Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
50. Tak patut di tiru.


__ADS_3

Bang Rinto masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya. Bang Rinto menyerahkan satu kantong comro pesanan Anye.


"Nih pesanan mu. Masih panas..!! Baru turun dari penggorengan.


Anye menerima comro panas yang baru di belikan.


"Terima kasih ya Bang" ucap Anye lalu meletakan kantong comro di sampingnya.


"Sama-sama sayang..!!" jawab Bang Rinto. Bang Rinto juga membeli satu kantong besar camilan untuk petugas pos jaga.


Anye bersandar pada lengan Bang Rinto. Rasanya ia mengantuk sekali. Tak butuh waktu lama, Anye tertidur di lengan Bang Rinto.


"Gini ya rasanya punya bumil? Dulu Vilia nggak ribet. Yang ini Masya Allah..!!" gumam pelan Bang Rinto tapi bibirnya tidak pernah tidak tersenyum melihat segala apapun yang dilakukan istrinya.


Bang Rinto mengusap pipi Anye kemudian kembali melajukan mobilnya menuju asrama.


-_-_-_-


"Selamat malam..!!" sapa seorang petugas piket jaga saat Bang Rinto melintas di kesatrian.


"Malam.. selamat bertugas. Ini buat teman ngopi" Bang Rinto memberikan sekantong camilan disana.


"Terima kasih banyak Danki.."


"Sama-sama..!!" jawab Bang Rinto lalu melanjutkan lagi perjalanannya.


...


Mobil Rinto sudah masuk sampai di garasi samping rumah.


"Yank.. sudah sampai..!!" Bang Rinto mengusap Anye lagi berusaha membangunkan istri tercinta. Tangannya membuka pintu mobilnya.


Anye hanya sedikit menggeliat tanpa membuka matanya. Melihat istrinya hanya sedikit memberi respon, Bang Rinto semakin gemas di buatnya. Entah kenapa setiap berdekatan dengan Anye, jantungnya tidak bisa berhenti berdesir naik turun. Bibirnya gatal bila belum mengincipi manisnya madu di bibir istrinya.


"Sayang.. bangun dek.." bisik Bang Rinto pelan di telinga Anye.


Anye hanya menggeliat kecil merespon pelukan hangat Bang Rinto.


"Ayo masuk Bang" rengek Anye karena saat ini ia sudah terlalu mengantuk.


"Mau di dalam???" tanya Bang Rinto dengan pikiran tidak jelas. Tak tau kenapa ia sangat mencintai Anye melebihi apapun. Rasanya ia tidak menginginkan apapun lagi selain istrinya itu tetap berada di sisinya.


"Ayo Bang.. Anye ngantuk"


"Ini ngantuk mau bagaimana sayang??" goda Bang Rinto.

__ADS_1


Anye yang tidak bisa menahan kantuknya semakin terlelap dalam tidurnya. Bang Rinto tersenyum gemas melihat istrinya.


Duh ndhuk.. Cah Ayu.. Tidur aja cantik banget. Apalagi bangun.


Bibir Bang Rinto kembali mendekat perlahan ke bibir Anye.


dah..dig..dug..


Desiran dalam dada Bang Rinto semakin kencang saat bibirnya menyentuh bibir Anye.


"Apa kamu tidak punya kamar??"


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Rinto kaget sampai terlonjak, kepalanya menghantam atap mobil dengan kencang. Hal ini pun membuat Anye terkejut dan ikut bangun.


"Ayah????" Bang Rinto melotot kaget.


...


"Keterlaluan.. hal pribadi di umbar" tegur ayah Rama pada Bang Rinto dan Anye.


"Bukan Anye yah, tapi Abang" jawab Anye tidak mau disalahkan.


Mama Dinda hanya tersenyum geli melihat wajah tegang ketiga orang dihadapannya. Bagaimana tidak, kelakuan Bang Rinto tak ubahnya Rama di masa mudanya dulu. Beringas, gagah, dan tidak tau malu.. Apalagi kalau sudah menangani perempuan, sungguh luar biasa. Yang paling parah adalah 'mudah naik' jika sudah berhadapan dengan istrinya.


"Sudah jangan bahas ini lagi. Cepat bawa nasi gorengnya ke belakang. Keburu dingin..!!" kata Mama Dinda yang tadi sengaja membelikan nasi goreng malam begini untuk anak dan menantunya tapi malah harus melihat pemandangan indah.


Mama Dinda, Ayah Rama dan Bang Rinto sedang mengobrol di depan tidak menyadari si kecil Mey sedang memainkan barang belanjaan kakaknya.


