
"Ya Allah.. punggungku..!!" Bang Rinto ambruk setelah menyelesaikan push up nya tapi tangannya sempat memegangi Anye yang hampir terjungkal sampai lengannya terkilir.
"Astagfirullah.. turun dek..!!"
Mama Dinda segera membantu Anye berdiri sedangkan ayah Rama membantu Bang Rinto yang kesulitan bergerak.
//
"Sakiiit yah" Bang Rinto berontak merasakan lengannya di urut ayah Rama.
"Sudah nih"
Lengan Bang Rinto yang terkilir memang langsung sembuh dan bisa digerakkan lagi.
Anye duduk santai sambil menikmati kebab yang ia beli di depan penginapan dinas. Bang Rinto hanya bisa menarik nafas tidak ingin berdebat dengan Anye yang sudah menghabiskan empat bungkus kebab.
"Bang, Anye mau ketoprak" pinta Anye.
"Masya Allah dek, Abang kenyang makan semua pesananmu" kata Bang Rinto. Selama di luar memang kebiasaan Bang Rinto selalu mencoba lebih dulu makanan yang akan di makan istri tercintanya. Ia ingin memastikan sendiri jika segala apa yang menyangkut anak dan istrinya di pastikan aman.
Anye memasang tampang sedih membuat Bang Rinto selalu lemah, luluh dan tidak tega.
"Ya sudah, beli sana. Nggak usah keluar pagar. Biar pedagangnya saja yang antar. Nanti Abang ambil"
"Yeeeaayyyy... Mama sayang Papa" ucap Anye sambil berlalu meninggalkan Bang Rinto yang baru saja bangkit usai di urut ayah Rama.
"Dasar.. kalau ada maunya saja manis sekali" gumam Bang Rinto menggerutu pelan, tapi senyumnya tak lepas dari bibir tipis sang Kapten.
#
Mama Dinda sudah packing pakaian sedangkan Bang Rinto mempacking sendiri semua barangnya setelah meminta Anye untuk tidur karena kalau Anye sampai bangun, Anye hanya akan membuatnya pusing dengan acara 'mengunyah' yang tidak pernah ada habisnya.
Si kecil Mey dan Seno hanya ribut sendiri. Mama Dinda dan Bang Rinto pun repot memisahkan pertikaian mereka. Berbeda dengan Bima yang lebih tenang, tante Mey lebih banyak cerewet, centil dan membully Seno. Sedangkan Seno tidak bisa membalas apapun perlakuan tante Mey karena papanya melarang keras menyakiti wanita dan Seno sudah paham hal itu.
Tiba-tiba tante Mey mencubit gemas lengan Seno.
"Hiiihh.. kenapa wajahmu seperti Abang Rinto?"
"Aku nggak tau" jawab Seno dengan polos.
"Kalau mirip Abang Rinto kenapa Mey. Abang Rinto khan papanya Seno" kata Ayah Rama.
"Tapi Mey suka sama Abang Rinto. Jadi wajah Seno nggak boleh seperti Abang"
"Kenapa Mey suka sama Abang Rinto. Abang Rinto khan yayangnya kakak Anye?" tanya Ayah Rama ingin tau kelakuan aneh putrinya.
Mey menoleh pada mamanya lalu mendekati telinga Ayah Rama sambil berbisik.
"Abang baik, suka belikan makanan. Abang kuat gendong Mey.. Mey khan capek jalan. Ayah lihat saja. Makanan Mey dari Abang Rinto sudah satu mobil"
Memang Rinto sangat memanjakan si kecil Mey. Apapun yang di tunjuk adik iparnya itu tidak pernah ia lewatkan. Ayah Rama tersenyum mendengar ocehan putrinya. Ayah Rama tau kalau selama ini Rinto memang sangat sayang pada Mey. Mungkin benar Rinto sangat menginginkan bayi perempuan lahir di tengah mereka.
"Oohh begitu. Kalau Abang kembali ke tempat tugasnya, Mey sedih nggak??" tanya ayah Rama.
Mey langsung menangis menubruk Bang Rinto.
"Abang jangan pergi donk..!! Siapa yang belikan jajan untuk Mey kalau Abang pergi??"
Bang Rinto menahan tawanya melihat adik iparnya menangis sesenggukan.
"Abang cuma sebentar dek. Tahun depan, Abang pindah ke Jawa. Dekat sama tempat Mey. Nanti Abang belikan Mey jajan yang banyaaakk.."
"Serius Rin?? Ayah belum dapat kabar wacana surat perintah tugasnya? paling surat perintah geser untuk bulan depan. Brian kena sprin ya??" tanya ayah Rama.
Bang Rinto kelabakan mendengar suara keras ayahnya.
