
"Surat pendirian gedungmu ini tidak valid dan kesalahanmu, kamu membuat bisnis terselubung" kata Bang Rinto.
"Cafe kopi ini tampak biasa di luar, tapi sangat luar biasa di dalam. Celakanya.. ini berdiri di atas tanah tentara"
Mami gemetar mendengar ucapan Bang Rinto yang tau rahasianya.
"Saya bisa menekuk kaki pria yang membantumu meloloskan usaha ini dan seketika usahamu ini akan hancur dan rata dengan tanah" gertak Bang Rinto.
"Kau mengancam ku??" tanya Mami.
"Tidak.. tapi kalau kau merasa terancam. Itu bukan urusan saya" jawab Bang Rinto.
Mami memanggil anak buahnya.
"Usir Mawar dari sini. Buang semua barang bawaannya..!! Dia bisa membawa petaka untuk kita..!!!!"
-_-_-_-_-
Mawar menunduk dan terdiam tidak tau harus berkata apa.
"Kamu tinggal di belakang Batalyon. Disana ada rumah makan dan kamu bisa kerja disana..!!" kata Bang Rinto.
"Tapi saya nggak punya ijazah untuk melamar kerja"
"Nanti saya yang bilang pada mereka" Bang Rinto tetap fokus mengendarai mobil tanpa menatap Mawar sedikit pun.
"Terima kasih pak"
"Sama-sama" jawab Bang datar.
...
"Oohh.. ini ya pak?" tanya seorang pria pada Bang Rinto.
Bang Rinto mengangguk.
"Silakan masuk. Mulai besok Mbak Mawar sudah bisa kerja. Kalau mbak Mawar bisa nyanyi.. silakan bernyanyi sebagai sambilan dan tambahan uang saku" kata pria tersebut.
"Terima kasih ya pak, pak Anwar" Mawar berterima kasih pada kedua pria itu.
flashback off
***
"Lebih baik jangan kesana Bang. Apa nggak ada tempat lain lagi selain club malam??" tanya Bang Rinto menyadarkan Bang Satriyo.
"Ya sudahlah.. kita ke restoran kamu aja. Katanya resto kamu sangat ramai" jawab Bang Satriyo.
"Biasa saja Bang"
"Kita nongkrong di balkon resto mu saja..!!" ajak Bang Rinto.
"Kapan Bang?"
"Sekarang saja" Bang Satriyo tidak sabar ingin melihat resto yang dalam beberapa bulan ini maju pesat dan baru ia sadari ternyata resto itu adalah milik Kapten Rinto Dirgantara.
-_-_-_-_-
__ADS_1
"Ramainya Rin.."
"Alhamdulillah Bang. Ceperan buat anak istri, daripada diam saja di rumah" kata Bang Rinto.
"Bukannya kamu punya show room mobil dan juga bengkel motor?" tanya Bang Satriyo.
"Husstt.. Abang ini apa mau bongkar rahasia?" Bang Rinto merasa tidak nyaman saat Bang Satriyo mengintrogasi dirinya.
"Ya sudah ayo cepat naik..!!" ajak Bang Satriyo.
...
Suara seorang wanita terdengar merdu, wanita itu terus saja menatap Bang Rinto. Gathan dan Brian pun melihat hal yang sama. Tatapan mata gadis itu sungguh tidak bisa di jabarkan.
Rinto santai saja mendapat tatapan mata dari Mawar karena memang ia tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu.
"Kurasa sejak tadi penyanyi itu menatapmu" tegur Brian memberi tau Rinto.
"Biarkan saja..!! Dia punya mata" jawab Bang Rinto.
"Tapi kurasa tatapan ini beda Rin. Dia seperti menaruh perhatian lebih padamu" kata Bang Rinto.
"Sudah Bri.. Apapun itu, hatiku hanya untuk Anye"
Mendengar Jawaban Rinto, Brian merasa aneh karena selama ini Rinto tidak pernah sekaku ini dalam menghadapi pertanyaannya tentang wanita.
"Aku tidak sedang menuduhmu. Kau ini aneh sekali"
Bang Satriyo dan Gathan pun akhirnya ikut heran dengan sikap Rinto.
Lagu dan musik telah usai. Wanita yang membuat Rinto tegang itu pun telah turun dari panggung. Sekilas wanita yang ternyata adalah Mawar itu melempar senyum pada Rinto.
...
"Pak Toriq maksudnya??" tanya Mawar tidak paham saat Brian menghadang jalannya.
"Terserah siapa yang kau sebut. Yang jelas orang yang kusebut tadi memakai kaos berwarna hitam dan berjambul rapi. Apa kamu mengenalnya?"
"Iya saya kenal"
"Di mana kamu kenal Rinto?" tanya Brian.
"Di club malam kota lama" jawab Mawar.
"Apa katamu???? Ceritakan sama saya..!!!"
#
Brian tau tidak seharusnya ia memikirkan Anye lagi apalagi kini ia telah memiliki Ariani dalam hidupnya. Tapi mendengar perkataan Mawar, hatinya ikut sakit membayangkan apa yang Rinto lakukan dengan Mawar. Rinto bukannya menjauh dari Mawar dan malah sampai detik ini membawa Mawar dekat dengannya.
