
Anggota kesehatan lapangan segera memberikan perawatan yang terbaik untuk Danki mereka.
"Aduuh melilit, kram, sesak, pusing. Ya Allah sakiiiiit" reaksi Bang Zaldi sungguh membuat bingung seisi Kompi. Bagaimana tidak, Danki terus menggelinjang.
//
Dokter lapangan tertawa melihat Danki yang ambruk karena sakit.
"Ijin Dok, apa Danki sedang mabuk?" tanya seorang anggota di kompi.
"Nggak, sakit biasa saja" jawab dokter sambil tersenyum.
"Masa nggak tau bedanya mabuk alkohol sama pusing"
Dokter memasangkan oksigen untuk Bang Zaldi hingga Danki merasa lebih nyaman. Setelah Bang Zaldi tenang, dokter pun meninggalkan Danki di ruang kesehatan.
"Abang sakit apa?" tanya Bang Righan pada seniornya.
"Nggak sakit, hanya banyak pikiran saja" jawab senior.
Bang Righan mengangguk tanda mengerti tapi dalam hatinya cemas juga memikirkan adik iparnya itu.
Para anggota kelabakan tanpa persiapan apapun saat Dan Rinto datang bersama Letda Putra.
"Selamat pagi. Silakan masuk Komandan" Letda Aswin menyambut kedatangan Dan Rinto dan Letda putra.
"Santai saja. Saya tidak ada kunjungan kerja. Hanya mau menemui Dankimu saja" jawab Dan Rinto.
"Ijin Komandan. Danki sedang ada di unit kesehatan" kata Aswin.
"Ini khan hari pertama Danki bertugas. Memangnya kenapa??" tanya Dan Rinto.
"Ijin Dan.. tumbang saat lari pagi"
"Tolong antar saya. Saya mau lihat keadaannya" Papa Rinto cemas juga dengan keadaan menantunya.
Sampai di ruang kesehatan, terdengar suara Bang Zaldi yang begitu tersiksa dengan rasa mualnya.
Papa Rinto langsung memijat tengkuk menantunya itu.
"Keracunan atau Vertigo Zal? Apa iya hanya kecapekan saja?" tegur Papa Rinto.
Sekilas Bang Zaldi menoleh ada sang papa mertua sedang membantunya.
"Nggak tau paaa.. Tolong aku pa" Bang Zaldi meremas tangan Papa mertuanya dengan kuat.
"Tolong kalian carikan minuman jahe hangat sama ubi" pinta Papa Rinto.
...
Arnes memijati lengan Bang Zaldi. Suaminya itu hanya terpejam dan bersandar di sofa rumahnya.
Seorang anggota meminta arahan dari Danki Baru itu tapi sepertinya Bang Zaldi belum bisa di ajak bicara. Jangankan memberikan arahan, membuka mata saja rasanya sudah perjuangan yang berat. Tapi karena saat ini dirinya sudah menjabat sebagai Danki, maka tidak mungkin jika dirinya tidak memberi arahan pada anggotanya.
"Lempar pisau saja besok jadwal repling. Tolong siapkan alatnya mulai sekarang ya..!!" perintah Bang Zaldi meskipun matanya tertutup.
"Siap Danki..!!" ucapnya kemudian pamit undur diri.
__ADS_1
Papa Rinto mencoba menyuapi Bang Zaldi sepotong ubi yang sudah di bersihkan dan di cuci bersih. Tak berapa lama Bang Zaldi bisa membuka matanya. Nampaknya setelah makan ubi, keadaannya sudah sedikit membaik.
"Tekanan darahku pernah tinggi pa. Mungkin sekarang ini vertigo" kata Bang Zaldi.
"Terlalu banyak pikiran kamu Zal. Slow saja jalani tugasmu. Jangan terlalu tegang Zal" Papa Rinto mengingatkan Bang Zaldi.
"Saya santai pa. Hanya nggak tau ini, sejak sebelum ke Sulawesi sudah mau tumbang saja rasanya" ucap jujur Bang Zaldi.
"Oyaa..??" Papa Rinto mengerutkan keningnya seakan menerka sesuatu.
***
Keesokan harinya Bang Zaldi mengikuti kegiatan kantor meskipun badannya tidak bisa di bilang seratus persen fit, sedangkan Arnes sedang bersama ibu-ibu yang lain sedang mengunjungi peternakan kecil milik Kompi yang sudah ada pada era Danki lama beberapa periode yang lalu.
"Saya rasa sapi ini sedang isi, kandangnya harus lebih sering di bersihkan..!!" kata Arnes sambil mengusap perut si sapi.
"Oya.. bisa tidak kalau sapi-sapi ini kotorannya di tampung dan di buat bio gas. Lumayan untuk mengurangi pembelian bahan bakar walaupun hanya sedikit"
"Siap ibu" jawab seorang anggota dokumentasi. Para ibu sedang di dampingi petugas dokumentasi dan Om Aswin.
Para ibu pengurus kompi saling bertatapan. Mereka ragu tentang kesimpulan Ibu Danki tapi mengingat ibu Danki adalah seorang sarjana peternakan, maka tidak menutup kemungkinan kalau ucapan Bu Danki itu benar.
Arnes mengambil selang hendak membersihkan kandang tersebut. Tangan itu baru saja menyentuh ujung selang, naas perutnya tertendang kaki belakang seekor sapi.
