. Jujur saat ini Bang Zaldi sangat sedih sekali.


"Alhamdulillah Ya Allah.. Jantan juga nih Abang" Bang Righan menyenggol lengan Bang Zaldi dan melirik Abangnya itu.


"Ehmm.. Jangan usil kamu Rig..!! Banyak orang nih" Bang Zaldi segera membawa Arnes masuk ke dalam mobil karena sudah banyak yang memperhatikan mereka.


***

__ADS_1


Bang Righan dan Rafli tidur di ruang tengah usai makan malam sedangkan Bang Zaldi masih menemani Arnes. Bang Zaldi benar-benar cemas karena Arnes tidak mau makan bahkan dari dalam lambungnya sudah mengeluarkan darah.


Tangan kekar itu tak lelah mengusap perut rata Arnes. Tiba-tiba sirine tanda bahaya di Batalyon berbunyi hingga terdengar sebuah letusan.


booooomm...


Bang Zaldi berjingkat beberapa saat mengumpulkan kesadarannya. Arnes pun terbangun langsung memegangi perutnya karena kaget.


"Aarrgghh.. sakit..!! Itu suara apa Bang??" tanya Arnes.


"Serangan" gumamnya lirih.


"Rafli pakai motor saya cepat bersiap..!!" perintah Bang Zaldi dari dalam kamar menegur Rafli dengan kesadaran yang belum utuh.


"Kembali ke tempat kalian.. Ini perintah..!!!!!!!!"


Bang Righan dan Rafli lari secepat mungkin untuk segera bergabung dengan dinas.


HT berbunyi nyaring. Kampung sebelah sedang ada kesalah pahaman antar warga. Dua kubu saling serang dan terjadi pertumpahan darah.


Bang Zaldi berganti pakaian dinas lapangan. Hatinya gundah gulana kebingungan harus meninggalkan Arnes dalam keadaan seperti ini tapi mengamankan situasi juga merupakan tugasnya.


"Bagaimana ini dek, Abang harus berangkat apel pendadakan??"


"Berangkatlah Bang..!! Ini memang pekerjaan Abang. Mengamankan negara" kata Arnes.


"Kamu bagaimana??"


"Arnes baik-baik saja Bang. Kalau Abang kerja, Arnes tidur saja" jawab Arnes dengan senyumnya tak ingin membuat Bang Zaldi khawatir.


"Maafin Abang, Abang kerja untuk kamu dan anak kita. Sabar sebentar ya..!!" Bang Zaldi mengecup kening Arnes lalu mengambil pistol di atas lemari dan menyelipkan di pinggang.


"Abang berangkat.. Assalamualaikum..!!"


"Wa'alaikumsalam.."


Setelah Arnes memastikan Bang Zaldi pergi, ia meraba mencari obat untuk rasa mualnya. Ia menahan rasa kram di perut dan mencoba untuk tenang.


"Anak mama yang pintar, kuat ya nak..!! Jangan rewel, bantu mama" Arnes segera meminum obat setelah menemukannya kemudian kembali berbaring.


"Sejak awal papa sangat menginginkan kehadiranmu dan akhirnya mama pun sayang kamu" Arnes memercing mengatur nafasnya yang terasa berat.


//


"Di bagi beberapa kelompok. Satu kelompok mengamankan wanita, anak-anak dan lansia" perintah Bang Zaldi.


"Tinoo.. Kamu amankan garis dulu..!!!" Bang Zaldi mulai stress karena pikirannya terpecah.


"Ijin Dan.. Ada lumbung dekat Batalyon, terbakar habis" laporan seorang anak buah.


"Ya Allah.. itu di belakang pagar rumah saya" Bang Zaldi bergegas meninggalkan tempat.


"Komandan pengamanannya siapa ini. Pengamananmu kurang di sisi barat" tegur seorang senior juga terlihat sibuk.


"Aduuhh Righan.. Kamu dimana?? Barat itu kendalimu" gumam Bang Zaldi.


Terlihat oleh matanya, api membakar lumbung sudah berkobar menyentuh pagar Batalyon.


"Arneees.." Bang Zaldi segera berlari kencang menuju rumah dinasnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2