Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 51. Sebentar saja.


__ADS_3

Bang Zaldi menggendong Ibra berjemur di halaman depan rumah. Bang Zaldi hanya mengenakan celana pendek bertelanjang dada menunjukan perutnya yang kekar bersusun dan tak lupa berkacamata hitam sedangkan baby Ibra menggunakan penutup mata. Papa dan anak ini berpenampilan seperti pria yang akan berjemur di pantai. Untuk ukuran bayi memang Ibra tergolong baby yang cukup besar dan sudah terlihat seperti bayi dua bulan.


Papa keren itu menyanyikan lagu mars tentara untuk menidurkan si bomber. Ibravpun tenang sekali mendengarnya.


"Bang, di sholawatin donk, masa anaknya di nyanyikan mars tentara??" tegur Arnes.


"Ya ampun dek. Pagi bangun tidur sudah, mau tidur sudah, selesai sholat maghrib sudah. Abang hanya nyanyi mars ini setiap si kuncung berjemur sama siang aja lho dek" protes Bang Zaldi.


"Selamat pagi Pak Zaldi" sapa seorang ibu muda.


"Pagi Bu, bapaknya mana Bu??" tanya Bang Zaldi pada seorang istri rekan anggotanya.


"Ijin bapak.. sedang piket"


"Oohh begitu. Hati-hati jalannya Bu. Licin" kata Bang Zaldi mengingatkan.


"Siap pak. Terima kasih. Mohon ijin bapak..!!"


Bang Zaldi hanya sedikit membungkuk mempersilakan wanita muda itu berlalu.


"Eheeeemm..." Arnes berdehem menegur Bang Zaldi yang masih tersenyum pada wanita itu.


"Jangan bilang kamu cemburu" kata Bang Zaldi.


"Iiihh.. siapa yang cemburu?? Arnes hanya nggak suka Abang tebar pesona senyum sana sini sama sembarang wanita. Kecakepan amat Abang"


"Sami mawon atuh neng.. ya cemburu juga itu namanya" Bang Zaldi tersenyum geli melihat ekspresi wajah Arnes.


Arnes berniat meninggalkan Bang Zaldi tapi langkah itu terhenti, ia sedikit terhuyung dan segera meraba di sekitarnya dan duduk.


"Dek.. pusing lagi ya??" Bang Zaldi panik dan segera masuk melewati Arnes untuk menidurkan Ibra lebih dulu. Sekembalinya Bang Zaldi ke teras depan, Arnes sudah bersandar lemas dengan nafas yang sesak.


"Dek.. masih bisa dengar Abang??" Bang Zaldi menepuk pipi Arnes.


"Iya Bang. Arnes masih bisa dengar" jawab Arnes.


"Alhamdulillah.. kita istirahat di kamar ya..!!"


Bang Zaldi semakin cemas saja. Ini sudah hari ke lima tapi Arnes belum sepenuhnya pulih. padahal dua hari lagi ia harus kembali pergi ke Sudan.


"Arnes kenapa Zal??" tanya Papa Rinto.

__ADS_1


"Biasa pa. Masih belum kuat" jawab Bang Zaldi.


"Maa.. apa tidak ada obat yang lebih bagus untuk penyembuhan Arnes. Saya nggak tahan lihatnya ma?" tanya Bang Zaldi pada Mama Anye.


"Setahu Mama itu sudah obat terbaik Zal. Tapi itu semua tergantung dari kondisi tiap wanita. Dulu setiap Mama melahirkan, selalu di temani Papa tanpa kecuali, mungkin selain sakit.. sebenarnya Arnes sangat sedih karena tahu kamu mau pergi, hatinya kurang bahagia. Itu sebabnya Arnes masih terlihat kurang sehat" jawab Mama Anye.


"Ya Allah.. hatiku semakin nggak karuan ma. Lebih baik saya nggak usah kembali ke Sudan"


"Jangan ngawur kamu Zal..!! Kalau kamu mangkir, kamu akan menyusahakan dirimu juga Arnes. Hukumannya sangat berat. Apa kamu nggak kasihan sama anak istrimu???" Papa Rinto berusaha membuka pikiran Bang Zaldi yang sudah mulai kalut carut marut.


"Saya nggak tega sama Arnes pa. Saya mau bawa dia ke Sudan" kata Bang Zaldi.


"Zaldiiiiii... Kalau kamu nekat, lebih baik Papa bawa Arnes sekarang juga..!!!!!" ancam Papa Rinto.


"Papa.. Zaldi.. Kalian bisa tenang apa tidak. Papa juga kenapa ladeni ucapan Zaldi. Apa Papa nggak pernah mengalami apa yang Zaldi rasakan???" Mama Anye mencoba menjadi penengah untuk suami dan menantunya.


Bang Zaldi dan Papa Rinto sama-sama terdiam. Papa Rinto mengatur nafas dan berusaha sabar menghadapi kekalutan menantunya. Jika bukan karena rasa sayang Zaldi yang begitu besar, tidak mungkin menantunya akan bersikap seperti itu.


