
"Ijin.. tidak ada" jawab Bang Zaldi. Ada perasaan dalam dada yang ia tahan. Rasanya semakin sakit mengingat ucapan Guntur.
"Urakan, Preman, Temperamental. Besok pagi kamu pangkas rumput Batalyon sampai habis..!!" perintah Dan Rinto.
"Siap laksanakan perintah..!!!"
Setelah Dan Rinto pergi barulah Bang Zaldi ambruk dan menggelinjang kesakitan. Irfan, Sony dan Seno segera menolong Bang Zaldi.
Papa Rinto memberi waktu besok pagi karena ia tau, Zaldi pasti tak punya tenaga saat ini. Papa Rinto menggeleng saat tau sifat kaku Zaldi yang terkesan dingin. Pria itu pun temperamental menurutnya.
Pria berdarah dingin. Apa dalam kehidupannya, dia se kaku itu. Bagaimana wanita yang hidup bersamanya nanti. Apa dia tahan??
...
"Papa hukum Zaldi sampai seperti itu??" tegur Mama Anye.
"Mencoreng nama kesatuan di muka umum itu tidak baik ma" jawab Papa Rinto yang masih gagah dalam usianya.
"Jangan bilang Papa hanya cemas karena Zaldi menaruh hati sama putri Papa" jawaban Mama Anye membuat hati Papa Rinto berdegub kencang.
"Papa nggak bisa mempertaruhkan nasib putri Papa di tangan pria macam Zaldi. Ingat atau tidak, Guntur memperlakukan putri papa seperti apa. Papa tidak akan kecolongan lagi. Jangankan Guntur.. Zaldi sekalipun akan papa buat remuk kalau sampai berani menyentuh Arnes" bentak Papa Rinto sudah terbawa emosi.
"Papa marah sama Mama??" tanya Mama Anye memasang wajah memelas.
"Eehh.. nggak donk sayang. Mana ada Papa marah sama Mama. Papa sayang sekali sama mama. Maaf ya ma..!!" kata Papa Rinto.
"Ngomong-ngomong kapan terakhir waktu kita berduaan seperti ini ma. Anak-anak sudah besar. Rumah sepi" Papa Rinto mulai nakal menggoda Mama Anye.
"Papa ini berlebihan sekali. Baru empat hari yang lalu pa" protes Mama Anye.
"Itu sudah lama sekali sayang" Papa Rinto menelusupkan kepalanya di sela leher Mama Anye.
***
Bang Zaldi memangkas semua rumput di Batalyon sampai punggungnya terasa patah, kulitnya pun sudah lecet. Pagi hingga sore, ia memangkas sendirian.
"Cukup Zal. Kamu sudah bekerja keras. Kembalilah ke mess, istirahat dan obati lukamu..!!" Dan Rinto menghentikan kegiatan Bang Zaldi yang satu petak lagi akan selesai.
"Siap Dan. Terima kasih" jawab Bang Zaldi. Ia pun bersiap meninggalkan tempat.
"Selain urusan pekerjaan dengan Seno. Kamu di larang keras kerumah saya. Apalagi untuk melihat putri saya" kata Dan Rinto dengan tegas.
"Ijin Dan. Tidak ada niat saya untuk mencari keributan"
"Saya tidak mau dengar alasanmu. Jauhi putri saya..!!!!!!"
Bang Zaldi mengepalkan tangannya. Tak tau bagaimana perasaanya saat ini, yang ia tahu. hatinya terasa sepi, sedih dan sendiri.
***
__ADS_1
Hari demi hari, Bang Seno melihat Bang Zaldi lebih banyak diam sejak kejadian malam itu.
"Abang IB?" tanya Bang Seno.
"Iya, mau lihat keadaan ibu" jawab Bang Zaldi.
Bang Seno melihat motor Bang Zaldi sudah di panaskan di depan kamar mess nya.
"Naik motor Bang??" tanya Seno.
"Iya..!!" jawab Bang Zaldi.
"Hati-hati Bang"
-_-_-_-_-
"Kenapa murung aja le?" tanya ibu Bang Zaldi sambil memijat tangan kekar putranya.
"Bu, Minggu lalu aku berkelahi dengan seorang pria, aku menghajarnya hingga babak belur dan hampir mati" kata Bang Zaldi.
"Ibu sudah bilang.. kamu jangan berkelahi. Untuk apa le. Gagahnya seorang pria bukan dari ototnya" nasihat ibu Bang Zaldi.
"Tapi dia menghina Arnes Bu. Aku juga nggak tau kenapa, hatiku sakit sekali rasanya.. aku nggak bisa menerima semua ucapannya yang terkesan menghina Arnes?" ucap Bang Zaldi masih bernada kesal.
