
Baru saja Adi akan memanggil Bang Zaldi tapi ternyata seniornya itu sudah berdiri di belakangnya.
"Ada apa ini??" tanya Bang Zaldi.
"Kaki Arnes terkilir Bang" jawab Arnes.
"Tiru itu bebek jalan. Mana ada yang kakinya terkilir meskipun mulutnya tidak bisa diam" sindir Bang Zaldi sambil berjongkok melihat kaki Arnes dan ternyata benar, kaki istrinya itu sudah membengkak dan membiru.
"Setinggi-tingginya tupai melompat pasti akan jatuh juga" sahut Arnes.
"Oohh.. kamu tupai? Abang kira kamu kera. Bukankah kamu istrinya Owa Jantan??" sindir Bang Zaldi lagi.
"Arnes nggak mau bertengkar sama Abang. Perut Arnes sakit." ucap Arnes sambil memegangi perutnya.
Bang Zaldi melihat jam tangannya.
"Pantas perutnya sakit. Sudah tanggalnya nih, pakai pecicilan segala" tegur Bang Zaldi.
"Sabar.. pulang nanti kita beli obatmu..!"
Adi hanya tersenyum melihat sayangnya Bang Zaldi pada sang istri.
"Ijin Bang. Saya pamit masih mau kerjakan dokumentasi" Bang Adi yang tau diri segera pamit dari hadapan seniornya.
"Hmm.. terima kasih ya sudah bantu istri saya. Maaf sudah merepotkan" kata Bang Zaldi masih punya tata krama.
"Siap Abang. Sama-sama, tidak merepotkan kok"
"Makasiihh ya Om Adii" senyum Arnes masih sempat mengembang meskipun kaki dan perutnya terasa sakit.
Wajah Bang Zaldi nampak biasa saja tapi tangan Bang Zaldi yang cekatan itu menyelinap masuk ke dalam rok Arnes lalu mencubit paha dalam istrinya.
Om Adi pun undur diri.
"Jangan ganjen ya kamu..!!" bisik Bang Zaldi memperingatkan istrinya.
"Arnes nggak akan ganjen kalau Abang nggak jelalatan" balas Arnes.
"Kalau Arnes mau, Arnes nggak akan pakai cara seperti itu Bang untuk merayu laki-laki. Arnes tinggal datang, memeluk dan ajak dia pergi"
"Arneees..!!! Jaga bicaramu itu..!!" Bang Zaldi menekankan rasa tidak sukanya pada ucapan sang istri.
"Lalu apa bedanya Abang dengan Guntur? Abang yang membuat Arnes tidak takut dengan pria dan menutup semua masa lalu, tapi Abang sendiri menunjukan sikap bebas dalam bersikap pada semua wanita"
Kening Bang Zaldi berkerut memikirkan arah pembicaraan Arnes. Bang Zaldi memilih untuk tidak berdebat dengan sang istri. Ia tidak ingin rasa trauma istrinya menjadi bumerang untuknya sendiri. Hatinya jadi galau dan tidak tenang memikirkan Arnes yang tiba-tiba berubah sifat.
PMS yang berbahaya.
"Abang yang salah. Abang minta maaf. Danyon yang minta untuk memeriahkan hari ini" kata Bang Zaldi mengalah.
"Hari ini adalah hari yang indah, jangan buat jadi hari yang kelam"
__ADS_1
Belum sampai bibir itu terdiam, ada panggilan telepon masuk dari orang tak di kenal. Bang Zaldi mengabaikannya, tapi semakin lama panggilan telepon itu tak kunjung berhenti. Bang Zaldi pun menjawab panggilan telepon itu mengira ada sesuatu hal yang penting.
"Helo .. kenapa Abang baru sahaja menerima panggilan telefon Ina. Tidak boleh kah Ina kenal Abang??" ucap seorang wanita biduan yang ternyata seorang Melayu.
"Astagfirullah hal adzim. Eehh.. aku ora pengen kenal karo kowe. Marai tukaran wae. Aseeemm..!!!!!!" jawab Bang Zaldi dengan emosi.
"Abang cakap tentang apa?"
"Ngunyah banyu..!!!" ucapnya kesal sambil mematikan sambungan teleponnya.
"Darimana dia dapat nomer ponsel Abang???"
"Nggak tau dek" jawab jujur Bang Zaldi. Ia memblokir nomer Ina.
Arnes menyangga beban badannya dengan tangan lalu berusaha berdiri dan meninggalkan Bang Zaldi. Apa daya kakinya belum kuat untuk berjalan. Apalagi perutnya yang sakit karena terjatuh tadi.
"Eeehh.. hati-hati Mbak Arnes" Adi yang melintas di sana menahan tubuh Arnes di depan mata Bang Zaldi.
Seketika Bang Zaldi berdiri menahan tubuh Arnes. Om Adi pun pamit.
Darimana Ina tau nomerku? bisa geger kalau begini terus.
Tanpa banyak bicara bicara Bang Zaldi menggendong Arnes sampai ke mobil lalu bergegas mencari Ibra untuk di ajaknya pulang.
-_-_-_-_-
Ibra dan Arnes sudah tidur. Mama muda itu tidur setelah Bang Zaldi memijat punggung Arnes sampai kakinya yang sedang bengkak karena terkilir. Segala usaha sudah ia coba agar istri Kapten Zaldi itu tidak lagi murka. Tapi masih saja istrinya itu mengalahkan aksi gerakan tutup mulut.
ddrrttt..ddrrttt..ddrrrtt...
