
Bang Righan tau pasti saat ini Bang Zaldi pun dilema dalam menyelesaikan persoalan ini. Disisi lain Bang Zaldi yang paling tau bagaimana kondisi istrinya jika tau tentang masalah ini tapi resikonya jika Arnes tidak tau seperti ini maka akan salah paham yang akan di dapat.
Begitu menginjak lingkungan Batalyon. Arnes merasa tatapan yang ia dapat begitu sinis. Tidak ada kehangatan disana. Danyon beserta istri juga menatap dengan tatapan dingin. Saat kaki Arnes bergeser, degub jantungnya bertalu kencang.. dunianya seakan runtuh saat tau Wadanyon itu adalah Bang Guntur.
Bang Zaldi menyentuh pundak sang istri.
"Jangan tunjukkan kelemahanmu di hadapan Bang Guntur. Selanjutnya biar urusan Abang" bisik Bang Zaldi di belakang Arnes sambil menyalami semua rekan seakan tidak terjadi apapun.
"Hai Zaldi.. Arnes..!! Naik jabatan juga kamu disini" sapa Mayor Guntur.
"Siap Wadan.." jawab Bang Zaldi secara formal padahal di dalam dada, ia menyimpan rasa marah dan sakit luar biasa karena ulah Guntur.
"Wanita tidak tau diri.. dasar sampah. Bisa-bisanya kamu menggoda suamiku. Kamu ingin suami yang sehebat Bang Guntur?? Jangan mimpi kamu" bisik istri Wadanyon.
Arnes menahan kuat tangisnya seperti kata Bang Zaldi meskipun saat ini ia begitu sakit hati, hanya satu alasannya. Nama sang suami berada di atas bahunya.. maka ia tidak akan mempermalukan harkat dan martabat sang suami di hadapan banyak orang meskipun ia sungguh tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini.
"Suami saya sudah lebih dari cukup memberikan apapun yang saya mau. Tidak hanya materi, tapi kebutuhan saya sebagai istrinya pun tak pernah terlewatkan. Jika saya adalah sampah.. mungkin saya adalah satu-satunya sampah yang diincar suami-suami sampah. Jika saya adalah sampah.. mungkin saya adalah satu-satunya sampah yang di angkat derajatnya oleh orang yang tau bagaimana caranya memanfaatkan sampah agar bisa bermanfaat. Permisi ibu Wadanyon" Jawab Arnes dengan senyumnya. Para istri anggota dari kompi Arnes pun tidak tau kehadiran pertemuan kali ini akan terjadi keributan, tapi ada rasa bangga karena istri Kapten Erzaldi itu seolah tetap tenang dan tidak terpancing emosi.
Ibu Wadanyon begitu meradang mendengar jawaban Arnes. Istri dari junior suaminya sangat menyakiti hatinya.
"Jangan lancang kamu..!! Kamu hanyalah istri junior suami saya. Harusnya kamu tunduk dan hormat dengan saya" bentak istri Wadanyon. Jawaban dari istri Wadanyon membuat para anggota beserta istri dari Kompi merasa sangat tidak nyaman.
"Ehh.. asal kalian semua tau. Wanita ini tidak bisa menjaga harkat dan martabat suaminya. Dia menjajakan dirinya di sosmed" teriak Ibu Wadanyon yang gila hormat dan terlalu usil itu. Sama persis seperti suaminya.
Ibu Wadanyon memencet alat proyektor dan menunjukkan foto itu di hadapan semua orang.
"Dek.. itu di larang. Seperti apapun keadaannya, kita harus bisa menjaga harga diri orang lain" tegur Ibu Danyon sambil mematikan alat yang sulit sekali untuk di matikan.
Tubuh Arnes seketika melayang melihat foto 'dirinya' di lihat semua orang terutama para anggota yang kemudian menunduk memberi muka pada sang ibu Danki yang mereka kenal sangat beradab, santun dan lembut hati.
"Bocah cilik seperti ini harus di binasakan. Sejak dulu dia mengincar suamiku mbak. Suamiku yang cerita sendiri"
braaaaakkkkk...
"Kamu bisa diam atau tidak?????" Bang Zaldi menghantam proyektor itu hingga terbelah tiga, seketika layar mati dan menimbulkan percikan api, beberapa anggota menangani situasi tersebut.
"Sudah Bang..!! Jangan teriak..!!" Arnes menghadang langkah suaminya dan mengusap lembut dada bidangnya.
"Itulah perbedaan orang pintar dan orang bodoh. Mohon maaf memang belakangan ini saya sedang mendapat masalah. Ada yang menyalahgunakan foto pribadi saya, foto lama. Saya tidak meminta semua untuk percaya. Tapi hingga saat ini, saya istri dari Kapten Erzaldi Gharial Alba masih menjaga harga diri dan hingga saat ini. Hanya suami saya saja yang bisa menyentuh diri saya. Saya mohon ijin undur diri Ibu Danyon.. Selamat siang" Arnes menangkupkan kedua tangannya lalu beranjak pergi diikuti Bang Zaldi yang sudah memberi hormat pada Danyon.
