Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
137. Tetap dirimu yang kumau.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membacanya. Nara hanya menceritakan yang biasa kita alami. Di larang menghujat d wall, dan chat pribadi. Kita bisa sharing di group 😊🙏


🌹🌹🌹


"Mau kemana?" tanya Gathan saat melihat Anye berlari meninggalkan ruang rawat Bang Rinto.


"Pulang.. Abang marah terus."


"Jangan begitu, Bang Rinto hanya ingin menyenangkanmu. Kamu tidak akan pernah tau bagaimana usaha suami untuk membuatmu terkesan dan bahagia, bukan sengaja ingin seperti itu" kata Bang Gathan menasihati Anye.


"Ayo kembali ke kamar lagi..!! Kamu juga harus memahami kondisi Bang Rinto, suamimu sudah lama 'menganggur'. Tingkat stressnya pasti sangat tinggi"


...


"Cari istri saya Jer..!!!!!" Bang Rinto kelabakan saat Anye meninggalkannya dengan keadaan marah.


"Jangan panik Rin.. kamu belum stabil..!!!! Awas jantungmu" Brian ikut panik karena Rinto sangat sulit di tenangkan.


Anye mendengar kepanikan Bang Rinto. Ia pun jadi tidak tega karena Bang Rinto tak hentinya mencari dirinya.


"Anye disini Bang"


"Ya Allah.. kamu kemana dek? Bisa nggak sih kalau nggak salah paham dulu..!!!" Bang Rinto langsung meraih jemari Anye.


Semua yang berada disana memilih untuk keluar dan bersantai di kantin daripada mengganggu pasangan pengantin baru itu.


"Sekarang bilang.. Abang kenapa?" tanya Anye.


"Abang over dosis dek" jawab Bang Rinto.


"Apaaa???? Sejak kapan Abang pakai obat-obatan??????" Anye menepak paha Bang Rinto dengan keras sampai tertinggal bekas merah di paha suaminya yang masih memakai celana pendek di rumah sakit. Tangan Bang Rinto pun dengan cepat menarik selimutnya.


"Sejak kemarin selesai akad nikah" jawab jujur Bang Rinto.


"Abang keterlaluan. Itu dosa besar Bang. Kenapa Abang bisa khilaf pakai obat-obatan terlarang?" pekik Anye dengan marah.


"Eehhh.. bukan obat yang itu dek" Bang Rinto jadi panik karena Anye sudah salah mengira ia memakai narkoba.


"Terus apa??" Anye semakin marah mendengar Bang Rinto yang bertele-tele.


"Abang over dosis obat kuat"


"Apa Bang??????????????" Anye begitu kaget mendengarnya sampai bingung harus menjawab apa.


"Abang khan sudah bilang. Abang pengen menyenangkan kamu, tapi ternyata Abang salah perhitungan" kata Bang Rinto sambil membuka selimutnya.


"Alex masih cari obatnya untuk meredakan 'ini' " mata Anye terbelalak saat tau Bang Rinto merasa tidak nyaman saat tubuhnya menegang.


"Ya Allah Bang.. kenapa Abang pakai minum begituan sih.. Kenapa Abang nggak bersyukur dengan kemampuan diri sendiri????" tanya Anye mulai melunak.


"Abang ingin memberikan kesan dan perhatian buat kamu. Tapi ternyata Abang malah membuatmu marah. Sebenarnya... Abang melakukannya karena Abang...." jawab Bang Rinto dengan perasaan tertahan dan berat.


"Abang yang terbaik..!!" Anye memutus ucapan Bang Rinto karena tau pasti suaminya sangat cemburu dengan Bang Brian meskipun tidak pernah ada kata terucap.


"Tanpa obat seperti itu pun Abang sudah paling hebat. Dari dulu Abang tidak pernah memakai bantuan seperti ini tapi Anye merasa sangat puas dan merasa sangat Abang manjakan"


"Apa benar begitu??" tanya Bang Rinto tidak percaya.

__ADS_1


"Itu benar Bang. Anye yang merasakannya dan Anye tidak bohong. Jadi Abang tidak perlu pakai hal seperti itu. Kapten Rinto Dirgantara tak ada tandingannya" ucap Anye.


Bang Rinto memalingkan wajahnya sejenak tersipu malu mendengar jawaban istrinya.


"Kita pulang yuk..!!" ajak Bang Rinto.


"Jangan main-main lah Bang. Abang masih sakit" tolak Anye.


Bang Rinto meraih tangan Anye.


"Abang sudah sehat"


"Kalau Abang nakal.. Jatah Abang Anye kurangi..!!!!!" ancam Anye.


"Jatah apa sayang..!! Lihat saja, kamu atau Abang yang masih kangen" Bang Rinto menarik Anye ke dalam pelukannya. Anye dan Bang Rinto saling menatap.


"Bilang saja kalau masih rindu. Jangan bohong...!!" kecupan Bang Rinto mendarat hangat di bibir Anye.


