Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 16. Belum mengakui.


__ADS_3

"Selama disini, Abang jalan kemana saja??" tanya Arnes saat Bang Zaldi mengajaknya makan siang di pinggir pantai.


"Nggak kemana-mana. Abang sudah bosan kelayapan. Paling suasana pantai ya begitu-begitu saja" jawab Bang Zaldi sambil melahap ikan kakap saus asam manis.


Tanpa diminta, Bang Zaldi menyuapi Arnes.


"Wanita disini cantik-cantik ya Bang. Arnes lihat di foto yang selalu Abang kirim" kata Arnes yang sepertinya bernada tidak suka saat tau disana banyak wanita cantik.


"Memangnya kenapa? Biasa saja" jawab Bang Zaldi.


"Wanita yang ada di dalam foto itu, yang berdiri di belakang Abang.. terus melihat Abang"


"Masa sih? Mana fotonya? Abang nggak pernah juga dekat sama perempuan" ucap Bang Zaldi.


Arnes menyerahkan foto yang Bang Zaldi kirim kemarin sambil terus mengunyah karena Bang Zaldi terus menyuapinya.


"Ya Allah... jadi dia" Bang Zaldi rasanya muak sekali kalau harus mengingat kelakuan Aning.


"Abang kenal??" tanya Arnes.


"Kenal sih nggak, hanya sekedar tau saja" jawab Bang Zaldi sudah malas menanggapi.


Arnes pun tau pasti kalau Bang Zaldi sudah berwajah masam berarti kemungkinan besar ada hal tidak menyenangkan yang terjadi.


-_-_-_-_-


Bang Zaldi menurunkan barang di depan rumah dinas yang akan mereka berdua pakai nantinya. Arnes melihat ke sekitar. Jarak antar rumah lumayan jauh, bentuk rumah itu seperti rumah panggung. Kini Arnes baru tau kalau di daerah yang jauh disana ada rumah para anggota yang berbentuk rumah panggung, beralas kayu dan bertikar plastik agar terlihat sedikit lebih indah.


"Ayo turun..!!" ajak Bang Zaldi. Melihat Arnes tidak segera turun.. Bang Zaldi pun membukakan pintu mobil untuk Arnes.


"Ini rumah kita"


Mendengar kata 'rumah kita' Arnes tersipu malu.


"Tapi Abang nggak tidur disini dek. Abang dilarang tidur disini karena kita belum menikah" raut wajah Arnes langsung berubah mendengarnya.


"Sudah jangan takut. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi Abang. Masa istri tentara takut?" goda Bang Zaldi.


...


"Abang.. ini kompor minyak tanah ya?" tanya Arnes.


"Iya, kamu bisa pakainya nggak??" tanya Bang Zaldi setengah berteriak sambil menata pakaian Arnes dan menata pakaiannya juga karena Bang Zaldi sudah membawa sebagian pakaiannya tadi pagi.


"Ehmm.. bisa Bang" jawab Arnes tak meyakinkan. Ia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan Bang Zaldi.


Bang Zaldi memutuskan meninggalkan sebentar pekerjaannya dan menuju dapur.


"Lah dalaaahh.. itu gimana sich api di sulut kok malah di masukan di lubang minyak. Nyalakan api ya di sumbunya donk dek. Kamu belum pernah pakai kompor minyak ya?? Hayoo ngaku..!!!!!!!"


"Yaaa.. anuu.. ini sih Bang. Arnes nggak pernah coba" jawab Arnes sambil menggaruk kepalanya.


"Walah gustii.. bilang dari tadi to dek. Kalau nggak ada Abang terus rumah ini terbakar gimana???" tanya Bang Zaldi.


"Lebih baik kamu sapu rumah dulu" kata Bang Zaldi sambil merebut korek api di tangan Arnes.


Bang Zaldi kembali menata pakaiannya. Ia melihat ada pakaian yang tertata rapi di dalam kotak plastik transparan. Bang Zaldi celingukan melihat keberadaan Arnes kemudian membuka kotak plastik itu.


"Waahh.. wanita itu super steril. Satu hari ganti berapa kali???" gumamnya tersenyum nakal.


"Apa faedahnya membawa baju umpan sekarang? Apa dia mau jadi umpannya?" Bang Zaldi mengamati pakaian yang menurutnya lebih mirip saringan kelapa. Pikirannya pun sudah bertamasya.


Bang Zaldi mengambil u***rw**r Arnes yang bermacam-macam motif membuat hatinya semakin tidak tenang.


