
Yang tanya kenapa Arnes gampang hamil dan keguguran?? Nara jawab.. Karena cerita ini Nara yang buat. Kalau tidak cocok silahkan Netz buat cerita sendiri aja ya..!! Monggo..!! Semua ada perhitungannya. Terimakasih 🥰🙏
🌹🌹🌹
"Nggak sadar lagi Bang?" tanya Bang Aswin.
"Ya gimana lagi. Istriku belum dengar penjelasan apapun. Baru dengar berita hari ini menikah saja, Arnes sudah pingsan lagi" jawab Bang Zaldi.
Tak lama petugas kesehatan datang.
:
"Ijin Dan, Ibu baik-baik saja. Memang beliau hanya terlalu kaget" petugas itu memasang selang oksigen di hidung Arnes.
"Valid nggak keteranganmu ini??"
"Komandan bisa langsung membawa ibu ke rumah sakit. Saya bukan seorang dokter dan hanya bisa memastikan sekilas kalau ibu baik-baik saja tapi jelas saya kurang memahami kalau mungkin 'dalam' ibu yang sakit" jawab petugas kesehatan lapangan.
"Saya cek sendiri nanti..!!"
:
Mata Arnes mulai terbuka kembali, ia masih memicing menggenapkan pandangan matanya.
"Dek..!!" sapa Bang Zaldi.
Tanpa perhitungan Arnes langsung menampar dan memukuli Bang Zaldi. Tangisnya kembali pecah, sungguh ia sangat kecewa. Tak ada perlawanan dari Bang Zaldi hingga istrinya itu puas melampiaskan amarahnya.
"Lakukan apa yang Abang suka, nikahi dia dan ini tangisan terakhir Arnes" ucapnya begitu emosional.
"Yang mau menikah itu Abang, bukan suamimu" kata Bang Bima menyudahi keributan itu.
"Abang menutup kesalahan Bang Zaldi??" tanya Arnes.
"Om Aswin minta pertanggung jawaban Bang Zaldi kesini" Arnes masih berteriak.
"Saya kesini bukan untuk meminta pertanggung jawaban karena saya sadari Abang sudah menikah"
Hampir saja Arnes kembali hilang kesadaran tapi Bang Zaldi segera memotong pembicaraan itu.
"Bima yang menghamilinya. Itu anak Bima, bukan Abang. Kamu jangan pingsan lagi. Mau meninggal Abang lihatnya"
"Haaah.." Arnes masih terpaku.
"Ampuun Gusti.. Makanya.. dengarkan dulu orang bicara" tegur Bang Zaldi.
"Mbak Arnes, saya datang untuk mengabarkan kalau Puri sedang hamil. Terus terang saya dilema mengabarkan ini pada semua. Saya kecewa karena dengan lantang Bang Zaldi menolak anak ini. Tapi setelah saya tau anak ini adalah anak Bima, mau tidak mau saya harus membuka hati dan menentukan pilihan di antara pilihan tersulit dalam hidup saya. Bima tidak ada yang punya. Maka saya menyetujuinya"
Arnes menatap Bang Bima.
"Maaf, Abang membuat masalah jadi seperti ini" kata Bang Bima.
Arnes bersandar tak sanggup bicara. Bang Zaldi mengecup kening Arnes.
"Abang sayang kamu, nggak akan pernah Abang mengkhianati istri Abang" Bang Zaldi memeluk Arnes.
"Arnes pukulnya sakit nggak Bang?" tanya Arnes.
"Nggak terasa" jawab Bang Zaldi padahal ada sedikit memar di wajahnya. Sudut bibirnya pun berdarah.
"Nggak mungkin kamu sekuat itu, semalam Abang sudah buat kamu KO"
"Iihh, apa sih Abang" Arnes memalingkan wajahnya karena terlalu malu.
__ADS_1
"Ijin Bang, ada dua bujang ngenes nih" kata om Adi.
Bang Zaldi melihat tingkah malu-malu Arnes. Ia menatap wajah Arnes. Senyumnya pun mengembang
"Oke, cepat laksanakan pernikahan ini. Hari sudah siang. Kamu sama Puri diam disini dek. Jangan sampai pingsan lagi..!!" pinta Bang Zaldi.
"Jangan cakar-cakaran ya kalian. Itu anak sudah ada bapaknya masing-masing. Yang di perut jangan di ajari tawuran" pesan Bang Zaldi sambil melirik Arnes.
Bang Zaldi keluar dari ruangan.
"Jaga ruangan saya. Di dalam ada dua ibu komandan. Kalau sampai mereka ribut, kalian yang saya hukum" perintah Bang Zaldi.
"Siap Dan"
//
Akad nikah usai di laksanakan. Puri mencium punggung tangan Bang Bima. Bang Bima pun mencium kening Puri lalu memeluknya.
"Maaf, Abang membuatmu susah"
Puri menangis di pelukan Bang Bima. Bang Aswin yang tidak tega, kemudian memeluk mereka.
...
Bang Bima mengadakan acara kecil syukuran bersama anggota kompi. Puri sangat malu berhadapan dengan ibu-ibu sampai bersembunyi di balik punggung Bang Bima.
Bu Sanusi dan Bu Samsudin menghampiri Puri.
"Ijin Ibu, kita kumpul bersama ibu-ibu yang lain" ajak Bu Sanusi.
"Tapi Bu.." Puri menoleh pada Bang Bima saat Bu Samsudin menggandeng tangannya.
