
Beberapa saat setelah makan, badan Rinto langsung segar. Brian menerka sesuatu tapi ia segera menepisnya.
"Kemana kita harus jalan??" tanya Brian.
"Ke arah kiri..!! Turun lalu kita akan menemukan sungai dengan arus deras. Dugaanku ada goa disana. Siapa tau Ezhar di sekitar sana" penjelasan Rinto.
"Ayo jalan sekarang..!! Jangan banyak bicara Bri.. dengar suaramu rasanya kepalaku pening"
"Jangan dulu.. ini menjelang sore" tolak Brian tapi juga merasa aneh dengan semua yang terjadi pada Rinto.
"Jangan salah Bri.. Arus sungai akan tenang saat seperti ini. Apa kamu nggak lihat perbedaannya?" tanya Rinto.
"Ayo jalan.. Kita mengejar waktu agar tidak terkena gelap" ajak Rinto lagi.
-_-_-_-_-
Benar saja tepat menjelang Maghrib mereka berhasil menyeberangi sungai. Setelah semua bersih.. mereka melaksanakan sholat secara bergantian lalu beristirahat sambil memasak apa yang ada.
Rinto bisa sedikit beraktivitas tapi tubuhnya sudah kembali melemah.
"Cepat buat lagi seperti tadi..!!" perintah Brian pada anggotanya.
Para anggota pun bersiap, sebagian berjaga di sekitar secara bergantian.
Tak lama ada seseorang yang datang mengendap saat Rinto sedang melihat titik rawan di sekitar hutan.
Sreeekk...
Dengan sigap Rinto mengacungkan senjata meskipun ia sendiri tidak begitu fokus keadaan di sekitar.
"Bang Rinto????" Sapa seseorang..
"Ezhar??" Bang Rinto hampir tidak percaya dengan penglihatannya saat melihat Ezhar menggendong rusa hutan di punggungnya.
Para anggota team terharu dan gembira karena pencarian mereka sia-sia.
...
Malam itu menjadi pesta dadakan untuk anggota team yang berjumlah lima belas orang.
"Waahh.. tadi ada rusa kecil, kenapa saya tombak yang besar ya? Ternyata mau ada tamu di rumah saya" kata Ezhar.
"Pintar kamu Zhar.. ada tamu jamuannya nggak main-main" jawab Ezhar.
Ezhar tertawa merekah. Rambutnya sudah gondrong dengan jenggot dan kumis tebal.
"Harus di cukur tuh Zhar.. istrimu bisa ketakutan" kata Brian.
"Bagaimana keadaan istriku Bang?" tanya Ezhar.
"Dia sempat syok. Tapi dia sungguh percaya kamu hanya tidur. Batin seorang istri" jawab Brian.
"Istrimu hamil empat bulan sekarang" Rinto mulai menyahut.
"Dia rindu sekali padamu sampai...."
"Alhamdulillah.." Ezhar menangis haru mendengar kabar kehamilan istrinya.
"Sampai apa Bang??"
"Sampai memelukku dan Anyelir ngamuk setengah mati"
"Ya Allah.. terus bagaimana Bang?" tanya Ezhar.
"Jelas saja Anye marah.. Sejak Rinto pulang satgas, dia belum menyentuh istrinya lagi karena larangan dokter" jawab Brian.
Seluruh anggota tim prihatin dengan keadaan Danki mereka yang sungguh sial belum sempat mencolek istrinya sama sekali.
"Bisa kita segera kembali Bang?" tanya Ezhar.
"Pasti.. Abang juga cemas dengan keadaan Anye" jawab Rinto.
"Makan dulu Rin.. Jangan sampai ambruk lagi..!!" kata Brian.
"Abang sakit??" tanya Ezhar.
"Masuk angin aja.." jawab Rinto.
"Pulang nanti gas lah" ucap Brian.
__ADS_1
Rinto hanya tersenyum simpul mendengar ledekan kawan-kawannya.
***
"Bu Rinto mau istirahat saja? Kelihatannya Bu Rinto kurang sehat?" Bu Joko melihat Anye memang kurang sehat, wajahnya tidak segar.
