Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
34. Pukulan Berat ( 1 )


__ADS_3

Hari belum terlalu malam. Masih sekitar pukul tujuh. Rinto merokok di halaman luar kafe sambil meminum minuman rendah alkohol yang ia pesan. Suasana hatinya sedang tidak enak.


Dari kejauhan tampak seorang gadis sedang berjalan ke arahnya dengan senyum manja menggoda.


"Apa akhirnya Abang menyerah?" tanya gadis itu langsung merangkul pinggang Rinto yang sedang duduk di kursi bar.


Rinto masih memperhatikan wajah gadis itu.


"Setidaknya aku lebih pintar dari Anye. Aku tau dari hubungan kalian.. Anye sampai hamil anak Abang" ucap gadis itu dengan percaya diri.


"Terus apa maumu sekarang?" tanya Rinto masih bersabar.


"Aku mau jadi simpananmu juga" jawab Ivana.


Rinto tersenyum gemas, lalu meminum minuman yang sudah ia pesan tadi.


"Wah.. bagaimana ini. Aku sudah ketahuan" jawab Rinto pura-pura tertangkap basah.


"Aku jamin istri Abang dan juga Anye tidak akan tau hubungan kita" ucap Ivana. Ia terus memepet Rinto. Tangannya sudah menjalar kemana-mana tanpa tau malu. Hanya bagian tertentu, Rinto melarang keras Ivana untuk menyentuhnya. Ivana berusaha merayu lagi sampai hampir mengecup bibir Rinto.


"Itu harapanmu???" tanya Rinto sambil mencekal tangan Ivana.


"Kenapa? Apa Abang tidak suka??"


"Suka.. tapi kalau Anye yang lakukan" jawab Rinto.


"Apa seorang selingkuhan lebih berkelas daripada istri sah? Lagipula kalau istri Abang sangat pandai memikat hati Abang seharusnya Abang tidak memilih Anye untuk di jadikan selingkuhan" ucapan Ivana begitu menjengkelkan hingga rasanya Rinto ingin menamparnya.


"Iya benar, Anye memang Anye sedang hamil. Anak dari Rinto Dirgantara"


Ivana tersenyum puas karena merasa sudah berhasil memikat hati Rinto dengan ancamannya.


Rinto mendekatkan bibirnya ke sela leher Ivana.


"Jangan pernah sentuh Anye sedikit pun. Dia ibu dari anak saya. Anyelir.. adalah istri sah saya satu-satunya. Jangan pernah kamu mencoba untuk berulah lagi atau mencelakai Anye seperti ini. Saya nggak peduli jika seragam saya harus terlepas karena melenyapkan tikus kecil macam kamu. Tutup pakaianmu..!!! saya sama nggak selera meskipun disodori ratusan wanita macam kamu"


Ivana kelabakan, gugup dan takut berhadapan dengan Rinto.


"Bagi saya. Tidak ada yang bisa mengalahkan Anye. Seujung kuku pun kamu tidak ada apa-apanya" Rinto segera pergi dari tempat itu diikuti Gathan dan Bang Arben di belakangnya.

__ADS_1


Rinto sungguh sangat marah saat melihat hasil laporan Gathan bahwa Ivana yang mengunci gudang mesin. Kalau saja terlambat, mungkin saja ia bisa kehilangan Anye.


"Wanita sial, tingkahnya benar-benar di luar nalar. Dasar sakit jiwa. Lapor saja ke polisi. Kita ada buktinya" umpat kesal Rinto.


"Rasanya dia sudah jera Bang. Lihat saja wajahnya tadi" kata Gathan.


"Benar Rin. Kurasa peringatanmu itu sudah cukup untuk remaja labil seperti Ivana" kata Bang Arben.


"Aku nggak puas Bang. Bisa-bisanya dia celakai anak dan istriku"


Gathan menepuk bahu Abangnya. Ia cukup lega karena Rinto sangat mencintai adiknya.


-_-_-_-


Anye menggeliat di ranjangnya. Di lihatnya sang suami sedang melucuti pakaiannya.