"Zaldi.. percayalah istrimu akan aman bersama Papa dan Mama. Melihatmu seperti ini, Papa memutuskan akan membawa Arnes dan Ibra ke Jawa" kata Papa Rinto.


"Apa itu belum cukup membuatmu tenang?"


"Bawalah Arnes pergi dengan Papa. Maaf saya merepotkan Papa" Bang Zaldi menunduk dan ia sungguh berurai air mata.


Papa Rinto menepuk bahu Bang Zaldi menguatkan menantunya.


"Papa tau perasaanmu le"


-_-_-_-_-


Bang Zaldi gelisah sampai kepalanya terasa berat. Kurang istirahat, dan terlalu lelah sudah pasti ia rasakan.


"Baik-baik kamu sama Papa ya dek..!! Abang cuma sebentar. Nanti Abang jemput kamu ya sayang" ucapnya sambil mengusap rambut Arnes.


Zaldi yang terlihat kuat dari luar tapi begitu mencintai istrinya hingga semua terasa tumbang saat tak bersama dengan sang pujaan hati.


"Abang ngomong apa??" Arnes bergumam saat ia merasa seperti mendengar suara Bang Zaldi.


"Nggak ngomong apa-apa. Abang cuma mau bilang. Kamu cantik sekali"


"Iyalah Bang. Kalau Arnes nggak cantik mana Abang mau" jawab Arnes setengah mengantuk.

__ADS_1


"Kamu benar dek. Dari mata turun ke hati, dari hati turun ke perut, mulai dari sana Abang sangat sangat sangat mencintai kamu"


"Perut Bang??" tanya Arnes.


"Istri masak, buat perut suami kenyang.. itu membuat hati bahagia karena istri bersedia membantu meringankan beban hidupnya. Istri mengandung benih dari suami lalu ikhlas merawatnya di dalam perut selama sembilan bulan, itu adalah rasa cinta yang yang tidak bisa di gantikan oleh apapun"


"Hmm.." Arnes tidak sungguh-sungguh mendengarnya karena sudah tidur dalam pengaruh obat.


***


"Bang.. cepat pulang..!!" Arnes memeluk Bang Zaldi dengan erat. Hanya Bang Seno dan Bang Righan yang akan mengantar Bang Zaldi ke bandara.


"Iya dek, itu sudah paling lama. Mudah-mudahan nggak nambah lagi. Nanti kalau kita sudah di kompi.. Abang nggak akan kemana-mana lagi, hanya sabar yang bisa Abang minta sama kamu. Yang setia menunggu Abang pulang. Disana Abang juga berat meninggalkanmu. Jangan cemas.. hati dan raga ini milikmu sendiri" ucap Bang Zaldi sambil menciumi wajah Arnes.


Bang Righan dan Bang Seno terpaku melihat tangisan Arnes, kali ini Arnes tidak sekuat saat yang lalu. Mereka juga merasakan kesedihan yang sama terutama Bang Seno yang telah beristri dan akan memiliki momongan tentu perasaannya akan jauh berbeda.


Bang Zaldi meminta Ibra dari gendongan Mama Anye. Ia menggendong Ibra yang masih merah dan menggeliat dalam gendongannya, pelukannya begitu erat dan lekat.


"Maafin papa ya nak, nggak bisa menemani seratus hari kehidupanmu. Papa kerja untuk kamu sama Mama. Apapun itu, papa sangat sayang sekali sama kamu" di kecupnya pipi Ibra. Tangis seorang ayah berlelehan terasa sakit, pahit dan getir ia rasakan. Bang Zaldi menyerahkan Ibra pada Mama Anye kembali sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


Arnes meraih tangan Bang Zaldi lalu mengecupnya.


"Abang pergi..!!" ucap Bang Zaldi sambil berlalu. Ia bahkan tidak menatap Ibra yang menggeliat dan menangis seolah tau papanya akan pergi, tidak juga melihat Arnes yang masih ingin menggapai tangannya.


Pintu mobil sudah tertutup, Bang Zaldi memejamkan mata dan bersandar disana.


"Jalan Sen..!!"


"Abang nggak mau melihat Arnes dan Ibra dulu??" tanya Bang Seno.


"Jalan Sen. Semakin saya lihat mereka, semakin hati saya nggak kuat. Sakit sekali rasanya meninggalkan mereka Seeenn...."


Mobil pun berlalu dengan cepat. Bang Seno melihat Abangnya masih memejamkan mata. Mau itu tentara, pebisnis atau profesi lain tak akan mengubah satu kenyataan.. tentara ( pria ) juga manusia biasa yang punya hati. Meninggalkan keluarga pada kenyataannya sangat berat, sakit dan menyiksa.


"Semangat Bang.. Abang kuat..!!" ucap Bang Seno memberi semangat padahal dalam hati belum tentu ia kuat jika dihadapkan pada hal seperti Bang Zaldi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2