Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 83. Uji mental.


__ADS_3

"Brewok..!! eksekusi saja lah kambingnya" teriak Bang Zaldi memberi perintah pada Letda Adi.


"Laahh Bang, kenapa?? Anaknya masih kecil"


"Anaknya khan juga tidak mau menyusu induknya, jadi kamu saja nanti yang menyusui. Istri saya nggak suka sama Rebecca" jawab Bang Zaldi.


Bang Bima menepuk dahinya.


Kumat si Abang. Cukuplah ini saja hamilnya Arnes yang terakhir, ada lagi satu pendekar bisa tamat riwayat hidup gue.


Para anggota langsung menangkap Rebecca dan membuat eksekusi.


"Ijin Dan, ini mau di garang sekalian?" tanya seorang remaja.


"Iya, buat makan malam kalian." jawab Bang Zaldi.


Sambil melihat kambing bersiap di sembelih, ia mengingat kedua putranya belum melaksanakan aqiqah. Ia pun mendekat dan berbicara pada Pak Sanusi.


"Pak, kedua putra saya belum aqiqah. Apa bisa besok kita laksanakan acara untuk aqiqah?" tanya Bang Zaldi.


"Bisa pak, jadi kambingnya empat ya..!!" jawab Pak Sanusi.


"Siap pak..!!"


-_-_-_-_-


Arnes sedang meneliti beberapa laporan bersama ibu pengurus Kompi yang lain. Aroma kambing guling begitu menusuk hidungnya.


"Aduuhh.. baunya kok enak ya Bu" ucap Arnes lada Bu Samsudin.


"Ibu mau, biar saya mintakan sama om-om remaja" Jawab Bu Samsudin.


"Jangan Bu, kata Abang saya nggak boleh makan kambingnya" Arnes menunduk melihat perutnya yang berbunyi keroncongan.


Bu Samsudin meletakan telunjuknya di depan bibir.


"Nanti makan di dalam ruangan kita Bu, sebentar saya ambilkan" Bu Samsudin memang sudah seperti ibu bagi para anggota karena beliau begitu baik sama seperti suaminya.


//


Bang Zaldi mencari Arnes kemana-mana tapi istrinya itu tak kunjung ia temukan. Tiga kali bolak-balik pulang ke rumah tapi bibi masih tetap mengatakan kalau Arnes tidak di rumah.


"Haduuhh.. celaka, apa Arnes marah karena aku peluk Rebecca?" gumamnya.


Tak mau membuang waktu, Bang Zaldi menaiki motornya mengelilingi asrama. Sampai pos depan pun di datanginya.


"Ada yang tau istri saya??" tanya Bang Zaldi.


"Ijin Dan.. tidak tau"


"Kemana ya??" Bang Zaldi terus berpikir keras. Ia pun segera balik arah dan mencari istrinya lagi.


Sampai di barak bujangan, Bang Zaldi hanya berjalan kaki berputar-putar di tiap barak hingga kakinya lelah.


"Cari apa Bang?" tanya Om Adi.


"Bini gue hilang Ad" jawabnya.


"Hilang bagaimana maksud Abang"


"Hilang itu ya nggak ada, tak terlihat, raib" ucap Bang Zaldi jadi emosi.


"Pulang kali Bang, tadi ada di ruang pengurus sama Bu Samsudin"


Dengan mengambil langkah panjang Bang Zaldi segera mendatangi ruang pengurus.


"Bu.. istri saya di dalam?" tanya Bang Zaldi pada Bu Samsudin yang baru saja keluar dari ruang pengurus.


"Iya pak. Jangan di marahi ya pak, ibu tadi ngidam pengen makan kambing guling tapi takut bapak marah, jadi saya mintakan sedikit di om-om" jawab Bu Samsudin.

__ADS_1


"Terima kasih ya Bu" Bang Zaldi langsung masuk ke dalam ruangan.


Disana Bang Zaldi melihat Arnes makan dengan lahap sambil duduk melantai dan bersandar pada dinding. Kakinya di luruskan, mungkin istrinya itu sudah pegal membawa kehamilannya yang sudah mulai besar.. jalan empat bulan.


"Eheem.." Bang Zaldi berdehem menyapa Arnes.


Arnes kebingungan menyimpan piringnya sampai tersedak.


"Ehm.. minum dulu" Bang Zaldi berjongkok dan mengangsurkan air minum ke bibir Arnes.


"Enak makannya?" tanyanya kemudian.


"Maaf Bang, Arnes pengen"


"Iya nggak apa-apa asalkan tidak berlebihan" jawab Bang Zaldi lalu mengambil piring Arnes.


"Ayo habiskan makannya. Mumpung anaknya mau"


Tanpa banyak bujukan, Arnes makan cukup banyak. Hati Bang Zaldi begitu trenyuh melihatnya, tak terbayang bagaimana susahnya kemarin Arnes harus menjalani kehamilan Ibra tanpa dirinya.


"Owalah ndhuk. Atiku nelangsa. Sehat seger waras yo dek..!!"


"Mau makan apalagi dek? Abang belikan" Bang Zaldi menawari istrinya karena moment Arnes mau makan banyak adalah hal yang langka.


"Beneran boleh beli Bang?"


"Kapan sih Abang pernah melarang mu beli apa yang kamu mau?" Jawab Bang Zaldi.


"Gulai tempoyak" pinta Arnes.


