
"Iya ma.. aku sudah tau. Aku nggak akan pernah meninggalkan mama. Mungkin aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi.. tolong maafkan Papaku ya ma. Biar aku yang membayar apa yang sudah papa perbuat pada keluarga ini, terutama mama.. dan.. aku minta maaf, karena sikapku.. mama jadi kehilangan....."
"Sudah Mama maafkan. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini kecuali anak mama" jawab Arnes sambil memeluk putranya.
"Papa bagaimana ma?" Bang Zaldi tak mau kalah dengan putranya itu.
"Papa juga teramat penting.." jawab Arnes lalu memeluk keduanya.
***
"Dek.. kamu ada uang nggak? Pulsa Abang habis" kata Bang Dafa.
"Ada Bang.. Abang butuh berapa?" tanya Fia.
"Lima ratus ribu ada dek?"
"Ada Bang, tapi itu pulsa apa ya kok mahal" seumur hidupnya Fia belum pernah mendengar pulsa semahal itu.
"Abang banyak kerja di luar dek, sedikit-sedikit kerja pakai video. Nggak cukup lah kalau pulsa kecil" kata Bang Dafa.
"Ooohh.. besok Abang ke sekolah Fia bisa nggak? Uangnya ada sama Fia"
"Siap sayangnya Abang.."
***
Fia mengeluarkan uang dari sol sepatu kanan, sepatu kiri, lipatan rok sekolah, lipatan lengan pakaian dan di balik dalaman jilbabnya.
Bang Dafa sampai ternganga melihat tempat penyimpanan rahasia milik Fia.
"Abang pinjam dulu ya?" katanya setelah menerima uang dari Fia.
"Iya Bang. Abang mau pergi tugas kemana?" tanya Fia.
"Ke Jakarta, satu bulan. Sementara kamu di temani Anjar ya..!!" jawab Bang Dafa.
"Fia nggak mungkin kemana-mana Bang.. Papa mulai curiga dan meminta anggotanya untuk antar jemput Fia"
"Ketahuan juga nggak apa-apa. Kita juga nggak pernah macam-macam dek. Mana tega Abang nyakitin gadis seperti kamu ini" kata Bang Dafa berucap jujur. Fia adalah gadis paling berbeda yang pernah ia temui.
__ADS_1
Siapa yang akan mendapatkan mu nanti dek. Rasanya Abang ini tidak pantas untukmu.
...
Siang ini Fia terasa sesak, inhaler di tasnya sudah habis. Ingin ijin pergi ke apotek di seberang rumah sakit tapi uangnya tidak ada lagi, pulsa telepon seluler nya habis, paket datanya pun habis. Karena sudah terlanjur tidak tahan.. Fia pingsan di taman sekolah dan mengundang perhatian siswa lain dan para guru.
:
Bang Ibra dan Bang Ryan datang ke sekolah. Jarak sekolah mereka tidak begitu jauh. Bang Ibra menunggui Fia di ruang kesehatan sekolah.
"Kamu khan bisa beli inhaler. Kenapa Nggak beli?" tanya Bang Ibra.
"Uangnya hilang Bang."
"Hilang lagi?? Kenapa bisa bilang? Apa teman-teman mu usil? Bilang sama Abang" Bang Ryan mulai naik pitam.
"Sudah lah Bang..!! Jangan di bahas lagi. Fia nggak apa-apa" kata Fia yang paham jika kedua Abangnya pasti akan marah kalau sampai ada apa-apa dengan dirinya.
Ryan memeluk Fia dengan erat.
"Jangan sakit dek.. Abang nggak mau kambuh lagi. Kelak.. jika sudah waktunya.. Abang sendiri yang akan mengobatimu.. sampai sembuh" kata Ryan.
"Uang sampai hilang. B******n..!!!!" umpat Ibra.
"Bilang sama Abang siapa yang mengerjai mu???" Bang Ryan sengaja menginterogasi Fia di kamar 'adik perempuan'nya itu.
