Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 11. Tentang sebuah harapan.


__ADS_3

Bang Zaldi melirik Bang Bima yang berdiri di samping Dan Rinto.


"Nanti langsung pulang dek..!!" ucapnya tapi tatapan itu terlihat seperti ancaman untuk Bang Bima.


Seperti biasa, raut kaku selalu menghias wajah Bang Zaldi. Pria itu tidak banyak bicara saat POM membawanya ke dalam mobil. Arnes mengusap air matanya dengan sedih.


"Pa.. kenapa Abang sejak pertama bertemu denganku seperti kesal dan tidak bersahabat ya. Tapi dengan anggota yang lain tidak" tanya Bang Bima.


"Zaldi pikir kamu ancaman terbesarnya. Biarkan saja. Nanti dia juga sadar sendiri"


"Nah lhoo.. si Abang mikir apa ya?" Bang Bima menggaruk kepalanya.


***


Dua minggu ini Arnes tidak tau kabar apapun. Papa Rinto juga tidak memberi kabar apapun dari Bang Zaldi.


//


"Minum dulu obatnya Pa. Jangan banyak pikiran lagi, nanti kalau sakit papa kambuh gimana?" Mama Anye memberi obat pada Papa Rinto.


"Papa tetap kepikiran Zaldi ma, entah dia itu manusia atau bukan. Di hantam sebegitu kerasnya tapi dia tetap tangguh seolah tidak merasakan sakit, tapi saat tindakan itu selesai. Baru dia merasakan sakitnya" Papa Rinto pun juga tak habis pikir dengan semua sifat Zaldi.


Papa Rinto akhirnya terpaksa menghubungi Pak Arben untuk meminta bantuan karena seniornya itu akan naik menggantikan panglima saat ini. Kini Papa Rinto pun juga bekerja keras untuk mematahkan tuntutan pada Lettu Erzaldi.


"Besok Papa ke Jakarta ya ma. Dua hari saja"


"Mama ikut ya pa" Mama Anye mencemaskan keadaan Papa Rinto.


Setelah berpikir beberapa saat.


"Ya sudah, ayo ma..!! Siapkan barang-barang. Pagi kita berangkat"


Arnes mendengar ucapan papanya. Ia tau keadaan papanya sejak enam tahun lalu sedikit menurun apalagi tau dirinya memiliki hubungan dengan Bang Guntur saat itu.


***


Papa Rinto dan Mama Anye menemui om Arben di Jakarta. Arnes diam-diam menemui Bang Zaldi di sel tahanan.


...


"Tidak bisa mbak, memangnya mbak dengan siapanya Lettu Zaldi?" tanya seorang perwira, Komandan POM karena Arnes memaksa menemui Lettu Zaldi.


"Saya.... Saya calon istri Lettu Zaldi" ucap Arnes dengan tegas.


"Oohh.. jadi Lettu Zaldi itu calon menantu Pak Rinto" jawab Komandan POM.


"Iya pak, jadi tolong ya. Saya harus bertemu calon suami saya"


//


Arnes sedih sekali karena Bang Zaldi menolak bertemu dengan Arnes. Putri kesayangan Rinto Dirgantara sampai menangis karena tak ada alasan apapun dari Bang Zaldi.


Arnes berjalan perlahan keluar dari kantor POM. Tiba-tiba saja Arnes pingsan membuat petugas jaga pos depan jadi kelabakan.


//

__ADS_1


"Zaldi.. calon istrimu pingsan tuh" kata Komandan POM terdengar panik.


"Ya Allah.. yang benar Bang..!!" Bang Zaldi pun tak kalah panik sampai akhirnya ikut berlari keluar 'kamarnya'.


//


"Dek.. Arnes.. Kamu kenapa?? Ada apa kamu kesini dek??" Bang Zaldi menggosok telapak tangan Arnes agar gadis itu segera siuman.