"No, walaupun aman sebaiknya meminimalkan resiko"


"Dendeng balado" Arnes masih menawar.


"Abang mengijinkan bukan berarti segala hal beresiko bisa kamu terjang begitu saja. Orang yang tidak hamil saja masih harus berhati-hati, apalagi kamu yang berbadan dua" jawab Bang Zaldi.


"Terus apa Bang? Katanya boleh beli yang Arnes mau" Arnes menagih janji Bang Zaldi yang mulai berwajah masam.


"Nggak mau" Arnes menunduk kecewa karena Bang Zaldi selalu melarang yang ia inginkan.


"Yowes, ayoo..!! tapi kalau sampai perutmu sakit, tak pelintir tenan lho dek" ancam Bang Zaldi.


Mau tidak mau akhirnya Bang Zaldi mengalah juga.


...


Arnes mendesis kepedasan. Bang Zaldi yang makan di sampingnya sampai ikut bingung takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Minum dek..!! Tersedak kamu nanti, Letakan dulu itu ponselnya.


Sedang asyiknya makan memang Arnes sedang memantau kegiatan dari pusat.


Arnes segera minum dan melihat lagi info bahwa minggu depan ada kunjungan panglima. Arnes segera menghabiskan makanannya.


"Kenapa kamu??"


"Ada kunjungan Panglima Bang" jawab Arnes.


"Masa sih??" Bang Zaldi segera memantau informasi di groupnya.


"Oiya.. masih sempat lah buat persiapan. Masih Minggu depan"


Wajah Arnes mendadak cemas dan bingung.


"Kita pulang yuk Bang..!!" ajak Arnes.


***


Bunyi adzan Magrib berkumandang dan Arnes belum juga pulang dari kantor. Bang Zaldi yang cemas bersiap menyusul istrinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum.." ucap salam Arnes.


"Wa'alaikumsalam.." Bang Zaldi segera melihat keadaan Arnes karena mendengar suara yang tidak seperti biasanya.


"Astaga.. kenapa keningmu?????"


"Nggak sengaja jatuh di jalan" ucap jujur Arnes daripada ia berbohong dan akan memperpanjang masalah dengan Bang Zaldi.


"Jatuh?? Nggak sadar?? Pusing atau gimana kamu ini????" Bang Zaldi membuka jilbab Arnes lalu mengambilkan istrinya minum dan mengambil obat di kotak P3K.


Setelah istrinya tenang baru Bang Zaldi mengobati istrinya.


"Kalau sudah lelah itu pulang. Bukan malah ngerumpi nggak jelas di kantor. Kalau sampai ada ribut antar anggota.. Abang hajar juga kamu" ancam Bang Zaldi cukup keras meskipun tidak berniat serius. Arnes pun sudah paham gaya bicara suaminya.


"Bukan Bang, data kantor banyak yang salah dan Arnes harus membenahi ulang"


Bang Zaldi menarik nafas panjang.


"Kita bicarakan nanti. Sekarang Abang siapkan air hangat untuk kamu mandi dan sholat setelah itu makan malam.. nanti kita bicara dan Abang obati lukamu"


//


Bang Zaldi memijat kaki Arnes. Saat ini ibu Komandan benar-benar lelah dan sampai tidak mau makan.


"Siang tadi nasi kuningnya habis nggak?"


Arnes menggeleng. Bersuara saja rasanya butuh ribuan tenaga.


"Waktu itu kepedasan makan balado dan baru sembuh dari diare, itu sudah buat nggak enak makan. Sekarang karena terlalu lelah, kamu nggak mau makan. Kamu nggak kasihan sama Abang kah dek? Abang cemas setengah mati memikirkan kamu" tangan itu tak hentinya memijati badan Arnes.


"Abang belikan sate ayam ya? Apa nasi goreng? Hmm.. sop ayam kampung mau nggak??" tanya Bang Zaldi saking cemasnya melihat sang istri tanpa tenaga.


"Arnes minta telur ceplok aja sama kecap, Abang yang buat" pinta Arnes.


"Siap laksanakan"


"Tapi kuning telurnya jangan miring ya Bang, setengah matang, pakai telur bebek yang sudah asin.. nanti piringnya yang warna putih ada bunga warna biru. Nasinya Abang cetak seperti tumpeng dan puncak nasinya warna merah" ucap Arnes panjang lebar.


"Haahh.. piye kuwi dek??? Coba baleni"


"Abang dengar nggak sih??" tanya Arnes.


"Dengar.. tapi puyeng hafalinnya. Mending Abang ngaji aja dah" ucapnya putus asa.


"Arnes lapar"


"Allahu Akbar.. lama-lama papamu ini mandi kembang dek. Mamamu kalau hukum papa parah banget. Nggak kira-kira"


"Catat aja dah, ini urusan telur aja bisa sampai subuh. Deehh.. malam begini mau mbegal telur bebeknya Lurah mana coba" gerutu Bang Zaldi.


"Kalau telur yang lain mau nggak dek?" tanya Bang Zaldi.


"Nggak aahh, telur lain nggak guna lah Bang"


"Wooo.. semprul. Ngejak geger geden" Bang Zaldi yang kesal mengambil ponselnya dan mengirim pesan suara di group kompi.


Barang siapa punya telur bebek yang sudah asin.. tolong info ke saya sekarang juga.


:


:


"Astaga.. Bu Komandan cari telur" kata seorang remaja.


"Gerak..gerak.. daripada push up satu barak..!!!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2