
Rinto melepas baretnya usai sampai di depan rumahnya. Ia merasa sejak tadi Brian menghindarinya. Bahkan saat jalan pulang naik motor bersama pun Brian tetap diam. Rasanya tidak nyaman sekali Brian mendiamkannya tanpa alasan yang ia tak paham. Ia pun mengejar Brian.
"Tunggu.. kenapa kau menghindariku??" tanya Rinto.
"Siapa yang mengindarimu? Geer" jawab Brian datar sambil berlalu dari hadapan Rinto.
Rinto akhirnya menjegal kaki Brian hingga pria itu terjungkal. Rinto bukan orang yang sabaran jika harus menebak sesuatu yang membuatnya sangat kesal.
"Sebenarnya kau ini kenapa???" bentak Brian.
"Kau yang kenapa?? Apa bibirmu mendadak ambeien sampai jawab pertanyaanku saja sulit sekali" suara Rinto tak kalah kerasnya membuat Riani dan Anye keluar dari rumah melihat apa yang terjadi pada suami mereka.
"Kenapa Bang??" Anye menarik lengan Bang Rinto dan melonggarkan jarinya yang mulai mengepal kuat.
Ariani pun menarik lengan Bang Brian agar segera masuk ke dalam rumah.
"Abang beritahu kamu Anye. Suamimu ini ada main sama wanita di club malam. Dia mengkhianatimu" kata Bang Brian memperingatkan Anye.
"Abang tau darimana??" tanya Anye menjawab pelan.
"Cukup Bri..!!!" cegah Bang Rinto.
"Kenapa?? Kamu cemas kebusukanmu akan terbongkar? Takut Anye tau kalau kamu ada hubungan sejak aku masih satu rumah dengan Anye. Kenapa kamu sakiti Anye??????? Kalau kau tidak bisa menjaganya.. lepaskan dia..!!!" tegur Bang Brian dengan marah.
"Apa sekarang kamu sedang mengakui kalau kamu masih sayang sama Anye???" pertanyaan Bang Rinto begitu memukul perasaan Bang Brian terutama Ariani yang seketika kaget dan tidak sanggup berdiri tegak.
"Apa maksudmu??" Bang Brian panik karena mulai menyadari kesalahannya. Ia menoleh menatap Ariani dengan cemas.
"Abang kenapa bicara begitu??" tegur Anye.
"Biar semua clear dek. Memang kejujuran akan membuat hati sangat sakit. Tapi semakin kita tidak jujur, akan banyak pisau menghujam batin" jawab Bang Rinto.
"Ayo katakan secara jantan. Kau masih ada hati pada istriku atau tidak??" Bang Rinto menegur Bang Brian.
Bang Brian tak sanggup menjawab. Bibirnya terasa kelu. Wajahnya tampak pias penuh dengan beban.
Perlahan Ariani melepas pegangan tangannya pada lengan Bang Brian.
"Riani sudah paham Bang"
Ariani berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah ia berjalan. Perutnya terasa sangat sakit. Seketika itu juga Ariani tak sadarkan diri.
"Rianiii" Bang Brian kalang kabut kaget bukan main.
...
"Kenapa??" tanya Bang Brian pada rekannya yang juga seorang dokter.
"Tanyakan pada istrimu sendiri..!!" jawab dokter.
Brian langsung duduk di samping Ariani dan mengecup kening istrinya. Ariani memalingkan wajahnya dengan sedih.
__ADS_1
"Kalau kamu sakit, bilang sama Abang. Kenapa diam saja"
Dokter menggeleng karena ternyata Brian tidak tau apa yang terjadi.
"Istrimu hamil Bri..!!!"
"Apa katamu Ris?? Ulang sekali lagi...!!!!!!" tanya Bang Brian tidak percaya.
"Istrimu sedang hamil. Makanya lemas begitu" jawab dokter Aris.
"Kamu yakin??" Bang Brian masih belum percaya dengan semua ini. Hatinya sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Ariani. Bang Rinto dan Anye saling pandang tapi sesaat kemudian mereka menyunggingkan senyum.
"Yakinlah. Tapi untuk selanjutnya.. lebih baik kamu periksakan saja istrimu ke rumah sakit karena peralatan disana jauh lebih lengkap"
"Oke, aku pasti periksakan istriku. Terima kasih banyak Ris" senyum tak pernah lepas dari bibir Bang Brian.
Bang Rinto menggandeng Anye meninggalkan tempat memberikan ruang pada Brian agar bisa bicara dengan istrinya.
...
"Abang minta maaf. Abang salah" Brian mengusap rambut Ariani kemudian beralih mengusap perut istrinya yang masih datar. Ariani menepis tangan Bang Brian.
