Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 58. Persiapan berangkat.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!!


🌹🌹🌹


"Oohh.. ini terlalu lelah saja. Kegiatan full dan istirahat kurang pasti pernah dirasakan setiap orang, hanya saja Pak Zaldi itu tidak ingin merasakan sakitnya.. jadinya ya seperti ini Bu" kata dokter yang sengaja di panggil Bang Righan disana.


"Syukurlah dok" Arnes sudah bisa bernafas lega setelah Bang Zaldi mendapatkan perawatan.


Hari ini suami Arnes sampai harus meminta ijin istirahat dan meminta tolong Bang Righan untuk menyelesaikan urusan berkas pindah tugas.


***


Siang sudah semakin terik. Arnes sampai harus menahan emosinya karena Bang Zaldi sama sekali tidak mau ia tinggalkan. Tingkah manjanya bahkan melebihi Ibra.


"Ya ampun Bang, Arnes mau masak. Kalau Arnes nggak masak Abang mau makan apa??" tegur Arnes.


"Abang khan nggak minta peluk setiap hari dek. Masa cuma Ibra saja yang kamu peluk?" jawab Bang Zaldi dengan wajah yang di buat semanis mungkin.


"Nggak usah di ganteng-gantengin deh Bang. Lagipula kenapa iri sama anak sendiri?"


"Ya sudah sana kalau nggak mau peluk, nggak usah ngomel" Bang Zaldi berbalik badan memunggungi badan Arnes sambil memeluk guling. Hanya karena sebuah pelukan saja wajah Bang Zaldi berubah pias, badannya kembali hangat dan menggigil.


Mau tidak mau Arnes menurunkan Ibra dari gendongannya agar bisa berjalan berpegangan pada dinding.


"Abang kenapa sih, nggak biasanya Abang begini. Masa Arnes nggak beres-beres. Kita mau pindah lho Bang."


"Sebentar saja dek..!!!" pinta Bang Zaldi.


...


Hingga siang hari akhirnya Arnes hanya menemani Bang Zaldi sambil bermain dengan Ibra di dalam kamar.


"Mana lagi yang di pack dek?" tanya Bang Seno yang juga membantu packing di rumah Arnes karena Bang Zaldi sedang sakit.


"Nggak ada Bang" jawab Arnes.


"Oke.. Abang mau bawa Ibra jalan-jalan sebelum jauh dari keponakan" kata Bang Seno.


"Kamu makan dulu sana. Mumpung Abang lagi anteng" kata Bang Righan.


"Tapi Bang.. Bang Zaldi terasa kalau Arnes pergi. Ini saja tangan Arnes di pegang" Arnes menunjukkan tangannya yang masih dalam genggaman Bang Zaldi.


Bang Righan mengambil jilbab Arnes lalu memakainya tak lupa memakai parfum yang biasa Arnes pakai.


"Sini..!" perlahan Bang Righan menggantikan tangan Arnes.


"Abang nih seperti orang mabuk, dia nggak bakal kerasa kalau yang di pegang ini bukan tanganmu" kata Bang Righan.


Bang Seno dan Mbak Brina tertawa terbahak melihat Righan memakai jilbab dan duduk di samping Bang Zaldi.

__ADS_1


"Ya sudah Bang. Titip Bang Zaldi dulu. Arnes sekalian mau kerjakan yang lain. Tinggal sedikit kok"


"Hmm.. cepat sana.." jawab Bang Righan.


//


Setelah tidur beberapa jam, tenaga Bang Zaldi terasa pulih kembali. Merasa sudah sehat, Bang Zaldi menggerayangii paha Arnes dalam pikirannya yang sebenarnya itu adalah Bang Righan. Matanya masih mengantuk tapi gairahnya sundhul langit.


"Kunci pintunya sayang..!!"pintanya dengan suara berat.


Mata Bang Righan terbelalak, tapi kemudian ide jahilnya mulai timbul.


"Sudah..!!" bisik Bang Righan sambil menahan tawanya. Ada rasa geli dalam hatinya tapi entah mengapa ia terlalu penasaran tentang bagaimana seorang Zaldi yang dingin jika sedang berduaan dengan sang istri. Tangan Bang Righan berjalan nakal di atas dada Bang Zaldi.


Dengan liarnya Bang Zaldi yang terpancing terus memberikan 'stimulasi'. Lama-kelamaan Bang Righan mulai cemas dan takut.


"Bang.. jangan Bang..!!" bisik Bang Righan.


"Sebentar aja ayaaang..!! setengah jam aja. Abang janji" jawab Bang Zaldi mulai tidak terkontrol. Hampir saja ia melepaskan si Usrok untuk bermain.


"Bang.. Ya Allah Bang.. Buka mataaaa....!!!!!!" pekik Bang Righan sambil mencegah tangan Bang Zaldi.


"Astagfirullah hal adzim.. Abaaaaaang..!!!!!!!!!!!!!!!" tak sengaja Arnes melihat kejadian itu, Sekuatnya Arnes melempar panci di tangannya hingga menghantam kepala Bang Zaldi. Sontak suami Arnes itu kaget dan bangun.


