Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
86. Rindu tak berlogika.


__ADS_3

"Abaaaanngg.. Abaanngg.."


"Bagaimana ini? Kasihan sekali Bu Anye.. terus memanggil mencari suaminya" kata Thomas tak sanggup melihat Anye.


"Kita nggak mungkin menghubungi sanak saudara karena pak Rama dan Pak Ardi pun sedang kebingungan mengatasi situasi.


Tak lama ada Opa dan Oma datang menjenguk cucu mereka.


"Omaa.. Abaaang..!!" tangisnya sesenggukan begitu sesak hingga siapapun tak tega melihatnya.


"Sayang.. dengar Oma..!! Bang Rinto baik-baik saja" ucap Oma sedih melihat keadaan cucunya.


"Ayo ikut Opa" aja Opa yang perlahan membantu Anye bangkit dari posisinya.


...


"Itu suamimu..!!! Suami yang sudah berjuang demi negara ini" tunjuk Opa dari balik ruang ICU.


"Suamimu tidur nak, dia terlalu lelah bekerja"


Bulir bening berjatuhan di pipi halus Anyelir. "Tadi sepertinya Anye sempat melihat Abang baik-baik saja"


"Masuklah.. suamimu hanya tidur" kata Opa.


Anye masuk dan melihat Bang Rinto terlihat tidur nyenyak.


Seorang dokter masuk ke dalam ruang ICU dan melihat Anye menangis.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan suami saya?" tanya Anye.


"Kami berusaha keras untuk tetap mengusahakan yang terbaik untuk Kapten Rinto. Beliau melepaskan bom dan terlempar ke sungai kemudian terombang ambing di sungai berarus deras. Karena hal itu, ada masalah dengan paru-parunya. Bahkan kejadian tempo hari.. Kapten Rinto tertusuk anak panah lumayan dalam. Mungkin saat ini bisa di katakan, Kapten ingin tidur karena lelah."


Anye menutup mulutnya saking kagetnya. Apa yang di alami suaminya bukan hanya luka biasa meskipun sempat dinyatakan luka parah. Ia mengira semua baik-baik saja.


"Tapi masih ada harapan untuk sembuh khan dok?" tanya Anye.


"Jika Kapten mampu bertahan dengan baik, tentu harapan akan selalu ada" jawab dokter.


"Satu lagi Bu Rinto.. Tolong pihak keluarga untuk tidak dulu membahas atau mengingatkan Kapten tentang kepergian Ezhar karena ada beberapa hal yang membuat Kapten Rinto menolak menyimpan menolak ingatannya sebelum benar-benar tidak sadar"


***


Empat hari sudah suaminya belum membuka mata. Anye menyeka tubuh bang Rinto dengan air hangat. Sungguh rasa sayang itu tak pernah pudar dan malah semakin bertambah.


"Apa sekarang Abang sedang bercanda dengan Anye. Ini nggak lucu Bang..!!" tegur Anye.


"Kalau berani Abang bercanda seperti ini.. Anye akan temui Om Candra karena Anye kesal tidak di perhatikan Abang" ucap Anye kemudian duduk. Ia menangis menelungkup.


"Anye rindu Abang. Rindu sekali..!! Anye kesal kenapa Anye harus mencintai Abang seperti ini.. padahal Abang jarang sekali mengucap kata cinta untuk Anye. Bahkan hampir tidak pernah. Bangun Bang..!! Siapa yang akan membelai manja Anye di rumah"


Terdengar suara nafas pelan, air mata Bang Rinto pun meleleh membasahi pipi. Anye menggenggam tangan Bang Rinto. Ia pun menoleh saat mendengar isak tangis kecil sebagai respon jika Bang Rinto mendengarnya.


"Abang..!! Abang dengar Anye??"


Air mata Bang Rinto semakin meleleh.


🥀🥀


"Vilia..!!" Bang Rinto menyapa Vilia yang sedang berada di atas ranjangnya bersama dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.


"Abang rindu.." kata Bang Rinto.


Vilia hanya tersenyum saat Bang Rinto menggapai tangannya.