"Kenapa harus tunggu Arnes pingsan dulu baru Abang keluar..??" Arnes membuka matanya saat Bang Zaldi sedang panik.


"Kamu bohongi Abang???" nada dingin Bang Zaldi mulai timbul lagi.


"Itu karena Abang terlalu banyak alasan" pekik Arnes.


"Abang masih terlalu tampan untuk kamu lihat" ucap Bang Zaldi bernada rendah.


Arnes memang melihat tubuh Bang Zaldi semakin kurus, kulitnya jauh lebih gelap karena terbakar matahari dan yang mencolok adalah rambut yang mirip papanya sudah tidak ada lagi. Banyak luka lebam dan gores di tubuhnya.


"Percaya diri sekali..!! Arnes nggak lihat tampannya" ucap Arnes menahan tangisnya.


"Sekarang kamu sudah lihat Abang. Kalau mau lihat bagaimana tampannya Abang.. pulanglah dan tunggu Abang sampai selesaikan hukuman ini. Abang janji tidak akan lama"


"Memangnya siapa yang tunggu Abang?" cibir Arnes.


"Istrinya Power Ranger abu-abu monyet" Jawa. Bang Zaldi tidak ingin berdebat.


-_-_-_-_-


"Bryn.. boleh jujur nggak?" tanya Bima.


"Apa Bang?" Bryna memenuhi janjinya untuk bertemu dengan Bang Bima usai mengajar.


Bryna terdiam. Sudah hampir dua minggu ini dirinya sedang dekat seorang pria. Pria yang begitu menarik hatinya.


"Maaf Bang.. Sekarang ini aku sedang dekat dengan seorang pria"


"Siapa Bryn?" Bang Bima terlihat sangat kecewa mendengarnya


"Nanti.. Abang akan tau sendiri" jawab Bryna.


Tak lama Bang Seno datang dan saat itu juga mata kakak beradik beradu pandang.


"Bang Seno???"


"Ada apa kamu sampai kesini Bim?" tanya Bang Seno.


"Aku mau ketemu Bryna" jawab Bang Bima.


"Abang sendiri??"


"Sama.. Abang juga mau ketemu Bryna" jawab Bang Seno datar.


"Kalian saling kenal????"


***

__ADS_1


Malam menjelang pagi hari Bang Zaldi melakukan sholat malam. Kamar itu dingin dan sunyi. Angin berhembus menembus kamarnya yang ber ranjang beton, beralas tikar. Memang semua ini terasa berat untuk dirasakan tapi ini semua lebih baik demi mempertahankan sebuah harga diri seorang Arnesia.


Bang Zaldi mengeluarkan sebuah foto dari sakunya, foto satu-satunya yang ia miliki sebab selama ia berada dalam tahanan, tak ada lagi ponsel di sekitarnya. Di peluknya foto itu.


Sabar ya dek. Abang sedang berusaha merayu Sang Pemilik Hidup, merayuNya agar di mudahkan segala urusan kita di dunia agar berkahnya hingga sampai akhirat. Kamu harapan sepertiga malam Abang, yang Abang perjuangkan hingga titik darah penghabisan. Abang hanya seorang tak berpunya, yang memantaskan diri sebagai seorang pria karena tidak mungkin bagi Abang menelantarkan bidadari sehidup sesurga Abang nantinya. Bukan kamu yang tidak pantas menjadi pilihan, tapi Abang yang harus menjadikanmu segalanya dan satu-satunya karena hidup bersama tidak hanya tentang kamu atau Abang saja.. tapi tentang kita berdua.


***


Satu bulan kemudian


Dan Rama berjalan ke ruang sidang Lettu Erzaldi. Miris hati Dan Rinto melihat pria itu tampak kurang sehat. Wajahnya pucat dan lesu. Dan Arben melihat sendiri rupa pria yang sudah di ceritakan juniornya itu, yang juga sudah ia dengar gaungnya.


