Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 33. Asrama bikin repot.


__ADS_3

"Ijin Abang.. Abang di tempat??" tanya Bang Zaldi pada Bang Acep.


"Waduuhh.. saya ijin cuti ke Jawa Barat Zal. Ada apa??" jawab Bang Zaldi.


"Ijin.. saya mau melaporkan perihal pernikahan saya Bang. Arahan Abang..!!"


"Hmm.. tunggu sekembalinya saya dari Jawa Barat nanti saya cek semuanya" arahan Bang Acep selaku Danyon.


"Siap Abang"


***


"Assalamualaikum.." Bang Zaldi pulang dari kantor membawakan Arnes pisang ijo dan Coto Makassar lalu meletakan bawaan itu di atas meja.


"Wa'alaikumsalam..!!" Arnes membawa air dari ember sedikit demi sedikit, itu pun tidak penuh dalam ember berukuran sedang.


"Kalau sedikit begitu kapan penuhnya itu jambangan dek" tegur Bang Zaldi tapi suami Arnes itu memahami tubuh lelah istrinya tidak mungkin sanggup memindahkan air dari sumur yang berjarak lima belas meter dari teras dapur dalam ember yang besar.


"Abang saja lah yang isi. Ini sudah lima kali Arnes bolak balik angkat ember" ucapnya ingin menangis tapi ia menahan tangis.


Modyaaaarr aku kalau Arnes hamil masih angkat berat begini. Harus ekstra jagain si utun nih.


"Iyaa.. Abang yang timba airnya. Tadi kamu timba air nggak ada yang lihat khan?" tanya Bang Zaldi mulai posesif.


"Nggak ada Bang. Lagian siapa sih yang mau lihat??"


"Kamu sudah mandi apa belum? Itu cepat kamu panasi lagi Coto Makassar nya. Cepat makan siang. Belum makan khan?"


"Baru mau mandi"


"Nanti Arnes panaskan cotonya" jawab Arnes.


"Panaskan dulu sotonya, kamu makan dulu. Ini sudah jam berapa? Goreng telur pun nggak mau. Ini khan darurat dek. Kalau kita sudah belanja bisa masak yang lain" kata Bang Zaldi.


"Arnes kadang suka eneg sama telur, kadang juga suka sesak kalau makan telur"


Bang Zaldi diam memikirkan ucapan Arnes. selama ini jika sedang makan bersamanya, ia akan memisahkan lauk telurnya dan telur yang selalu ada di rumah hanya telur ayam kampung saja.


"Kamu alergi protein telur ya dek??" tanya Bang Zaldi.


"Iya..!!" jawab Arnes membenarkan ucapan Bang Zaldi.


"Ya Allah Tuhan.. Kamu ini dek" Bang Zaldi mengacak rambut Arnes.


...


Bang Zaldi memasukan ember terakhirnya di jambangan plastik besar yang Bang Zaldi beli sebelum pengajuan nikah. Suami Arnes itu menutup bagian dinding kayu di area dapur menggunakan ponco agar saat istrinya mandi tidak terlihat dari luar dan menutup bagian dalam dengan kain sprei beralas plastik demi kesopanan dan adab saat membersihkan diri.


Mengangkat dua ember besar sekaligus bolak balik membuat badannya berkeringat, ia pun menyusul Arnes mandi.


"Iihh Abang.. Arnes duluan" Arnes berjongkok menutupi badannya dengan tangan.


"Sama-sama saja. Abang sudah gerah sekali" jawab Bang Zaldi.

__ADS_1


Arnes pun tidak bisa menolak karena Bang Zaldi terlanjur dalam posisi on fight sudah membasahii diri tanpa ijinnya.


Si cantik Arnes melirik nakal memandangi suaminya tak sadar jika ia pun sedang basahh kuyup.


"Serius sekali. Lihat yang mana??" tanya Bang Zaldi yang ternyata menyadari arah pandangan mata istrinya.


Mendengar teguran Bang Zaldi. Arnes gelagapan mengalihkan pandangannya.


"Nggak.. Apa sih Abang" ucapnya berkilah.


Bang Zaldi menyambar handuk untuk menutupi dirinya kemudian menyambar handuk satu lagi untuk menutupi tubuh istrinya lalu membawanya ke kamar belakang.


...


Bang Zaldi mengerjap kaget saat mendapati dirinya tidak mengikuti apel sore. Arnes pun masih bergelung cantik di dalam selimut. Ia segera bangkit dan melilitkan handuknya mencari ponsel yang masih tersimpan di saku celana lorengnya.


Bang Zaldi menepuk dahinya.


"Aduuuhh.. enam puluh panggilan tak terjawab"


tok..tok..tok..


Bang Zaldi langsung menyambar celana pendek di dalam keranjang pakaian dan segera menuju ke ruang tamu.


Seorang anggota memberi hormat saat pintu ruang tamu sudah terbuka.


"Ijin Dan.. Kasi meminta Komandan untuk pergi ke kantor sekarang juga"


"Iya, terima kasih infonya. Saya segera kesana" jawab Bang Zaldi.