"Abang.. Vilia mengerti, dulu Abang menikahi Vilia karena tanggung jawab Abang yang sudah terlanjur menyentuh Vilia, kemudian kita jalani rumah tangga kita selayaknya rumah tangga yang lain. Vilia tau.. Cinta Abang untuk Vilia hanya bagian tanggung jawab saja. Vilia tak apa Bang, jalan kita sudah berbeda"


"Vilia.. kamu tetap ada di hati Abang" kata Bang Rinto.


"Jika Vilia ada di dunia.. mungkin Vilia akan marah, tapi sekarang.. Vilia hanya butuh doa dari Abang.. juga untuk anak-anak. Istri dan anakmu di dunia sangat membutuhkanmu" kata Vilia.


"Maaf.. bukan maksud Abang mengkhianatimu"

__ADS_1


"Semua sudah takdir Bang. Kembalilah.. Anye dan Sen menunggumu"


"Apa boleh Abang mengecup keningmu sekali saja?" tanya Bang Rinto.


Vilia mendekat, Bang Rinto segera mengecup dan memeluk ketiga anak itu sekaligus.


"Daahh papa. kami sayang papa"


Bayangan itu pun menghilang entah kemana.


🥀🥀


Suara tangis Seno di luar terdengar kencang di telinga Rinto.


"Eegghh.. Anye.. Anyeeeeee...."


tiiiiiiiiiittttt....


***


"Kenapa berdiri jauh sekali?" tanya Bang Rinto saat melihat Anye berdiri mematung jauh darinya. Bang Rinto merentangkan kedua tangannya.


"Rindu Abang atau tidak?" ucapnya saat Rinto sudah benar sadar dari pingsannya.


Anye terisak kencang lalu berlari menubruk suaminya.


"Kenapa jahat sekali ngerjain Anye" Anye berteriak dan memukuli dada Bang Rinto.


Thomas ingin mengingatkan ibu Dankinya tapi Pak Danki melarangnya. Meskipun masih terasa sangat sakit.. tapi bisa memeluk istri tercinta adalah hadiah terindah untuknya.


"Dada Abang sakit dek kamu pukuli" ucapnya lembut mengingatkan istri tercintanya.


"Maaf Bang..!!" Anye ingin melepaskan pelukannya tapi Bang Rinto tetap memeluknya.


"Abang kangen seperti ini" ucap Bang Rinto. Ia pun berat melepaskan pelukannya itu.


"Abang.. saya mau pulang..!!" pinta Rinto pada dokternya.


"Masih belum boleh Rinto.. Kamu juga jangan banyak bergerak dulu..!!" kata dokter disana.


"Kamu jangan macam-macam ya. Semua penyembuhan ada prosedur dan aturannya"


"Sabar Bang. Kalau Abang nurut pasti cepat sehat" bujuk Anye.


Bang Rinto diam saja menyimpan wajah masamnya.


"Sabar sedikit lah Rin. Ayah tau apa yang ada di kepalamu" tegur Ayah Rama yang pasti paham 'penyakit' laki-laki.


"Cckk ayah.." Rinto nampak kesal lagi. Perlahan ia merebahkan tubuhnya, Anye pun membantunya.


Rama menepuk jidatnya.


"Masih lemas begitu tapi pikiran sudah kemana-mana."


Dokter dan Rama keluar dari ruangan.


"Kamu nggak kangen Abang?" tanya Bang Rinto datar.


"Abang pikir kenapa Anye sampai nangis? Abang kira nggak sedih Abang tinggalkan begitu lama? Belum lagi.. Abang datang masih harus bertaruh nyawa antara sadar dan tidak" jawab Anye penuh emosi.


"Maaf dek, Abang cuma kangen" ucap Bang Rinto sambil memalingkan wajahnya.


Anye menyabarkan hati, ia berusaha memahami suaminya yang berada dalam tingkat kejenuhan yang tinggi.


"Cepat sembuh, nanti Anye turuti keinginan Abang"


Suami Anye itu tetap tidak ingin bicara.


Lihat aja kamu dek, Abang sudah sembuh. Kenapa semua terlalu berlebihan.


***

__ADS_1


Subuh telah tiba, suasana di rumah sakit masih begitu hening. Rinto bangun dan berusaha bangkit dari tidurnya. Karena ingin cepat pulang, ia pun ingin membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja. Bang Rinto masuk ke toilet seorang diri dan tidak mau menggunakan peralatan medis karena merasa dirinya sudah sehat.


