Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 63. Haruskah mengalah.


__ADS_3

Bang Zaldi begitu puas dengan sanksi yang di terima dokter Inka. Tak bisa ia bayangkan hal buruk yang akan terjadi pada anak dan istrinya jika ia menyetujui surat kuretase itu. Bulu kuduknya meremang, hatinya terasa begitu nyeri.


"Terima kasih ya Pras, sudah mau membantu keluargaku"


"Sama-sama, sudah.. jangan terlalu di pikirkan. Sudah kewajiban seorang dokter untuk merawat pasiennya sesuai dengan prosedur. Saya pribadi mohon maaf karena ada kejadian yang tidak mengenakan ini" jawab dokter Pras.


Ijin kerja dan keanggotaan Inka di dunia kedokteran sudah di cabut karena kelalaiannya dalam bekerja. Bang Zaldi pun tidak memberinya ampun.


...


Arnes malu-malu melihat Bang Zaldi yang sedang menata barangnya sambil bercanda dengan Ibra putra semata wayangnya.


Sesekali Bang Zaldi menyangga tubuhnya pada kedua tangan yang bertumpu pada sisi meja.


"Abang kenapa?" tanya Arnes.


"Nggak apa-apa dek" Bang Zaldi memercing memegangi perutnya yang terasa terpelintir mengguncang lambungnya. Agaknya sekarang rasa seperti ini sudah mulai akrab dengannya meskipun meninggalkan rasa traumatis untuknya. Ia segera menggigit bengkoang yang sudah ia masukan pada lunch box yang sudah disiapkan Mama Anye untuknya. Perlahan serangan tepar itu memudar.


"Tau jadinya begini lebih baik Arnes saja yang mabuk Bang" kata Arnes.


"Haduuhh.. kamu pingsan terus buat Abang kalang kabut. Lebih baik Abang saja lah yang tanggung rasanya" jawab Bang Zaldi tidak tega.


***


Dengan gaya cool Bang Zaldi memimpin kegiatan kantor. Terpaksa ia membawa Ibra dan mengasuhnya agar tidak mengganggu Arnes yang sedang istirahat. Ia ingin istrinya lebih banyak waktu untuk beristirahat demi kesehatan Arnes dan bayinya.


"Mohon maaf ya saya sambil mengasuh. Tolong maklum dengan kondisi saya saat ini"


"Siap Danki.. kami mengerti..!!"


//


Bang Zaldi yang payah karena kondisinya tetap mengasuh putranya yang sedang belajar untuk berjalan.


"Pa_paa" ucap kecil dari bibir mungil Ibra.


"Waahh.. Apa sayang?? Ulangi lagi..!!" pinta Bang Zaldi saat mendengar kata 'Papa' untuk pertama kalinya. Hal kecil yang sangat sederhana itu begitu menyentuh batinnya.


"Ayo bilang lagi sayang"


"Paa_paaa" jawab Ibra kecil seolah mengerti ucapan papanya.


"Kamu memang jagoan papa. Nanti papa ajari kamu merayap ya, kita ikut halang rintang" semangat Bang Zaldi langsung tumbuh meskipun dirinya belum juga fit.


"Aswin.. Righan.. nyanyikan yel-yel beserta gayanya sekalian. Saya mau Ibra cepat bisa mengikuti" perintah Bang Zaldi pada Abang ipar dan juniornya.


"Ya ampun Bang. Arnes pasti nggak setuju Ibra di ajari hal berbau militer" kata Bang Righan.


"Asal kalian tidak buang suara. Arnes tidak akan tau" jawab Bang Zaldi.

__ADS_1


//


Menjelang siang Bang Zaldi menyuapi Ibra. Batita itu sangat senang makan puding susu buatan mamanya. Dengan telaten Bang Zaldi mengasuh putranya.


"Aduuhh.. jangan kesana Bang. Nanti masuk parit lagi, papa yang di hajar Mama. Kita main yang lain saja ya..!!"


Para anggota merasa salut melihat Danki mereka begitu sabar mengasuh putranya yang bisa di bilang banyak tingkah.


Seorang anggota meminta persetujuan Bang Zaldi dari kantor pusat untuk melatih kesatuan bantuan pengamanan di lingkungan kompi selama kurang lebih satu minggu lamanya.


:


"Ada laki-laki dan perempuan?? Tolong kalau untuk barak perempuan harap di sterilkan. Jangan ada sembarang pria yang masuk dan di buat sangat tertutup" perintah Bang Zaldi.


"Siap Danki..!!"


-_-_-_-_-


Hari ini Bang Zaldi terpaksa meninggalkan Ibra di rumah karena ada kegiatan lapangan dan pertemuan pertama dengan para anggota kesatuan bantuan.


Acara belum juga mulai, tapi nyali para anggota bantuan sudah ciut melihat tampang sang Danki BS yang sangar, kaku dan penuh wibawa. Tubuh atletis hitam manis membuat sebagian besar para anggota bantuan berjenis kelamin wanita menjadi 'gelap mata'.


