Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
113. Galau.


__ADS_3

"Abang ada dinas luar, seminggu saja. Di perbatasan negara. Nggak apa-apa ya Abang tinggal??" tanya Bang Brian saat mereka berbaring dalam satu selimut malam itu.


"Tapi Bang.. Apa nggak bisa di tukar dengan nama anggota lain?" Anye seperti berat jika harus jauh dari Bang Brian. Ini kali pertama Bang Brian meninggalkannya setelah menikah.


"Bisa saja sayang. Tapi kalau tidak ada alasan yang tepat tentu itu tidak bertanggung jawab" kata Bang Brian.


"Seminggu nggak lama kok. Abang pasti cepat pulang"


Anye terus menatap mata Bang Brian. Rasa takut kehilangan jelas masih terekam jelas dalam benaknya. Segala janji yang pernah Bang Rinto dan Bang Brian ucapkan seakan berputar dalam ingatannya. Dulu, Bang Rinto mengucapkannya dan pada akhirnya sungguh tidak kembali dan kini Bang Brian yang mengucapkannya.


"Dek.. Kita manusia punya garis hidup yang berbeda. Doa istri adalah penjaga terbaik Abang selama bertugas" ucap Bang Brian menenangkan.


"Kalau doa istri adalah penjaga terbaik selama bertugas, lalu kenapa Bang Rinto masih saja pergi meninggalkan Anye???" tanya Anye dengan sedih.


Kini Bang Brian baru menyadari bahwa cinta Anye untuk Rinto masih tetap kuat dan kokoh. Ia tidak bisa mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ia menikahi Anye dalam jangka waktu secepat itu, tapi yang ia tau, hatinya sungguh mencintai istri sahabatnya itu melebihi apapun.


"Kamu rindu Rinto ya?" tanya Bang Brian sambil membelai lembut rambut panjang Anye.


Mendengar itu Anye menyadari kesalahannya karena sudah memikirkan pria lain selain Bang Brian.


"Ehmm.. Nggak Bang. Bukan itu maksud Anye" kata Anye mulai gugup saat Bang Brian bertanya meskipun pertanyaan itu tanpa alasan sedikitpun.


"Rindu juga tidak apa-apa. Siapa yang bisa mencegah isi hati manusia. Abang juga tidak bisa memaksa kamu harus mencintai Abang seperti keinginan Abang. Yang Abang mau, saat kamu bersama Abang.. hanya Abang satu-satunya pria di hatimu. Tidak ada Rinto dan yang lain lagi" ucap Bang Brian.


"Apa masih ada mbak Shisi di hati Abang??" tanya Anye.


"Bohong kalau Abang bilang nggak ada. Shisi tetap ada meskipun ia hanya menempati ruang kosong di sudut hati Abang, tapi Abang pun mencintai istri Abang di dunia. Karena Abang hidup dengan masa depan Abang. Bukan dengan masa lalu Abang. Cinta memang tidak bisa di yakinkan, hanya Allah saja yang tau bagaimana Abang menyayangimu dek..!!" Bang Brian mengecup kelopak mata Anye sebagai tanda sayang.


"Maafin Anye ya Bang. Anye nggak tau kenapa Anye selalu ingat Bang Rinto" ucap Anye penuh rasa bersalah.


Bang Brian terdiam tapi perasaanya terombang ambing. Ia sudah terjebak dan terbelenggu dalam perasaannya. Sembilan bulan hilangnya Rinto bukan waktu yang sebentar untuk di lakukan mengingat ada sinyal hilang dan timbul tentang Rinto di lokasi kejadian saat itu. Antara yakin dan tidak, sebagai seorang suami.. tentu ia ingin memeluk dan menjaga pernikahannya meski awalnya keluarga meributkan hal ini sebab saat itu Anye butuh pendampingan serta diperkirakan Rinto sudah benar-benar sudah tidak ada.


Bang Brian melirik Bima yang sedang tidur. Bayi itu baru berusia lima bulan. Batinnya berperang dan bergejolak. Tapi ia sungguh takut kehilangan Anye.


"Dek.. boleh Abang minta sesuatu??" tanya Bang Brian.


"Apa Bang??"

__ADS_1


"Kalau kamu siap.. Apa bisa kamu nggak pakai pengaman??" pinta Bang Brian.


"Tapi Bang.. Bima masih kecil sekali. Bagaimana kalau nanti Anye hamil??" tanya Anye.