"Huusstt.. ayah jangan bicara kencang" pinta Bang Rinto sambil menoleh memastikan Anye belum bangun. Istrinya itu sedang tidur bersama Bima putra keduanya
"Brian geser lebih dulu dan meminta membawa Righan bersamanya. Saya belum berani bilang ke Anye. Takut dia stress yah"
Ayah Rama dan Mama Dinda saling pandang. Ada rasa cemas di hati mereka berdua. Bang Rinto memangku Mey di atas pahanya lalu menyuapinya makan semur daging.
"Pa.. Seno juga mau" pinta Seno dengan raut wajah iri karena papanya hanya menyuapi tante Mey saja.
"Uughh.. sini anaknya papa. Papa suapi sama-sama ya. Nggak boleh marah atau iri sama saudara. Harus saling sayang.. saling berbagi. Semua papa sayang. Satu makan.. semua makan" kata Bang Rinto.
__ADS_1
"Seno.. dengar apa kata Abang Rinto. Kamu harus bersikap dewasa'" ucap Tante Mey dengan mulut penuh makanan saat di suapi Bang Rinto.
"Aku sudah dewasa, lihat saja jambulku sudah seperti papa" jawab Seno kecil bergaya menegakkan jambulnya mirip sang papa.
"Astaga Tuhan.. jambul lagi" ayah Rama menepuk jidatnya kalau kedua 'makhluk dewasa' ini sudah bicara.
***
Mama Dinda dan Ayah Rama berpamitan dengan Anye, Bang Rinto dan kedua putranya. Pesawat mereka sudah akan berangkat lebih dulu.
Perhatian mereka tertuju pada tiga bocah cilik yang saling berpelukan saat akan berpisah
"Kalau kita ketemu nanti.. kamu harus dewasa ya Sen. Kamu juga jangan kekanakan ya Bima. Lihat aku..!! Aku sudah gadis, sebentar lagi masuk play group" pesan tante Mey yang sok dewasa membuat Anye dan yang lain tertawa.
"Anakmu itu bagaimana ma?? Keturunan apa dia itu" Ayah Rama memijat pelipisnya memandang putri bungsunya.
"Biar saja yah, nanti juga berubah. Bukankah Mey sekarang 'mainan' kesayangan ayah" jawab Mama Dinda.
Rinto mengulum senyumnya sambil mengapit pinggang Anye. Tangan itu tak pernah lepas dari istrinya, sebelah tangannya lagi menggendong Bima yang lebih anteng dari Abangnya.
"Hati-hati di jalan ma.. yah, kalau nanti sudah sampai.. saling kasih kabar" kata Bang Rinto sambil mencium punggung tangan mertuanya.
Anye nampak lebih sedih dari biasanya. Bawaan bayi Rinto yang terakhir ini memang sungguh luar biasa membuatnya setengah mati kepikiran.
***
Kali ini Bang Rinto hanya mual tapi tidak sampai parah seperti sebelumnya. Mungkin bayi di dalam kandungan Anye tau kalau papanya sedang kerepotan memangku Abangnya.. Seno dan Bima sekaligus, belum lagi bahunya menjadi sandaran sang istri.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya seorang pramugari cantik pada Bang Rinto.
"Tidak.. terima kasih" senyum Bang Rinto menjawab tawaran si pramugari. Pramugari itu tersenyum lalu meninggalkan Bang Rinto.
Sungguh terkejut saat tiba-tiba Anye mencubit perut sixpack nya. Entah sejak kapan Anye membuka matanya.
"Aawwhh.. kenapa sayang??"
"Kenapa Abang senyum???"
"Ya masa Abang marah kalau di tanya baik-baik? Terus Abang harus bagaimana??" jawab Bang Rinto serba salah menghadapi bumilnya.
"Huusstt.. hehh.. jangan asal pegang sana sini. Banyak sensor dek" bisik Bang Rinto.
"Kacamata ada di saku celana kanan" Bang Rinto memberi tahu letak kacamatanya.
Bang Rinto sedikit kesulitan mengangkat badannya karena kedua pahanya sedang memangku kedua putranya.
"Dalam banget sih Bang sakunya" protes Anye.
"Ini standart dek. Masa nggak paham punya Abang?" jawab Bang Rinto. Suaranya berat. Matanya terus menatap wajah istri tercinta. Secepatnya Bang Rinto bersandar dan perlahan memejamkan mata.
"Sudah.. Abang tutup mata pakai kacamata" kata Anye.
Kamu ini dek.. nggak peka banget sih.
***
"Kamu sama Dwi yang jemput Jer?? Alex mana?" tanya Bang Rinto.
"Ijin Dan.. semalam Alex masuk rumah sakit"
"Laah.. kok bisa???"
"Ijin.. Putus cinta Dan. Sudah pengajuan malah calonnya menikah dengan pria lain" jawab Jeri ikut prihatin.