"Kali ini semua tuduhan itu akan patah mentah-mentah" kata Dan Arben.


Pengacara militer dan perangkat lainnya sudah menerima segala bukti dari Dan Rinto serta mendapatkan pertaruhan jabatan Dan Arben juga Dan Rinto sendiri jika ternyata semua bukti yang mengarah pada panglima dan keponakannya adalah bukti palsu.


//


"Pertama.. disini dari hasil visum dan lain-lain terbukti bahwa Kapten Guntur telah memalsukan identitas diri lalu mengakibatkan putri dari Rinto Dirgantara yang bernama Diajeng Arnesia Ken Kaniraras menjadi korban kekerasan, penganiayaan hingga penyalahgunaan psikotropika.


Kedua.. setelah empat tahun berlalu, masalah ini mencuat kembali yang mengakibatkan Lettu Erzaldi melakukan penganiayaan terhadap Kapten Guntur yang di sinyalir karena Kapten Guntur menyulut emosi Lettu Erzaldi karena atas nama Arnesia tersebut adalah calon istri dari Lettu Erzaldi G. A. Ini kami serahkan video yang sempat di rekam beberapa orang sebagai bukti. Lettu Erzaldi tidak memulai lebih dulu" kata seorang pengacara.


-_-_-_-_-


"Alhamdulillah.." Pak Rinto dan Pak Arben mengucap syukur karena Lettu Erzaldi dinyatakan bebas dan tidak bersalah dan kasus penganiayaan terhadap senior sudah terbayar dengan hukuman kurungan penjara serta denda tanpa menyentuh urusan dalam kedinasan.


Hanya satu konsekuensi yang harus Bang Zaldi tanggung. Pindah tugas ke daerah yang bisa di bilang jauh dari keramaiannya kota, di daerah Sulawesi bersama. Sanksi tersebut juga jatuh pada seluruh anggota yang terlibat dalam pertikaian di club malam itu.


Di dalam ruang sidang itu, panglima dan Kapten Guntur harus menerima kenyataan bahwa kini mereka lah yang harus mendekam di dalam sel tahanan karena perbuatannya. Anggota POM sampai harus menyergap mereka karena terlalu banyak melawan.


//


Arnes mengusap air matanya. Ada secercah ketenangan dalam hatinya. Bang Zaldi sekilas menatapnya tapi tak ada senyum ataupun sapa dari pria itu seolah selama ini tak pernah terjadi apapun.


"Sebenarnya hatinya terbuat dari apa sih? Kaku sekali"


Disana Bang Zaldi menemui Arnes di samping gedung ruang sidang setelah meminta ijin pada Dan Rinto.


"Kenapa cemberut?" tanya Bang Zaldi.


"Apa om-om itu memang tidak punya hati ya. Dari semalam Arnes nggak bisa tidur. Arnes juga nunggu sidang Abang dari pagi buta, tegang, gelisah tapi apa yang Arnes dapat??? Disapa pun tidak. Pernah nggak sih satu kali saja Abang bertanya apakah hari ini Arnes baik-baik saja? Sebenarnya Lettu Erzaldi itu terbuat dari apa???????" protes Arnes.


"Sudah ngomelnya?" tanya Bang Zaldi lagi.


"Nanti kalau libur, Abang ajak kamu bertemu dengan seseorang, kamu bisa tanya langsung dengan beliau, dulu buat Abang dari apa" ucap Bang Zaldi tenang.


"Iihh.. Abang nggak pernah serius" Arnes semakin kesal saja mendapatkan respon dingin dari Bang Zaldi.


"Sekarang Abang mau bicara serius sama kamu. Abang pindah tugas ke Sulawesi. Apa suatu saat nanti kamu mau ikut dengan Abang?"


"Dalam rangka apa Arnes harus ikut Abang?" tanya Arnes membalas dengan nada dingin.


"Kita main tembak-tembakan" jawab Bang Zaldi sambil menyulut rokoknya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2