"Kamu berhak marah sama Abang. Tapi Abang nggak punya perasaan apapun lagi sama Anye" Bang Brian mencoba membujuk Riani yang sepertinya sedang marah. Apapun alasannya, Ariani berhak marah karena Ariani memang istri Bang Brian.
"Kenapa Abang masih saja membela dan melindungi Anye?" tanya Ariani.
"Bukan membela Anye dek. Rinto sedang membohongi Anye dek"
Brian terhenyak mendengar perkataan Ariani. Istrinya itu sangat kecewa. Wajar saja seorang istri menjadi cemburu jika suaminya memikirkan wanita lain.
"Hukum Abang sesuka hatimu. Abang sudah menyakiti perasaanmu" ucap sesal Bang Brian.
"Riani tau Abang menikahi Riani hanya karena Abang merasa bersalah karena kejadian itu. Riani yang salah karena sekarang sudah mencintai Abang..!!!" Riani bangkit dan berdiri hendak meninggalkan Bang Brian.
"Mau kemana dek?" tanya Bang Brian.
"Kemana saja..!!" jawab Ariani.
"Jangan pergi..!!" Bang Rinto meraih tangan Ariani.
"Kenapa?? Karena anak ini Bang?? Abang hanya inginkan anak ini" ucap Ariani sungguh menyayat hati Bang Brian.
"Nggak dek. Abang sayang kamu. Sayang anak kita" kata Bang Brian mencoba meyakinkan Ariani.
"Nggak perlu memaksakan diri Bang. Riani cukup tau diri" jawab Riani.
Brian langsung berlutut di hadapan Ariani.
"Jangan pergi, tolong..!! Beri Abang satu kesempatan untuk memperbaiki diri"
"Riani tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi istri seorang perwira. Abang tak bertanggung jawab dengan kejadian itu pun Riani tak marah" Riani begitu emosional dengan keadaan ini.
__ADS_1
"Abang minta maaf dek. Abang sudah mengkhianati pernikahan kita. Sungguh Abang ingin rumah tangga kita baik-baik saja" Bang Brian memeluk kedua kaki Riani agar tidak pergi.
-_-_-_-_-
Siang masih terik di perbukitan tapi udara terasa sangat dingin
"Bagaimana Riani ya Bang?" tanya Anye.
"Kenapa urus orang. Hatimu saja masih berantakan" jawab Bang Rinto.
"Bukan begitu Bang. Apa tadi Abang tidak terlalu keras pada Brian sampai membuat Ariani pingsan" kata Anye.
"Kenapa harus Abang yang salah. Mana Abang tau kalau Riani sedang hamil. Dan kamu bayangkan, jika saja Abang yang tidak jujur sama kamu.. kamu pikir apa yang akan terjadi?? Kita bertengkar, kamu salah paham. Abang nggak mau begitu dek" Bang Rinto membenahi selimut putranya lalu mengajak Anye masuk ke dalam kamar.
"Apa benar yang Bang Brian bilang. Abang ada hubungan dengan Mawar?" tanya Anye mulai ragu.
"Abang sudah ceritakan semua yang terjadi. Abang tidak bisa memaksa kamu untuk percaya sama Abang. Sulit untuk Abang jujur sama kamu. Banyak hal yang Abang pertimbangkan. Tentang perasaanmu, tentang rumah tangga kita" jawab Bang Rinto.
"Kenapa masalah ini mencuat lagi Bang?"
"Karena Brian melihat Mawar terus memperhatikan Abang" jawab Bang Rinto.
"Atau jangan-jangan.. Mawar suka sama Abang"
Bang Rinto tersenyum, tangannya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Anye.
"Jujur.. Mawar sudah pernah bilang kalau dia suka sama Abang"
"Iiihh.. Abang.. jangan bercanda" Anye mulai resah mendengar jawaban Bang Rinto.
"Benar dek. Mawar sudah pernah mengungkapkan perasaannya sana Abang"
"Terus Abang jawab apa????"
"Yaaa.. sebenarnya Abang jadi bimbang. Kapan lagi jadi rebutan para wanita" jawab Bang Rinto menggoda Anye.
"Abaaaang.. yang benar donk jawabnya"
Bang Rinto tersenyum geli melihat wajah tegang istrinya.
"Abang masih waras dek. Abang memang pernah khilaf.. tapi cukup sampai disitu saja. Kesalahan itu paling Abang sesali dan Abang ingat seumur hidup" jawab Bang Rinto serius.
"Tiga jagoan Abang sudah cukup membuat hati Abang waspada. Takut kelakuan buruk Abang ada yang meniru"
"Kalau anak perempuan Bang??" tanya Anye.
"Dua anak cukup, tiga pas dek. Abang nggak mau lagi" jawabnya tidak ingin menatap mata Anye.
.
.
__ADS_1
.