Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 82. Tak bermaksud menyakitimu.


__ADS_3

Jangan kira tak ada yang mengalaminya.


🌹🌹🌹


Setelah pesanan Bang Zaldi datang, tidak ada satupun yang sesuai dengan selera Arnes. Kini istri DanSat hanya diam saja dan tidak onar seperti tadi. Gayanya sudah mirip wanita sholehah tanpa cela.


"Mau nggak, Abang suapin" kata Bang Zaldi sudah mulai sehat saat keinginan sudah terpenuhi.


"Nggak mau" jawab Arnes sudah lebih kalem.


Bang Zaldi hanya menggeleng menertawai kelakuan istrinya.


"Lihat saja ini si bontot kalau sudah lahir, Abang ajak gelud" ancam Bang Zaldi sambil menyentil pelan perut Arnes.


"Abang jahat iihh sama anak"


"Biar aja, biar tau rasa karena sudah ngerjain papanya" jawab Bang Zaldi.


"Bang Arnes pusing"


Inilah yang terjadi pada pasutri ini, jika Bang Zaldi sehat maka Arnes yang akan merasakan tidak nyaman tapi jika Arnes sehat, Bang Zaldi lah yang akan setengah mati menahan rasa hidup atau mati karena mual. Mereka bahu membahu menanggung perbuatan mereka berdua.


"Ya sudah kita pulang saja..!!" ajak Bang Zaldi. Ia tau kalau Arnes sudah mulai mual pasti tidak akan kuat berbuat apapun lagi.


-_-_-_-_-


Ibra dan Bang Zaldi bermain perang-perangan hingga seisi rumah berantakan. Mereka berdua saling bersembunyi disana sini.


"Abaaaanngg.. jangan berisik donk. Kepala Arnes sakit sekali nih" protes Arnes. Dirinya mulai terganggu dengan ulah suami dan putra pertamanya bahkan petasan banting dan bom asap sempat mengepul sebagai bahan mainan.


"Berhenti yuk Bang. Mama marah tuh. Nanti kita kena sambar" kata Bang Zaldi.


"Nggak mau, Abang mau main" tolak Ibra.


"Kita ke mini zoo aja yuk. Hewan di sana belum di kasih makan. Papa piket hari ini" ajak Bang Zaldi.


"Abang mau main sama Tante Rebecca."


"Huusstt jangan kencang omongnya. Kalau mama dengar, kita nggak boleh ke sana" bisik Bang Zaldi.


"Kalian bicarakan apa?" tanya Arnes yang tiba-tiba muncul di belakang kedua pria itu.


"Nggak ada, kita mau main bola di halaman" Jawab Bang Zaldi sambil menggandeng tangan Ibra dan pergi.


Arnes kesal sekali padahal tadi ia sempat mendengar nama Rebecca disana.


Kemarin Inggrid, sekarang Rebecca. Awas saja kau Bang.


Arnes masuk dalam kamar dan melihat berita di group di ponsel Bang Zaldi.. tapi tidak ada yang mencurigakan. Hanya pesan dari Om Adi saja membuatnya sangat tidak senang.


Tukang nyolong bini orang : Ijin Abang, janda kampung sebelah sudah di karantina di mess sama putranya. Suplai makanan juga sudah di kirim. Abang tinggal cek saja.


Zal : Terima kasih Brewok, jangan sampai ada yang tau terutama istri saya. Kamu rawat dulu bayinya nanti saya yang tangani.


Tukang nyolong bini orang : Siap.. kemarin Ibra senang ketemu Rebecca, nanti di ajak lagi Bang..!!"

__ADS_1


Zal : Oke, nanti saya otw sama Ibra.


Mata Arnes berkilat marah mengetahui kenyataan ini. Masalah dengan Inggrid belum usai tapi suaminya sudah mulai macam-macam.


Apa begini kalau pria telat nakal??


Dengan perut yang sudah mulai seperti penyangga drum.. Arnes menyusul Bang Zaldi keluar dan benar saja suaminya tidak ada di halaman rumah.


"Kurang ajar.. Abang ajari anakku keburukan apa??" gumamnya berjalan kaki mengitari asrama. Amarahnya yang memuncak mencari Bang Zaldi dan Ibra kemana-mana.


Sampai Arnes berjalan di dekat mini zoo.. Arnes melihat Ibra sedang main dan masuk di kandang bebek sedangkan ia mendengar suara Bang Zaldi yang membuat hatinya panas.


"Kamu cantik sekali kalau anteng begini. Jangan galak seperti istriku, bingung lah aku bagaimana bujuknya. Nanti kamu akan kukenal kan dengan Arnes agar dia mau merawat anakmu. Suamimu sudah berjasa besar. Anakmu akan kujaga sampai besar" curhat Bang Zaldi hingga sampai ke hati Arnes.


Arnes melihat Om Adi yang berjalan datang ke arahnya membawa ember berisi air kotor.


"Mana om embernya..!!" Arnes merebut ember tersebut dari tangan Om Adi.


"Jangan mbak, ini berat"


"Om Adi, saya nggak suka ya om Adi menutupi kelakuan papanya Ibra yang ada main dengan janda kampung sebelah. Saya nggak sudi rawat anaknya" ucap Arnes dengan marah.


"Waduuhh.. sabar mbak. Ayo kita lihat dulu kesana..!!" ajak Om Adi.


