
"Kapten Rinto tidak sehat??" tanya seorang anggota saat menjemput Bang Rinto sekeluarga.
"Iya, saya sedikit masuk angin. Maaf saya jadi merepotkan" jawab Bang Rinto.
"Nggak apa-apa pak. Nanti sesampainya di penginapan, saya akan minta Dokter untuk segera memeriksa kondisi bapak"
...
Bang Rinto terus menggelinjang dan berteriak saat ayah Rama memberi tanda di punggungnya.
plaaaakk...
"Diam dulu..!! Apa kamu ini, di cambuk berkali-kali tahan banting. Ini di kerok saja sudah seperti orang mau mati" tegur ayah Rama.
"Ini sakit sekali yah" teriak Bang Rinto.
Melihat menantunya tidak tahan mendapat kerokan, ayah Rama yang usil malah menduduki betis Bang Rinto hingga menantunya itu tidak bisa bergerak sedikitpun karena lemas.
"Ampuun ayah..!!" teriaknya sampai terdengar dari luar rumah sampai ada anggota yang melintas jadi salah paham mengira Pak Rama sedang mendisiplinkan Pak Rinto.
***
Sore hari ayah Rama dan Mama Dinda mengasuh Seno dan Bima sedangkan Bang Rinto mengawasi Anye yang sepertinya hari ini kurang begitu sehat.
"Bu Rinto bisa presentasikan laporkan kegiatan tersebut??" perintah istri seorang pejabat.
"Siap ibu. Mohon ijin untuk mempresentasikan laporan kegiatan..!!" Anye berdiri dan maju ke depan. Bulan dan tahun ini memang gilirannya untuk melaksanakan tugas. Setiap istri perwira disana pasti akan merasakan acara kunjungan kerja.
Dengan hati-hati dan teliti Anye menerangkan segala tugasnya hingga selesai. Bang Rinto yang mengintip dari luar gedung sangat bangga melihat Anye begitu pintar, tegas dan lugas.
Bang Rinto pun memutuskan untuk meninggalkan gedung dan menunggu Anye di kantin kantor karena tidak ada hal yang perlu di khawatirkan.
-_-_-_-_-
"Jalan yuk dek..!! Biar nggak bosan kamu di penginapan" ajak Bang Rinto.
"Ajak anak-anak juga Bang" kata Anye.
"Anak-anak sudah pergi duluan sama dan ayah tadi. Kita saja yang jalan-jalan karena mereka pasti pulang malam"
Senyum Anye mengembang manis.
"Ayoo..!!"
-_-_-_-_-
Bang Rinto tertawa penuh kemenangan saat berhasil membawa Anye mampir ke sebuah hotel.
"Abang licik sekali..!!" gerutu Anye.
"Sebentar saja dek. Kamu rebahan di sini biar nggak capek" jawab Bang Rinto sambil tersenyum licik. Alisnya terangkat naik turun.
Hari masih terang karena sekarang masih jam tiga sore tapi suasana terang benderang tidak membuat naluri seorang Rinto Dirgantara surut dan malah semakin parah.
"Ayo sini..!!!!" Bang Rinto berbaring lalu menepuk ranjang king size yang masih sangat luas itu, tangannya melambai mengajak sang istri untuk naik ke atas ranjang bersamanya. Anye hanya menghela nafas panjang melihat tingkah Bang Rinto yang mulai iseng dan nakal.
"Pijat Anye dulu..!!" pinta Anye pada Bang Rinto.
__ADS_1
"Siap ratuku, apa aja maumu pasti Abang turuti" kata Bang Rinto, tangannya membantu Anye untuk naik ke atas ranjang. Setelah Anye berbaring, tangannya yang lincah segera memijat istrinya.
Merasakan pijatan lembut Papa Seno.. Anye menjadi sangat mengantuk dan akhirnya ia tertidur pulas tanpa mempedulikan Bang Rinto yang membuatnya nyaman sejak tadi.
"Yaaaa mami tidur" gumamnya sambil menggaruk kepalanya karena bingung kenyataan tidak sesuai ekspektasi nya padahal Bang Rinto sudah menunggu momen indah bersama istri tercinta. Akhirnya ia pun mengambil remote tv dan melihat tv hingga ia pun ikut tertidur pulas.
#
"Aawwhh.. badanku sulit bergerak"
Anye kaget sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat ponselnya.
"Astagfirullah.. ini sudah setengah lima???"
Anye menoleh dan merasa sangat bersalah saat tau Bang Rinto sedang tidur sambil memeluknya. Tangan halus dan lembut milik Anye membelai wajah Bang Rinto hingga turun ke bawah.
"Kasihan sekali Abang. Segalanya sudah Abang berikan untuk Anye, tanpa meminta balasan apapun. Sungguh mulia hatimu Bang. Bangga sekali Anye menjadi istri Abang, anak-anak pun pasti sangat bangga memiliki papa sebaik dirimu Bang. Abang pria yang begitu sempurna. Anye yang tidak sempurna untuk Abang" gumam Anye sambil mengecup kecil bibir Bang Rinto.
"Kesempurnaan hanya milik Allah, Abang jauh dari kata sempurna mu itu" jawab Bang Rinto yang masih memejamkan matanya.
"Abaaaang?? Abang nggak tidur??" Anye mendorong pelan dada Bang Rinto ingin lepas dari pelukan suaminya.
"Tidur.. tapi bangun karena ada tangan nakal yang godain Abang" Bang Rinto membuka matanya, kedua mata itu saling menatap. Tanpa di minta, Anye menyambar bibir Bang Rinto membuat mata Papa Seno semakin terbelalak mendapat perlakuan istimewa istrinya apalagi Anye sudah beralih menduduki paha Bang Rinto. Disaat ia menggoda Anye, pikiran nakalnya menjalar kemana-mana tapi saat Anye menyerangnya, perasaannya menjadi cemas dan was-was karena ia tidak bisa terlalu mengontrol keadaan.