"Ya Allah.. ada saja masalah. Umur baru menginjak 21 tahun sudah tertimpa masalah. Tapi saya salut juga. Berani juga ya Alex mengajukan nikah muda" gumam Bang Rinto.
"Nanti sore saya ke rumah sakit. Sekarang saya mau antar nyonya pulang dulu"
...
Sesampainya di rumah. Seno dan Bima langsung bermain ke rumah papa Brian karena rumah mereka memang bertetangga.
Bang Rinto menoleh ke sekitarnya melihat rumah begitu sepi. Diliriknya Anye sedang menata pakaian bersih ke dalam lemari. Bang Rinto masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat. Perlahan ia memeluk Anye dan menyingkirkan rambut panjang yang menutup tengkuk istrinya.
"Lepas Bang. Anye nggak bisa gerak"
__ADS_1
"Kamu cantik banget dek"
...
"Nanti Abang yang bilang sama Anye kalau Righan akan ikut kita ke Jawa" kata Bang Brian.
Anye yang sedang melilitkan handuk ke tubuhnya tak sengaja mendengar percakapan Bang Brian dan Ariani di belakang rumah. Perutnya yang sudah terasa sakit sejak semalam, kini terasa semakin sakit saja.
Rasa tubuhnya masih sangat lelah karena Bang Rinto usai menggempurnya membuat sekujur badannya tiba-tiba menggigil. Hatinya terasa sedih dan sakit mendengar Bang Brian akan membawa putranya pergi. Anye berjalan berpegangan pada dinding dan mencari ponselnya. Bang Rinto sedang menjenguk Om Alex di rumah sakit.
Badan Anye sudah sangat lemas. Berkali-kali ia menghubungi Bang Rinto tapi Papa Seno itu tidak segera merespon panggilannya.
tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu menyelamatkan Anye. Ia pun merangkak susah payah.
"Oohh.. Kamu Wan. Ada apa?"
"Ijin Dan.. saya antar surat undangan tasyakuran Komandan Markas"
"Bang Satriyo tasyakuran?"
"Siap. Istri Beliau sedang hamil tiga bulan" jawab Serka Wawan.
"Hahaha.. m****s lu Bang Sat. Rasakan di bejek bini ngidam lu Bang" ucap Bang Rinto dengan puas.
"Abaang....!!"
"Sebentar Wan..!!" Bang Rinto memasang telinganya baik-baik.
Samar Bang Rinto mendengar suara lirih dari dalam rumah. Bang Rinto pun memastikan sekali lagi apa yang ia dengar dan langsung melongok melihat ke dalam rumahnya.
Mata Bang Rinto membulat besar melihat Anye berbaring di lantai kamar rumahnya masih memakai handuk yang terlilit. Ada bercak darah di sela kaki Anye. Bang Rinto segera memeluk Anye dan memindahkannya ke atas ranjang. Anye terlihat sangat kesakitan.
"Ya Allah Anye..!!!! Kamu jatuh dek???????"
"Abaang.. tolong bilang sama Bang Brian. Jangan bawa Righan pergi" Anye menggoyang lengan Bang Rinto.
"B******n.. Apa tidak bisa mulutnya diam dulu" gumam Bang Rinto kesal.
"Tolong bilang sama Bang Brian..!!" pinta Anye sekali lagi.
Perhatian Bang Rinto kembali fokus pada Anye. Tangan Bang Rinto gemetar meraba bagian bawah Anye.
"Astagfirullah.. mati aku" Bang Rinto menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Matanya merem melek seiring jantungnya yang nyaris melompat.
"Nanti kita bicarakan masalah ini. Sekarang kita ke rumah sakit dulu"
Dengan cepat Bang Rinto memakaikan pakaian untuk Anye dan mengambil kain panjang untuk di pakaikan sebagai pakaian bawahan Anye tak lupa memakaikan pasmina seadanya untuk istrinya itu. Dikecupnya kening dan bibir Anye.
Perasaan Bang Rinto tidak enak merasakan perut Anye yang semakin kencang.
//
"Wan.. tolong antar saya ke rumah sakit..!!!!" perintah Bang Rinto pada Serka Wawan.
"Siap Dan..!!"
Bang Rinto buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Jeri.
"Jer.. bawakan pakaian yang saya minta kemarin..!!"
"Ijin Dan. Pakaian siapa Dan?" tanya Jeri bingung karena mendapat telepon tiba-tiba.
"Astagaaaa.. Pakaian bayi saya..!! Yang saya minta ke kamu beberapa waktu yang lalu untuk di loundry" jawab Bang Rinto dengan emosi.
"Cepat Jeriii...!!!! Anak saya mau tumbling ini..!!!!!!!!"
"Siap Dan.. segera..!!"
.
.
.
__ADS_1