
Anye menyelipkan tangannya di sela pinggang Bang Rinto.
"Lepas..!! Jangan macam-macam..!!" ucap Bang Rinto pelan namun terdengar tegas.
"Anye benci perempuan itu..!!" Anye pun menegaskan pada Bang Rinto. Suaminya itu pun paham kecemburuan istrinya meskipun Anye memakai cara yang frontal untuk melumpuhkan musuhnya.
Bang Rinto yang sudah gemas dan gelap mata bingung bagaimana cara menangani istrinya.
"Terus Abang harus bagaimana? Cepat bilang..!!" ucapnya sudah di ambang batas ketahanan.
"Ya Abang harus pura-pura mau sama Anye.."
"Astaga.. apa-apaan ini, nggak perlu pura-pura juga Abang nggak nolak dek..!!"
"Haaahh.. Abang mau apa?? Jangan bilang Abang pengen ya..!!!" kata Anye dengan cemas.
"Kalau mau akting tuh yang total. Katanya cemburu sama si tante girang??" goda Bang Rinto.
"Yaa.. yaaa sudah ayoo..!!" ajak Anye dengan ragu. Sungguh ia berani menggoda suaminya tapi tidak berani jika harus menangani suaminya yang sudah seperti singa lapar.
Bang Rinto tersenyum nakal menautkan keningnya pada kening Anye kemudian mengangkat Anye berjalan kembali ke kamarnya.
Sheila yang melihatnya begitu kesal dan marah hingga mengeratkan gerahamnya.
-_-_-_-_-
Pagi hari saat pemeriksaan medis, tiba-tiba Anye demam tinggi. Badannya menggigil sampai Bang Rinto harus mendekapnya erat.
"Ya Allah.. kamu kenapa dek..!!" Bang Rinto panik sekali.
"Ini Abang peluk..!!!" ucapnya saat Anye seperti mengejang.
Dua dokter berlarian ke kamar rawat Anye dan memeriksa kondisinya. Ayah Rama yang melihat keributan itu segera berlari ke kamar putrinya. Sebelum apel pagi, ayah Rama menyempatkan diri melihat keadaan putrinya.
"Anye kenapa??" tanya Ayah Rama pada dokter Wira.
Dokter Wira menatap mata Bang Rinto.
"Anye kelelahan sekali..!!"
"Kelelahan?? karena apa? Bukannya pasien itu malah istirahat??" tanya Ayah Rama belum peka dengan keadaan.
Dokter Wira menyuntikan sesuatu ke selang infus Anye. Beberapa saat kemudian, Anye mulai tenang.
__ADS_1
"Kita USG dan cek semua keadaan Anye" kata dokter Wira.
...
"Alhamdulillah bayimu baik-baik saja. Tidak ada tanda bahaya. Spotting ringan masih bisa di atasi asal tidak berkelanjutan." dokter Wira meletakan alat USG nya.
Bang Rinto terduduk dengan lemas, tangannya dingin, wajahnya sedikit pucat dan detak jantungnya tidak beraturan.
"Ya.. masalah privasimu adalah urusanmu, tapi sebagai dokter.. saya wajib mengingatkan agar kamu lebih berhati-hati. Anye harus bedrest dulu. Ada kondisi dimana seorang ibu juga bisa terlalu lelah" kata dokter Wira.
Ayah Rama dan Gathan terbelalak mendengar nya.
"Ayah nggak mau suudzon nih ya. Pikiran ayah jadi kemana-mana. Apa kamu dan Anye semalam...." tanya ayah Rama yang sebenarnya bingung harus memulai darimana, karena bagaimanapun juga ini adalah privasi dan urusan rumah tangga anak dan menantunya.
Leher Bang Rinto serasa tercekik, ia pun bingung menjelaskan tapi tidak mungkin juga ia membohongi seorang dokter apalagi ayahnya yang sudah jauh lebih berpengalaman.
"Iya yah.."
"Astaga..!!!!! Kenapa kamu bisa jadi otak udang begitu Rin.. Kamu khan tau Anye sedang hamil, dia baru tertimpa reruntuhan bangunan" tegur ayah Rama tak habis pikir dengan tingkah menantunya.
Dokter Wira meninggalkan Rama dan keluarganya agar bisa menyelesaikan masalah rumah tangga keluarga Rama.
Rinto terdiam dan hanya bisa mengusap perut Anye. Ayah Rama menghela nafasnya, ia tidak habis pikir bagaimana cara dan dimana Rinto melakukannya. Ia mungkin dulu juga kurang ajar tapi tidak seberani menantunya kalau melakukan hal gila seperti ini.
