
Setiap jalan cerita sudah Nara perhitungkan. Dari kesamaan serta maksud dan tujuannya meskipun ada beberapa kemiripan. Jika tidak suka atau kurang cocok.. skip saja untuk saling menghargai.
🌹🌹🌹
Arnes mencengkeram lengan Bang Zaldi. Saat ini berdiri pun sangat sulit baginya. Pelan-pelan di aturnya nafas kecil yang terasa menyesakan.
"Kami mendapat perintah langsung dari walikota untuk meminta keterangan dari ibu Arnes terkait foto icon kota. Ibu Arnes juga tidak membayar denda karena melanggar kontrak"
Arnes sungguh terkejut mendengarnya. Seketika dirinya terserang rasa sakit yang begitu luar biasa.
"Abaang.. ini darah." ucapnya saat melihat ada lelehan cair berwarna merah di kakinya.
"Eghm.. Astagfirullah.." Bang Zaldi memejamkan matanya sekilas. Setengah mati hatinya sudah begitu ketakutan.
Dua langkah polisi maju, Bang Zaldi memperingatkan dengan tegas.
"Selangkah lagi kalian maju.. kita baku hantam..!!"
Polisi tak mengindahkan ucapan Bang Zaldi hingga akhirnya terpaksa Bang Zaldi mencabut pistolnya dan mengarahkan pada para polisi tersebut.
"Di luar profesi.. pakailah hati kalian. Saya tidak mau berdebat ataupun main kekerasan. Saya pertaruhkan jabatan dan diri saya. Tolong tahan dan redam dulu. Saya yang bertanggung jawab..!!" pinta Bang Zaldi. Suami Arnes membuang pistolnya. Bang Bima dan Om Adi memasang badan menghalangi Bang Zaldi yang membawa Arnes masuk ke dalam mobil.
:
"Iya sabar dek..!! Jalannya berbatu, kita nggak bisa jalan terlalu cepat" kata Bang Zaldi.
"Cepat sedikit Made..!!!"
"Siap Dan..!!"
Bang Zaldi menguatkan hati sampai menggigit bibirnya melihat noda yang masih melekat di paha dan kaki Arnes.
"Sa pung jantung mau terlepas ee" kata Pratu Markus.
...
Dokter Immanuel terheran heran melihat keluarga DanSat paling sering masuk rumah sakit.
"Yang benar saja Bang..!! Pasang cabut infus itu sakit..!!"
"Kamu nggak lihat istriku pendarahan???"
"Saya sudah pesan satu sama Abang. Anak dan istri Abang itu kuat. Tapi benturan yang tidak bisa di hindari lah yang akan memicu penyebab lemahnya kandungan istri Abang" kata dokter Immanuel.
"Kamu jangan banyak bicara Noe. Selamatkan anak dan istriku dulu..!!!!" ucap Bang Zaldi mulai kalang kabut.
//
Bang Bima berlarian di koridor membawa wajah cemas. Sesaat tadi dirinya yang bernegosiasi dengan pihak kepolisian mengingat kondisi Arnes yang tidak memungkinkan dengan membawa beberapa bukti terkait kasus yang menjerat Arnes.
Saat mendekati ruang tindakan, Bang Righan menghadang langkah Bang Bima agar tidak mendekati tempat itu karena Bang Zaldi sedang tidak bisa di ajak bicara tapi Bang Bima tetap menerobos.
"Arnes bagaimana Bang?" tanya Bang Bima.
Begitu mendengar suara Bang Bima, emosi Bang Zaldi langsung memuncak. Suami Arnes itu langsung menghajar Bang Bima membabi buta.
"Kamu ingin mati di tanganku?????"
__ADS_1
"Kamu terus menyalahkan Arnes sampai tidak memperhitungkan kondisinya. Sekarang anakku harus jadi taruhannya.."
"Aku nggak sengaja Bang..!!"
"Persetan dengan semua ucapanmu..!!"
Made, Markus, Om Adi dan Papa Rinto segera memisahkan perkelahian itu, sungguh Bang Bima bisa mati di tangan Bang Zaldi.
"Zaldi.. tenang sedikit kamu. Arnes sedang berjuang di dalam sana..!!" tegur Papa Rinto berusaha tidak membela putra maupun menantunya.
ckleekk..
Dokter Immanuel melepas masker medisnya.
"Kita bicara di ruangan saya Bang"
:
"Ini hasil yang sudah kami dapatkan" dokter Immanuel menyerahkan hasil USG dan hasil diagnosa.
"Terus terang perkembangan calon bayi Abang sekarang terganggu. Seluruh organnya lengkap Bang. Tapiii........"
//
Papa Rinto berkacak pinggang di hadapan Bang Bima yang masih mengusap bekas luka di bibir akibat hantaman Bang Zaldi.
"Kamu masih bisa bernafas saat ini hanya karena kamu Abangnya Arnes. Andaikan kamu bukan Abangnya Arnes mungkin nasibmu akan sama seperti Guntur. Zaldi itu bukan orang yang main-main dalam bertindak. Kenapa kamu bisa mati akal??"
"Aku sudah stress pa, jangan tambahi beban pikiranku lagi..!!" jawab Bang Bima.
Tiba-tiba seseorang menarik bahunya dan menghajar Bang Bima.