Bang Brian mengusap wajahnya. Ia membolak balikan hatinya dan menyadari mengapa dirinya hari ini begitu egois. Perasaannya kacau sekali malam ini.


"Abang kenapa?? Abang lagi pengen??" tanya Anye dengan polosnya.


"Waahh.. kamu nawarin Abang?????" seketika wajah Bang Brian langsung berbinar.


"Iya Bang. Mau nggak?" tangan Anye bermain nakal di sekitar dada Bang Brian lalu turun hingga ke bawah.


Maafin Anye ya Bang Rinto. Anye bukannya nggak sayang Abang lagi. Tapi Anye istri Bang Brian sekarang dan Anye wajib memenuhi kebutuhan Bang Brian sebagai suami Anye.


"Mau lah sayang. Istri ngajakin begini masa Abang tolak" tanpa menunggu lama Bang Brian segera menyambar Anye tanpa ampun.


***


Brian dan Gathan bertemu di lokasi bersama beberapa team lain. Mereka segera melakukan briefing karena besok pagi sudah harus terjun ke lokasi untuk melakukan pengintaian ulang. Rinto merupakan pasukan yang memegang informasi penting tentang pergerakan musuh sehingga apapun kondisinya sebisa mungkin keberadaannya harus tetap di cari.


...


"Alhamdulillah mereka semua baik. Keponakanmu semakin pintar saja" jawab Bang Brian sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya. Wajahnya seperti menyimpan beban yang berat.


"Bang.. apa Abang yakin akan ikut mencari Bang Rinto??" tanya Gathan.


"Yakin..!!" jawab Bang Brian.


"Dengan segala resiko kalau mungkin saja Bang Rinto di temukan hidup atau mati??" tanya Gathan lagi.


"Kita tidak bisa menduga apa yang terjadi nanti. Biar Allah yang menentukan. Kita hanya tinggal mengikuti kemana arah hidup ini akan berjalan" jawab Bang Brian dengan tegar.


"Ya Bang. Saya harap semua ini akan menjadi yang terbaik untuk kita semua" kata Gathan.


Gathan mengambil ponselnya yang berbunyi nyaring dari dalam saku. Ada Sekar memanggil. Senyum ceria mengembang dari wajah Gathan. Rindu sedikit terobati saat melihat wajah anak dan istrinya.


"Ijin Bang.. saya angkat dulu..!!"

__ADS_1


"Lanjut..!!" jawab Bang Brian.


Brian duduk termenung dengan hati yang tidak karuan. Batinnya sesak memikirkan banyak hal.


Semakin lama, aku semakin merasa kamu masih ada Rin. Kamu memang pria tangguh yang pernah ku kenal. Bahkan Anye pun sulit melupakanmu. Batinnya begitu kuat percaya kamu masih ada meskipun aku sudah menikahinya. Rasa cintanya padamu sulit bergeser meskipun aku sudah memberikan seluruh hatiku padanya. Maafkan aku ya Rin. Aku tau aku salah. Aku sahabat paling b******n yang menusukmu dari belakang.


***


"Oohh.. Bapak Righan?? Bapak turis dari negara sebelah?" kata seorang pria pemandu wisata di pulau kecil itu.


"Disini tidak ada listrik dan Hanya di huni tiga ratus kepala keluarga saja" kata pria itu.


"Apa ada pulau lain di negara ini yang jarang terjamah masyarakat umum??" tanya Pak Righan.


"Ada pak, pulaunya di seberang sana. Dua puluh kilometer dari sini. Jumlah penduduknya lebih sedikit dari pulau ini" kata pria itu menjelaskan.


"Oke, selesai saya menjelajah melihat wisata pulau ini. Saya mau kesana" pinta Pak Righan.


"Baik pak. Akan saya koordinasikan"


"Tapi tolong.. Apa yang saya minta ini hanya akan jadi rahasia kita. Sebab saya bolos kerja" ucap Pak Righan memberi alasan.


***


"Astagfirullah hal adzim.. Bang Seno main apa ini.. Jangan nak..!!" Anye bingung membereskan kekacauan yang di buat putranya.


Anye melihat benda-benda yang berserakan di ruang tengahnya.


"Abaang.. kenapa main barang macam ini?? Ini bukan mainan" Anye mengambil barang yang tidak layak untuk di mainkan.


Seno tak hentinya tertawa melihat kecemasan mamanya.


"Kapan papa pulang ya Bang.. Kamu hanya bisa diam kalau papa sudah telepon. Sayangnya tidak ada sinyal disana" Anye menghela nafas panjang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2