
Anye duduk di kursi balkon rumah sakut. Ia sangat merindukan Bang Rinto yang belum memberinya kabar hari ini.
"Hari sudah sore tapi Abang belum kasih kabar. Ada apa??" gumam Anye.
Terdengar suara dari ruang persalinan. Anak Bang Brian sudah lahir. Ia pun merasa terharu karena bayi itu lahir masih sempat di temani papanya.
Senyum cantik menghias wajah Anye sambil mengusap air matanya yang sempat meleleh.
"Cepat pulang pa..!!" gumamnya.
***
"Masih pusing??" tanya Dan Arshen.
"Siap.. tidak..!!!" jawab Rinto yang masih terlihat lemas.
"Tugas lapangan masih di dua hari lagi. Kenapa sakit sekarang? Kalau kamu gagal. Nggak akan di luluskan..!!" ancam Dan Arshen.
"Ijin.. saya sudah sehat" sekuat tenaga Rinto berusaha keras untuk bangkit. Ia ingin lulus dengan baik. Pendidikan sembilan bulan yang sungguh menguras energi dan perasaan tidak akan ia biarkan tersia-sia begitu saja. Ia ingin lulus dengan hasil yang baik dan membawa kebanggaan untuk anak dan istrinya.
"Badanmu masih lemas" kata Dan Arshen.
"Ijin.. saya baik-baik saja Dan"
Seorang anggota kesehatan membawa alat kesehatan untuk memeriksa kondisi Rinto.
"Tensinya rendah sekali Dan. Pak Rinto ini terlalu lelah" laporan seorang anggota pada Dan Arshen.
"Biarkan istirahat dulu..!!" jawab Dan Arshen.
"Jangan Dan. Saya kuat"
"Kamu yakin??" tanya Dan Arshen lagi.
"Siap.. saya yakin"
...
Siang hari saat ada materi kelas, Rinto sibuk menghindari sengatan matahari yang menyilaukan matanya.
"Nggak enak badan, aku jadi nggak enak makan. Makanya tensiku jadi rendah" begitu gumamnya.
"Jangan maksa kalau nggak kuat. Kesehatan lebih penting" tegur seorang rekannya sambil berbisik.
"Aku nggak apa-apa. Hanya nggak doyan makan" jawab Rinto berbisik juga.
***
Kegiatan lapangan di mulai. Bang Rinto menjalani setiap kegiatan penuh tanggung jawab agar ia segera lulus dari pendidikan.
Kurang sedikit lagi Rin..!! Ayo semangat.. anak istri menunggu.
Begitulah caranya menyemangati diri sendiri juga menghalau rasa jenuh dan rindu yang kadang menghampiri relung hati.
Karena begitu lelah, Rinto tertidur di tengah semak sambil memeluk senjata laras panjang. Kini 'istri pertamanya' itulah yang harus ia jaga dengan baik.
...
"Subhanallah.." Rinto mengusap wajahnya sesaat bangun dari tidurnya. Ia bermimpi memegang seekor burung garuda di tangan kanan, burung rajawali di tangan kiri, seekor burung elang mencengkeram dadanya karena belum bisa terbang dan seekor burung kakatua yang sulit sekali ia tangkap tapi akhirnya burung itu hinggap sendiri di pundaknya. Burung kecil yang bulunya masih jarang dan bercicit kecil karena masih baru belajar bersuara.
"Apa artinya Ya Allah.. Keempat burung itu, kenapa aku sangat menginginkannya??" gumamnya tak berhenti memikirkan burung-burung itu.
***
Rinto menutup panggilan teleponnya setelah usai melakukan panggilan video call dengan Anye dan ketiga putranya.
Ia mengambil topi untuk gladi kotor karena esok hari lagi Anye datang untuk menyaksikan pelepasan dirinya usai pendidikan. Senyumnya jauh lebih alami, tak sabar rasanya menunggu Anye datang bersama putranya.
...
"Bebek saja masih bisa di atur berbaris rapi. Kenapa kamu tidak bisa fokus sama sekali???" teguran keras pelatih Arshen pada Rinto yang sama sekali tidak mengindahkan ucapan pelatih.
"Push up kamu sekarang..!!"
"Siap laksanakan..!!" Rinto pun melaksanakan hukuman dengan baik.
#
"Kamu kenapa?? Bengal sekali seperti anak play group. Pelatih sampai kesal melihat tingkahmu" tegur Brian.
"Aku malas gladi. Hanya begitu saja kenapa harus di ulang-ulang. Aku jadi bosan. lotion sunscreen ku juga sudah habis. Bisa semakin gosong saja kulitku" kata Rinto tanpa rasa bersalah.
