Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
29. Gara-gara berangkat Dinas Luar.


__ADS_3


Rinto memapah pelan langkah Anye masuk ke dalam rumah. Perhatian itu tak lepas dari pengawasan pria sangar itu.


"Anye masih bisa jalan Bang..!!"


"Ya sudah jalan saja..!!" Rinto melepaskan tangannya. Baru saja Rinto melepaskan tangannya. Anye sudah meringkuk karena perutnya terasa nyeri.


"Sakit khan?? Kalau sakit jangan banyak gaya neng"


Anye salah tingkah saat Rinto menatap wajahnya.


-_-_-_-


Rinto menyisir rambutnya setelah mandi, dilihatnya Anye sedang menatap layar ponselnya.


Perlahan Rinto naik ke atas ranjang. Dikecupnya perut Anye sampai istrinya itu kegelian.


"Anak papa, Minggu depan papa tinggal latgab satu bulan ya?" pamitnya pada calon bayinya karena ia tak sanggup mengatakannya langsung pada Anye.


"Abang berangkat?" tanya Anye.


"Iya dek. Nggak apa-apa khan di tinggal sebentar? Kamu sama Mama. Atau Sekar temani kamu disini" Rinto berusaha memberi saran.


"Nggak usah Bang. Anye berani kok di rumah sendiri" jawab Anye.


"Abang yang nggak berani..!!" ucap Bang Rinto dengan tegas.


"Anye janji jaga diri juga kabari Abang setiap hari"


"Bukan masalah mengabari. Ini masalah hati. Mau kamu kabari Abang setiap jam, setiap menit. Hati Abang nggak akan tenang karena nggak melihat keadaanmu secara langsung" Rinto mengungkapkan kegundahan hatinya.


"Benarkah sampai seperti itu Abang memikirkan Anye"


"Apa Abang terlihat baik-baik aja saat ini?" tanya Bang Rinto serius.


"Pergilah Bang. Laksanakan tugas Abang..!! Anye dan anak Abang akan menunggu Abang pulang" kata Anye memberi semangat.


Melihat istrinya tegar, tentu saja semua akan menjadi semangat baginya untuk membela negara.


***


Esok hari Bang Rinto akan berangkat. Semua persiapan sudah matang.


"Ada yang kurang Bang?" tanya Anye.


"Nggak ada. Duduk sini sama Abang..!!" Bang Rinto menepuk tempat kosong pada kasur lipat yang sedang ia duduki. Anye menurut dan segera duduk di samping Bang Rinto.


Ada rasa rindu di hati Rinto untuk merengkuh istrinya. Tapi ia berusaha menahan diri. Kehamilan Anye terbilang rawan dan ia sangat mencintai calon anaknya. Saat Rinto masih menata hatinya, Anye bersandar pada dada bidangnya.


"Dek.. perut Abang sakit. Pijat Abang sebentar ya?" pinta Bang Rinto. Ia merasa sedikit tidak enak badan.


"Ya sudah Anye pijat, tapi kita ke kamar saja..! Kalau Abang tidur disini nanti sakit" kata Anye


Rinto berdiri membenahi sarungnya lalu mengangkat Anye ke dalam kamar. Mau selelah apapun Bang Rinto, ia akan selalu berusaha memanjakan istrinya.


"Cepat buka bajunya, telungkup..!! Anye pijat punggungnya"


Tanpa banyak bicara, Bang Rinto segera melakukan perintah Anye. Anye pun segera membuka kakinya dan naik ke atas badan Bang Rinto dan langsung memijat punggungnya. Hingga beberapa lama Bang Rinto merasa sangat nyaman sampai hampir tertidur.


Anye sedikit beralih. "Balik badan Bang..!!" Karena Rinto sudah mengantuk, Rinto segera berbalik badan. Anye dengan lincah langsung kembali duduk. Seketika Rinto langsung membuka matanya lebar.


"Turun dek, Abang ngantuk..!!" ucapnya mengalihkan perhatian Anye.


"Memangnya kenapa Bang?"

__ADS_1


"Kamu sengaja??" tanya Rinto dengan tatapan dingin. Rinto langsung duduk dan berniat menepikan Anye.


"Anye hanya mau tanya, kenapa Abang nggak pernah sentuh Anye lagi. Apa Anye berbuat salah lagi sama Abang?" tanya Anye dengan wajah lugu.


Rinto paham betul wajah itu sungguh tidak mengerti tentang kejadian kemarin. Mendengar pertanyaan Anye, hati Rinto serasa tergores perih. Ia seorang pria dan sudah beristri, jika saja tidak ada kejadian tempo hari.. sudah pasti tanpa diminta ia akan memenuhi kewajibannya. Tapi sekarang perkaranya lain. Anye dan kandungannya tidak begitu sehat, ia tidak bisa asal menyalurkan hasratnya meskipun ia ingin sekali melakukannya.


"Kamu nggak salah dek. Rahim mu belum cukup sehat dan Abang nggak ingin terjadi sesuatu sama kamu juga anak kita" jawab Rinto membujuk Anye.


"Abang nggak bohong?" tanya Anye.


"Abang jujur dek" jawabnya.


"Ya sudah.. begini saja..!" Anye mengecup bibir Bang Rinto sekilas, kemudian mencoba mengecup lagi dengan lembut. Melihat istrinya mendekat, refleks Rinto menagihnya kembali.. kali ini Rinto yang memulai. Tangan kekarnya mendekap pinggang ramping istrinya.


"Sudah yuk Bang.. Kita tidur..!!" ajak Anye.


Mata Bang Rinto menatap mata Anye.


"Kenapa kamu siksa Abang?"


"Maksud Abang apa??" tanya Anye.


