
"Tapi apa Bang?"
"Lebih baik Abang tahan lagi. Kita tidak tau, hari ini apa yang akan kita lakukan akan menghadirkan si kecil ke dunia atau tidak. Abang nggak mau menghadirkannya di tempat seperti ini"
"Terus kita mau apa disini Bang" tanya Arnes.
"Begini saja..!!" Bang Zaldi memagutt dan mengecup Arnes lagi, tapi kali ini apa yang ia lakukan berkali lipat kembali membuatnya tersiksa. Hanya bisa bergelung tanpa bisa menuntaskan.
Payung pernikahan membuat Bang Zaldi merasa sedikit lebih tenang menuang rasa. Meskipun hanya sekedar bertautt ringan.. ia merasa cukup lega. Hanya Arnes yang polos, yang tidak menyadari sebuah rasa. Pikirannya masih sangat takut akan bayangan masa lalu, juga cerita sahabatnya jika di awal 'menikah' itu terasa sangat tidak nyaman, tapi ia merasa baik-baik saja.
Dirasa sudah cukup.. Bang Zaldi menyudahi permainan kecilnya.
"Kamu tidur di Velbed ya dek..!! Nanti Abang jaga kamu" Nafas Bang Zaldi terengah. Ia merasa bersalah. Tapi semakin ia tahan, akan membuatnya semakin stress.
Arnes menggeleng sambil terus menatap mata Bang Zaldi.
"Terus mau bagaimana? Dipannya sudah ambruk" kata Bang Zaldi.
"Papannya di tata saja di bawah. Kita tidur di bawah, Arnes nggak bisa tidur di tempat yang kecil begini"
"Abang jaga. Nggak mungkin kamu jatuh" jawab Bang Zaldi.
"Tapi Arnes maunya sama Abang" ucapnya seperti merengek pelan.
Bang Zaldi mengulum senyumnya. Sekarang istrinya itu sudah bisa bertingkah manja padanya.
"Ya sudah, cepat bangun. Abang mau ambil papannya.
Arnes segera berdiri dan membiarkan Bang Zaldi menyulap papan itu menjadi 'ranjang' mereka malam ini.
Satu persatu Bang Zaldi menata papan itu lalu menutupnya dengan kardus, sleeping bag dan beberapa sarung yang Bang Zaldi punya. Kini hanya tersisa satu sarung saja.
"Udara dingin sekali.. kamu nggak akan kuat udara malam disini." Bang Zaldi duduk di tempat tidur karyanya dan menepuk tempat tidur itu agar Arnes ikut duduk di sampingnya.
"Sini tidur sama Abang..!! ini bukan rumah kita. Disini tanpa tembok pelindung"
Arnes mengambil tasnya dan langsung mengambil tempat dan tidur di samping Bang Zaldi.
"Arnes tau Bang. Bang Righan sudah bilang sama Arnes. Makanya Arnes bawa selimut tebal ini" kata Arnes sambil membongkar tasnya. Ia mengeluarkan selimut lalu melebarkan kain panas itu untuk menutupi tubuh mereka dari dinginnya udara malam.
"Ya Tuhanku.. Jauhnya dari sana kesini yang di bawa selimut tebal ini??" tanya Bang Zaldi.
"Arnes masih mending. Itu.. Abang bawa boneka bebek dari Arnes" tunjuk Arnes pada boneka bebek yang Bang Zaldi letakan di atas rangsel.
"Eehmm.. Itu tidak sengaja terbawa" kata Bang Zaldi berkilah. Bang Zaldi pun mengecup tengkuk Arnes.
__ADS_1
"Cepat tidur... sudah malam..!!"
***
Pagi hari Bang Zaldi bangun lebih dulu. Ia tersenyum genit melihat Arnes yang sangat cantik tidur tanpa polesan make up. Diusapnya dengan lembut pipi halus Arnes. Bibir itu tetap berwarna pink muda meskipun tanpa pemerah bibir.
Arnes menggeliat seketika membuka matanya dan hal pertama yang di lihatnya adalah wajah kaku Bang Zaldi dan itu membuatnya kesal.
"Kenapa??" tanya Arnes.
"Perempuan pada setting awal itu pasti cantik alami, tapi kenapa kamu beda" jawab Bang Zaldi.
"Apa??"
"Terpaksa Abang bilang cantik sekali. Daripada kamu ngambek. Kalau ngambek merepotkan orang" kata Bang Zaldi. Ia kemudian membuka selimutnya kemudian berdiri dan menyambar sarung yang ia kenakan semalam.
Arnes mengulum senyumnya.