"Sakit apa Bu Zaldi??" tanya Kasi.


"Ijin.. adaptasi cuaca Dan" jawab Bang Zaldi secara formal.


"Apa benar hamil muda seperti yang sudah terdengar? Calon Nyonya sedang hamil, kenapa masih ada berita miring tentangmu dan Olivia?" Kasi ingin meluruskan kabar miring yang terdengar.


deg..


Baru beberapa jam saja isu miring itu sudah terdengar. Memang benar di area seperti itu tidak akan mungkin bisa menyembunyikan hal sekecil apapun.


"Ijin Bang.. hanya salah paham saja. Ada cctv di ruangan. Abang bisa cek sendiri apakah saya melakukan tindak asusila atau tidak" jawab Bang Zaldi.


"Saya berharap lain kali untuk lebih hati-hati menyaring informasi. Kalau istri saya dengar bisa fatal akibatnya Bang.. istri saya bisa sakit hati sekali mendengarnya."


"Oke Zal. Saya paham. Lain kali saya akan meredam berita seperti ini" kata Bang Basuki.


"Oya, kamu masih lanjut tinggal di mess khan?"


"Ijin Bang. Saya tinggal bersama Arnes istri saya" jawab Bang Zaldi.


"Kamu nggak bisa tinggal dengan Arnes......" cegah Bang Basuki mentah-mentah.


"Saya sudah menikahi Arnes Bang. Ini saya mau lapor sama Bang Acep tentang masalah itu, tapi Bang Acep sedang ambil cuti"

__ADS_1


"Suratnya???"


"Saya menikahnya mendadak Bang, surat nggak bisa langsung keluar. Harus tunggu beberapa waktu" kata Bang Zaldi berusaha menjelaskan.


"Kamu ini Zal. Ya sudah pulang sana..!!"


"Siap..!!!!"


...


Arnes duduk di kamarnya sambil merasakan sakit di kepalanya.


Tak lama terdengar suara motor Bang Zaldi.


//


"Hanya TBO dek. Kamu dengar dari siapa??" tanya Bang Zaldi


"Dari ibu-ibu waktu Arnes belanja di tukang sayur sore" wajah Arnes sudah siap menerkam meskipun nada suaranya terdengar tenang dan biasa saja.


"Astagfirullah hal adzim.. mulut ibu-ibu ini pandai sekali buat hancur rumah tangga orang" gumamnya kecil. Bang Zaldi pun mengambil duduk di samping Arnes.


"Abang harap kamu kebal dengan ocehan ibu-ibu. Kamu di besarkan di lingkungan seperti ini dan tau jika dalam asrama tidak akan lepas dari omongan orang sekecil apapun itu" kata Bang Zaldi menasihati.


"Arnes sudah biasa, tapi tetap saja Arnes nggak suka dengarnya" ucapnya tegas.


"Abang tau, Maaf ya..!! Abang tidur di ruangan karena sudah tidak ada kegiatan. Tidak terjadi hal yang tidak kamu sukai"


Arnes menarik nafasnya berusaha memaklumi jika di dunia ini salah paham bisa saja terjadi. Ia menyadari dengan apa yang sudah melekat pada diri suaminya memang terkadang menarik perhatian orang. Wajah tampan hitam manis, tinggi gagah penuh wibawa di tambah sikap dingin sudah cukup menjadi bahan diskusi di lingkungan asrama.


"Dek, jangan diam saja.! Kamu masih marah sama Abang?"


"Buat apa Arnes marah. Inilah suasana asrama. Welcome to asrama. Baguslah kalau sebentar lagi ada yang menggunjing kalau Arnes sedang hamil.. waahh Bu Zaldi lagi hamil ya..???" ucap Arnes menirukan bibir ibu kompleks yang sedang ghibah.


deg..


Jantung Bang Zaldi berdetak kencang, cemas memikirkan Arnes. Hormon wanita kadang mood swing. Sekarang baik-baik saja.. lima menit lagi sudah berubah.


"Kamu jangan banyak ngompreng dengan ibu-ibu kalau nggak ada butuhnya. Awas aja kamu kalau termakan omongan nggak jelas ibu-ibu.. terus sampai rumah kamu ajak Abang ribut. Abang hajar double kill betul kamu dek"


"Nggak Bang.. Abang nih ngancam terus" Arnes bersungut kesal"


"Abang nggak ngancam. Abang hanya mengingatkan. Kalau kamu termakan hasutan sampai kita ribut. Abang buat kamu mabuk sembilan bulan full"


Arnes mencibir di belakang punggung Bang Zaldi, siapa sangka suaminya itu tau kelakuan istrinya itu.


"Woooo semprul.. minta di uleni lagi ternyata" Seketika Bang Zaldi berbalik badan, mengunci dan menghimpit tubuh Arnes.


"Mana nih yang katanya atlet, bisa lawan Abang nggak kamu????"


"Hiiiiiihh.. Abaaaanngg" pekik Arnes yang tidak bisa berkutik dalam dekapan Bang Zaldi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2