"Nggak apa-apa, sana kenalan. Kalau ada yang macam-macam.. nanti Abang yang turun tangan.
Bu Sanusi dan Bu Samsudin tersenyum melihat istri Pak Bima. Mungkin latar belakang Bu Bima memang buruk, tapi di dunia ini tidak ada yang tidak boleh memperbaiki diri dan berubah. Bu Bima adalah wanita yang sopan dan kalem sama seperti Bu Zaldi.
***
"Bagaimana Bim info terakhir dari kantor polisi?" tanya Bang Zaldi.
"Semua laporan kita mentahkan dan sudah tidak ada bukti lagi Bang, sekarang hanya tinggal menunggu laporan itu mengarah pada Inggrid" jawab Bang Bima.
"Aaarrghh sial..!! apalagi ini" Bang Zaldi mengerjap saat melihat dari hidungnya menetes darah segar. Ia segera mengambil tissue dan menghapus darah yang menetes.
"Abang istirahat saja. Sepertinya Abang terlalu lelah" kata Om Adi.
"Gampang.. ini saya mau lihat Arnes dulu. Tadi dia minta di belikan lipstik sama apalah itu yang di pasang di mata" jawab Bang Zaldi.
"Sebentar Bang, ada yang harus Abang selesaikan dulu..!!"
:
"Arnes, ini bagaimana ya..!! Saya nggak paham" kata Mbak Puri meminta bantuan Arnes untuk mengerjakan tugasnya.
"Oohh.. begini mbak.." Arnes mengajari Mbak Puri secara detail sambil terus mengunyah lemper di tangannya. Sejak tadi sudah ada sepuluh lemper masuk ke mulutnya.
"Arnes, setelah semua selesai.. kita belanja yuk. Bahan di rumah sudah habis" ajak Mbak Puri.
"Arnes ijin Abang dulu mbak"
"Jangan, nanti Bang Bima juga marah. Mereka berdua itu suka kepo kalau kita mau kemana-mana" tolak Mbak Puri.
"Oke lah mbak"
__ADS_1
...
"Kenapa kalian biarkan istri saya keluar kompi tanpa seijin saya..!!!" tegur Bang Zaldi.
"Siap salah Dan. Kata ibu.. sudah ijin dengan Komandan"
"Seharusnya kalian konfirmasi dulu dengan saya..!!!" Bang Zaldi begitu murka saat tau istrinya hilang entah kemana.
"Ini pasti gara-gara sapu buat mata. Apa yang begitu itu tidak bisa di tunda dulu????" gerutu Bang Zaldi.
"Sudahlah Bang.. Abang jangan mengomel terus. Lebih baik kita susul mereka ke kota. Puri masih saja mabuk padahal perutnya sudah besar"
"Dan adikmu selalu menguji kesabaranku. Jangan-jangan isi juga dia" kata Bang Zaldi.
"Eehh tapi nggak mungkin lah, saya hati-hati kok" ucapnya bergumam sendiri.
"Laah, pusing amat Abang.. gol juga ada bapaknya kok. Abang merasa aman nggak"
Bang Zaldi mengingat kejadian dua bulan yang lalu. Saat dirinya berusaha berhati-hati tapi ia samar mengingatnya.
"Nggak tau lah Bim. Kalau sudah mode terbang nggak ingat lagi waktu itu aman atau tidak. Seingat saya...." jawab Bang Zaldi.
Kakinya melangkah dan menyambar kalender meja, matanya melotot melihat tanggalan di meja lalu membuka lembaran dua bulan yang lalu. Bang Zaldi duduk di bangku panjang milik pos. Pandangannya menerawang seperti mengingat sesuatu.
"Aduuhh Bim.." Bang Zaldi menepuk dahinya.
"Kenapa Bang, Arnes isi beneran??" tanya Bang Bima.
"Sakit perut saya.. nggak bisa konsentrasi" jawab Bang Zaldi sambil mengusap perutnya.
"Kamu siapkan mobil, kita jemput sajalah mereka"
//
Bang Zaldi menunggu di parkiran yang tidak jauh dari lobby mall. Dengan kacamata hitam menutup mata elangnya, ia terus memperhatikan setiap orang yang keluar dari pintu lobby. Tak lama sosok Arnes dan Puri keluar dari mall.
Dengan langkah besar Bang Zaldi diikuti oleh Bang Bima yang berjalan di belakangnya menghampiri Arnes.
Saat akan membuka pesanan taxy online nya, Bang Zaldi menarik tangan Arnes.
"Saya bayar..!! Silakan pergi..!!" Bang Zaldi menyerahkan selembar uang merah pada sopir taxy online itu.
"Abang???" Arnes kaget sekali melihat Bang Zaldi ada disana.
"Berapa jam kamu pergi dari rumah?? Nggak ingat anak???" tanya Bang Zaldi dengan nada keras.
"Arnes sudah siapkan semuanya Bang. Bibi hanya tinggal menjaganya saja..!!" jawab Arnes.
"Itu anakmu atau anak bibi???" Bang Zaldi mengomel sambil menarik tangan Arnes berjalan menuju parkiran.
"Sini Abang lihat apa yang kamu beli sampai lupa sama anak"
Bang Zaldi menumpahkan isi kantong belanjaan Arnes di jok mobil belakang.
"Astagfirullah hal adzim.. deekk..!! Barang Iki gawe opo wae to ndhuk??????"
Saking emosinya dan panas terik, hidung Bang Zaldi sampai berdarah lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
.