"Saya harap kalian anda semua bisa mematuhi aturan yang berlaku. Tidak di perkenankan anggota di barak wanita berkeliaran di barak pria begitu juga sebaliknya. Untuk para wanita tidak boleh menggunakan pakaian ketat dan hanya boleh memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh panitia..!!!! Mengerti..!!!!!!"


"Siap.. mengerti pelatih"


"Silakan lanjutkan kegiatan..!!" perintah Bang Zaldi.


...


"Ternyata rujak isinya bengkoang, mangga muda dan tahu saja sudah enak begini. Apa ini karena efek aku tidak bisa makan makanan lain?" gumam Pak Kapten.


Zaldi yang awalnya tidak kuat dengan makanan pedas kini doyan dengan makan makanan pedas. Segala makanan yang biasa identik dengan wanita, kini ia sangat suka. Basreng, cimol, bakso, cilok, gorengan sampai seblak mulai di sukainya. Dirinya sangat berterima kasih pada para makanan tersebut karena makanan tersebut tidak membuatnya mabuk utamanya ubi mentah dan bengkoang.


"Ijin Danki.. Setelah ini ada kegiatan apa?" tanya seorang anggota meminta arahan Danki.


"Ajari kegiatan yang pokok saja. Fokuskan pada pengamanan dan cara menanganinya" jawab Bang Zaldi.


"Siap Danki.."


Bang Zaldi kembali melanjutkan acara makannya.


-_-_-_-_-


"Bang..!!"


"Daleem..!!"


"Arnes bisa ketemu Om Aswin?" pinta Arnes di hari yang sudah menunjukan jam dua belas malam.

__ADS_1


"Haaahh.. untuk apa kamu mau ketemu Aswin???" Bang Zaldi mulai kaku jika sudah menyangkut pria lain.


"Pengen pegang tangannya" jawab jujur Arnes.


"Hussstt.. ngawur..!! Saru to dek. Nggak boleh itu" tegur Bang Zaldi.


"Pengen mainan jambul, sama lihat kumis tipisnya" kata Arnes merengek manja.


"Astagaaa.. ini jambul Abang nganggur, ini juga ada kumis tipis. Daahh mau diapain Abang nggak pernah larang asalkan jangan punya Aswin" ucap tegas Bang Zaldi.


"Tapi yang minta si dedek" rengek Arnes.


"Nggak sayang.. Ini pasti mamanya juga baper. Kalau Abang minta pegang-pegang dokter Inka, boleh nggak??" sengaja Bang Zaldi bertanya seperti itu agar Arnes tidak bertanya lagi.


Arnes langsung melepas pelukannya dan menggendong Ibra.


"Urus saja Inka mu itu" Arnes langsung pindah ke kamar sebelah.


"Ya Allah, susahnya memberi pengertian pada bumilku" gumam Bang Zaldi frustasi. Ia memijat pangkal hidungnya. Pusing memikirkan sang istri.


...


Arnes menangis sesenggukan di dalam kamar. Bang Zaldi pun akhirnya tidak bisa tidur dan yang bisa ia lakukan hanya mengawasi istrinya yang sedang bersembunyi di dalam sana. Rasa tidak nyaman dan sakit kembali hadir saat sang istri tidak sedang baik-baik saja.


Semakin lama tak terdengar lagi suara Arnes. Bang Zaldi pun resah, ia mengambil kursi dan mengintip apa yang terjadi di kamar tengah.


"Astagfirullah.. Arnes..!!" Bang Zaldi kaget saat mendapati wajah Arnes sangat pucat, nafasnya pun terdengar berat.


Bang Zaldi mendobrak pintu kamar. Di sentuhnya kening Arnes yang ternyata sudah demam tinggi.


...


"Dia tadi minta pegang tangan Aswin sama mau pegang jambulnya yang nggak ada kerennya sama sekali" ucap Bang Zaldi dengan kesal.


"Laahh Bang, namanya juga ngidam. Ikuti maunya dulu kenapa sih Bang" kata Bang Righan.


"Kamu mau nggak kalau istrimu pegang laki-laki lain?? Baru saya bilang mau pegang Inka saja adikmu jadi ngambek begini"


"Kalau begitu mah Abang yang cari perkara. Orang ngambek malah Abang samakan dengan Inka. Syukur Abang nggak mabuk lagi gara-gara Arnes marah"


"Kata siapa saya nggak mabuk, ini saya tahan dari tadi brooo" jawab Bang Zaldi. Bang Zaldi menunduk meremas perutnya. Ia mengontrol dirinya agar mualnya tidak semakin menjadi.


Malam itu Arnes semakin parah, demamnya juga semakin meninggi.


"Bang.. sebaiknya kita minta tolong Aswin. Abang ikhlas atau tidak?"


Bang Zaldi menatap mata Righan dengan lekat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2