"Maa.." ucapnya kecil di usia menuju sebelas bulan. Tangannya menarik baju yang tadi baru di beli Anye dan Bang Rinto lalu menggantungnya di kepala.


"Abaang..!!! Kenapa nggak lihat Mey sih????" tegur Anye saat melihat si kecil Mey mengacak-acak baju umpan miliknya.


Mata Bang Rinto melotot dan langsung menyembunyikan pakaian itu di balik punggungnya. Tak ayal si kecil Mey menangis kencang karena merasa 'mainannya' di rebut paksa.


"Jangan dek.. Abang ganti yang lain ya..!!" Rinto menyerahkan dompetnya pada si kecil Mey dan adiknya itu seketika terdiam.


Ayah Rama ikut melotot karena ayah Rama sempat melihat apa yang disembunyikan menantunya.


"Kalian darimana? Kenapa barang begituan yang di borong??"


"Anye sama Abang baru beli baju untuk acara besok. Ya pulangnya beli itu, Abang minta itu" jawab jujur Anye yang langsung mendapat sepakan kaki dari sang suami.


"Ayah juga kenapa tanya begitu" kata Mama Dinda mengingatkan.


Ayah Rama hanya menghela nafas, ingatannya kembali pada masa lalu akan sosoknya dulu. Belum lama mereka terdiam, si kecil Mey sudah membongkar isi dompet Pak Danki yang hanya berisi beberapa lembar uang ratusan ribu dan dua buah kartu ATM. Tangan kecil itu pun mencabut sesuatu dari sela dompet Bang Rinto.

__ADS_1


"Astagfirullah.." tanpa sadar secepatnya Bang Rinto mengambil sesuatu itu dari tangan Mey hingga adiknya itu menangis lagi.


"Kamu pakai itu????" tatapan tajam ayah Rama mengarah pada Bang Rinto.


"Nggak yah" jawab Anye menjawab pertanyaan ayahnya.


"Itu apa??"


Bang Rinto diam karena sedikit ragu untuk menjelaskan hal pribadi rumah tangganya, tapi karena masalah ini sangat sensitif akhirnya Bang Rinto mencoba untuk menjelaskannya. "Awalnya iya yah, karena Anye takut hamil lagi. Anye meminta saya untuk memakainya, tapi lama-lama saya putuskan sepihak untuk tidak memakainya tepat di hari Anye memintanya.. Ayah pasti tau lah alasannya, dan akhirnya jadi juga yah"


"Kalian berdua jangan memutuskan hal ini sepihak, Anye harus percaya Bang Rinto.. dan Bang Rinto nggak boleh memutuskan sesuatu tanpa berunding dengan Anye. Untung saja kalian berdua tidak bertengkar" tegur Ayah Rama.


"Saya paham yah" jawab Bang Rinto.


"Ya sudah.. jaga kandungan Anye baik-baik, jangan pecicilan kamu dek. Rinto harus ekstra menjaga Anye" ayah Rama mengingatkan.


"Siap yah"


...


Bang Rinto bersandar di sandaran tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Perutnya sudah terisi full. Kopi yang ia habiskan bersama ayah Rama tadi rasanya membuat kantuknya hilang.


Anye masuk ke dalam kamar, langkahnya pelan setelah menutup pintu kamarnya kembali.


"Bang.. bajunya begini, Anye nggak suka" ucapnya dengan rambut terurai. Kakinya saling bergesekan karena sangat malu. Ia menunjukan baju itu pada suaminya sebelum ia mencucinya.


Bang Rinto begitu terpana, ia langsung mematikan ponselnya dan meletakan begitu saja. Ekspresi wajahnya nampak nakal tak bisa di kondisikan.


"Sini.. Abang suka sekali" ucapnya dengan suara berat.


Anye berjalan pelan-pelan mendekati Bang Rinto.


"Apa gunanya baju seperti ini. Nggak bisa menutupi badan sama sekali"


"Gunanya ya untuk seperti ini. Perempuan yang pintar menaikan hasrat suaminya akan menjauhkan bahaya yang mengancam di luar sana" ucap Bang Rinto.


"Benar begitu Bang?" tanya Anye tidak percaya.


"Iya.. salah satunya begitu" jawab Bang Rinto.


"Salah yang lain apa Bang?" si cantik Anye mulai balik menggoda suaminya.


"Salah lainnya kalau kamu semakin mengulur waktu, buat Abang keliyengan" suara serak itu sudah semakin berat saja terdengar.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2