"Laki-laki b******k kamu Bimaa..!!!"
Bang Seno sangat marah dan langsung terbang dari Sulawesi untuk melihat masalah antara Bang Bima dan Arnes.
"Kamu bisa bilang apa kalau Arnes sadar nanti? Kuat kamu lihat adikmu menangis?? Tega kamu sama adikmu sendiri?"
Bang Seno mengintip dari kaca kecil di pintu kamar rawat Arnes, hatinya ikut resah. Takut jika nanti Arnes bangun. Di sana ia melihat Bang Zaldi yang dengan setia menemani Arnes. Wajahnya nampak kalut dan sedih.
Sakit juga melanda hati Bang Bima. Tapi saat ini dirinya masih terombang-ambing tidak jelas. Kakinya melangkah menjauh dari tempat itu.
-_-_-_-_-
"Kenapa Abang kesini lagi?" tanya Grace ( Puri ) pada Bang Bima.
"Adik Abang masuk rumah sakit karena Abang tidak sengaja membuatnya terjatuh" jawab Bang Bima kemudian meneguk minumannya. Wajahnya begitu kusut membawa rasa campur aduk.
"Mau ku temani??" tanya Puri dengan genit.
"Abang tidak mau saat kamu bersama Abang, sifatmu seliar itu" ucap Bang Bima.
"Aku harus bagaimana Bang? Aku ini memang seorang kupu malam" jawab Puri masih dengan gayanya.
"Saat bersama Abang, Abang tidak ingin melihatmu seperti itu. Tunjukan apa adanya dirimu di hadapan Abang"
Puri bersandar di bahu Bang Bima.
__ADS_1
"Bolehkah wanita sepertiku mendengar keluh kesahmu?"
Bang Bima menghisap rokoknya dengan kuat lalu menenggak minuman.
"Rasa bersalah atas kematian Livi masih melekat kuat dalam hati Abang, Abang juga masih belum terima kehilangan putri kecil kesayangan.........."
:
"Maaf ya Bang, bukannya aku mau menggurui Abang, tapi dari cerita Abang, nampaknya Abang yang tidak bisa memilah dan mendahulukan mana yang menjadi prioritas. Arnes khan sudah punya Bang Zaldi, untuk apa Abang serepot itu, harusnya Abang bisa lebih memberikan perhatian pada Livi. Apa yang dia lakukan karena kurang perhatian dari Abang. Coba Abang ingat, berapa kali Abang mengucapkan kata sayang untuk Livi? Memberinya hadiah? Mengantar ke Dokter atau mengajaknya berhubungann badan??" ucapan Puri tajam menusuk hati Bang Bima.
"Arnes tidak salah dan tidak pernah salah Bang. Arnes itu mengidam dan semua bukan murni keinginannya. Apa Abang tidak peka dengan hal seperti itu?? Semua itu alami bawaan bayi Bang" tanya Puri.
Bang Bima tampak pias mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Arnes. Air matanya mengalir menganak sungai. Puri pun membawa Bang Bima masuk ke dalam kamar.
***
"Jangan pa, jangan sampai Arnes melihatnya.. kalau Arnes sampai melihatnya, dia tidak akan bisa melupakannya seumur hidupnya" ucap Bang Zaldi, tangannya gemetar menyentuh apa yang di lihatnya saat ini.
Pagi masih buta, embun masih menutup jalanan tapi awan duka menyelimuti hati seluruh keluarga terutama Bang Zaldi.
Hidung mancungnya menyentuh hidung bayi mungil yang telah terlepas dari tubuh ibunya. Jagoan kecil yang belum sempat melihat indahnya dunia. Tak tau lagi bagaimana ia merasakan dirinya. Bayi itu hanya sepanjang telapak tangannya. Rasanya begitu sakit, dua kali kehilangan benar-benar memukul jiwanya.
"Di makamkan jam berapa Zal?" tanya Papa Rinto.
"Setelah adzan subuh pa. Kalau bisa sebelum Arnes kembali sadar" jawab Bang Zaldi lalu menengadah menguatkan batinnya sendiri.
Bang Seno membuang nafasnya perlahan. Tak sanggup melihat keadaan ini.
Tidak hanya keluarga yang bersedih, tapi kesedihan ini sampai ke hati keluarga besar anggota kompi.
//
Sholat subuh sudah usai. Bang Zaldi meremas dadanya karena hatinya belum benar-benar siap menerima kenyataan ini.
"Ijin Dan.. semuanya sudah siap" kata Markus.
"Daan.. Ijin.. tunggu dulu Daaan..!! Ibu Arnes baru saja sadar" Made berlarian sampai ke mushola rumah sakit.
"Aduuh Tuhan.. Bagaimana ini??"
:
"Eghhh.. sakit sekali" pasca tindakan masih meninggalkan rasa sakit untuk Arnes dan masih merasakan mual karena sisa obat bius yang tertinggal.
"Sabar sayang.. sebentar lagi sakitnya mereda" kata Bang Zaldi.
"Bang.. tolong panggilkan dokter. Arnes takut anak Abang ada apa-apa" pinta Arnes.
Di titik inilah keteguhan mental seorang Zaldi di uji.
.
.
.
.
__ADS_1