"Haaahh.. astaga Rin. Sejak kapan kamu mengurusi kulitmu? Biasa juga pakai lotion di pasaran. Kenapa sekarang bingung kulit hitam, pakai sunscreen.. kulitmu memang sudah gosong dari cetakannya" Brian heran melihat tingkah Rinto apalagi ia sibuk memasang kipas angin mini di topinya karena tidak suka berkeringat.
"Kau ini.. dasar aneh" Brian meninggalkan Rinto yang sibuk mengakali topinya.
"Gosong begini, Anyeku cinta setengah mati. Sekarang kau mau apa??" gerutunya dengan jengkel.
"Kenapa aku jengkel sekali melihat wajahnya. Padahal kulitnya tak kalah pudar. Apalagi suaranya itu.. Bagaimana caranya agar dia tidak bicara denganku"
#
__ADS_1
"Ijin Dan.. saya boleh pakai helm?" tanya Rinto pada seorang pelatih.
"Berapa kali kamu mengganggu saya dari pagi?? Sekarang helm??? Kamu jangan aneh-aneh" tapi akhirnya pelatih itu mengijinkan Rinto memakai helm daripada Rinto terus mengikutinya bagai anak bebek.
"Terserah kamu lah. Asal jangan minta pakai helm saat hari H" kata pelatih.
"Siap.. terima kasih"
"Ada-ada saja kau ini Rin" pelatih ikut menggerutu karena ulah Rinto.
#
Tiga kali gladi sudah usai. Satu orang pun tidak ada yang berani menertawai atau menegur Rinto lagi.
"Sudah biar saja. Ini hanya gladi biasa, bukan acara resmi. Kecuali kalau hari H dia berulah.. jangankan push up.. pull up dan guling botol pasti saya perintahkan" kata Dan Arshen masih memberi kesempatan pada Rinto.
"Siap..!!"
...
Brian berteduh dari panasnya matahari dan duduk di samping Rinto lalu meminum sebotol air mineral.
"Kau jangan dekat denganku. Keringatmu Briiii..." pekik Rinto tetap memakai helmnya.
"Kau ini daritadi sungguh membuatku jengkel Rin" Brian membuka bajunya dan bertelanjang dada. Tanpa menunggu lama, Brian langsung memeluk Rinto dan menindihnya.
"Kalau sudah begini apa perlu kucium sekalian??"
"Heeii.. kurang ajar. Apa-apaan kau ini Bri????" Rinto berusaha menghindar dari Brian yang berkeringat.
"Hhhkkkk... Awas..!!!! Aku mual..!!!!!" Rinto mendorong Brian dengan kuat. Ia melepas helmnya dan membuangnya ke segala arah lalu berlari menjauhi Brian.
"Waaahh.. terlalu..!! Aku nggak bau badan ya" ucap Brian dengan kesal sambil mengambil pakaiannya.
"Briii.. tolong..!! aku nggak kuat..!!!!" Rinto merosot dan terkapar di atas tanah memegang dadanya kuat.
"Eehh.. jangan bercanda ya" Brian mendekat dan melihat kondisi Rinto.
"Astaga Rinto..!!!!!!"
"Tolong bantu bawa pak Rinto" kata Briqn meminta tolong.
#
"Ngerepotin banget elu jadi orang. Untung nggak pingsan. Kalau tadi pingsan.. sudah gue seret. Buang di toilet" kata Brian menggerutu.
"Rasanya gue kecapekan Bri. Makan apa aja rasanya pahit. Mau makan ini itu susah keluar kesatrian" Rinto mulai mengeluh.
"Tolong carikan aku milkshake strawberry sama gorengan di depan jalan. Aku butuh bakwan"
Brian menggaruk kepalanya, bingung apakah harus mengikuti permintaan Rinto yang lebih mirip orang ngidam.
"Briii.. sayang..!!" Rinto menggoyang lengan Brian.
"Iihh... Astagfirullah. Amit-amit jabang bayi" Brian berdiri dari duduknya.
"Ya sudah aku carikan"
...
"Abang lagi apa?" tanya Anye pada sambungan video call.
"Selesai makan siang dek. Tadi Brian belikan milkshake strawberry sama gorengan. Abang lagi nggak enak badan" ucapnya jujur sambil bersandar dan memijat pelipisnya.
Anye tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya.
"Abang kurus sekali sekarang. Sabar ya Bang"
"Kamu juga cantik sekali sayang" Bang Rinto mulai merayu manja.
"Besok Anye datang kesana. Yang sehat donk Bang" kata Anye.
"Sehat donk.. kesayangan Abang mau datang masa nggak sehat" ucap Bang Rinto nakal sambil memainkan alisnya.
"Kurangi lah Bang nakalnya. Jangan sistem kebut semalam"
Bang Rinto tersenyum mendengar kata-kata Anye.
"Abang kurangi hanya kalau kamu hamil." kata Bang Rinto.
"Kalau benar Anye hamil????" tanya Anye dengan senyumnya.