"Nggak perlu. Saya bukan wanita sebaik itu.." Arnes tak menghiraukan perut besarnya, ia pun membawa ember itu, tanpa banyak bicara.. Arnes menyiramkan air kotor itu ke wajah Bang Zaldi.


byuuuurrr...


Bang Zaldi sangat terkejut, tapi yang paling terkejut adalah Arnes saat melihat Bang Zaldi sedang memeluk dan memberi makan seekor kambing betina yang sontak lari karena kemarahan Arnes.


"Arneeess.. Kamu kenapa sih dek???" ucapnya keras ketika menyadari yang menyiramnya adalah istrinya sendiri.


"Itu benar kambing Bang??" tanya Arnes.


"Memangnya kamu lihat itu siapa?? Wanita cantik??"


Arnes memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia merasa sangat bersalah tapi ia malas untuk mengakui.


Bang Zaldi membuka bajunya yang basah dengan wajah cemberut dan hanya menyisakan celana pendeknya.


"Lagian kenapa harus bohong..!!"


"Abang mau bawa Tante Rebecca ke rumah biar Ibra anteng karena punya peliharaan"


"Tante?????? Dengan menyebutnya seperti itu apa Abang pikir nggak akan menambah masalah???????" tegur Arnes, ia sudah mengangkat sandalnya dan bersiap melemparnya ke wajah Bang Zaldi.


"Jadi ini yang di bilang janda sebelah???"


Wajah cemberut dan kesal Bang Zaldi seketika hilang melihat wajah murka Arnes. Ia hanya mengangguk.


"Apa Abang nggak punya panggilan lain?? Kira-kira kalau Arnes panggil monyet itu Om Chiko... Abang marah nggak?? Duda gang buntu" Arnes balik bertanya.


"Ya jangan lah" jawab Bang Zaldi.


"Buat apa kamu usil sebut om-om???"

__ADS_1


"Karena Om Zaldi sangat menjengkelkan" jawab Arnes. Ia berlalu pergi dengan langkah panjang dan kesal.


"Pelan deekk..!!!!" tegur Bang Zaldi.


"Ijin Dan.. ini kambingnya..!" ucap seorang anak buah.


"Aiisshh.. sudahlah. Lebih penting yang ini daripada yang itu" Bang Zaldi ikut berlari mengikuti Arnes.


-_-_-_-_-


Bibi memasak makan malam untuk keluarga, membuatkan makanan kesukaan Nyonya muda atas permintaan Pak Komandan.


"Sudah matang apa belum bi? Arnes nggak mau keluar kamar nih. Bingung saya"


"Sebentar lagi Pak. Ini masih di panggang" jawab Bibi.


"Belakangan ini saya cemas sekali dengan keadaan Arnes. Apakah emosi aneh Arnes yang mudah berubah itu bahaya Bi?" tanya Bang Zaldi.


Bibi tersenyum mendengar pertanyaan tuannya. Betapa tuannya itu begitu mencintai istrinya.


"Nggak pak, itu hanya bawaan bayi. Kalau menurut bibi sich bayi yang dari hamil begini rewel nanti besarnya kebanyakan pintar pak" jawab Bibi.


"Yang benar Bi?? Tapi menurut bibi anak saya laki apa perempuan??"


"Kalau di lihat dari garang dan beraninya ibu sih, ibu sangat tegar, kuat dan pintar.. kelihatannya anak bapak laki-laki. Tapi kalau di lihat dari melow nya, manjanya ibu sama bapak.. sepertinya anak bapak perempuan." jawab Bibi.


Bang Zaldi tersenyum membayangkan dirinya menggendong seorang putri yang cantik dengan kamar pink seperti kesukaan mamanya. Nampaknya sekarang Bang Zaldi sudah lebih akrab dengan warna favorit istrinya itu.


"Besok saya bawa Arnes ke dokter Bi. Daripada penasaran"


"Iya pak"


"Oya pak.. Ini ayam bakarnya sudah matang" kata bibi.


Bang Zaldi segera menuju ke kamar untuk mengajak Arnes makan. Berkali-kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari Arnes. Pintunya pun terkunci rapat. Bang Zaldi segera mengambil kursi dan mengintip dari lubang ventilasi.


"Lho, Arnes pergi kemana??" gumamnya panik.


Saat masih dalam kebingungannya, Arnes membuka pintu dan tidak sengaja menabrak kursi yang di injak Bang Zaldi. Bang Zaldi yang tidak siap langsung terjungkal. Arnes yang tidak seimbang pun ikut menubruk Bang Zaldi.


"Awaas dek..!!!!!" Bang Zaldi menyangga kedua bahu Arnes agar tidak jatuh menimpanya, Bang Zaldi menahannya agar perut Arnes tidak terbentur meskipun dirinya harus mengorbankan pelipisnya terhantam sisi bawah meja.


"Ya ampun dek.. ada yang sakit nggak??" tanya Bang Zaldi cemas saat melihat Arnes menangis.


"Arnes nggak mau lihat wajah Abang..!!" jawab Arnes.


"Kenapa??"


"Kambing itu sudah pelukan sama Abang...!!" jawab Arnes.


"Owalah gustii, Abang ora doyan deekk..!!!!" jawab Bang Zaldi gemas.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2