Bang Zaldi menerima panggilan telepon itu menjauh dari kamar agar tidak menggangu Arnes dan Ibra yang sedang tidur.
"Assalamualaikum.. apa Rig"
"Wa'alaikumsalam. Ina lagi ke rumah Abang, katanya mau antar sesuatu untuk Abang" kata Bang Righan dengan ringannya.
"Astagfirullah hal adzim.. jadi kamu yang arahkan Ina mulai dari sebar nomer telepon sampai rumah saya??????"
"Iya Bang. Kenapa??" tanya Bang Righan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa.. kenapa..!!!! Gara-gara si Ina itu saya hampir Inalillahi di diamkan adikmu. Nggak peka banget sih lu jadi laki. Datang sekarang ke rumah dan selesaikan masalah yang kamu buat. Sampai saya nggak baikan sama Arnes.. saya tindak kamu nanti..!!!"
Telinga Bang Righan rasanya berdengung mendengar ancaman adik iparnya. Bang Zaldi memang tidak pernah tanggung-tanggung untuk menyelesaikan masalah.
"Sebaiknya aku kesana sekarang. Kalau Bang Zaldi saja Innailaihi pasti habis ini aku sudah di alam kubur" gumamnya.
...
"Aahh .. memang betul ini rumah Kapten Zaldi. Saya fikir ini adalah rumah yang salah" kata Ina saat Bang Zaldi masih syok dengan kedatangan biduan melayu itu.
"Ada perlu apa? Maaf saya sibuk sekali" jawab Bang Zaldi setenang mungkin padahal dalam hati was-was liar biasa takut kalau Arnes bangun dan salah paham lagi.
__ADS_1
Tak lama berselang pahlawan kesiangan datang. Bang Zaldi sudah mengisyaratkan agar secepatnya Bang Righan membawa Ina pergi sebelum Arnes bangun dari tidurnya.
Sebuah motor berhenti di halaman rumah Bang Zaldi. Adi turun membawa sekotak kue.
"Selamat sore, ijin Bang.. Ini pesanan Abang"
"Lho saya tidak...... "
"Oohh.. Terima kasih banyak ya Om Adii..!!" Arnes berjalan tertatih berpegangan pada dinding rumah untuk bisa sampai pada kue yang di bawa Om Adi.
Bang Zaldi semakin meradang merasakan kelakuan Arnes yang diam-diam menghubungi Adi hanya untuk di bawakan kue dari juniornya itu.
"Saya juga membawa kue untuk Abang. Saya harap Abang suka ...!!" kata Ina.
"Tolong ya semua..!!!! Saya nggak suka kue. Saya sukanya tiwul..!!!!" ucap Bang Zaldi tegas.
Bang Righan menarik tangan Ina untuk di beri pengertian sedangkan Adi masih bertahan di posisinya. Dia hanyalah seorang junior yang bersedia ditempatkan dalam posisi yang salah meskipun dia benar.
"Kamu masuk dek. Abang mau bicara sama Adi..!!"
//
Bang Zaldi pun duduk berhadapan dengan Adi.
"Adi.. saya harap kamu mengerti, saya bukan bermaksud bertingkah konyol dengan membicarakan masalah Arnes sama kamu. Tapi saya bukanlah orang yang munafik. Saya ingin semua jelas tanpa salah paham lagi" ucap Bang Zaldi membuka percakapan.
"Kamu ada hati sama istri saya??"
Om Adi tersenyum ringan menghadapi pertanyaan Bang Zaldi yang langsung tepat sasaran.
"Jujur iya Bang" jawab Om Adi secara jantan.
"Saat itu saya baru datang dari wilayah timur. Saya melihat Arnes berjemur berdua dengan bayinya sambil menahan sakit. Berdiri saja dia menangis, tidak mau di bantu ayah dan ibunya. Setiap pagi saya memperhatikan dia, istri Abang wanita yang tegar dan tangguh. Sering saya melihatnya sendirian di teras mengusap air mata. Saya tidak munafik juga Bang, saya diam-diam mendekat, ternyata dia membaca sholawat untuk bayinya hingga tidur. Dan selalu saya dengar 'nanti tiba saatnya kamu bertemu papa. Papa terhebat yang kamu tau'. Mulai dari sana, saya menyapa Arnes, dan baru saya tau ternyata Arnes adalah adik kelas saya dulu. Arnes begitu bangga memiliki Abang, dia sangat sayang sama Abang"
Bang Zaldi menunduk.
"Jadi apa maksud perasaanmu untuk istri saya"
"Saya kagum padanya yang tidak menangis meskipun hatinya sakit dan tetap tegar meskipun hatinya lemah"
Bang Zaldi tersenyum ringan mendengarnya, sebagai pria.. ia paham rasa itu.
"Saya sudah mengerti, tapi tolong tidak di pupuk rasa itu. Arnes adalah istri saya, ibu dari anak-anak saya. Sebagai seorang suami saya tidak akan membiarkan ada hal yang mengancam rumah tangga saya termasuk perasaanmu itu"
"Siap Abang. Abang bisa percaya saya. Saya juga tidak suka menang hasil rebutan" jawab Adi.
"Ya.. saya pegang kata-kata itu..!!"
.
.
__ADS_1
.