
"Sayang.. buka pintunya donk.."
"Sana temui Mona yang cantik..!!!"
"Mona nggak cantik dek. Cantik kamu semuanya" kata Bang Zaldi.
"Nggak usah bohong ya Bang. Tadi Abang bilang dua gadis itu cantik dan bohay.
"Ya ampun dek. Abang hanya menyemangati si Adi biar dia gerak cepat cari jodoh. Masa sampai tua dia ngejomblo gitu" jawab Bang Zaldi memberi alasan yang logis namun sayangnya sang istri sudah tidak bersimpati dan tidak ingin mendengar alasan apapun lagi.
Arnes masuk ke dalam kamar karena kesal.
Duuhh.. wanita ini kalau sudah cemburu susahnya bukan main untuk di tenangkan.
"Sudah seminggu off. Giliran sudah beres aja malah ngambek. Cckk.. Mana si Usrok sudah ngambek begini" gerutu Bang Zaldi.
"Maaa...."
"Nggak dengar. Malam ini nggak ada jatah..!!!" teriak Arnes.
"Aaahhh.. tuh khan" langkah Bang Zaldi lemas dan gontai menuju ruang tamu. Ia berpikir keras kiranya bagaimana caranya untuk membujuk sang istri. Masalah lain mungkin akan lebih mudah untuk di selesaikan tapi berbeda untuk kasus perempuan.
...
Duit tidak mungkin lagi. Sekarang Arnes sudah pintar. Dia lebih memilih berkelahi denganku daripada masalah perempuan ini tidak selesai.
Sejak tadi Bang Zaldi hanya mengaduk-aduk pakan ayam sambil mencari ide bagaimana cara meluluhkan hati Arnes yang sedang marah.
Disana si sulung Ibra sedang bermain bersama Om Adi. Mereka asyik bermain tembak-tembakan sedangkan Ryan lebih senang bermain bersama sang Papa dan segala binatang peliharaan di mini zoo.
Tak ada yang menyangka Ibra menemukan sesuatu dan membawanya ke kandang ayam tempat papanya sedang 'bekerja'.
"Papa simpan foto ini di dompet papa" pinta Ibra.
"Foto siapa? Mama??" tanya Bang Zaldi.
"Foto Tante cantik pa" jawab Ibra sambil menyerahkan foto seorang wanita ke papanya.
Lho.. ini foto pegawai Bank yang akan melakukan kerjasama dengan Kompi. Kenapa bisa jatuh disini?.
"Pa.. masukin ke dompet papa..!!" pinta Ibra lagi.
"Alaah gustii. Kamu pengen papa di gantung mama di atas tiang itu sama burung perkutut??" jawab Bang Zaldi cemas. Mana mungkin dirinya memasukkan foto wanita lain di dompetnya.
Ibra pun cemberut karena papanya menolak mentah-mentah permintaannya. Ibra hanya menatap dompet di bangku panjang yang di letakan Bang Zaldi di samping kandang.
__ADS_1
-_-_-_-
Bang Zaldi pulang bersama kedua putranya. Sampai di rumah Bang Zaldi segera menemui Arnes setelah tadi sempat pergi ke toko perhiasan untuk membelikan gelang dan cincin untuk istrinya. Sudah lama Bang Zaldi tidak memanjakan Arnes dengan salah satu barang indah favorit wanita di dunia.
"Dek.. ini lihat Abang mau kasih kamu sesuatu..!!"
Arnes hanya melirik sesuatu yang di sembunyikan Bang Zaldi di belakang punggungnya.
"Apa?" tanya Arnes malas.
"Abang bawa gelang sama cincin buat mama Fia..."
Mendengar itu senyum Arnes terkembang persis seperti dugaan Bang Zaldi. Istrinya senang sekali karena Bang Zaldi memberinya hadiah tak terduga dan setelah melihatnya ternyata perhiasan itu mirip dengan gelang yang ada di kertas selebaran promosi pembukaan toko emas. Tak tanggung-tanggung, bagi istri abdi negara.. harga dua puluh lima juta rupiah bukanlah hal yang murah dan itu hanya gelangnya saja.
Masih terpaku dengan rasa harunya tiba-tiba Ibra masuk ke dalam kamar dan membawa dompet papanya.
"Papaa.. minta uang buat jajan..!!"
Bang Zaldi pun membuka dompetnya, tapi.....
Astaga Tuhan.. bagaimanapun bisa foto ini masuk di dompetku, malah menutup foto Arnes.