Pandangan mata Bang Zaldi mengarah tajam pada Wadanyon.
__ADS_1
"Selama saya masih hidup, kamu akan membayar mahal semua perbuatanmu ini Guntur..!!" ancam Bang Zaldi. Ia berniat mendahulukan keadaan istrinya saat ini daripada menuruti emosinya.
"Kau ada bukti??" tantang Guntur mengejek.
Bang Zaldi seketika tersulut amarah, tangannya mencabut sangkurnya dan bersiap menghujam Wadanyon paling buruk akhlak sepanjang masa.
"Jangan Abang..!!!" Bang Righan dan Bang Putra mencoba menengahi pertikaian dan menghantam lengan Bang Zaldi hingga sangkur itu terlepas.
"Istighfar.. ingat anak istri Abang..!!" kata Bang Putra mengingatkan.
"Astagfirullah hal adzim.. Arnes..!!!" Bang Zaldi berlari mencari dimana istrinya berada saat ini.
Tatapan mata tajam pun diikuti oleh semua anggota yang seketika memahami kemungkinan besar sumber prahara ini berasal dari Mayor Guntur. Sebab bukan satu atau dua kali Mayor Guntur berbuat ulah.
Bahkan sebagian besar dari mereka menyayangkan tindakan Dan Righan yang tidak membiarkan Danki menghujam Wadanyon menyusahkan itu.
:
Arnes memejamkan mata, rasanya ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa malu dan tekanan sosial yang ia terima hari ini. Ia meremas perutnya, sakit luar biasa ia rasakan.
"Dek..!!" Bang Zaldi langsung memeluk Arnes, memberi kekuatan pada istrinya itu.
"Maaf, Abang lalai melindungimu" suara berat itu terdengar dari bibir Bang Zaldi.
"Harusnya Abang bunuh Guntur saat ini juga.
Arnes melepas pelukan Bang Zaldi.
"Kini seluruh dunia sudah tau siapa Arnesia. Masih inginkan Abang bersama wanita seperti ini?? Yang sudah di lihat orang, di tawar banyak orang. Arnes tidak pantas jadi istri Abang, tidak pastas jadi ibunya Ibra dan anak ini" Arnes histeris memukuli perutnya.
"Jangan sayang..!!" Bang Zaldi memegang kedua tangan Arnes.
"Apa yang bisa Abang pertahankan dari Arnes??" Arnes masih berusaha memukuli perutnya, rasanya terlalu malu untuk bertemu Bang Zaldi.
"Inilah sebabnya Abang tidak mau kamu tau, kamu pasti akan syok dan down seperti ini"
"Dekk.. tenang dulu...!!" pinta Bang Zaldi yang mulai kesulitan mengendalikan Arnes.
"Arnes mau mati saja Bang..!!"
"Arneeeeesss.." Bang Zaldi terpaksa membentak istrinya lalu kembali memeluknya hingga Arnes mengurangi pergerakannya.
__ADS_1
"Jangan bilang begitu. Hati Abang juga kesakitan sayang. Tidak bisa melindungimu adalah dosa yang paling Abang sesali. Ini bukan salahmu. Tolong jangan sakiti anakku"
Arnes sesenggukan, sesak yang ia rasakan membuatnya tumbang dalam pelukan Bang Zaldi.
Bang Zaldi pun segera sigap membawanya ke rumah sakit.
...
"Gimana Pras??"
"Tekanan darah istrimu terlalu rendah Zal. Dia terlalu tertekan sampai mengalami spooting lagi" kata dokter Pras.
"Tolong selamatkan anakku Pras" pinta Bang Zaldi penuh permohonan. Danki BS yang gagah itu begitu lemah tak berdaya dengan keadaan Arnes.
"Usia kandungannya masih sembilan minggu Zal. Kami sudah berusaha............"
//
"Lapar dek?? Abang suapi ya?" Bang Zaldi menatap lekat kedua bola mata di hadapannya. Tangannya menggenggam erat jemari Arnes, tapi istrinya itu memalingkan wajahnya.
"Lihat Abang, jangan menangis sendirian!!"
"Arnes pengen mati aja Bang" ucapnya menghindari Bang Zaldi.
"Dek.. sampai kapan kamu begini. Kasihan Ibra.. kasihan anak kita ini..!! Abang janji akan selesaikan masalah ini" Bang Zaldi pun hampir tumbang tak sanggup melihat keadaan Arnes. Nyawanya hampir terlepas dari raga merasakan anaknya nyaris 'terlepas' karena ulah Guntur.
"Arneess!!" Papa Rinto cemas sekali melihat kondisi Arnes.
"Papaa.. Arnes malu pa" ucapnya tak hentinya mengurai air mata. Bang Zaldi pun melemah tak tega.
"Zal, kamu juga harus kuat. Jangan terpengaruh dengan keadaan Arnes." kata Mama Anye.
Raut wajah Bang Bima begitu mawas.
"Kenapa sampai Arnes mengalami hal seperti ini Bang?" tanyanya dengan geram.
.
.
.
__ADS_1