Begitu keluar dari toilet, kakinya seolah tidak memiliki tenaga. Kepalanya mulai pusing.


Mendengar suara yang aneh, Anye terbangun dari tidurnya. Ia melihat Bang Rinto sudah berpegangan di bibir pintu toilet.


"Abang.. Kenapa nggak bangunkan Anye?" pekik Anye sangat cemas.


bluuuggghh....


Rinto jatuh dengan setengah sadar menimpa tubuh Anye yang tak mungkin bisa bergerak jika sudah tertindih badan kekar sang suami.


"Ya ampun Abang..!!"


"Om Alex,Om Thomas.. tolong..!!"


Secepatnya kedua ajudan Rinto masuk ke dalam kamar rawat Danki setelah mendengar teriakan istri Danki. Tangis Sen yang kencang semakin membuat kepanikan dua ajudan.


"Ijin Bu, Danki kenapa??" tanya Thomas.


"Saya nggak tau Om. Saya saja baru tau kalau Abang sempat ke toilet" jawab Anye.


Kedua ajudan itu segera mengangkat Danki mereka kembali ke ranjang dan segera memanggil dokter.


...


"Pertama bangun saja sudah begini.. Sebenarnya kamu malah semakin memperlama masa rawat dan penyembuhanmu" kata Ayah Rama mengingatkan menantunya yang sangat keras kepala.


Anye sedang berada di luar ruangan bersama Seruni dan Bang Hengky saat Ayah Rama menemui menantunya setelah mendapat laporan kehebohan tadi subuh dari Alex.


"Ayah tau rasanya rindu. Tapi pakai logikamu juga..!! Banyak istirahat.. Anye nggak akan hilang kemana-mana"


"Iya yah" jawab Rinto.


-_-_-_-


"Masih ada setengah mangkok lagi Bang. Di habiskan ya..!!" bujuk Anye saat menyuapi Bang Rinto makan.


"Sudah dek, Abang sudah kenyang" tolak Bang Rinto.


"Abang harus makan yang banyak biar cepat sehat, katanya mau pulang?"


"Untuk apa makan kalau tetap jadi laki-laki lemah dan manja. Nggak ada gunanya sama sekali" ucap Bang Rinto seolah lelah dengan keadaannya.


Anye berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Anye menutup sekeliling ranjang dengan tirai kemudian berdiri di hadapan Bang Rinto.


"Kamu mau apa dek?" tanya Bang Rinto bingung.


"Sekarang terserah maunya Abang. Tapi kalau sampai ada apa-apa sama Abang karena ulah Abang sendiri, Anye bakalan marah besar sama Abang" ancam Anye.


Bang Rinto berusaha perlahan untuk duduk.


"Nggak akan.. Abang bisa mengontrol kekuatan Abang sendiri"


Anye mendekat pada suaminya. Ada rasa malu dan gugup sama seperti saat pertama kali Bang Rinto menyentuhnya. Anye menunduk, pipinya memerah.


"Sini..!!"


Anye terus menunduk bahkan saat sudah berhadapan dengan suaminya. Bang Rinto mengangkat dagu Anye hingga bisa saling menatap.


Bang Rinto melepas jilbab Anye dan membuka beberapa buah kancing baju istrinya. "Maaf.. Abang memang egois. Tapi tolong jangan menyiksa hasrat Abang terlalu lama. Pikiran Abang hanya ada rindu dan Rindu. Kalau Abang ini baterai, sudah low banget dek. Butuh isi daya" bibir Bang Rinto mendekati bibir Anye dan mengecupnya dalam. Tangannya mulai mencari apa yang di rindukan.


Anye sungguh heran dengan Bang Rinto, bisa-bisanya dalam keadaan sakit seperti ini, nalurinya tetap bermain cantik.


"Jangan dulu Bang..!! Abang masih sakit" tolak Anye.


"Badan Abang memang sakit, tapi ada yang nggak sakit" kata Bang Rinto sudah tidak bisa mengkondisikan wajahnya.


"Kelihatannya kamu harus di amankan dulu biar kita imbang" ucap Bang Rinto sambil menarik Anye pelan ke dalam pelukannya. Ia bersiap menyamankan istri tercintanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2