
Putra dari Guntur sudah terlahir ke dunia. Sayang seribu sayang sang ibu telah meninggal dunia. Wajah Bang Zaldi datar saja, ia memang kasihan dengan putra almarhum Guntur. Tapi rasa sayangnya pada sang istri juga sangat besar.
"Bagaimana?" Bang Zaldi meminta anak buahnya untuk menghubungi keluarga Guntur dan istrinya. Ia memegangi perutnya yang tergores pisau karena ulah istri Guntur.
"Ijin Dan. Pihak keluarga almarhum Mayor Guntur maupun keluarga almarhumah istrinya tidak ada yang mau mengambil dan merawat bayi ini"
"Apa-apaan mereka itu. Apa mereka sakit jiwa menelantarkan darah daging mereka sendiri" gumam Bang Zaldi dengan kesal. Ia pun mengambil air wudhu lalu mengadzani bayi kecil itu.
//
Bang Zaldi begitu dilema dengan apa yang di lihatnya saat ini. Arnes terlihat begitu bahagia dan sangat menyayangi putra dari keluarga yang sudah menghancurkan hidupnya bahkan membuat calon bayinya tiada.
"Tidurkan lagi di tempatnya dek..!!" Bang Zaldi sungguh tidak ingin berurusan dengan apapun lagi yang berhubungan dengan Guntur.
Arnes pun menidurkan bayi itu lagi. Bayi yang lumayan sehat di kelahiran prematur 33 minggu.
"Abang boleh marah dan benci pada almarhum Bang Guntur juga keluarganya.. tapi bayi yang baru lahir ini tidak salah. Bapak ibunya sudah tidak ada, apa bayi ini masih harus mendapatkan kebencian Abang?" ucap Arnes.
"Jangan paksa Abang untuk menyayanginya. Abang tidak ingin jejak Guntur ada di hidup Abang" jawab Bang Zaldi.
-_-_-_-_-
Setelah melaksanakan pemakaman istri Guntur, Arnes membawa bayi kecil itu pulang. Bang Zaldi hanya bisa menatapnya dengan pandangan kesal.
"Lihat Bang, lucu sekali ya" Arnes menunjukan bayi itu pada Bang Zaldi.
"Hmm.." Bang Zaldi tidak ingin menanggapi segala hal tentang bayi itu.
Baru menggendong beberapa saat, Arnes merasa pusing, tubuhnya terhuyung. Secepatnya Bang Zaldi mengambil bayi itu dan merangkul Arnes.
"Kamu sendiri belum kuat, kenapa sok pintar mau menjaga bayi ini??? Urus itu anak Abang di perutmu" ucap Bang Zaldi keras penuh penekanan.
Bang Zaldi membantu Arnes untuk duduk lalu menidurkan bayi itu. Tak disangka bayi tersebut tertidur pulas saat Bang Zaldi yang menidurkan.
"Saya tidak suka kamu. Jangan macam-macam kamu ya" ancam Bang Zaldi pada bayi kecil itu.
Papa Rinto dan Mama Anye saling menatap dengan pandangan sendu.
-_-_-_-_-
"Lantas apa ini cara yang tepat?? Abang sanggup membiayai dia sampai dewasa, tapi Abang tidak sanggup jika harus membesarkan dia juga. Hati Abang terlalu sakit untuk mengingat semuanya dek" Bang Zaldi benar-benar marah saat Arnes ingin mengangkat putra Bang Guntur menjadi anaknya.
"Apa sebenarnya kamu masih ada perasaan sama Guntur???"
"Nggak Bang, demi Allah"
"Kalau kamu di posisi Abang.. apa kamu sanggup, menerima anak dari mantan Abang??" bentak Bang Zaldi.
Arnes berlari ke wastafel kamar mandi. Rasa mualnya kembali menghampiri.
__ADS_1
"Cckk.. ada-ada saja ulahmu buat Abang stress dek" gumam Bang Zaldi lalu mengikuti Arnes ke kamar mandi.
:
"Sakit Bang..!!" Arnes memercing memegangi perutnya.
"Harusnya kamu mikir, kamu sendiri nggak kuat. Mengasuh Ibra saja masih di bantu Mama dan bibi, kamu mual parah dek.. sempat-sempatnya kamu memikirkan bayi kecil itu. Cari ribut kamu sama Abang??" tegur Bang Zaldi.
"Bang........." belum sempat berucap apapun, Arnes sudah tumbang.
...
Melihat keributan antara Arnes dan Bang Zaldi. Papa Rinto memutuskan untuk mengasuh bayi itu.
