
"Kamu sudah makan dek?" tanya Bang Rinto saat melihat Anye sedang menyuapi Bima.
"Belum Bang" jawab Anye.
"Makan dulu baru urus anak. Perut lapar buat emosi tidak stabil" kata Bang Rinto yang kemudian mengambil mangkok makan milik Bima.
"Ambil makan dulu. Biar Abang yang suapi Bima"
#
"Pintar sekali anak Papa. Makannya habis. Calon panglima harus makan yang banyak ya..!!" Rinto mencium gemas putra keduanya. Putra yang tidak ia ketahui proses kelahirannya. Sekarang ia sedang tumbuh besar dalam prahara rumah tangga papa dan mamanya.
Rinto melirik Anye, semakin hari wajah Anye semakin kusut saja. Berat bayinya juga semakin menurun.
"Mamanya minta di suapin juga ya?"
"Nggak kok Bang. Ini Anye makan" jawab Anye yang kemudian mengambil sesendok nasi dan mengunyahnya karena Bang Rinto terus memperhatikannya.
"Jalan-jalan yuk ma. Abang Seno sama adik Bima belum jalan-jalan nih" ajak Bang Rinto saat hari belum terlalu sore.
"Anye capek Bang" tolak Anye.
"Nanti Papa Seno gendong deh kalau mama capek" bujuk Bang Rinto.
...
Angin di pantai lumayan kencang. Rinto menggendong Bima dan menggandeng tangan Seno sambil sesekali memperhatikan langkah Anye.
"Awas dek, lihat jalan..!!"
"Kita duduk di sini saja sambil lihat matahari terbenam" Rinto mengajak anak-anaknya dan Anye duduk di sebuah gazebo.
Anye menurut saja tanpa banyak bicara. Rinto tau Anye masih selalu menjaga jarak dengannya. Ia menata hatinya yang sebenarnya juga ingin menangis melihat Anye tidak seperti dulu lagi, yang selalu ceria bahkan dulu sering mengajaknya ribut.
Abang merindukan kamu yang dulu sayang, yang ceria dan penuh senyum ceria. Kapan saat itu akan kembali. Maafin Abang yang tidak bisa menjagamu dengan baik.
"Dek.. " sapa Bang Rinto.
"Iya Bang"
"Apa yang ada di depanmu itu?" tanya Bang Rinto.
"Batu karang"
"Kalau batu karang itu pecah, apa namanya??" tanya Bang Rinto lagi.
"Serpihan batu karang" jawab Anye.
"Biarpun benda itu sudah menjadi serpihan, namanya akan tetap batu karang. Lalu apa tidak indah lagi?? Tidak ada gunanya??"
Anye menoleh menatap mata Bang Rinto.
"Batu karang itu indah, batu karang itu kokoh. Indah bagi yang melihatnya indah, cela bagi yang melihatnya tidak berguna. Kita.. akan terlihat indah di mata orang yang tepat dan akan cela bagi yang tidak mampu melihat siapa diri kita. Bagi Abang.. kamu istri yang sempurna. Kamu kuat menjalani hidup ini tanpa banyak mengeluh. Kamu dewasa dalam kerapuhanmu dan kamu berhasil menjaga harga dirimu dengan baik"
__ADS_1
Anye menunduk menghapus air matanya, tangisnya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Sudah lama ia ingin meluapkan perasaannya tapi status dan keadaannya kini yang memaksa dirinya untuk menjaga jarak.
Semakin lama tangis Anye semakin terdengar sedih. Rinto pun akhirnya membuka tangannya lebar.
"Sini.. biarlah Abang yang tanggung dosanya..!!"
"Abaaaang.." Anye menghambur memeluk Bang Rinto.
"Maaf beribu maaf, Anye bukan istri yang baik. Hukum Anye saja Bang. Anye pantas menerimanya"
"Hukuman itu sudah kamu terima dek. Jadikan ini sebagai pelajaran hidup yang berharga, Ini juga teguran keras untuk Abang agar lebih melindungi istri agar kelak tidak lepas dari genggaman tangan Abang lagi" jawab Bang Rinto.
"Sabarlah beberapa bulan lagi. Abang janji akan membawamu kembali"
Anye bersandar di dada Bang Rinto, semua terasa hangat, tenang dan nyaman. Begitupun yang di rasakan Bang Rinto. Rasa rindu bergelayut menyentuh kalbu. Ada getar rasa yang berusaha ia tahan kuat hingga tiba waktunya nanti. Tapi rasa diri sebagai manusia biasa berperang kuat di dalam batin.
Tolong Ya Allah, jangan sampai aku terlupa. Aku ingin dia sendiri yang menginginkan kehadiranku maka bantulah aku untuk menjaga pandanganku untuk melindunginya. Aku ingin meminangnya kembali seperti pertama aku memantapkan hatiku bahwa aku sangat mencintai Anyelir ku.
