Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 75. Ketar ketir Bang Zaldi.


__ADS_3

"Tariikk Abaaang...!!!"


"Kamu duduk..!!! Ini berat..!!!" bagai terhipnotis Bang Zaldi ikut menarik batang pancing yang sedang di tarik Arnes. Seekor ikan yellow fish tuna ia angkat dengan tangannya sendiri.


"Bang.. Arnes khan lagi hamil.. memangnya boleh?? ( mitos / fakta?? )" tanya Bang Bima ikut panik.


"Astagfirullah.." Bang Zaldi langsung membuang ikan tersebut sampai menggelepar.


Tepat saat itu ada awak kapal langsung menangkap ikan tersebut dan menanyakan kepemilikan ikan tersebut karena ada aturan di atas kapal tidak boleh memancing ikan.


//


Bang Zaldi berkacak pinggang berdiri di hadapan Arnes dan Bang Righan. Tatapan matanya penuh emosi.


"Arnes yang ajak Bang" kata Bang Righan.


"Terus menurutmu kalau Arnes ngidam pengen berenang di laut, langsung kamu turuti??" bentak Bang Zaldi tak sanggup membayangkan kalau tadi Arnes sempat tertarik batang pancing.


"Nggak kebayang saya sama ulah kalian berdua"


Melihat Bang Zaldi sudah marah tidak karuan, Arnes pun ikut cemas dan takut, Bang Righan yang menunduk pasrah.. melirik Arnes yang ternyata meliriknya juga.


"Aarrgghh.. Perut Arnes kram Bang" Arnes mencengkeram kuat lengan Bang Zaldi. Jelas saja suaminya yang super protektif itu langsung panik bukan main. Wajah garangnya hilang berganti rasa cemas tak terkira.


"Apa yang sakit dek? Ayo ke kamar, jangan banyak kena angin kamu disini" Bang Zaldi langsung membawa Arnes masuk ke dalam kamar.


"Heeh Righan.. Bang Zaldi memang seketika bisa langsung linglung kalau berhadapan dengan Arnes, mau Arnes yang nggak lihat batu di jalan pun.. batunya juga yang akan disalahkan, tapi kalian nggak bisa bohongin Abang. Sekali lagi kamu berulah.. Abang hantam wajahmu yang sok ganteng itu" ancam Bang Bima.


"Jaga adik tuh yang benar, adik perempuan kita itu cuma satu-satunya. Kucabut juga tuh kumismu yang nggak ada gunanya itu" ucap geram Bang Bima melihat kumis tipis Righan.


"Deeeehh.. Abang nih ancamannya kumis melulu. Ini khan tanda kejantananku Bang"


"Jantan darimananyaaa, ketemu perempuan aja masih gemetar lu" jawab Bang Bima sambil berlalu meninggalkan Bang Righan.


"Hwuuu.. kucingmu aja sayang sama gue Bang"


...


"Uhuuukk.."


Bang Zaldi langsung melompat dari tidurnya dan mengambil air minum saat Arnes terbatuk dalam tidurnya.


"Kenapa ini?? Apa peralatan tidurnya nggak bersih?? Kamarnya berdebu??" gumamnya panik. Bang Zaldi menyentuh segala perabotan di dalam kamar dan memastikan apakah kamar tersebut berdebu atau tidak.


Bang Zaldi langsung menghubungi Bang Righan dan Bang Bima.


:


"Yaelah Bang. Arnes tersedak doank"


"Ini pasti banyak debu. Arnes bisa asma. Bantu saya lap debunya..!!"


"Astaga.. sejak kapan Abangku jadi bodoh begini" Bang Bima menepuk dahinya.

__ADS_1


"Eehh Bang, jangan mudah panik. Saat perang saja Abang bisa berpikir jernih, kenapa sekarang tidak?? Setiap Arnes hamil.. Abang selalu panik. Yang tenang donk Bang. Arnes cuma hamil.. nggak kena penyakit" kata Bang Bima berusaha menenangkan adik iparnya.


"Kamu belum merasakan aja gimana rasanya momong bini hamil. Ser_seran takut anak kenapa-kenapa, takut istri terpeleset. Asal aja lu tong kalau ngomong"


Bang Bima akhirnya memilih diam daripada berdebat dengan Bang Zaldi yang tidak bisa di tenangkan.


"Arnes yang hamil.. lah gue yang apes" gumam Bang Righan.


***


Bang Deri menyambut Bang Righan dan Bang Bima di pelabuhan sedangkan Bang Righan lajur beda arah dengan jarak hanya kurang lebih sepuluh kilometer jaraknya.


"Aduuhh.. si kecil kasihan sekali" sapa istri Bang Deri.


"Ini putra keduanya Om Zaldi itu ya?" tanya istri Bang Deri yang sudah paham duduk masalahnya bersama Bang Guntur.


"Siap mbak. Benar"


"Owalah le, yang anteng ya nak. Nurut Papa..!! Kasihan Papamu apalagi Mamamu" kata Bang Deri yang tidak tega melihat wajah lelah Arnes.


"Siap Bang.. siap..!!" jawab Bang Zaldi.


***


Bang Zaldi baru akan membongkar isi kopernya saat masuk di asrama esok hari usai Sertijab. Setelah mandi sore ini, Bang Zaldi hanya mengambil pakaian yang akan di pakainya untuk malam ini dan esok hari. Ia tidak membangunkan Arnes yang sedang tidur pulas di ranjang kecil yang hanya cukup untuk satu orang saja tapi ia harus tidur berdua dengan Ibra dan si kecil Ryan malam ini harus mengalah tidur di stroller. Malam hari ini pun Bang Zaldi meminta bibi untuk makan dan tidur lebih cepat agar besok bisa membantunya mengasuh Ibra dan Ryan karena besok pasti Arnes pun akan sangat sibuk.


