Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
65. Ancaman.


__ADS_3

Di bonusin up tapi untuk bab besok harap sabar menanti ya 🤭🙏🙏


🌹🌹🌹


Dan Candra mengatur jalannya kepulangan anggota yang baru pulang dari satgas. Ia di pindahkan ke markas untuk membantu Dan Rama.


Om Rinto melihat Anye menunduk dan terdiam, Pria berusia sekitar empat puluh tahunan itu mendekati Anye. Ia berjongkok di hadapan Anye dan menggenggam tangan 'anak asuh'nya dulu.


"Gadis kecilnya Om Candra kenapa? Apa dengan mematung dan bersedih, semua akan kembali baik-baik saja?"


"Abang pasti baik-baik saja om" jawab Anye yakin meskipun suaranya terdengar lemah.


Om Candra tersenyum getir melihat tegarnya seorang Anyelir, ia sungguh mirip sang ayah.


"Oke.. Om masih ada tugas..!!" ucapnya sambil mengusap pipi Anye kemudian beralih ke perut bumil cantik itu. Ya.. kini Anye bukan lagi gadis kecil di matanya, tapi seorang wanita muda yang cantik dan mempesona.


Om Candra segera pergi dari tempat itu agar pikirannya kembali teralihkan dengan kesibukannya.


...


"Ya Allah Ya Rabb.. sakit sekali rasanya..!!!" Rinto menggigit bibirnya. Hampir di sekujur tubuhnya penuh luka.


Thomas dan Alex memapah pelan Dankinya yang sungguh sangat keras kepala. Jika tidak di turuti untuk bangun mungkin saja nantinya juga akan ada saja niatnya untuk kabur.


Para anggota dan istri melihat Danki masuk ke dalam aula dengan sangat pelan. Saat para anggota dan istri yang lain akan bersuara.. Rinto meletakan telunjuknya di depan bibirnya agar semuanya diam.


Anye tidak menoleh sama sekali, pandanganya kosong hanya menatap ke depan. Hati Bang Rinto sakit sekali rasanya. Apalagi saat mendengar ucapan istrinya tadi. Kini ia lebih memahami arti rasa rindu dan sayang.


"Yang lain sudah di peluk.. Masa Abang nggak?" tegur Bang Rinto saat istrinya.


Seketika Anye menoleh mendengar suara itu. Di lihatnya suami yang selama ini ia rindukan. Tubuhnya penuh memar dan luka. Perban membalut luka disana sini.


"Abaaaanngg???????" Anye kaget sekali melihat suaminya kembali. Tanpa memikirkan apapun lagi, Anye berlari sampai tersandung.


Dengan sigap Bang Rinto melepaskan pegangan tangannya dari Thomas dan Alex, Bang Rinto menangkap tubuh Anye tak peduli dengan tubuhnya yang saat itu mungkin luar biasa kesakitan.


"Aduuhh.. pelan-pelan dek..!!!" ucap Bang Rinto. Matanya terlihat menggenang apalagi saat melihat Anye memakai baju hamil, seragam khusus persatuan istri anggota. Tak sampai hati ia melihat raut wajah istrinya yang terlihat tegar tapi menyimpan banyak kesedihan. Tubuh istrinya semakin kurus, pipinya sedikit lebih cekung.


"Kenapa Abang baru datang?" tanya Anye dengan suara tercekat.


"Abang juga maunya lari. Tapi kaki Abang keseleo" jawabnya tak tega dan hanya untuk mencairkan suasana.


"Kangen nggak?" tanya Bang Rinto.


"Nggak..!!" jawab Anye.


"Ya sudah, Abang kembali satgas lagi"


Wajah Anye seketika meremang memerah menahan tangis. Tangannya mulai memukul Bang Rinto meskipun tidak kencang.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kamu nggak kangen. Abang yang kangen. Abang rindu berat sama anak istri Abang" bisiknya di telinga Anye.


Dada Anye terasa sesak, gemuruh didadanya seakan tertahan.


"Abang boleh pergi.. Asalkan ada kabar" ucapnya sambil bersandar di dada Bang Rinto. Meskipun badannya masih terasa sakit, tidak ada yang bisa mengalahkan sakit hati saat tau istrinya lemah seperti ini.


Thomas dan Alex ingin membantu Bang Rinto saat Dankinya itu merasa sangat kesakitan. Tapi Bang Rinto mencegahnya, ia membiarkan Ibu Danki bersandar di dada bidangnya dengan nyaman.


"Tidak ada jaringan. Bagaimana Abang mau kabari keluarga? Abang sudah berusaha kasih info ke Batalyon kalau anggota satgas baik-baik saja. Apa informasi itu tidak di sampaikan?"


"Jangan pergi lagi ya Bang..!! Anye takut sekali" jawab Anye.


"Iya maaf.. maafin Abang sudah buat cemas!!" ucap Bang Rinto. Pandangannya sudah kabur berkunang-kunang. Bang Rinto mendekap erat tubuh Anye. Rindunya sudah teramat sangat, ada rasa bahagia saat tendangan kecil terasa di tubuhnya.


