Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
38. Kasih sayang.


__ADS_3

Nggak perlu cemas dengan jalan ceritanya. Ini sudah di pikirkan Nara. Jangan spoiler lagi.. please. Maaf ya kalau besok update terlambat 🙏🙏🙏


🌹🌹🌹


"Ada pemberangkatan pasukan ke Libanon. Kamu bersedia berangkat?" tanya Papa Ardi.


"Siap Laksanakan" jawab Rinto dengan tegas.


***


Tiga bulan setelahnya.


Rinto dan Bang Arben sudah selesai melaksanakan pratugas untuk keberangkatan satgas Libanon.


Rinto hanya duduk diam tiada keluarga yang mengantar. Hanya Mama Dinda dengan perut besarnya yang sudah berusia enam bulan, Ayah Rama beserta keluarga dari sang istri yang ada disana.


"Sabar ya le.. Semoga setelah ini badai segera berlalu" ucap Mama Dinda berderai tangis, Mama Dinda memeluk menantunya.


"Iya ma" jawab Rinto melepas pelukan Mama mertuanya perlahan.


...


"Dek.. setelah Abang pulang satgas kita nikah ya?" ucap Gathan di hadapan Sekar.


"Sekar nggak mau berharap banyak. Sekar takut berharap" jawab Sekar.


"Kamu tau pekerjaan Abang. Jika kamu sanggup menunggu Abang.. kamu tunggu..!! Tapi jika dalam perjalanan menunggu Abang ada yang lebih baik dari Abang.. Abang ikhlas kamu tinggalkan Abang, asalkan kamu bahagia. Nanti Abang buktikan. Setelah Abang pulang. Kita nikah" janji Gathan pada Sekar.


"Iya Bang" jawab Sekar.


Gathan mencium kening Sekar. Ia menahan kuat laju air matanya.


...


Bang Arben memeluk Dira dan membawanya untuk duduk. Istri Bang Arben hampir pingsan terpapar teriknya sinar matahari.


"Nanti pulang sama Papa mama ya..!!" ucap Bang Arben.


"Maaf ya adek.. harus papa tinggal" gumam Bang Arben lalu mengecup perut datar Bang Arben.


Bang Arben dan Rinto sekalipun baru tau kalau istri Bang Arben sedang mengandung anak ketiga buah cinta mereka. Padahal anak kedua bang Arben baru berusia satu tahun.


"Ben.. Arben.. Kamu ini..!!!" Tegur Dan Rival sampai mati omongan karena kaget saat tau menantunya hamil lagi.


"Bakat terpendam headshoot " gerutu Dan Rival.


"Paa.. please..!!!" Bang Arben ingin mengunci omongan papanya.

__ADS_1


Kamu lihat dek.. semua bisa berbicara dengan keluarga masing-masing. Apalah Abang yang seperti hidup seorang diri..tanpa kamu. Abang Rindu kamu dek.


***


"Baanngg.. perutku sakit sekali..!!!" pekik Seruni di dalam rumah.


...


"Ini sudah terlewat dari jadwal HPL" kata dokter Wira saat melihat rekam medis Seruni.


"Iya dok. Jadi bagaimana dok??" tanya Hengky dengan cemas.


"Di tambah induksi saja"


...


"Sakiiiitt.. aku nggak mau sakiit" teriak Seruni dari ruang bersalin.


"Sabar ya sayang..!! Mama ada disini..!!" Yasmin mengusap peluh dan air mata Seruni padahal air mata Mama Yasmin mengalir deras.


Hengky keluar ruang bersalin dengan keadaan pusing hebat, degub jantungnya tak beraturan. Ia pun merasakan mual.


"Kak Seruni gimana Bang?" tanya El yang memakai seragam pendidikan perwira. Elang Raja baru saja menjalani pendidikan perwira dan saat ini ia diijinkan IB.


"Di dalam sama Mama. Abang nggak kuat El" jawab Hengky jujur.


...


"Ambil darah saya saja dok" kata Mama Yasmin.


Seruni menoleh ke arah Mama Yasmin. Mama yang selama ini ia benci ternyata masih mau menyumbangkan darah demi kelangsungan hidupnya. Ia pun berlinang air mata.


"Jangan mama. Aku nggak pantas dapatkan kasih sayang mama" ucap Seruni dengan tercekat.


"Jangan bilang begitu nak. Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya kesulitan" Mama Yasmin membelai rambut Seruni.


...


Dengan perjuangan panjang, selama kurang lebih enam jam di ruang bersalin.. akhirnya Seruni bisa melahirkan bayinya.


"Alhamdulillah.." ucap dokter Wira.


bruugghh...


Hengky malah pingsan sempurna di depan ruang bersalin. Kakinya kelojotan seperti orang ayan.


"Duuhh.. malah tambah bikin panik aja" gumam Ardi membantu Hengky yang terkapar lemas.

__ADS_1


...


"Dengan berat hati saya sampaikan. Putri Seruni.. tunarungu" sesal dokter Wira.


Seluruh keluarga begitu terpukul, tak terkecuali Seruni sendiri.


Seruni menerima bayi perempuan lucu di tangannya. Ia menangis sesak, Hengky pun memeluk keduanya.


"Sabar.. sabar sayang. Anggap saja ini teguran" ucap Hengky menguatkan batin istrinya.


Seruni bersandar di dada Hengky, ia menangis sesenggukan pasrah disana.


"Maafkan mama ya sayang. Karena Mama terlalu jahat, sekarang kamu yang harus menanggungnya. Mama janji akan menjadi ibu yang baik buat kamu" ucapnya menangisi bayi mungilnya.


"Rama.. sudikah kamu memberi nama untuk cucu pertamaku" ucap Ardi. Suaranya tercekat. Ia pun sedih sekali.


Seruni pun mengangguk ingin ayahnya yang memberikan nama untuk anak Seruni.


"Kalau kamu mau.. Gadis mungil ini akan kuberi nama Lentera Cinta. Panggil dia Alen..!!" Kata Rama mengambil bayi itu lalu memintanya dari gendongan Seruni.


"Tak terasa, aku pun sudah jadi seorang Opa" ucapnya sendu. Tak ada seorang pun yang tidak menangis disana.


***


Anye sibuk dengan tugasnya. Ia serius sekali dalam belajar. Begitu pun dengan Rinto yang belum lama tiba di Libanon.


Entah sampai kapan rindu ini akan selesai. Abang rindu kamu dek. Semoga kamu baik-baik saja.


"Belum tidur kamu Rin?" tanya Bang Arben.


"Belum Bang" jawab Rinto.


"Kalau rindu cepat sholat. Jangan menyiksa diri sendiri" kata Bang Arben.


"Iya Bang.. Rindu serindu rindunya" senyum Rinto terasa pahit getir.


...


Rinto menggelar sajadahnya.. Bersujud untuk mendinginkan hati. Rasa rindu di dalam dada begitu kuat menyiksa.


#


"Baik-baik ya dek. Tunggu sampai saatnya kita bertemu lagi. Percayalah.. Abang nggak akan macam-macam. Cinta Abang hanya untuk Anye seorang" ucapnya kemudian melipat sajadahnya kembali.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2