"Nggak ada Bang" jawab Fia.
"Jangan bohong. Abang tau tentangmu sampai hal terkecil tentang dirimu. Siapa yang sudah meminta uang itu dari kamu?" tanya Bang Ryan.
"Bang Dafa.. Bang..!! Bang Dafa lagi nggak punya pulsa dan pinjam uang lima ratus ribu dari Fia" jawab Fia akhirnya jujur pada Bang Ryan.. sedangkan disana Bang Ibra hanya menguping saja pembicaraan kedua saudaranya. Memang sifatnya yang dingin teramat mirip dengan Papanya yang garang dan kaku.
"Lima ratus ribu?? Kamu tidak memikirkan dirimu sendiri demi pulsanya Bang Dafa????? Kalau tadi tidak ada yang tau kamu pingsan terus bagaimana?? kamu itu punya asma" tegur keras Bang Ryan.
"Maaf Bang.. jangan marah lagi.. Fia takut..!!" ucapnya saat melihat amarah Bang Ryan.
"Jangan di ulang lagi. Papa kerja keras untuk membahagiakan mu, putri perempuan satu-satunya. Abang minta tolong jangan berharap apapun pada seorang pria. Tidak ada pria baik-baik di dunia ini termasuk Abang, kecuali papa. Hanya papa yang sungguh mencintaimu." kata Bang Ryan menasihati Fia.
"Kalau besok Fia punya suami, bagaimana Bang??" tanya Fia.
__ADS_1
"Hanya hatimu yang tau, dia pantas untukmu atau tidak. Ingat Fia.. jangan memberi janji pada laki-laki. Karena kalau mereka menagihnya.. kamu tidak akan bisa mengatasi dirimu sendiri"
Bang Ibra bersandar di luar dinding kamar Fia, terang saja hatinya gelisah memikirkan adik perempuannya meskipun tidak terucapkan lewat kata. Teringat kejadian satu tahun lalu yang membuat papanya begitu marah dan membatasi seluruh ruang gerak mereka terutama Fia. Bahkan butuh waktu bagi mereka membujuk sang Papa.
flashback on..
Hari sudah jam sepuluh malam tapi Ibra dan Ryan belum pulang ke rumah. Ponsel kedua putranya itu tak bisa di hubungi. Papa Zaldi mondar mandir di depan rumahnya, beberapa orang anggota pun sudah di sebar untuk mencari putranya.
"Ijin Wadan.. ada DanMarkas di depan..!!" kata seorang ajudan.
"Bang Jajang datang sendiri malam-malam begini? Ada apa ya?" gumamnya.
...
"Kamu bisa didik anakmu atau tidak???" tegur Bang Jajang mengagetkan seisi rumah tak terkecuali Arnes.
"Sabar Bang.. duduk dulu. Ada apa ini Bang???" tanya Bang Zaldi.
"Anak-anak kita masuk kantor polisi karena menyebarkan video asusila" bentak Bang Jajang.
"Apaa???? Jadi mereka ada di kantor polisi???" Bang Zaldi sungguh tidak percaya kalau anak-anaknya bisa sampai melakukan hal seperti itu.
"Kamu simpan video porno di ponsel atau laptop mu??" tanya Bang Jajang.
"Siap salah Bang. Tapi semua saya pisahkan dan tidak bisa di buka sembarangan" jawab Bang Zaldi bingung.
"Yang buka Fia Bang.. Abang minta tolong, terus Fia ajari caranya." ucap Fia dengan polosnya.
"Ya Allah ndhuk.. kamu lihat apa di laptop Papa?" tanya Bang Zaldi gusar.
"Nggak lihat apa-apa pa. Laptopnya keburu di bawa Bang Ibra sama Bang Ryan" jawab Fia.
"Kamu dengar itu??? Ceroboh kamu Zal..!! Terus bagaimana ini???" tanya Bang Jajang semakin murka.
"Siap salah Abang..!!"
.
.
__ADS_1
.
.