"Abang darimana?" tanya Anye.


"Cek keamanan saja. Kenapa bangun?"


"Tadi Anye mimpi yang menakutkan" kata Anye.


"Anye sedang berjalan dan menghampiri seorang bayi lalu ada seorang wanita sedang menggandeng seorang anak, tapi saat Anye mendekati bayi tersebut.. wanita itu malah membawanya pergi"


"Ya mungkin bayi itu adalah anak dari wanita tersebut. Sudahlah jangan banyak pikiran" Rinto langsung naik ke tempat tidur dan merebahkan diri. Rasa kesalnya cukup membuatnya lelah juga.


Tak lama Bang Rinto tertidur pulas. Anye bangkit perlahan dan memungut pakaian yang berserakan karena Bang Rinto melepaskan pakaiannya begitu saja.


***


Anye menghidangkan nasi goreng di atas meja, setiap pagi ia memasak untuk suami tercintanya.


"Bang, apa hari ini Anye boleh masuk kuliah?" tanya Anye saat Rinto sedang menikmati sarapannya.


"Nggak boleh..!!" jawab Bang Rinto singkat padat dan jelas.


"Anye belum kumpulkan tugas kemarin" jawab Anye pelan.


"Abang yang akan kerjakan tugasmu. Kamu tidur saja di rumah. Pulihkan kesehatanmu" Bang Rinto tidak ingin Anye keluar rumah.

__ADS_1


"Anye hanya ingin refreshing saja"


"Tunggu Abang pulang" jawab Bang Rinto datar.


Anye tidak menjawab lagi karena pasti akan sangat percuma jika suaminya sudah berucap tegas seperti itu.


***


Anye berangkat diam-diam ke kampus. Ia mengabaikan ucapan Rinto. Hari ini pikirannya sangat kacau. Semalam saat membereskan pakaian Bang Rinto. Anye melihat noda lipstik di kerah pakaian suaminya. Anye berusaha menepis kecurigaannya pada Bang Rinto, namun tidak bisa di pungkiri, perasaannya sangat sakit jika harus membayangkan suaminya bermesraan dengan wanita lain.


Ia memesan taxy online. Di dalam taxy online itu Anye baru bisa menangis. Wangi itu sangat khas dan Anye seperti mengenali aroma wewangian itu. Tangisan Anye begitu pilu. Sesaat setelah membayar tagihan taxy, Anye keluar dari dalam taxy. Langkahnya terhuyung, lalu kemudian ia menghapus air matanya lagi dan terus berjalan masuk ke dalam kampus.


-_-_-_-


Anye berdua dengan Ivana sedang berada di kantin. Disini Anye baru yakin kalau aroma yang melekat itu adalah parfum milik Ivana.


"Semalam kamu ada dimana?" tanya Anye pada pokok persoalannya.


"Apa urusanmu?" ucap Ivana tak ingin menggubris pertanyaan Anye.


"Aku hanya ingin tau saja"


"Kamu sengaja ingin menyalahkanku padahal aku yang di jebak?" tanya Ivanka.


"Apa maksudmu??" tanya Anye tidak mengerti.


"Aku mengincar Bang Rinto sejak lama. Bahkan kamu dan Bintang juga tau. Kamu itu benar-benar pelakor"


Anye terdiam. Hatinya sungguh terpukul mendengar ucapan Ivana.


"Kamu pikir aku percaya.. dengan usiamu yang baru tujuh belas tahun lalu kamu hamil. Mana ada yang percaya kamu adalah seorang istri tentara. Apalagi istri seorang perwira kalau kamu tidak dengan sengaja menyodorkan diri. Kamu tau.. aku punya bukti kelakuanmu yang menggoda Bang Rinto saat acara Diklat"


Kepala Anye terasa pening mendengar nya. Pikirannya terasa buntu, Rasanya ia tidak kuat mendengar ucapan Ivana padanya.


"Tidak mungkin Bang Rinto suka pada anak seusiamu, kalau bukan karena ulahmu yang kegatelan. Sadar donk.. lelaki mana yang tidak tertarik padaku"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2