Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
116. Pahit dan terpahit ( 2 )


__ADS_3

"Rintoooo..!!!!!!"


"Baanngg..!!!!!" Gathan panik saat Rinto tak sadarkan diri.


"Mamaaa.. Ayaahh.. Anye nggak kuat..!! Anye mau mati saja" Anye berteriak histeris tak terkendali.


Brian bersandar lemas tanpa tenaga tak sanggup mendengar tangis sang istri.


"Ya Allah.. kenapa semua jadi begini??" gumam Ayah Rama seakan buntu tidak bisa berpikir apapun. Ia membantu Brian duduk dengan tegak namun sia-sia. Semua masih dalam keadaan syok berat.


"Sayang.. ini bukan saat yang tepat untuk bicara hal aneh-aneh seperti itu" bujuk Mama Dinda.


"Anye bukan istri yang baik ma. Anye sudah khianati Abang. Kalau saja Anye bisa berpikir jernih dan lebih sabar pasti semua ini tidak akan terjadi. Selama ini Anye juga tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Bang Brian" Anye meremas perutnya yang terasa kram.


Bang Brian menatap Anye penuh rasa bersalah. Mana ada yang tau Tuhan akan membuat nasib mereka jadi seperti ini. Pulangnya Rinto adalah sebuah mukjizat dan hadirnya calon bayi Brian adalah rejeki tak terduga dalam pernikahan mereka yang salah.


Dokter memasang oksigen untuk Rinto. Di samping pria itu begitu syok. Memang keadaan fisiknya sedang tidak dalam kondisi yang prima. Bisa sampai rumah Brian saja sudah sangat bagus.


Papa Rival juga sangat kasihan melihat Rinto. Teringat saat kejadian tadi Rinto begitu kaget dan terpuruk mendengar Anye sudah di peristri pria lain.


flashback on..


"Ya Allah Rinto.. kamu benar kembali?????" rasa haru para anggota dan keluarga menyambut kembalinya sang herder Batalyon.


Bang Arben langsung mencukur rambut Rinto seperti gaya khasnya selama ini lalu membiarkan Rinto membersihkan diri dan makan agar tenaganya bisa lebih pulih.


-_-_-_-


"Mana anak dan istriku yah?" tanya Rinto dengan tidak sabar.


"Rinto.. ayah minta maaf harus mengecewakanmu. Karena mendengar berita hilangnya kamu, Anye menjadi depresi. Dia sama sekali tidak mau makan, menangis dan menyiksa diri sendiri. Dengan berat hati.. setelah kelahiran putramu.. ayah menikahkan Anye dengan pria yang selama ini menemaninya melewati masa tersulitnya. Maaf Rinto" sesal Ayah Rama.


"Secepat itukah kalian mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan segala hal kedepannya???" air mata Rinto sudah membendung tak kuat menahan perasaannya.


"Kalian nikahkan dengan siapa??????????" ucap keras Rinto.


"Orang memanggilnya Righan... Felix Abrian Rhigan" jawab Papa Rival juga belum sanggup membuka identitas Brian yang sebenarnya.


"Nggak.. aku akan bawa Anye kembali..!! Dimana dia tinggal????" kemarahan Rinto tak terbendung lagi, ia keluar rumah dan bersiap menyusul Anye padahal ia sendiri tidak tau harus mencari kemana.


Rinto membongkar isi tasnya, disana hanya ada beberapa lembar uang ratusan ribu, dan beberapa lembar uang pecahan lainnya.


"Dimana kalian sembunyikan Anyeku?? Apa uang ini cukup untuk membawaku kesana??" Rinto segera membereskan uangnya masuk ke dalam dompetnya yang usang. Disana terpampang wajah Anye dan Seno yang mulai pudar.


"Rinto.. ini sudah malam. Ayah janji akan mengantarmu besok" kata ayah Rama.

__ADS_1


"Jangan coba mencegahku atau sengaja mengulur waktu. Aku ingin anak dan istriku" kemarahan Rinto sudah pada puncaknya. Ia tak peduli lagi segala nasihat.


"Kalian tidak mau antar?? Aku punya ribuan cara untuk sampai padanya" ancam Rinto.


"Oke kami antar. Tapi janji jangan bikin kegaduhan. Anye pasti kaget kalau tau kamu masih hidup" kata ayah Rama.


flashback off..


-_-_-_-


"Anyeee.." Bang Rinto terus memanggil nama Anye.


"Bagaimana ini Bang??" tanya Ayah Rama pada Papa Rival.


"Nasi sudah menjadi bubur. Kita selesaikan satu persatu masalah ini" kata Papa Rival.


Bang Arben menepuk bahu Brian agar adiknya itu bisa lebih kuat menghadapi pahitnya hidup.