"Arnes?? Siapa Arnes??" tanya Ibu.
"Adiknya juniorku Bu" jawab Bang Zaldi.
Ibu tersenyum melihat wajah murung sang putra. Baru kali ini Zaldi putra satu-satunya itu gelisah dan uring-uringan membicarakan seorang wanita. Pasalnya selama ini Ibu tidak pernah tau Bang Zaldi seperti ini.
"Kenapa nggak coba kamu hubungi Arnes" saran Ibu.
"Iihh.. ada urusan apa aku hubungi dia. Bukan siapa-siapa ku juga" ucap Bang Zaldi dengan gengsi tingkat dewa.
"Oohh.. Ibu kira kekasihmu. Kalau dia kekasihmu pastilah sudah di sambar orang karena kamu terlalu kaku" kata ibu menepuk bahu putranya lalu meninggalkan putranya itu agar bisa berpikir.
Aku?? Kaku?? Perasaan aku biasa saja.
Bang Zaldi meraba saku, lalu melihat ponselnya. Ia memutar ponsel itu sejak tadi dengan ragu. Tanpa sadar jempolnya menekan sebuah nama yang membuat ia gelagapan setengah mati.
//
Dirumahnya.. Arnes melihat nama Owa Jantan di ponselnya. Arnes mengerutkan keningnya.
"Hallo.. apa??"
Bang Zaldi berdehem melonggarkan jalan nafasnya.
"Jangan geer, mana Abangmu.. ku hubungi nggak bisa" jawab Bang Zaldi sok cool.
__ADS_1
"Mana kutahu. Memangnya Arnes ibunya???" teriak Arnes.
"Jangan teriak..!!! Saya nggak tuli. Bilang sama Abangmu. Saya cari dia. Ponselnya mati sejak tadi" alasan Bang Zaldi kemudian mematikan ponselnya.
Arnes masih ternganga.. pasalnya sejak tadi Abangnya melihat sebuah aplikasi secara sembunyi-sembunyi. Arnes pun mendekati Abangnya.
"Waahh.. Abang..!! Lihatnya perempuan yang seksi.
"Astagfirullah Arnes..!!!" saking kagetnya, ponsel itu sampai terlepas dari tangan Bang Seno.
"Ngawur kamu. Abang sedang meneliti laporan" alasan Bang Seno karena tidak ingin ketahuan belangnya.
"Laporan hati ya Bang. Kelamaan jomblo bikin jelalatan" ledek Arnes.
"Huusstt.. Mulutmu itu ya ampun"
"Hehehe.. piiss Bang. Oya Bang.. Bang Zaldi hubungi Arnes. Katanya ada urusan penting sama Abang" kata Arnes.
"Bang Zaldi hubungi kamu, tapi perlunya sama Abang??? Kok aneh Nes" tanya Bang Seno dengan bingung.
"Mana Arnes tau.. Abaaang. Ponsel Abang nggak bisa di hubungi. Mati katanya" jawab Arnes kemudian meninggalkan Bang Seno.
//
"Abang hubungi saya cuma mau suruh saya lihat anak kucing Bang Irfan sudah makan apa belum??" Bang Seno menggaruk kepalanya.
"Yaa.. soalnya saya takut si Joo ngincar anak kucingnya Irfan" jawab Bang Zaldi yang kemudian tidak terdengar suaranya lagi.
"Huuuhh.. kalau bukan apa bang senior, sudah gue slepet lu Bang" gerutu Bang Seno sambil menaiki motor menuju mess mereka untuk melihat keadaan si cemeng kucing kecil kesayangan Bang Irfan.
//
Sampai disana Bang Seno melihat semua dalam keadaan aman termasuk ular python dan ular cobra kesayangan Bang Zaldi.
"Ular di kandangin saja ribut sekali Bang" gumam Bang Seno sampai terdengar Bang Irfan.
"Banyak alasan sekali si Zaldi itu. Bukan kelinci ini kali Sen yang bermasalah" kata Bang Irfan.
"Terus apa Bang??"
"Ya ularnya Zaldi minta di carikan teman" jawab Bang Irfan.
Seno tersenyum geli sendiri mendengar ucapan Bang Irfan.
"Dua hari lagi saya nikah. Sony juga sudah nikah. Tinggal dia sendiri bujang karatan. Heran juga saya kenapa dia nggak naksir perempuan tapi otaknya geser terus" kata Bang Irfan.
Bang Seno dan Bang Irfan pun tertawa terkikik sambil sesekali Bang Seno memasukan tikus kecil sebagai makanan ular cobra Bang Zaldi.
.
__ADS_1
.
.