Bang Zaldi sudah berusaha menutupi kepanikannya tapi tetap saja rasa paniknya tak bisa ia sembunyikan dari Arnes.
"Apa Bang? Coba lihat..!!" Arnes berusaha mengintip tapi refleks Bang Zaldi menyembunyikan dompetnya.
Mau tidak mau akhirnya Bang Zaldi menyerahkan dompetnya pada Arnes.
Begitu membukanya. Cula Arnes langsung muncul, matanya langsung menatap kedua mata Bang Zaldi dengan tajam.
"Siapa perempuan ini?" tanya Arnes.
Bang Zaldi mendadak hilang ingatan dan bodoh. Jantungnya bertalu kencang sekaligus membuatnya hampir lupa bernafas.
"Anu dek.. itu...cckk.. siapa lagi nama dia itu"
"Siapa Baang????????"
"Namanya Sofia?? Fia seperti anakmu Bang????? Berani-beraninya Abang masukan foto ini di dompet dan menggantikan foto Arnes" Arnes yang marah langsung melayangkan tendangan telak di dada Bang Zaldi.
"Yeeeaayy.. mama hebaatt..!!!!" pekik Ibra dan Ryan
"Allahu Akbar.. sakiit dek..!!" Bang Zaldi hanya bisa mengusap dadanya.
"Abang punya lagi ma fotonya, khan ada dua .. Abang masukin lagi yang satunya biar mama bisa ajarin papa kung fu lagi" kata Ibra sambil menyambar dompet Bang Zaldi di tangan Arnes.
__ADS_1
"Lihat itu, anakmu yang main dompet Abang. Mana pernah Abang masukin foto perempuan lain. Ngarang aja kamu..!!"
Arnes menjadi salah tingkah, ia malu sekali karena sudah menuduh Bang Zaldi yang bukan-bukan.
"Baang.. Maaf ya Bang..!! Arnes khan cuma pelan" kata Arnes sambil mengusap dada Bang Zaldi yang baru saja di hantamnya.
"Pelanmu itu buat Abang keseleo sampai patah tulang dek..!!" jawab Bang Zaldi memelas.
"Ibra jangan begitu lagi. Nggak boleh. Foto itu kamu dapat darimana?" tanya Arnes.
"Dari depan koperasi, Ibra pungut waktu lagi main sama Om Adi" jawab Ibra tanpa rasa bersalah.
"Bener-bener itu si Brewok. Bukannya momong yang bener malah bikin aku jadi ribut begini" gumam Bang Zaldi.
"Memangnya om Adi tadi lagi apa?" tanya Bang Zaldi pada putranya Ibra.
"Lagi duduk berduaan sama tante-tante terus Om Adi......." Ibra menatap mata papanya dengan ragu.
"Om Adi lagi apa sama tantenya????"
...
plaaaakk..
"G****k kamu Ad. Bisa-bisanya kamu berduaan sama perempuan di belakang gudang koperasi. Kamu itu yang minta bawa anak saya. Itu depan koperasi sudah jalan raya. Kalau sampai ada apa-apa gimana Ad????" bentak Bang Zaldi. Satu tamparan keras mendarat di pipi Om Adi.
"Ibra itu lihat kamu ciuman sampai pegang-pegang. Mau cari mati kamu sama saya???" bentak Bang Zaldi lagi.
"Siap salah Abang..!!"
Bang Zaldi begitu marah saat Ibra menceritakan apa yang di lihatnya tadi.
"Saya bicara bukan sebagai Abangmu. Saya bicara sebagai orang tuanya Ibra. Saya saja di rumah sekarang sudah lebih berhati-hati dan menjaga sikap saya di hadapan anak-anak sampai tiba saatnya nanti mereka pantas untuk memahami. Malah kamu curi start dengan kelakuan dungu mu itu..!!!" ucap kesal Bang Zaldi.
"Saya punya anak perempuan Ad, kalau mental Abangnya rusak.. bagaimana bisa dia jaga adiknya. Sekarang siapa perempuan itu. Kalau sudah siap.. cepat pengajuan nikah. Saya tunggu..!!!"
"Siap Bang.. dalam dua hari saya naikan berkas pengajuan nikahnya" kata Om Adi pasrah.
"Ono-ono wae Ad.. Marai sirahku ngelu" gerutu Bang Zaldi lalu duduk bersandar melonggarkan jalan nafasnya.
.
.
.
__ADS_1
.