"Aaarrghh.. apa dek? Sakit tauuuu..!!!!" pekik Bang Zaldi.


"Abang yang apa?? Apa Arnes kurang melayani hasrat Abang???" tanya Arnes kemudian melempar sandalnya. Saking kagetnya Arnes bersandar pada dinding luar kamar.


"Mau sekarang aja Bang??" tanya Bang Righan sambil berkedip-kedip genit. Tangan itu berakting nakal seolah ingin menyentuh diri Bang Zaldi yang sedang siap menegang.


"Bosooookk..!!!! tak tapuk ra cangkeman kowe Rig..!!!!!!!"


"Dek.. Abangmu nih yang buat ulah. Sumpah..!! Abang lurus.. nggak belok sana sini" ucapnya cemas melihat raut wajah kesal Arnes.


"Aaaaaahhhhh.. sudahlah. Kalian berdua memang keterlaluan. Arnes kesal sama Abang...!!!!" Arnes pun meninggalkan Bang Zaldi dan Bang Righan, niatnya memasak hari ini jadi gagal karena ulah kedua pria itu.


"Kamu kenapa juga sih buat ulah absurd begitu??? Mau apa Righaaaaaann??? Kamu nih bukannya buat saya baikan sama Arnes malah terus bikin ribut. Sikap tobat kamu..!!!!!" perintah Bang Zaldi tak mau tau.


***


Hari ini tiba saatnya pamit pada senior dan rekan. Arnes yang masih kesal belum mau menatap wajah Bang Zaldi tapi saat melihat Om Adi senyumnya mengembang cantik membuat Bang Zaldi kebakaran jenggot.


"Kenapa kamu lihat Adi seperti dapat emas begitu??" tegur Bang Zaldi.


"Nggak tau.. Lihat Om Adi tuh senang aja. Ganteng Bang"


"Apa-apaan nih memuji pria lain di depan suami. Kelihatannya Abang harus kerja lebih ekstra keras biar kamu sadar siapa yang punya bibit unggul"


"Iihh.. Abaang, Arnes sudah tau kok. Arnes hanya suka saja lihat badan Om Adi"

__ADS_1


"Huuusshh.. nggak sopan dek..!!! Saru" tegur Bang Zaldi."


"Ayo cepat pulang. Kamu bisa lihat Abang sampai kejang" ajak Bang Zaldi.


Ini punya bini satu aja susah benar aturannya. Maunya apa coba. Punya tingkah semakin aneh-aneh saja.


//


Bang Zaldi melempar kaosnya dan bertelanjang dada menata ulang barang bawaan yang akan ia bawa nanti malam. Matanya melirik Arnes yang sejak pulang tadi hanya duduk di depan meja rias. Pakaian Arnes sungguh merusak konsentrasinya. Lama kelamaan ia kesal juga dan menghampiri Arnes ke dalam kamar.


"Itu muka mau di apakan lagi? tambal sana tambal sini, pipi di sapu, alis disikat" tanya Bang Zaldi. Terus terang dadanya berdesir kencang naik turun melihat wajah cantik sang istri. Ada rasa cemburu saat melihat istrinya begitu cantik.


"Itu cantik untuk siapa??"


Arnes menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya dengan pelan.


"Memangnya disini ada pria lain selain Abang?"


"Ya nggak ada, terus kamu mau apa dandan siang bolong begini??" wajah Bang Zaldi begitu kaku menanggapi Arnes.


Ibu satu anak itu menghampiri Bang Zaldi lalu mengalungkan kedua lengan di belakang leher Bang Zaldi.


"Buat menikmati hari terakhir di rumah ini sama suamiku yang cemburuan"


Seketika raut wajah Bang Zaldi berubah. Tangan itu menggeser slot pintu agar tertutup rapat.


"Cemburu itu artinya Abang sayang. Sama halnya seperti kamu yang nggak tahan lihat Abang memuji wanita lain. Kali ini kamu Abang maafkan, lain kali nggak lagi" ucapnya sambil menyambar bibir Arnes.


***


Bang Righan baru datang bersama Ibra sambil membawa kantong plastik besar berisi makanan ringan.


Bang Righan mengulum senyum melihat rambut Arnes yang basah saat jam menunjukkan pukul tiga sore.


Arnes salah tingkah dan masuk kedalam kamar sedangkan Bang Zaldi terlihat lebih santai, sambil merokok ia memberi makan ular-ular kesayangannya. Gara-gara ular ini hampir saja Arnes tidak mau dekat dengannya. Istrinya itu terlalu takut dengan binatang berbadan panjang itu


"Arnes kenapa Bang?" sengaja Bang Righan bertanya padahal ia sudah tau jawabannya.


"Biasalah wanita, apapun selalu di tanggapi secara berlebihan. Padahal semakin aneh sikapnya semakin mengundang kecurigaan orang, termasuk Abangnya yang suka kepo" jawab Bang Zaldi.


Bang Righan nyengir saja mendengar jawaban Bang Zaldi.


"Jangan suka penasaran. Ingat.. belum cukup umur..!!" kata Bang Zaldi.


"Waaahh.. menghina..!! Abang belum tau saja bagaimana kehebatanku" Bang Righan mulai menyombongkan diri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2