"Kenapa kau jadi diam saja?" tanya Rinto sembari melirik Brian yang hanya melihat ke arah jalanan.
"Iya Bang, sejak dari toilet tadi, Abang banyak diam" jawab Gathan membenarkan ucapan Bang Brian.
"Ngantuk saja. Ini sudah jam setengah dua pagi" jawab Brian datar. Ia berusaha tenang menata hatinya.
Rinto merasa ada yang tidak beres tapi ia pura-pura tidak tau agar suasana menjadi netral kembali.
__ADS_1
...
"Kenapa baru pulang jam segini Bang?" tegur Anye pada Bang Rinto yang baru saja naik ke atas ranjang.
"Maaf dek. Bang Satriyo minta ke restoran kita" jawab Bang Rinto.
"Kenapa nggak di ajak ke cafe aja Bang?"
"Bang Satriyo malah ajak Abang ke club malam yang di kota lama dek.. yang dari luar nampak biasa tapi dalamnya sudah club malam kelas berat" jawab Bang Rinto.
"Nggak apa-apa lah Bang kalau hanya sekedar refreshing "
"Kamu ini. Kalau Abang khilaf bagaimana?? Kuat kamu??" tanya Bang Rinto.
"Kuat, asalkan satu kali saja Abang khilaf.. untuk selanjutnya nggak pernah ada Mawar lagi" ucap Anye kuat meskipun Bang Rinto tau pasti dalam hati Anye merasa terluka.
"Mawar adalah urusanmu dek. Bukan urusan Abang lagi. Abang pasrah. Nggak akan ikut campur apa yang akan kamu lakukan" Bang Rinto sungguh merasa sangat bersalah hingga detik ini.
Rinto sempat menceritakan perihal pertemuannya di club malam saat ia sedang merasakan rindu sekaligus cemburu. Bahkan Bang Rinto menceritakan apa yang pernah ia lakukan dengan Mawar di dalam kamar beberapa hari setelah mereka menikah kembali. Bukan hal mudah untuk Bang Rinto bicara jujur. Awalnya Anye sempat menangis dan Bang Rinto bisa memahami perasaan istrinya. Saat Anye sudah tenang, ada ucapan Anye saat itu yang selalu teringat dalam hati Bang Rinto.
🥀🥀🥀
"Anye tau Abang sedang dalam posisi yang sulit. Sekian lama Abang merindukan saat-saat kita sedang berdua tapi Abang malah melihat Anye bersama dengan Bang Brian"
"Maaf, Abang memang pencemburu"
"Nggak masalah Bang. Sekarang dengar Anye ya Bang. Di waktu yang Abang sebutkan itu, Bang Brian memang mengajak Anye berhubungan, tapi Anye sadar pernikahan dengan Bang Brian sudah batal, Anye menolaknya dan tidak terjadi apapun diantara kami Bang"
"Abang juga tidak melakukannya dengan Mawar, sungguh. Demi Allah dek" Bang Rinto memeluk erat tubuh Anye. Anye bisa merasakan bagaimana menyesalnya bang Rinto saat itu.
"Abang nggak mau kamu dengar dari orang lain tentang hal ini. Abang memang mencumbui Mawar, tapi Abang nggak berhubungan badan dengan Mawar dek"
"Sudahlah Bang, nggak apa-apa. Saat itu status kita sedang dalam proses resmi. Anye yang seharusnya minta maaf" kata Anye.
"Sekarang tidak ada Bang Brian atau Mawar lagi. Apa mau kita hapus sama-sama?" tangan Anye meraba perut hingga ke pinggang Bang Rinto.
"Mau.." Bang Rinto pun membalas perlakuan Anye.
🥀🥀🥀
"Abang tegang sekali kalau bicara tentang Mawar" Anye tertawa melihat Bang Rinto bagai harimau tanpa taring.
"Abang takut kamu marah" ucap jujur Bang Rinto dengan nada manjanya. Bang Rinto menyerusuk di dada Anye.
"Iya marah, marah sekali. Bisa-bisanya Abang nggak bilang sama Anye dan langsung menemui wanita lain..!!" goda Anye dengan suara yang dibuat kesal.
"Maaf ayank.. Abang nggak berani lagi, Nggak akan ulang lagi" jawab Bang Rinto dengan was-was. Mata Bang Rinto menatap Anye dengan cemas dan itu membuat Anye ingin tertawa terbahak.
"Bang, seksi mana Anye dengan Mawar??" tanya Anye menguji Bang Rinto. Seperti sifat perempuan pada umumnya yang suka mencari masalah dengan laki-laki.
"Jangan tanya lagi lah dek. Kalau Abang salah jawab, bibir Abang bisa pindah di pinggir nih" jawab Bang Rinto cemas.
"Jawab saja Bang. Tinggal jawab saja apa susahnya?" tanya Anye mulai cari perkara.
"Seksi Mawar sedikit.. tapi banyak di kamu ma" Bang Rinto langsung membungkam bibir Anye dengan kecupannya daripada Anye akan menginterogasi dirinya macam-macam sekalian Bang Rinto pun sebenarnya sudah gemas dan merindukan istri kecilnya itu.
.
__ADS_1
.
.