"Apa kamu yang mulai????" tanya Ayah Rama pada Anye.
"Anye nggak suka Sheila" ucapnya lalu memalingkan wajahnya.
"Sudah jangan bahas Sheila lagi. Abang minta maaf" Bang Rinto berusaha mengalihkan perhatian Anye dari pikirannya tentang Sheila.
"Anye.. Sudahlah..!! Suamimu tidak mungkin macam-macam. Apa Bang Rinto itu gila sampai menduakanmu" kata Gathan menasihati adiknya.
"Tapi perempuan itu selalu mendekat. Anye nggak suka"
"Ambil cara yang lebih aman. Kalau caramu sampai membahayakan bayimu..itu juga salah dek..!!" tegur Bang Gathan.
"Niatmu memberi pelajaran pada Sheila tapi kamu tidak memperhatikan kesiapan mental Bang Rinto. Laki-laki bisa dungu seketika kalau sudah berhadapan dengan istrinya"
"Kamu pengalaman sekali.. Jangan bilang kamu dan Sekar sudah....???" Ayah Rama mulai cemas dengan kelakuan putranya.
"Ehm... Kita sedang bahas masalah Anye yah" jawab Gathan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sudah.. Ayah pusing. Selesaikan masalah kalian..!! Jangan ada keributan lagi. Mama bisa syok dengarnya. Ayah pulang dulu. Mey demam" kata ayah Rama.
__ADS_1
-_-_-_-
Rinto melihat berita di ponselnya. Info saling adu domba antar suku terdengar di pulau seberang dan itu sudah menewaskan ratusan warga dalam waktu satu malam. Batalyon sudah mengerahkan anggotanya untuk berangkat termasuk dirinya.
Rinto melirik Anye yang masih sedikit demam. Tak tega rasanya jika harus meninggalkan istrinya yang sedang sakit seperti ini. Dalam hati ingin menolak tapi pengabdian pada bangsa dan negara juga butuh jawaban dan tindakan.
"Abang dikirim satgas pengamanan dek" ucapnya tidak tega.
"Berangkat saja Bang" jawab Anye tanpa ragu sedikitpun.
"Bagaimana sama kamu, siapa yang jaga?" tanya Bang Rinto.
"Apa Abang pernah lihat Anye selemah itu? Disini ada mama sama Ayah. Anye baik-baik saja" jawab Anye.
"Abang tidak tau kapan Abang akan pulang. Situasi di sana tidak kondusif. Sinyal terputus karena pemancar sinyal di robohkan. Abang tidak akan tau kabarmu" Bang Rinto benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Perasaannya sungguh gelisah.
"Anye suka banget lho lihat Abang pakai baju loreng Abang itu, terlihat gagah dan berwibawa" ucap Anye membujuk suaminya secara halus.
"Anye dan anak Abang bangga sekali menyandang nama Abang. Berangkatlah jagoan..!! selesaikan masalah ini dengan ksatria"
Mendengar ketegaran istrinya, itu sudah cukup membuatnya lebih tegar dan kuat.
"Abang persiapan dulu. Nanti kembali lagi..!!" kata Bang Rinto.
Selepas Bang Rinto pergi.. barulah Anye menangis. Ia ingin sekali di temani sang suami dalam masa kehamilannya. Anye menangis tersedu-sedu hingga nafasnya sesak.
Jangan lemah Anye, kasihan suamimu. Suamimu kerja keras untuk kamu dan anakmu, kamu nggak boleh manja.
Anye menyemangatinya dirinya sendiri meskipun ia berlinang air mata. Bang Rinto belum juga berangkat tapi ia sudah merasa sangat rindu.
...
deg.....
Rinto mengusap dadanya yang tiba-tiba merasa nyeri. Sepanjang jalan ia terus memikirkan istrinya. Teringat kejadian semalam yang sungguh sangat panas membuatnya selalu merindukan istri tercinta. Ia begitu mati kutu di buat mabuk kepayang oleh istrinya itu.
"Gimana Abang nggak terus ingat kamu sayang. Istri sholehah nya Abang" ucapnya pasrah tanpa daya.
Nanti Abang atau kamu yang nggak kuat dek? Maaf ya Abang tinggal sebentar, sudah resiko jadi istri seorang abdi negara. Harus kuat, tabah dan ikhlas. Jangan nangis ya dek..!! kuatmu.. kuatnya Abang. Kesanggupanmu adalah kekuatan Abang. Abang pergi demi negara kita, Abang kembali demi kamu dan buah hati kita.
.
.
__ADS_1
.