"Eehh dek.. pengen makan bakso nggak??" tanya Bang Rinto yang sebenarnya sudah tidak kuat menahan diri saat berpelukan dengan Anye seperti ini.
"Mana Bang?" tanya Anye.
"Itu ada kedai disana. Abang pesan bakso ya..!! Kita makan disini"
"Ya sudah terserah Abang saja" jawab Anye.
#
Rinto dan Anye sempat terdiam mengingat kisahnya saat menyantap semangkok makanan pedas yang membuat Anye jadi mengendarai mobil dan membuat nyawa mereka nyaris melayang.
"Tapi sampai khan Bang??" tanya Anye.
"Iya sampai.. tapi waktu itu. Kalau sekarang pilihannya hanya ada dua. Selamat atau kuburan" jawab Bang Rinto.
Anye tertawa renyah mendengarnya.
"Nggak lah Bang. Minimal unit gawat darurat" kata Anye.
"Mati pun Abang rela untuk kamu sayang" gumam Bang Rinto pelan.
"Apa Bang???" tanya Anye.
"Ini lho.. baksonya pedas sekali" jawab Bang Rinto menjawab pertanyaan Anye.
-_-_-_-_-
Mala sudah tiba. Anye dan Bang Rinto sudah pulang ke rumah tapi rumah Brian maupun rumahnya terlihat sangat sepi, lampu rumah pun tidak menyala.
"Apa Brian masih mengantar Ariani pulang?" tanya Bang Rinto.
"Mungkin Bang" jawab Anye sambil terpaksa menggendong Bima karena putra keduanya itu tertidur pulas.
"Hati-hati..!! Gelap dek. Pegang lengan Abang..!!" kata Bang Rinto mengingatkan.
__ADS_1
...
Sampai tengah malam, Brian belum juga kembali. Bang Rinto melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari dan Anye sudah tidur nyenyak. Rinto pulang ke rumahnya melewati pintu belakang rumahnya. Perutnya mulai keroncongan lagi.
"Kemana si Brian?? Apa dia mabuk lagi??" gumam Rinto.
"Aku buat mie instan dulu saja lah"
#
Pukul setengah empat pagi ada suara orang masuk ke dalam rumah Rinto. Rinto segera bangkit dari tidurnya dan melihat siapa yang datang.
"Kamu berantem ya Bri???" wajah Brian membiru dan nampak beberapa bekas luka di tangannya.
"Nggak..!!" jawab Brian dengan malas.
"Eehh.. kamu jangan aneh-aneh ya. Mulai kemarin kamu bikin perkara. Jangan sampai kamu dekati Anye kalau pikiranmu lagi buntu" tegur Rinto.
Brian langsung masuk ke kamarnya dan langsung tidur tak peduli dengan ucapan Rinto. Melihat Brian langsung tidur, Rinto menggeleng heran, ia melepas sandal yang masih menempel di kaki Brian dan melepas celana panjang sahabatnya itu.
"Kamu dari mana sih Bri? Berantakan banget. Sampai berani dekati Anye, gue sambit leher lu Bri" ancam Bang Rinto.
-_-_-_-_-
Brian duduk termenung setelah apel pagi. Tumpukan laporan kegiatan yang seharusnya ia kerjakan pun belum di sentuhnya sama sekali.
Rinto membawakan segelas kopi untuk sahabatnya itu.
"Dari mana semalam? Subuh baru pulang" tanya Rinto.
"Nongkrong di pos" jawab Brian masih tenang.
"Kemarin kamu pergi kemana sama Anye??"
"Ke pantai aja ajak anak-anak main pasir, makan bakso, beli mainan anak-anak. Biar Anye fresh juga. Perempuan itu harus di ajak jalan. Biar pikirannya tenang, hatinya terhibur" kata Rinto.
"Apa mungkin dulu aku jarang ajak Shisi keluar ya. Dia sering sekali marah karena katanya aku terlalu cuek sama dia" tanya Brian.
"Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Dia sudah tenang disana bersama anak-anakmu" ucap Rinto menenangkan Brian.
"Kenapa setelah kepergian Shisi, Aku jadi sebejat ini Rin??" Brian mengacak rambutnya dengan gusar.
"Sama saja. Sebelum menikah dulu.. Aku juga sebejat apa kau tau sendiri. Tapi setelah menikah dengan Anye.. aku baru tau apa artinya bidadari surga"
Brian menoleh menatap Rinto.
"Kamu heran????" tanya Rinto.
"Mengapa dia bidadari surga.. Karena aku paham siapa istriku.. itu sebabnya dia mau menikah denganmu dalam ketidak pastian, Dia mau melayanimu sebagai suaminya meskipun hatinya terluka, dia mau mengandung anakku bahkan anakmu dengan ikhlas. Kau tau.. apapun alasannya, dia tetap suci. Kau pikir itu tidak berat??"
.
.
__ADS_1
.