"Abang mau kemana?"
"Ke sungai. Ayo cepat, disini sarang kumbang. Kalau berbarengan dengan mereka nggak enak" ajak Bang Zaldi.
Arnes mengambil handuk dan peralatan mandinya. Ia segera mengikuti Bang Zaldi.
//
"Ijin Dan.. Selamat pagi!!" sapa seorang anggota melewati Bang Zaldi dari jarak jauh.
"Pagii..!!! Maaf kalian tolong jaga jarak ya. Istri saya sedang berendam" kata Bang Zaldi sebenarnya merasa tidak enak juga.
"Siap..!!!!"
Setelah tidak ada anggota lagi, Bang Zaldi pun turun dari batu dan ikut masuk ke dalam sungai menggunakan celana pendek.
"Mandi yang benar, tetap mandi lengkap. Semalam tetap saja sudah kotor. Jangan lama-lama juga kamu mandinya dek." perintah Bang Zaldi.
"Apa dikira badanmu itu bagus sampai jadi tontonan orang??" imbuh Bang Zaldi dengan nada kakunya.
"Iyaaa.. ini mau selesai Bang" jawab Arnes.
...
Siang hari Arnes sedang duduk menikmati ubi goreng di bawah sebuah pohon mangga yang lebat. Tak lama ada seorang ibu yang datang bersama putrinya yang masih umur sekitar delapan belas tahun.
"Pak, bisa minta tolong urut kaki putri saya lagi?" pinta ibu seorang anak gadis disana.
__ADS_1
"Oohh.. Apa belum sembuh?" tanya Bang Zaldi saat melihat seorang ibu tua yang sudah ketiga kali ini membawa putrinya ke hadapan Bang Zaldi. Gadis itu memang pernah di tolong Bang Zaldi saat tergelincir di tepi jurang sekitar pegunungan.
"Seharusnya putri ibu dibawa ke tetua yang mengerti soal mengurut dan mengobati. Saya tidak bisa" jawab Bang Zaldi.
"Tapi ini anak gadis satu maunya cocok dengan Bapak" kata ibu tersebut.
Bang Zaldi baru menyadari ternyata ibu tersebut membawa maksud lain di balik kehadirannya. Ibu tersebut tampak kurang senang dengan kehadiran Arnes yang duduk di samping Bang Zaldi.
"Maaf ibu, saya tidak bisa lagi. Silakan ibu cari yang lain" terus terang gadis itu lumayan cantik di mata Bang Zaldi. Tapi hati tak bisa di paksakan. Memilih Arnes adalah titik akhir perasaannya.
"Kalau bapak bisa, silakan datang ke rumah saya lagi" ucap ibu sambil melirik Arnes. Si gadis pun melirik Arnes dengan kilat mata tidak bersahabat.
Ibu dan gadis itu pergi. Arnes mencomot sepotong ubi goreng. Wajahnya pun sudah kusut dan siap menerkam siapapun yang mengganggunya.
Bang Zaldi ikut berdiri dari duduknya.
"Abang mau kemana??" tanya Arnes.
"Mau cek bahan bangunan yang lain. Tinggal satu rumah lagi milik ibu tadi di perbaiki baru kita kembali ke Batalyon" jawab Bang Zaldi.
"Abang bahagia sekali ya mau perbaiki rumah gadis itu" tegur Arnes. Ia pun berdiri dan secepatnya meninggalkan Bang Zaldi yang masih terpaku di tempatnya.
"Kenapa dia? Apa dia cemburu?" gumam Bang Zaldi pelan. Langkah cepat ia segera mengikuti Arnes. Tepat sampai depan pintu Bang Zaldi menyusul masuk. Arnes sudah membanting menutup pintunya dengan kencang.
braaaaakkkkk..
"Astagfirullah hal adzim..!!!" Bang Zaldi menggosok dahinya yang terbentur pintu.
"Kamu kenapa sih dek" tanya Bang Zaldi.
"Nggak apa-apa" jawab Arnes
"Kamu marah Abang ke rumah gadis itu?" tanya Bang Zaldi lagi.
"Terserah..!!"
"Astaga.. kata pujangga wanita kalau ngambek sudah keluar nih" gerutu Bang Zaldi.
"Kalau begini mah bahaya. Harus perbaiki mesin. Jangan sampai oli ku bocor kemana-mana seperti semalam" ucapnya mulai resah.
"Sayaaang.. Buka dulu donk..!! Ikut Abang yuk..!!!" Bukan hal mudah ia membujuk rayu Nyonya Zaldi kesayangan.
.
.
__ADS_1
.