"Biar papa yang mengasuhnya"
Bayi kecil itu terus menangis seolah tidak ingin Papa Rinto mengasuhnya. Jiwa kebapakan Bang Zaldi yang meronta-ronta akhirnya menggendong bayi kecil itu.
"Kamu mau buat saya ribut?? Guling botol kamu..!!!!" ucap Bang Zaldi tegas seperti pelatih militer.
"Kamu nggak mau kasih nama untuk dia Zal?" tanya Papa Rinto.
"Apa kepentinganku harus memberinya nama" jawab Bang Zaldi.
"Seperti yang Arnes bilang. Anak ini tidak bersalah. Ayah ibunya yang salah. Dia tidak punya dosa. Tidak apa-apa kamu tidak suka dengan bayi ini. Papa tidak menyalahkanmu, semua memang terasa berat, papa juga merasakan sakitnya. Tapi apakah anak ini harus menanggung semua amarahmu?"
"Maafin Abang dek. Abang membawamu pada situasi ini. Abang tau kamu pura-pura tegar. Kenapa kamu lakukan itu?"
"Arnes ingin Abang tau kalau disini Arnes selalu ada bersama Abang. Tuhan telah mengambil anak kita, mungkin ini caraNya mengembalikan anak kita" ucap Arnes masih tetap dalam keadaannya yang bersikap seolah kuat.
"Tunjukan rasa itu di hadapan Abang..!! Abang tidak ingin ada kepalsuan di antara semua ucapanmu dek. Abang sudah mengakui kalau Abang tidak sanggup melewati ini semua tapi harus Abang lakukan demi sebuah tanggung jawab" pinta Bang Zaldi.
Seketika Arnes menangis memeluk Bang Zaldi, tangisnya terdengar begitu menyiksa.
"Arnes ingin menggendong anak kita sendiri. Anak dari Abang. Tolong Bang, Arnes nggak mau dia pergi"
"Nanti Abang ganti, satu.. dua.. tiga.. nggak masalah buat Abang asalkan kamu kuat. Yang jelas sekarang.. jaga baik-baik dulu anak Abang ini. Kita harus sama-sama belajar untuk ikhlas dek"
"Abaaang.. kenapa rasanya berat sekali"
"Maaf.. maaf sayang" Bang Zaldi menciumi wajah Arnes mengungkapkan seluruh rasa bersalahnya.
...
Bang Zaldi menemani bayi kecil itu sambil memberinya susu botol sekalian bermain dengan Ibra.
"Dedeek.." tunjuk Ibra pada sosok kecil di hadapannya.
"Iya Bang.. itu adiknya Ibra. Ibra yang sayang sama adik ya..!!" Bang Zaldi perlahan belajar membuka hati.
__ADS_1
"Berkas datanya sudah Bang? bisa saya bawa datanya sekarang?" tanya Bang Bima.
"Daftarkan nama ini sebagai anak kedua saya. Tapi sebelumnya temui keluarga istri Guntur dan keluarga Guntur agar tidak ada masalah di kemudian hari..!!" perintah Bang Zaldi.
"Siaaapp..!!!"
"Aryan Girish Bajrangin.. sudah fix ya Bang..!!"
"Sudah. Cepat bawa berkasnya..!!"
Bang Bima pun pergi setelah mencolek pipi 'anak kedua' Bang Zaldi.
"Bii.. tolong jaga anak-anak. Saya mau lihat mamanya dulu" kata Bang Zaldi pada bibi yang akan membantu Arnes dan Bang Zaldi.
"Ibu baru saja mual lagi pak. Sepertinya sekarang ada di kamar"
"Ya Allah.. bagaimana nanti kalau Abang tinggal dek. Kamu kuat atau tidak?" gumamnya pelan sambil menuju ke kamar.
//
Baru saja menenangkan istrinya, ada kabar kalau Bang Zaldi harus segera kembali ke 'kantor'. Panglima ingin bertemu langsung dengan Kapten Erzaldi.
-_-_-_-_-
Panglima menatap lekat wajah Bang Zaldi. Prajurit yang telah berani membunuh sesama prajurit.
"Sudah berkeluarga??"
"Siap.. sudah" jawab Bang Zaldi.
"Kamu lebih memilih berpisah dengan istrimu atau melepas seragammu?" tanya panglima.
"Ijin.. keduanya bukan pilihan" jawab Bang Zaldi.
"Kamu harus memilih.. Kapten Zaldi"
Tangan Bang Zaldi mengepal kuat, seragam itu adalah kebanggaan ibunya, ia pun mendapatkannya dengan tetes keringat dan dan darah. Tapi Arnes adalah nyawanya, belahan jiwanya.
"Saya............."
.
.
.
.
.
__ADS_1