"Tiduran lagi dek..!!" ajaknya masih was-was.
"Memangnya nggak boleh kalau Anye kasih hadiah untuk papanya cenil?" tanya Anye.
"Boleh.. boleh banget sayang" jawab Bang Rinto. Suaranya mulai berat dan serak, Bang Rinto pasrah menerima apapun perlakuan Anye padanya.
-_-_-_-_-
"Sudah puas Bu Komandan??" tanya Bang Rinto sambil membawa banyak belanjaan Anye di tangan kanan dan kirinya.
"Puas banget. Terima kasih banyak ya Bang" Anye mencium pipi Bang Rinto karena hatinya sedang sangat bahagia sekali.
"Rintoo..???"
Bang Rinto menoleh saat ada suara yang memanggil namanya. Pandangan Bang Rinto begitu datar bahkan terkesan tidak suka.
"Mama kangen" Mama Wiza langsung memeluk Bang Rinto tanpa mendapat balasan dari putra satu-satunya itu.
Tapi pandangan Bang Rinto malah terfokus pada pria di samping Mama Wiza.
"Papa??? Kenapa Papa jalan sama perempuan ini???" tanya Rinto sambil menunjuk wajah wanita yang pernah melahirkan dirinya.
"Sekarang Papa Broto sudah menjadi papamu. Kami sudah menikah" kata Mama Wiza dengan bahagia.
"Lalu bagaimana dengan Mama???" Bang Rinto tak bisa menyembunyikan rasa kesal dan marahnya.
"Mama ada di rumah, sudah tau tentang pernikahan Mama Wiza dan Papa" jawab Pak Broto.
"Astagfirullah hal adzim. Papa sungguh keterlaluan.. apa kurangnya Mama selama menjadi istri Papa????" tegur Bang Rinto lalu secepatnya menggandeng tangan Anye.
Mama Wiza menarik tangan Bang Rinto sampai Anye ikut sedikit terseret bersamanya.
"Tunggu nak.. Kamu nggak bisa tinggalkan mama seperti ini. Kamu anak Mama dan kamu harus dengar apa kata Mama" teriak Mama Wiza.
__ADS_1
"Hanya khusus untuk mama yang punya hati dan tidak untuk wanita sepertimu" jawab Bang Rinto sambil mengibaskan tangan Mama Wiza.
Tak sengaja Bang Rinto menabrak lengan seorang wanita yang begitu berkelas dan sangat cantik.
"Ada apa Tante??" tanya Elen.
"Oohh.. kebetulan kamu datang. Elen.. kenalkan. Ini Rinto anak tante yang mau t.ante kenalkan sama kamu" kata Mama Wiza.
"Maaf tante.. bukannya tante bilang Mas Rinto sudah berpisah dengan istrinya???" tanye Elen.
"Iya.. dia sudah berpisah. Kamu tenang saja"
"Apa??? Lelucon apalagi ini?? Heehh kamu dengar ya. Anye ini masih istri saya. Jangan bermimpi dan jangan pernah punya pikiran untuk dekat dengan saya" bentak Bang Rinto.
"Maaf Mas, saya juga punya harga diri. Kalau saya tau Mas masih memiliki istri, saya pun tidak akan mau menerima tawaran tante Wiza apalagi mau berkenalan dengan pria beristri" tegas Elen.
"Bagus kalau kamu paham" jawab Bang Rinto sinis dan kasar.
"Saya permisi Tante.. om" Elen meninggalkan tempat.
"Tunggu Elen..!!!!" Mama Wiza mencegah Elen untuk pergi.
"Rinto.. kalau Elen sampai marah.. Mama bunuh diri saja biar kamu puas..!!" teriak Mama Wiza.
"Saya tunggu kabar selanjutnya Bu Wiza..!!!" jawab Bang Rinto terdengar santai dan tidak peduli. Bang Rinto mengajak Anye ke mobilnya.
...
Anye menahan tangisnya. Hatinya sedih sekali setiap bertemu Mama Wiza. Tak disangka ia akan bertemu dengan ibu kandung Bang Rinto di Jakarta.
Bang Rinto pun termenung geram mengetahui situasi yang tidak mengenakan ini apalagi selama berkomunikasi dengan 'mamanya' yang ia ketahui sedang berada di luar negeri, mamanya itu tidak pernah menyinggung tentang pernikahan segitiga orang tuanya.
"Mama membohongiku.. Kenapa mama tidak bilang kalau dia merebut suami mama????" teriak Bang Rinto melonggarkan batinnya yang terasa sakit. Ia sempat melupakan kalau Anye pasti juga sakit merasakan tindakan ibunya.
Anye menyentuh lengan Bang Rinto.
"Bang.. perut Anye rasanya kencang"
Bang Rinto tersadar dan perhatiannya kembali penuh untuk Anye.
"Sakit sekali?? Kita cek ke rumah sakit??" tanya Bang Rinto cemas.
"Anye cuma pengen di peluk Abang" jawabnya pelan.
Bang Rinto langsung menarik Anye ke dalam pelukannya.
"Uuhh.. kasihannya istri Abang. Mau makan sop kaki kambing sama kerak telor nggak? Apa mau semur jengkol??"
"Mau semua Bang" jawab Anye.
"Lapar apa doyan??" Bang Rinto tertawa mendengar jawaban Anye.
"Yang minta si cenilnya Abang"
"Alasan aja kamu" Bang Rinto menggigit kecil hidung mancung Anye saking gemasnya.
.
__ADS_1
.
.