"Duduk saja, jangan memaksa" kata Papa Ardi yang mendengar Bu Joko meminta putrinya ke tempat yang lebih teduh. Papa Ardi mengajak Sen bermain. Bayi kecil itu menggemaskan sekali.
"Main sama Opa Ardi ya..!!" katanya.
...
"Kamu jangan banyak pikiran. Rinto pasti pulang" kata Rama menenangkan putrinya. Ia sudah tau kalau tim khusus itu akan datang nanti sore dan semua ini akan menjadi kejutan indah bagi Dinda dan Anye.
Dinda semakin kurus memikirkan putranya Ezhar hampir setiap hari ia lewatkan dengan tangisan begitupun Ardi yang banyak diam memendam perasaan.
"Iya yah" jawab Anye hanya menjawab dengan singkat. Ia memendam perasaannya sendirian.
-_-_-_-
Sore hari di jam apel, ada sebuah truk memasuki area Batalyon. Danyon menyambut mereka dengan sukacita.
Para istri anggota diminta hadir dan terlibat serta memakai seragam PSH, seragam kebesaran istri anggota.
Satu persatu anggota turun dari truk. Anissa yang baru pulang kerja, tidak sempat mengganti seragamnya tapi turut hadir sesuai permintaan ibu Danyon.
Seperti mimpi Anissa melihat suaminya lagi sedang berlari ke arahnya. Ezhar langsung menghambur berlutut menciumi perut Anissa yang membuncit dalam tangisnya yang begitu pilu.
"Maaf ya nak.. Papa lama pulangnya" ucapnya berat.
"Iya pa. Nggak apa-apa, yang penting papa pulang" jawab Anissa.
Mereka pun berpelukan melepas rindu.
"Ezhaaaaar..!!!" Mama Dinda kaget sekali saat tau putranya telah kembali. Ayah Rama membiarkan sejenak keindahan itu bahkan saat tanpa sadar papa Ardi memeluk semuanya bagai sebuah keluarga.
Anye mencari dimana sosok suaminya saat menyadari bahwa hari ini team satgas sudah kembali. Ia pun menangis dalam kepanikan saat tidak melihat sang suami di sekitarnya.
Anye berjalan ke sekitar truk, disana ia melihat Bang Rinto sedang di bantu beberapa anggota lain karena sedang muntah di toilet. Suaranya terdengar begitu menyakitkan.
Anye tersenyum kecil melihat suaminya begitu tersiksa.
"Maaf dek, Abang lagi pusing. Nanti mau minta obat ke bagian kesehatan sebentar ya?"
"Ya sudah jangan lama-lama ya Bang..!!' ucap Anye dan berbalik akan pergi.
"Suami datang dari tugas jauh, peluk sedikit lah sayang.. Masa Abang di cuekin" protes Bang Rinto.
Anye pun berjalan menghampiri Bang Rinto dan langsung memeluk erat suaminya. Anye terisak menangis di pelukan Bang Rinto.
Rinto sungguh tidak konsentrasi saat merasakan ada yang sedikit mengganjal memepet tubuhnya tapi karena ia begitu rindu dengan sang istri, ia tepiskan pikirannya.
"Cepat pulang yuk sayang. Abang kangen berat" bisiknya di telinga Anye.
"Iya Bang, ayo..!!"
"Abang rapikan badan dulu biar ganteng. Nanti kita pulang sama-sama ya..!!" ajak Bang Rinto.
-_-_-_-_-
Usai acara dan pertemuan singkat dengan anggota dan keluarga, Bang Rinto mengajak Anye pulang setelah puas bermain juga dengan Seno.
"Sudah malam, ayo pulang..!! Seno ngantuk pengen di temani bobo"
"Seno ngantuk atau bapaknya Sen yang minta di temani bobo??" ledek Gathan.
"Sen lah..Kalau bapaknya nggak minta di temani bobo, bapaknya minta di temani begadang" jawab Bang Rinto dengan nakalnya.
"Halah.. lemes aja banyak tingkah" ucap Brian sambil menggendong putrinya kecilnya.
Tawa renyah pun terdengar nyaring di telinga.
"Bang Rinto.. Anye.. Saya pribadi mewakili istri saya meminta maaf atas kejadian tempo hari. Sekarang saya sudah kembali. Biar saya yang tenangkan Nissa" kata Ezhar sambil menggandeng Anissa yang terus menunduk karena malu.
