
Bang Zaldi tidur berguling-guling di ranjangnya. Perasaannya terus gelisah. Bang Zaldi mengambil ponselnya dan menatap wajah Arnes.
"Duuhh.. apa tidak ada wanita lain yang bisa kulihat" ucapnya bergumam sendiri.
Ibu Bang Zaldi hanya tersenyum saat putranya itu hanya memandangi foto di ponselnya.
-_-_-_-_-
"Ibu sudah semakin tua nak. Nggak butuh harta dunia. Kalau bisa ibu minta.. cepat kasih ibu cucu" kata Ibu.
"Gimana mau kasih cucu sih Bu. Istri saja belum punya" jawab Bang Zaldi.
"Cepat cari le..!!"
"Astaga bu. Cari istri itu nggak asal pungut aja di pinggir jalan. Aku harus bahagiakan dia lahir batin. Buat apa aku nikah cepat tapi istriku nangis karena aku nggak mampu bahagiakan dia" kata Bang Zaldi.
"Ibu tau anak ibu ini kadang masih suka kasar."
"Perlakukan sama seperti kamu perlakukan ibu. Lembut dan tidak banyak bernada keras. Perempuan itu suka kelembutan, dimanja dan disayang. Nggak perlu barang mewah.. wanita itu kamu perhatikan saja, dia sudah luluh" jawab ibu.
"Iya.. ibuku tersayang"
***
Bang Zaldi menarik nafas. Ada sedikit rasa gugup saat mendatangi rumah Dan Rinto.
"Bismillah.. Aku nggak pernah segugup ini meskipun bertemu presiden sekalipun"
Bang Seno mengajaknya ke rumah Papanya karena Bang Zaldi lumayan ahli dalam perbaikan mesin dan listrik. Satu truk reo sedang rusak dan Bang Seno membawa ke halaman depan rumah dinas papanya untuk di perbaiki, mama Anye sepertinya kurang paham dalam hal ini sebab sudah lama sekali beliau tidak memegang mesin.
Papa Rinto tidak bisa menghalangi apapun kalau ini masalah kantor dan truk Reo itu sangat penting untuk akomodasi di sebuah Batalyon.
//
"Ijin Ibu, ini ada kebocoran di pipa pembuangan. Harus di las, kemudian di tambal ulang" kata Bang Zaldi.
"Yang mana Zal. Saya nggak kelihatan nih" kata Bu Anye.
"Ijin Bu, kecil sekali.. paling belakang sendiri, di pangkal pipa" jawab Bang Zaldi.
"Jangan nunduk ma.. terkilir lehermu nanti. Biar Zaldi, Seno sama yang lain saja yang urus" kata Pak Rinto yang tidak pernah jauh dari istrinya itu.
Bu Anye pun menurut dan menerima uluran tangan suaminya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Bang Zaldi membuka truk tersebut agar lebih jelas melihat sumber masalah di truk reo. Ia segera merebahkan badan kekarnya di bawah mesin truk.
"Nes.. ambilkan rokok Abang di dalam truk..!!" pinta Bang Seno yang tidak melihat Arnes yang sedang memakai rok mini.
"Iisshh Abang.." ucapnya meskipun Arnes tetap menurut dengan Abangnya.
__ADS_1
Saat Arnes melangkah. Ia pun tidak menyadari ada Bang Zaldi yang tepat 'tidur' di bawah kakinya.
Mata Bang Zaldi sampai tak bisa berkedip hingga salah mencongkel tabung oli karena tak sengaja melihat pemandangan yang menyilaukan mata. Badannya sudah terkena tetesan oli yang mengalir di perutnya.
"Bukan maiin..!!" gumamnya tanpa sadar
"Aaiisshh.. Astagfirullah hal adzim.. ini sumber masalah baru namanya" gumam Bang Zaldi gugup, jantungnya berdegup kencang.
"Keluar kalian semua..!!" perintahnya pada anak buahnya yang ikut memperbaiki di bawah mesin. Tanpa banyak pertanyaan, anak buah Bang Zaldi segera keluar. Bang Zaldi pun menarik diri dari bawah truk.
Bang Zaldi bangkit dan mendekap perut Arnes, menurunkan adik Seno lalu menyeret Arnes ke sisi belakang rumahnya.
"Kamu tau nggak banyak laki-laki disini.. Kenapa pakai pakaian minim sekali..!!" tanya Bang Zaldi bernada keras.
"Suka-suka Arnes. Ini badan Arnes" ucapnya dengan sengaja.
"Kamu kira pahamu semulus apa sampai berani pamer di depan saya?? Kamu mau jadi tumpeng di keroyok laki-laki???" tegas Bang Zaldi.
"Apa hak Abang mengatur Arnes? Arnes bukan siapa-siapa Abang. Lagipula Arnes nggak sengaja" jawabnya semakin menantang.
"Saya memang bukan siapa-siapa kamu sekarang. Tapi sebagai seorang laki-laki.. saya berusaha menjaga diri dan pandangan dari godaan yang bisa saja membuat iman saya goyah. Kali ini saya 'lihat' kamu, kalau sampai suatu saat saya tau kamu pameran di hadapan pria lain selain saya.. saya sendiri yang akan beri kamu pelajaran. Saya serius Arnes" Wajah tegas Bang Zaldi cukup membuat Arnes takut, apalagi Bang Zaldi tidak melepas pergelangan tangannya.