"Astaga.. ibu..!!!!!!!" pekik Ibu-ibu kompi begitu riuh.
Arnes memercing kesakitan. Tak lama ia melihat seragamnya kotor terkena noda darah.
"Om.. tolong panggilkan suami saya"
"Iya mbak, segera" Om Aswin segera berlari menuju tempat repling.
//
"Abaaang.. ijin Bang..!!" Om Aswin tergesa-gesa sampai ke tempat Bang Zaldi.
"Kenapa Win??" tanya Bang Zaldi saat baru meluncur dari atas.
"Istri Abang jatuh di zona peternakan, di tendang sapi........"
"Aduuhh.. kalian ini gimana sih jaga ibu-ibu" tegur Bang Zaldi nampak cemas sambil melepas semua peralatan yang ia kenakan.
"Tapi....."
"Tapi apaa?????"
//
"Dek, Astagfirullah hal adzim..!!" Bang Zaldi kaget melihat pakaian Arnes ada bercak darah. Batinnya seakan teriris perih. Tidak mungkin ini adalah tamu bulanan istrinya.
"Kenapa jadi begini??" tanya Bang Zaldi menatap Arnes dengan tatapan tajam.
"Jujur sama Abang, sebenarnya bulan ini kamu haid nggak??"
"Arnes belum tau Bang, ini belum tanggalnya. Masih kurang dua hari lagi" jawab Arnes.
"Kita ke rumah sakit..!!" Bang Zaldi segera membawa Arnes ke rumah sakit.
__ADS_1
-_-_-_-_-
Jantung Bang Zaldi rasanya berhenti berdetak saat dokter mengatakan Arnes harus segera menjalani tindakan kuretase.
"Memangnya istri Bang Zaldi nggak tau kalau sedang hamil? Bukankah sudah mengalaminya satu kali?" tanya dokter Inka sebagai dokter bantu yang menangani Arnes karena dokter Prasetya sedang ada seminar di luar kota.
"Hmm.. atau mungkin istri Bang Zaldi sengaja ingin menggugurkannya?"
Seketika darah Bang Zaldi mendidih naik. Pasalnya ia sudah mengatakan pada Arnes jika dirinya menginginkan 'banyak' anak karena ia tidak ingin Ibra merasa kesepian sama seperti dirinya dulu.
"Menggugurkan kandungan itu akibatnya bisa sulit punya anak lagi lho Bang" kata dokter Inka lagi. Ternyata Dokter Inka adalah adik kelas Bang Zaldi saat di SMA.
"Lagipula usia kandungannya sembilan minggu. Abang baru pulang dari Sudan delapan minggu khan?"
Bang Zaldi terdiam dan mengingat saat perjalanan ke Jawa, Arnes makan banyak buah salah satunya nanas. Pikiran Bang Zaldi menjadi berantakan hatinya terasa sangat sakit sesakit sakitnya perasaan, apalagi mengingat Arnes yang sangat mengagumi Adi.
"Saya mau ke tempat Arnes dulu..!!" pamit bang Zaldi.
"Okeeyy Abang"
...
"Bang.. Arnes nggak anak ini di ambil. Arnes merasa anak ini masih ada" kata Arnes.
"Kalau kamu nggak mau anak ini di ambil, kenapa kamu berusaha menghilangkannya Arnes..!!!!!" bentak Bang Zaldi tidak main-main.
"Atau kamu mau menghilangkan jejak karena anak ini adalah anaknya Letda Adi???"
"Arnes nggak pernah melakukan hal seperti itu" kata Arnes yang sudah berada di ambang stress nya.
"Gugurkan..!! Abang nggak mau aja jejak pria lain di tubuhmu selain Abang"
Seketika air mata Arnes meleleh, ia tak menyangka Bang Zaldi akan mengatakan hal seperti itu.
Saking emosinya rasa mual Bang Zaldi kembali mendera, ia kembali ke toilet dan mulai mual. Tak lama pintu terbuka, dokter Inka langsung membantu Bang Zaldi dan memapahnya keluar ruangan tanpa memperhatikan dan menyapa Arnes.
Tak sengaja pemandangan itu tertangkap mata Bang Righan dan Bang Putra. Mereka berdua segera berlari masuk ke kamar rawat Arnes.
//
"Tolong tinggalkan saya sendiri Inka. Saya ingin sendiri dan saya butuh berpikir tenang" kata Bang Zaldi saat Inka membantunya.
"Tapi Abang butuh teman bicara. Aku bisa jadi teman curhat Abang" dokter Inka mencoba membujuk Bang Zaldi.
"Maaf, saya sudah punya istri. Tolong untuk tidak memperkeruh suasana. Istri saya bisa salah paham"
"Bukankah Abang sendiri tadi bilang kalau istri Abang ada hubungan dengan pria lain?? Letda Adi misalnya"
Bang Zaldi mengusap wajahnya, perlahan ia berpikir dengan kepala dingin.
Aku tidak boleh bodoh. Aku nggak bisa langsung percaya usia janin itu sembilan minggu. Ya Allah, bagaimana Arnes sekarang. Emosiku tadi pasti menyakiti hatinya.
"Bang.. antar aku pulang donk. Di kost aku sepi kok. Besok aku tangani istrimu" ajak dokter Inka.
Bang Zaldi menatap mata Inka. Jantungnya tak beraturan saat Inka menyandarkan kepalanya di bahu kanannya.
.
__ADS_1
.
.