"Kunci pintunya..!! Tutup tirainya..!!!!" pinta Bang Rinto.


-_-_-_-_-


"Kira-kira kenapa bisa begini dok??" ayah Rama panik saat mendengar berita bahwa keadaan Rinto semakin parah.


"Efek obat belum hilang. Aliran darah tidak stabil karena jantungnya bekerja terlalu keras" kata dokter menjelaskan.


"Ya Tuhan.. Sebenarnya apa saja yang kamu buat Rin???" tanya ayah Rama melirik tajam menantunya. Anye pun hanya duduk diam membisu.


"Biar hanya kalian dan Tuhan saja yang tau..!!" ucap keras Ayah Rama.


Dokter menaikan selimut Rinto lalu mengatur cungkup oksigen untuk Rinto.


"Jauh lebih baik dok" jawab Rinto.


-_-_-_-_-


Malam hari Bang Ucok datang menjenguk Rinto di rumah sakit bersama beberapa anggota. Bang Ucok ingin tertawa tapi ia masih memberi muka pada Rinto dihadapan para anggota agar wibawa perwira muda itu tidak runtuh.


"Ijin Dan.. waktu minum obat itu apa tidak melihat tanggal kadaluarsa nya?" tanya seorang anggota.


"Iya.. saya nggak lihat" jawab Rinto masih cool padahal Bang Ucok sudah menahan tawanya sejak tadi.


"Makanya kalau minum obat itu di lihat dulu kemasannya, aturan pakainya" kata Bang Ucok.


"Siap Bang..!!" jawab Rinto.


"Kamu ini.. perwira tanpa tanding tapi masalah begini sama sekali tidak pintar" ejek Bang Ucok.


"Bukan tidak pintar Bang. Belum lihai saja" jawab Rinto.


"Cepat sembuh..!! Cutimu bisa hangus sia-sia"


"Siap Bang..!!"


-_-_-_-_-


"Ijin Dan.. Ini ada kiriman makanan dari Ibu" Alex membawakan nasi cumi kesukaan Bang Rinto.

__ADS_1


"Istri saya sibuk jaga anak-anak ya?" tanya Bang Rinto.


Sedih sekali Bang Rinto harus merasakan dinginnya suasana rumah sakit tapi ia harus mengalah, anak-anak masih terlalu kecil.


"Benar Dan.." jawab Alex.


"Ya sudahlah. Terima kasih"


Tak lama seorang perawat wanita masuk ke ruangan Bang Rinto.


"Selamat malam pak Rinto. Bisa saya cek dulu kondisinya?"


"Selamat malam mbak" jawab Bang Rinto datar. Bang Rinto melihat nama dada perawat wanita itu, Sari namanya. Pipi Sari merah merona saat Bang Rinto melihatnya.


"Istri bapak nggak datang?" tanya Sari lalu mengamati tensi Bang Rinto.


"Nggak, istri saya sibuk di rumah" jawab Bang Rinto, matanya masih mengamati wajah Sari.


Sari sibuk menyiapkan suntikan untuk Bang Rinto.


"Masa suami sakit masih sibuk sendiri sih pak?" tanya Sari lagi sambil menyuntikan obat ke selang infus Bang Rinto.


"Anak saya masih kecil" jawab Bang Rinto datar.


"Sudah pak, semua bagus. Kalau semua di nyatakan baik, bapak besok sudah boleh pulang" kata Sari lebih melembutkan suaranya.


"Bisa saya pulang malam ini?" tanya Bang Rinto.


"Bukan kewenangan saya pak. Nanti saya tanyakan pada dokter dulu" jawab Sari.


"Saya permisi dulu pak..! Kalau ada apa-apa, bapak bisa hubungi saya" Sari meninggalkan nomer ponselnya pada Bang Rinto di secarik kertas.


Bang Rinto menerima nomer ponsel itu lalu menoleh pada Sari.


"Hmm.. oke"


Sari tersenyum penuh kelegaan dan segera pergi dari ruangan.


Sari... Wajahmu mirip sekali dengan Vilia. Apa di dunia ini banyak wajah yang hampir mirip? Vilia.. jujur ada rindu yang bergelayut dalam hati saat ada sosokmu, tapi maaf.. Anyelir telah menutup rapat segala kerinduan untukmu. Jangan marah Vi.. Abang tetap sayang padamu dengan cara Abang.


"Alex, menurutmu bagaimana dengan Sari?" tanya Bang Rinto.


"Cantik, lembut" jawab Alex.


"Kelembutannya tidak tulus. Tapi kalau kamu bisa merebut hatinya.. pasti akan jadi tulus"


"Maaf Dan.. saya tidak mengerti" kata Alex.


"Ini nomer Sari.. tangani dia"


"Siap Dan" senyum Alex mengembang sempurna.


Bang Rinto mengambil ponselnya lalu, tangannya bergerak lincah mencari nama Anye di ponselnya dan segera menghubungi Anye.


"Dek.. Abang kangen"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2