Wajah Anye langsung berubah dan menggamit lengan Bang Rinto. Agaknya ia masih belum melupakan kejadian itu.
"Sudah saya lupakan..!!" jawab Bang Rinto.
Ezhar melihat Anye masih belum ikhlas.
__ADS_1
"Abang minta maaf ya dek, kalau terjadi lagi.. Abang akan tegur Nissa lebih keras" janji Bang Ezhar.
"Hmm.." jawab Anye singkat.
-_-_-_-_-
Seno sudah tidur dengan nyenyak, kini giliran Bang Rinto berduaan dengan istri tercinta.
"Istri Abang cantik sekali" puji Bang Rinto saat melihat Anye memakai baju yang lumayan menggoda iman.
"Abang juga ganteng"
"Apa kamu lagi ngerayu Abang?" tanya Bang Rinto sambil menarik Anye untuk berdiri di antara kedua pahanya.
"Kali ini jangan ada gangguan lagi ya..!! Setengah mati Abang tahan rindu"
"Iya.. Tapi pelan saja ya Bang" pinta Anye.
"Kalau Abang nggak lupa" jawab Bang Rinto.
"Baang..!!"
"Iya.. Abang pelan-pelan" jawab Rinto.
Bang Rinto langsung menyambar bibir Anye dan mel****nya dengan garang. Secepatnya Bang Rinto membalik tubuh Anye, menindih dan menguncinya sebelah tangannya. Tangan yang lain merazia setiap lekuk tubuh Anye. Ekspresi wajah tidak sabar dan kerinduan tak tertahankan membuat tangan terampilnya melucuti segala yang menempel di badan dengan cemas.
Anye takut sekali melihat ekspresi wajah Bang Rinto yang ingin segera menerkamnya. Apalagi Bang Rinto sudah sedemikian tegangnya.
"Kenapa kaku sekali? Abang belum mulai" kata Bang Rinto.
Bang Rinto pun melembutkan perlakuannya dan memulai.
#
Bang Rinto merem melek merasakan melayang, tapi ia merasa perutnya terganjal sesuatu.
"Bang bisa sudah??" tanya Anye sekarang mulai menangis.
"Sebenarnya ada apa? Sabar sebentar..!!" ucap Bang Rinto yang sebentar lagi menyudahi permainannya. Ia semakin menghentak mempercepat. Sesaat kemudian bebarengan dengan pelepasan, ia melenguh panjang menggigit bibir bawah sedikit kasar merasakan nikmatnya surga dunia.. Bang Rinto tersentak, ia membuka matanya dengan sempurna.
"Kamu hamil ya????" tanya Bang Rinto.
Anye mengangguk.
"Iya Bang"
"Astagfirullah hal adzim dek.. Kenapa kamu nggak bilang daritadi??????" Bang Rinto gemas sekali menghadapi Anye. Ia segera bergeser dari tubuh istrinya.
"Sakit nggak???"
"Sakit"
"Tadi nyaman nggak??" tanya Bang Rinto lagi.
"Nyaman sih....!!"
"Ya Allah.. kamu ini..!!! Pengen Abang apakan istri punya kelakuan begini???"
"Disayang Abang" ucap Anye berubah manja.
"Jitak dulu sini.." ucapnya dengan mata melotot tapi segera menarik Anye ke pelukannya.
Bang Rinto menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, tangannya segera mengusap perut Anye yang baru ia sadari sudah sedikit terlihat.
"Duuhh.. maafin papa ya nak. Papa nggak tau ada kamu. Papa sayang adek" Bang Rinto pun mencium perut Anye dengan lembut.
"Gimana ini Bang. Seno masih kecil" tanya Anye.
"Kita rawat sama-sama donk sayang" jawab Bang Rinto.
"Abang nggak marah?"
"Memang terlalu cepat, tapi rejeki jangan di tolak dek. Semua sudah ada yang mengatur"
Anye tersenyum melihat raut wajah bahagia suaminya, yang pasti Bang Rinto akan lebih menjaganya dua kali lipat.
.
.
__ADS_1
.