"Yang mau hamilin kamu itu siapa dek? Abang khan disini" jawab Bang Rinto sambil menyantap gorengan yang berada di sampingnya.
"Ya sudah terserah Abang saja" Anye menutup percakapannya dengan senyuman manis.
***
"Apa kabar sayang" Bang Rinto mencium bibir, pipi kiri dan kanan Anye setelah istrinya itu mencium punggung tangan Bang Rinto.
"Baik Bang" jawab Anye yang langsung mendapat bonus kecupan sayang dari Bang Rinto di keningnya.
__ADS_1
Pihak kesatuan pendidikan sengaja menjemput semua para istri untuk acara pelepasan berakhirnya pendidikan.
"Pucat sekali kamu. Mabuk ya di jalan?" tanya Bang Rinto.
"Iya Bang. Pusing sekali di pesawat" jawab Anye sambil menggendong Righan yang sedang tidur.
Beberapa anggota pun membantu Bang Rinto membawa barang yang Anye bawa.
"Kenapa bawa barang banyak sekali. Disini hanya tiga hari" tegur Bang Rinto.
"Anak-anak ada tiga. Belum pakaian Anye"
"Ya sudah nggak apa-apa. Sekalian jalan-jalan kita nanti" kata Bang Rinto.
"Mana Righan. Biar tidur sama aku aja. Kata Anye dia mencari ku sejak tadi" Bang Brian meminta Righan dari gendongan Anye saat Bang Rinto akan menggendongnya.
"Benar dek??" Bang Rinto memastikan lagi.
"Benar Bang. Righan cari papanya" jawab Anye takut.
"Oohh gitu. Cepat bawa Righan sama anakmu ke mess. Kasihan dia masih terlalu kecil di perjalanan jauh"
...
Sejak ada Anye, apapun rasa tidak nyaman yang Bang Rinto rasakan mendadak hilang. Makanan yang dibawa Anye pun ludes ia makan tanpa sisa.
"Bang.. mau cari minuman yang hangat donk. Disini dingin"
Bang Rinto melihat jam tangan sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Setelah ini gerbang kesatrian tutup dek. Tanggung. Kecuali hanya di sekitar sini saja nggak apa-apa pulang malam. Tapi nggak baik kamu nongkrong di sekitar sini. Banyak laki-laki" tolak Bang Rinto.
"Ayo lah Bang. Anye pengen lihat jalan disekitar sini" rengek Anye manja sambil menggoyang lengan Bang Rinto.
Melihat istrinya yang manja.. seperti biasa Bang Rinto tak kuasa menolak permintaan istri kecilnya.
"Sebentar.. Abang bilang Brian dulu. Nggak bisa bawa anak-anak dek" kata Bang Rinto.
...
"Kamu mau bawa Anye kemana?? Sudah malam nih. Kata Riani sepanjang jalan Anye mabuk berat" tanya Bang Brian.
"Nongkrong sebentar saja. Anak-anak tidur. Kalau sudah pulas mereka nggak gampang bangun" jawab Bang Rinto.
"Besok pagi mereka di jemput Oma Opa nya"
"Ya sudah sana. Hati-hati sama Anye Rin. Apalagi kamu mau bawa motor" kata Bang Brian mengingatkan.
"Iyeeeeee.. berisik"
...
Bang Rinto tertawa saat ia membawa Anye ke cafe karena Anye memilih memesan wedang jahe.
"Abang pesan minuman itu?" tanya Anye.
"Ini cafe dek. Masa iya Abang pesan es teh manis. Cukup kamu aja lah yang manis" jawab Bang Rinto lalu menautkan keningnya ke kening Anye.
Sesekali tangan lincah Bang Rinto selalu menggoda Anye.
"Cepat habiskan minumannya..!!" kata Bang Rinto.
"Abang ke toilet sebentar ya"
...
"Siapa yang suruh kamu minum minuman itu?? Itu bukan minuman ringan dek" Bang Rinto menyangga Anye yang berkali-kali mau jatuh.
"Ya Allah dek. Nyesel Abang bawa kamu kesini"
"Perut Anye panas Bang"
"Duuhh.. kita nggak bisa ke mess kalau kondisi kamu begini. Kalau Abang di hajar sih nggak masalah. Kalau kamu kena sanksi, mentalmu kena dek"
...
Karena Anye semakin parah dan tidak jelas, Bang Rinto memutuskan untuk membawa Anye ke hotel.
"Briiii.. tolong"
#
Bang Rinto mengusap wajahnya melihat Anye yang terkapar meracau tidak jelas di atas ranjang.
"Gimana ini. Kalau besok pagi kamu nggak datang, kamu bisa kena tegur Bu Rival" Bang Rinto segera melepas pakaian Anye agar tidak kusut.
Satu persatu Bang Rinto melepas pakaian Anye. Hingga pandangan matanya tertuju pada satu titik.
.
.
__ADS_1
.