-_-_-_-


Anye duduk di bangku yang disediakan. Bang Rinto mengambilkan Anye minum sebelum truk membawanya pergi.


"Setelah ini pulang dan istirahat" kata Bang Rinto mengusap peluh di dahi Anye. Anye menerima air minum itu lalu segera meminumnya.


"Iya Bang"


"Sinyo..!! Nanti tolong antar Anye pulang. Atau kamu bawa ke rumah mama. Abang cemas sekali lihat Anye lemas begini" perintah Rinto pada Ezhar.


"Siap Bang..!!"


"Sedikit kram saja Bang..!!"


Rinto mengusap wajahnya dengan gusar.


"Kamu khan tau bagaimana gaya suamimu. Kenapa kamu cari masalah? Kamu juga tau Abang nggak bisa di senggol dikit tapi kamu nantang. Abang maunya jaga kamu sama anak kita" Ada rasa sesal tapi menahan diri tidak menyentuh istrinya memang sangat sulit.


"Abang tenang aja. Anye nggak apa-apa"


Rinto tidak bisa berkata apapun lagi. Ia hanya mengacak rambut Anye lalu mencium keningnya.


Bang Rinto berjongkok di hadapan Anye.


"Baik-baik sama mama ya. Maaf semalam papa gangguin tidurnya" Rinto mengecup perut Anye berkali-kali.


Melihat rekannya sudah siap berjalan. Ia pun menyudahi obrolannya dengan Anye.


"Abang berangkat ya dek?"


"Iya Bang, hati-hati..!! Jangan lupa telepon..!!"


***


Sepanjang perjalanan menuju bandara, pelabuhan hingga sampai di tempat latgab..Rinto hanya tidur saja tak bisa menutupi rasa lelahnya. Hanya untuk berjalan kaki saja dia bisa membuka matanya.


"Kenapa lagi nih? Jangan bilang mabuk lagi. Bisa puyeng kita kalau dia kumat" kata Brian sudah was-was.


"Dari wajahnya sih keliatan habis ronda" kata Bang Arben memperhatikan wajah Rinto.


"Di bangunin nggak Bang?" tanya Gathan.


"Biar dia tidur..!!" jawab Bang Arben tersenyum penuh arti melirik Rinto seperti orang kalah perang.

__ADS_1


***


"Sayang.. kalau papa nakal, buat papa mabuk parah ya. Kalau papa nggak nakal, buat puyeng aja" kata Anye sambil mengusap perutnya yang masih datar.


...


Rinto menurunkan rangselnya. Rasa mual tiba-tiba hinggap lagi di tubuhnya tapi tidak separah kemarin. Rinto hanya tersenyum saja, mungkin ini ikatan batin antara dirinya dan anaknya.


Rinto berjalan keluar camp. Melihat Bang Arben, Gathan, Brian dan beberapa anggota lain sudah berkumpul di warung kecil sekedar mengopi sore hari.


"Adek.. godain Abang donk..!!!" Gathan bersiul dengan tak tau malunya. Bang Arben hanya tersenyum datar saja menanggapi jika ada wanita yang berusaha mencuri perhatiannya.


"Abang mau minum kopi juga??" tanya seorang gadis yang terlihat lebih kalem.


"Oiyaa donk..!!" jawab Gathan dengan ekspresi usilnya.


Rinto mengambil duduk di sebelah Bang Arben lalu membuka air minum kemasan dan meneguknya seperti onta kehausan. Rinto melirik seorang gadis yang tadi menawari Gathan kopi.


"Latihan tiga bulan disini juga betah kalau begini caranya" gumam Rinto.


"Buatkan saya kopi juga dek" pinta Rinto pada gadis itu.


"Bener Bang. Bisa alasan sama Sekar sibuk padahal kita refreshing. Tak lama kopi mereka datang.


"Namanya siapa dek?" tanya Rinto penasaran.


"Nayla pak" jawab Nayla menunduk.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Bang Arben.


"Di atas gunung. Bapak mau mampir?" tanya Nayla.


"Weehh.. di ajakin loh" Rinto tersenyum genit khas lelaki.


Tanpa menunggu lama. Rinto segera menyeruput kopinya. Mendadak kepala terasa berputar. Tapi ia berusaha menepisnya dan menyeruput kopinya lagi.


Tiba-tiba.. mual tak dapat di tahan lagi. Rinto menunduk meremas perutnya.


"Kenapa Rin??" tanya Bang Arben.


"Aarrgghh.. mualku kambuh Bang" Rinto memercing kesakitan kemudian ia berlari dan menyelesaikan mualnya. Bang Arben berdiri dan berjalan membantu Rinto setelah meletakan uang di atas meja.


"Ayo Abang antar ke camp!!" Bang Arben membantu Rinto. Akhirnya yang lain pun tidak berlama-lama duduk di warung itu.


...


"Terus bagaimana kalau Bang Rinto begini terus?" tanya Gathan yang mengoles minyak kayu putih di perut Rinto.


"Nggak tau lah, lagi latihan begini. Masa iya dia mau jadi patung dewa perang aja" jawab Brian.


"Jangan bicara.. aku mual dengar suaramu Brian..!!!!!!!!" ucap Rinto dengan jengkel.


"Waahh.. pantang dengar suara gue.. Asyik nih" Brian tertawa girang.


" Yo wes ben.. duwe bojo sing galak, Yo wes ben sing omongane sengak " Brian sengaja bernyanyi dan berteriak mengganggu Rinto, benar saja, Rinto langsung muntah hebat. Suami Anye itu tersiksa sekali mendengar suara Brian.


"Brian..!! Diam..!! Suaramu itu bikin sekarat orang...!!" tegur Bang Arben.


"Sudah Bri.. Ampuunn.. pergi sana..!!" usir Rinto tak kuat mendengar suara Brian.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2