Bang Zaldi menghampiri Arnes lalu mengusap perut istrinya.


Suara tangis Ryan seketika membangunkan Arnes.


"Kamu tidur lagi dek. Biar Abang yang jaga Ryan sama Ibra" ucapnya tak tega membiarkan Arnes mengasuh bayinya sendirian. Istrinya pun butuh banyak istirahat.


:


Bang Zaldi 'menyusui' bayinya. DanSat Kompi pengamanan itu membacakan banyak doa untuk putra keduanya. Si kecil Ryan pulas dalam tidurnya.


"Aryan Girish Bajrangin.. itu nama yang Papa beri untuk kamu. Aryan berarti di hormati, tangguh namun bijaksana. Girish artinya gunung yang kokoh dan Bajrangin adalah petir. Jadi Meskipun kamu keturunan Guntur, nyalimu setinggi langit, tapi kamu tetap tangguh, bijaksana dan bersahaja. Semoga jika suatu saat nanti kamu tau semua tentang Papa. Kamu bisa memaafkan Papa. Sekarang kamu juga bagian dari diri Papa. Kamu juga do'a dan harapan Papa, sama seperti Abangmu, Bang Ibra" Bang Zaldi mencium putranya lalu kembali menidurkan di stroller.


Bang Zaldi tidur dengan posisi duduk di samping ranjang Arnes. Ia tidak berani meninggalkan Arnes sedikitpun karena takut istrinya itu jatuh dari ranjang meskipun kemungkinan nya sangat jauh.


***


Acara Sertijab sudah usai, para remaja sangat senang saat kemarin DanSat yang baru membawa beberapa ekor ikan yang besar. Mereka langsung membuat ikan asap dan mengolahnya menjadi makanan untuk makan siang remaja hari ini.


"Ijin Bang. Ayo ikut makan sekalian..!!" ajak Adi.


"Aduuhh.. maaf ya, bukannya saya menolak. Tapi istri lagi isi ini, saya yang mual" jawab jujur Bang Zaldi dengan sopan.


"Silakan kalian saja yang makan"


Saat berbalik badan untuk meninggalkan tempat, Bang Zaldi langsung berhadapan dengan Arnes yang membawa sambal dabu-dabu untuk para om-om yang sedang makan siang.


"Mau apa kamu dek??" tanya Bang Zaldi menutupi pandangan mata Arnes.

__ADS_1


"Mau ketemu Om Adi sebentar" jawab Arnes sambil berjinjit celingukan mencari Om Adi. Bang Zaldi mengambil dan memberikan sambal dabu-dabu itu pada anggota di belakangnya.


"Ada perlu apa kamu sama Adi???" nada Bang Zaldi mulai tidak bersahabat.


"Awas Bang.. minggir dulu..!!!! Arnes mau lihat burungnya Om Adi" kata Arnes.


"Ya Allah gustiiiiii... Arneessss...!!!!!!!" Bang Zaldi melotot dan bernada keras.


Seketika para om-om yang sedang makan jadi terdiam dengan ekspresi wajah masing-masing. Bahkan sebagian dari mereka berhenti mengunyah karena takut dan cemas.


"Sabar Bang.. Ayo jalan kesana dulu" Om Adi secepatnya merangkul pundak Bang Zaldi dan membawanya menjauh dari anggota.


:


"Kamu kurang lihat punyya Abang??? Kurang bagaimana Abang sama kamu??? Nggak ingat kamu.. Itu perutmu jadi buncit karena burungg rajawali yang mana????" tanya Bang Zaldi sampai emosi dan sejak tadi tidak berhenti mengomel.


Arnes cemberut tak ingin berdebat dengan Bang Zaldi.


Om Adi berlari membawa sangkar burung berisi sepasang merpati putih yang sangat cantik, batang kakinya saja seperti memakai kaos kaki.


"Ini mbak burungnya"


"Waahh.. cantiknya. Boleh pegang om??" tanya Arnes pada om Adi


"Oohh.. ituu" ucap Bang Zaldi melemah. Agaknya kini rasa malu berpindah ke wajahnya.


"Boleh nggak Bang??? Burung ini anteng sekali, Nggak seperti rajawali yang itu, sudah pemarah, suka maksa lagi..!!. Cepat.. Arnes pengen pegang merpatinya" Arnes mulai jengkel dengan Bang Zaldi.


Bang Zaldi menepuk dahinya.


"Cckk.. Terbongkar sudah rahasia negara. Ono wae sih dek. Sak polahmu marai masmu girab-girab" gumam Bang Zaldi memelototi Arnes.


"Saya beli saja lah merpatinya. Daripada Arnes datang ke mess mu cuma mau lihat burung"


"Jangan Bang, ini kesayangan saya. Susah carinya" tolak Om Adi.


"Harus boleh, Arnes juga kesayangan saya.. susah carinya" jawab Bang Zaldi tidak mau tau.


Arnes yang tidak pintar menyentuh hewan bersayap itu sudah memasukan tangannya ke sangkar burung untuk mengambil salah satunya.


"Cepat tentukan Di.. Tau sendiri khan, wanita tidak pandai pelihara burung, bisa-bisa besok pagi merpatimu sudah almarhum karena di sayang istri DanSat"


tik..tok..tik..tok..


Om Adi dilema melihat burung merpatinya dalam dekapan istri tersayang DanSat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2