"Kita pria tidak boleh jadi pengecut. Ini semua sudah terjadi. Jadilah kesatria yang tangguh agar saat mati.. kamu punya rasa bangga atas dirimu. Mungkin sampai disini saja tugasmu untuk menjaga Anye. Berbesar hatilah menerima kenyataan ini" nasihat Bang Arben.


Brian masih terpaku di tempatnya. Otaknya terasa buntu tidak bisa berpikir apapun.


-_-_-_-_-


Anye duduk berhadapan dengan Bang Brian dan Rinto di hadapannya. Bibirnya nyaris tak sanggup bicara karena hati dan pikirannya sedang beradu.


"Anye salah. Tidak bisa sabar menghadapi ujian hidup ini. Sekarang Anye memutuskan untuk tidak menjadi istri Bang Rinto.. juga istri Bang Brian" ucap Anye tak tahan dengan semua ini.


"Jangan memutuskan jika hatimu masih tertekan" Bang Rinto mengingatkan Anye. Seberapa pun sakitnya perasaan.. tetap Anye yang ia cintai.


"Pikirkan Seno, Bima dan calon bayimu. Anak-anak tidak salah" ucapnya nampak sedikit lebih tegar.


"Semua salah, semua juga benar. Tidak perlu saling menuduh dan mengungkit kesalahan" tegur ayah Rama.


"Kalau Anye tidak bisa berpikir logis. Kalian sebagai pria harus bicara dengan hati dan pikiran yang jernih" imbuh Papa Rival.


"Dek.. Disini Abang yang salah. Nanti.. jika sudah saatnya.. Abang akan kembalikan kamu pada pemilik yang sesungguhnya. Abang ikhlas dan ridho melepas mu. Kembalilah pada Rinto. Abang yang salah sudah mencintai istri orang" Bang Brian juga sudah bisa sedikit lebih tegar.


Ustadz tersenyum salut melihat ketegaran kedua pria tersebut.


"Bagaimana Pak Rinto? Apa bisa memberi keputusan?"


Rinto menarik nafasnya menguatkan batinnya yang hancur berkeping. Tidak kuat tapi ia harus kuat.


"Maaf.. saya juga punya perasaan. Anye istri saya. Tetap saya akan mengambilnya kembali" ucap tegas Bang Rinto.

__ADS_1


Mata Bang Brian terpejam merasakan rasa pedih tak terkira harus kehilangan sang istri.


"Saya hanya bisa memberi waktu sampai bayinya lahir. Biarkan bapaknya bisa memberikan identitas yang jelas. Setelah bayi itu lahir.. saya akan menikahi Anye kembali dan saya akan menyayangi bayi Brian seperti anak saya sendiri" Bang Rinto sudah memberikan keputusannya.


"Saya akan menerimanya dengan lapang dada. Terima kasih" ucap Bang Brian pasrah.


"Anye nggak mau Bang. Anye nggak mau mempermalukan Abang. Anye juga nggak mau jadi beban Bang Brian. Anye bukanlah istri Abang yang dulu. Anye sudah pernah disentuh selain Abang" Anye menolak keputusan Bang Rinto.


"Bisa saya bicara dengan Anye??" tanya Bang Rinto meminta ijin pada semuanya.


"Brian.. boleh kupinjam Anye sebentar???" ucapnya masih bernada dingin.


"Silakan..!!!" jawab Bang Brian.


...


"Apa kabar dek?" tanya Bang Rinto saat mereka duduk berdua di belakang rumah.


"Tidak baik Bang" jawab Anye.


"Sama.. Abang juga begitu. Abang rasa Brian juga tidak baik saat ini" Bang Rinto berusaha tersenyum di hadapan Anye.


"Sudah berapa bulan usia kandunganmu?"


"Dua bulan Bang" jawab Anye.


"Selamat ya dek. Mudah-mudahan kamu selalu sehat sampai saatnya persalinan nanti" doa tulus dari bibir Bang Rinto terucap manis namun sesak terdengar menusuk hati Anye.


"Pulanglah Bang. Jangan beri perhatian Abang lagi untuk Anye. Anye nggak pantas mendapatkan cinta dan sayang Abang" Anye kembali mengingat semua kenangan indahnya bersama Bang Rinto.


"Jangan lagi bahas hal yang buat hatimu sakit. Yang sudah berlalu jangan di ingat lagi. Pandang masa depan kita, ada anak-anak yang butuh pelukan hangat orang tuanya" ucap Bang Rinto.


"Abang akan menunggumu kembali ke pelukan Abang"


"Apa Abang masih sanggup menunggu Anye yang seperti ini? Tidak pantas di perjuangkan" kata Anye.


"Tiga belas bulan saja Abang sanggup. Apalah arti satu tahun lagi menunggumu" jawab Bang Rinto.


"Kalau nggak sanggup ya hajar saja. Apa repotnya??" Bang Rinto bergumam kecil seolah tak peduli.


"Abaaaang..!!" Anye sedih sekali mendengarnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2