Arnes pun melepas paksa dan segera masuk ke dalam rumah, tanpa sengaja Arnes menabrak Papa Rinto.
"Dua kali saya lihat kamu begitu emosional Zal. Apa kamu tidak bisa mengurangi sifat temperamen mu itu??" teguran Dan Rinto membuat Bang Zaldi tersadar dari rasa kesalnya.
"Siap salah Dan. Mohon maaf jika saya sudah melewati batas" jawab Bang Zaldi.
"Duduk..!! Kita ngopi dulu..!!" ajak Dan Rinto.
...
Bang Zaldi tegang sekali berhadapan dengan Pak Rinto yang terus menatapnya.
"Saya punya anak perempuan hanya satu. Waktu mamanya hamil Arnes, saya sangat bahagia sekali. Dia berlian berharga yang saya miliki. Jujur.. dia adalah putri kesayangan saya. Belum pernah saya membentak atau menyakiti raganya. Tapi saya lihat hari ini kamu keras padanya, juga menariknya dengan kasar"
"Saya minta maaf pak. Lingkungan saya terlalu kental dengan dunia laki-laki dan kekerasan hingga terkadang saya lupa untuk bersikap lemah lembut"
"Kamu tidak pernah interaksi dengan wanita?" tanya Dan Rinto berbicara secara pribadi.
"Hanya satu wanita yang paling saya sayangi dalam hidup saya saat ini. Yaitu ibu. Selanjutnya.. saya tidak pernah memperlakukan wanita lain secara spesial. Saya tidak punya bapak sejak umur tiga tahun hingga saya tidak tahu caranya memperlakukan wanita" ucap jujur Bang Zaldi.
Pak Rinto ragu. Zaldi tidak pernah tau bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik dan pria di hadapannya ini juga kasar. Pak Rinto mengurut keningnya cemas mengingat apa yang sudah Arnes alami dulu.
"Jangan pengaruhi Arnes dengan hal apapun, Dia masih kecil, masih dua puluh tahun. Soal yang kamu bilang tadi.. Saat di rumah, Arnes bebas memakai pakaian apapun, tapi tidak untuk di luar rumah. Mungkin tadi, Arnes tidak tau kalau ada banyak anggota remaja di rumah. Atas tingkah putri saya.. saya minta maaf..!!" ucap Pak Rinto.
"Tapi insya Allah saya tidak mendidik putri saya dengan buruk"
"Siap.."
__ADS_1
"Saya hanya minta.. jika tidak ada niat baikmu. Jauhi putri saya atau kamu berhadapan dengan saya" kata Pak Rinto sambil berdiri untuk meninggalkan perwira muda di hadapannya.
Bang Zaldi pun ikut berdiri.
"Ijin Dan.. bolehkah saya beradaptasi dengan putri Komandan??" tanya Bang Zaldi.
"Ti_dak.. kau pikir putriku nasi anget. Kalau panas kau tiup, kalau dingin kau berantakin" tolak Pak Rinto mentah-mentah.
Bang Zaldi berjalan menghadang langkah Pak Rinto.
"Saya akan mengubah sikap dan sifat saya"
"Sifat tidak bisa di ubah" jawab Pak Rinto.
"Tolong beri saya satu kesempatan..!!" Bang Zaldi masih berdiri di hadapan Pak Rinto.
"Lupakan Zal..!!!!!!" Pak Rinto pun pergi meninggalkan Bang Zaldi.
...
Bang Zaldi duduk tanpa tenaga di samping truk Reo. Wajahnya tak berekspresi. Bang Seno mendekati Bang Zaldi karena ponsel Abangnya itu terus saja berbunyi tanpa jawaban dari sang pemilik ponsel.
"Ponsel Abang bunyi terus tuh" kata Bang Seno.
"Biar saja..!!" jawab Bang Zaldi.
"Haaaaahh..!!!!!" Bang Seno sampai ternganga melihat siapa orang yang menghubungi seniornya itu.
"Ijin Bang.. Ada nama Nyonya Zaldi Kesayangan memanggil"
"Uhuukk.." entah kenapa Bang Zaldi bisa sampai tersedak air ludahnya sendiri. Seniornya itu segera berdiri untuk mengambil ponsel di hadapan Seno lalu mengangkat panggilan teleponnya.
"Ehmm" Bang Zaldi berdehem melonggarkan nafasnya. Wajahnya sudah memerah menahan malunya tapi tetap dengan gayanya yang sok cool.
"Iya.. kenapa" jawabnya.
"Abang bicara apa sama papa??" tanya Arnes.
"Nggak ada, mau tau aja urusan laki" jawab Bang Zaldi bernada dingin.
Bang Seno terkikik geli karena ternyata selama ini Bang Zaldi menyimpan nomer ponsel Arnes dengan nama ❤️ Nyonya Zaldi Kesayangan ❤️ sedangkan yang ia tau di ponsel Arnes, nomer Bang Zaldi tersimpan dengan nama 🐒 Owa Jantan 🐒.
"Jahat sekali kamu Nes" gumam Bang Seno masih terkikik geli.
.
.
.
__ADS_1