Begitu sesaknya, Anye tidak kuat lagi. Ibu Danki lemas tidak bertenaga di pelukan Bang Rinto.


"Astagfirullah.. dek..!!" Bang Rinto panik, ia mengangkat Anye sendirian.


"Ijin Danki.. Masih belum boleh beraktivitas berat" kata Thomas mengingatkan.


"Luka ini jauh dari nyawa. Kamu nggak usah cemas" jawab Bang Rinto.


"Tapi Dan..!!!" Alex pun ikut cemas.


"Jangan perlakukan saya seperti seorang gadis manja..!!" Bang Rinto kesal sekali karena banyak anggota yang bersikap berlebihan padanya.


"Buka ruang kesehatan sekarang..!!!!" perintah Bang Rinto.


...


"Kamu periksa apa? Lama sekali?????" tegur Bang Rinto pada seorang anggotanya yang sedang memeriksa kondisi Anye.


"Ijin Danki.. Denyut jantung ibu sangat lemah. Sementara biar di bantu oksigen saja agar nafasnya stabil" kata anggotanya itu.


"Cepatlah tangani, kenapa harus lama-lama kamu pandang istri saya..!!!!!" ucap Bang Rinto dengan emosi.


"Aawwhh.. ampuun Tuhan..!! Sakiiit" Bang Rinto menunduk merasakan dadanya yang tertancap tombak, sisi pinggangnya pun terkena goresan parang.


plaaaakk..


Bang Arben menepak lengan Rinto.


"Makanya itu mulut jangan ngomel aja. Darahnya keluar lagi nih, semakin banyak bergerak jahitanmu terbuka lagi" kata Bang Arben mengingatkan.


Anye menggeliat di ranjangnya. Bang Rinto segera menutup kaosnya kembali. Sekuat tenaga ia berdiri melihat keadaan Anye.


"Eehh.. Bangun sayang..!! Kamu kenapa? Abang pulang kenapa malah jadi begini?" tanya Bang Rinto cemas.


Ayah Rama berlari ke ruang kesehatan setelah memaksa Dokter Wira ikut bersamanya datang ke Batalyon. Bang Rinto melihat ada Dan Candra mengikuti di belakangnya. Mereka hanya sejenak saling pandang.

__ADS_1


"Hai Anye.. apa kabar?" sapa dokter Wira yang langsung mengeluarkan perlengkapannya.


"Baik dok..!!" jawabnya tercekat.


Dokter Wira tersenyum dan sedikit mengusap lengan Anye. Lalu mengarahkan agar Bang Rinto mengikutinya.


...


"Sepertinya istrimu mengalami tekanan selama masa kehamilan. Ada indikasi bayimu kurang berat badan, di tambah berat badan istrimu yang tidak juga bertambah" kata dokter Wira.


"Apa sangat beresiko?" tanya Bang Rinto.


"Iya, bayimu bisa lahir prematur.. dan terburuknya......."


"Saya paham dok.. Saya akan mengejar semua ketertinggalan itu" jawab Bang Rinto.


"Ingat Rin.. Bedrest total. Kondisi keduanya kurang memungkinkan." dokter Wira mengingatkan.


"Tidak masalah dok, asalkan anak istri saya aman.. apapun akan saya lakukan..!!" jawab Bang Rinto tegas.


Ayah Rama menepuk bahu Bang Rinto memberi kekuatan pada menantunya itu.


"Nggak apa-apa yah.. Ini masalah kecil. Anak dan istriku lebih berharga dari segalanya" ucap Bang Rinto.


...


Rinto masuk ke dalam ruang kesehatan. Disana Bang Rinto melihat Dan Candra sedang mengusap kening istrinya. Tatapannya sungguh dalam pada sang istri. Tangan Dan Candra yang lain menggenggam erat tangan Anye. Dan Candra tak melepaskan tangan Anye meskipun istri Rinto itu mencoba melepasnya.


"Ehm.. Ijin Komandan..Selamat Siang..!!" Rinto menyapa memberikan penghormatannya pada Dan Candra.


"Selamat siang" jawab Dan Candra sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Bagaimana kondisimu??" tanya Dan Candra dengan tulus.


Bang Rinto sudah memasang wajah tidak bersahabat.


"Do you know my wife? "


Dan Candra tersenyum kecil, Ia tau Danki A ini sangatlah merepotkan kalau sedang marah.


"Iya.. saya mengenalnya. Sebelum kamu bertemu dengan dia, saya yang lebih dulu mengenalnya" jawab Dan Candra.


"Candra.. stop..!!" Ayah Rama menghentikan pembicaraan mereka karena saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah yang penuh teka teki. Rinto sedang sangat sensitif sekali dengan hal ini.


"Om Candra pulang dulu ya sayang..!!" Om Candra mengecup kening Anye yang saat itu Rinto tau istrinya sama sekali tidak siap mendapat perlakuan yang tiba-tiba.


Rinto yang melihat hal itu langsung mengepalkan tangannya. Ia kesal sekali, kali ini logikanya sama sekali tidak bisa di ajak kerjasama. Yang ia tau hatinya terasa sakit sekali melihat perlakuan Dan Candra pada istrinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2