"Amazing.. mantap kaliii.. aku suka yang ini. dusty.." gumamnya sibuk sendiri.


"Abang cari apa?"

__ADS_1


Refleks Bang Zaldi menyelipkan barang itu di celana kolor bagian depan dan menutupinya dengan kaos.


"Abang bantu kamu tata baju" jawab Bang Zaldi nampak tenang.


"Iiiihhh Abaaaanngg.. kenapa barang kesayangan Arnes berantakan??? Ini khan sudah di dalam kotak, nggak perlu di bongkar untuk di tata lagi" protes Arnes dengan cemberut.


"Ya Abang pikir mau di tata di lemari" Bang Zaldi pun berniat meninggalkan kamar untuk membuat kopi.


"Tunggu.. " Arnes menghentikan langkah Bang Zaldi saat melihat ada sesuatu di kolor depan Bang Zaldi. Arnes pun mengangkat kaos Bang Zaldi dan menarik sesuatu yang ternyata barang pribadi miliknya.


"Abang kenapa bawa barang pribadi Arnes?? Waahh.. jangan-jangan Abang mau santet Arnes nih" pekik Arnes.


"Deeeehh... Ambil dah barangmu, Abang tadi kaget aja waktu lihat koleksi antikmu. Karena gugup ya Abang simpan. Takut kamu mikir macam-macam" jawab jujur Bang Zaldi.


"Ya jelas mikir macam-macam lah Bang. Di antara dua nih. Abang mau santet atau Abang mesum? Ayo jawab???" tanya Arnes.


"Gila kamu. Buat apa Abang santet istri Abang sendiri??" jawab Bang Zaldi tidak terima.


"Oke fix, berarti Abang mesum" ucap Arnes tegas.


"Ya Tuhanku.. Kalau mesum kenapa sih. Abang khan hanya mikir kamu aja, bukan perempuan lain" Bang Zaldi sudah frustasi menghadapi calon Nyonya Erzaldi tercinta.


"Nggak boleh Bang. Kita belum nikah"


Bang Zaldi mendekati Arnes lalu mengecup bibirnya sedikit lebih dalam.


"Makanya jangan lama-lama dek.. Anakmu ini sudah berontak semua pengen pindah tempat main" ucap Bang Zaldi membuat Arnes berwajah semerah tomat.


"Iihh Abaaaanngg.. jangan di ulang lagii..!!!!!" pekik Anye saat Bang Zaldi sudah melenggang meninggalkannya di dalam kamar.


Arnes sangat kesal tapi ia juga cukup terkejut karena sekarang Bang Zaldi sudah berani mengecup bibirnya.


//


Huuuuhh.. Arnes.. Menemanimu seperti ini buat Abang jadi gila rasanya.. Belum satu hari saja Abang sudah terpancing. Kamu jangan aneh-aneh ya dek. Please.. Bantu Abang. Sekuat apapun iman laki-laki kalau sudah takdirnya tergoda, pasti jebol juga dek.


"Ya.. seperti di tempat ibu. Jauh dari rumah" jawab Bang Zaldi.


"Itu, di tengah pepohonan itu" tunjuk Bang Zaldi pada rimbunnya pepohonan.


"Apa nggak ada yang punya kamar mandi dalam Bang?" tanya Arnes.


"Nanti sambil berjalan Abang buatkan. Disini yang punya kamar mandi dalam harus punya tandon bawah tanah di bawah rumah panggung, tapi sayangnya tandon kita lagi bocor karena lama rumah ini tidak di tempati, jadi sementara ya mandi di sumur dulu" kata Bang Zaldi.


"Jadi closed juga nggak ada Bang?????"


"Ada di barak selatan. Kamu khan datangnya dadakan. Abang belum persiapan. Maaf ya..!!"


"Arnes takut Bang kalau disini sendiri" Arnes memang belum berani sendiri disana. Lingkungan disana sangat jauh berbeda seperti apa yang ada dalam pikirannya.


"Mess Abang dekat kok. Kelihatan dari rumah sini ke arah timur. Gorden mess Abang yang warna coklat" kata Bang Zaldi.


"Kalau kamu lihat hantu, lari saja kesana..!! Kita tidur sama-sama, sama hantunya sekalian" Bang Zaldi tertawa renyah. Rasanya senang sekali bisa mengerjai Arnes seperti ada kepuasan tersendiri.


"Nggak lucu Bang" Arnes mulai bersungut kesal.


...


"Ijin mendahului Dan" sapa beberapa om-om remaja disana.


"Iya.. silakan.. lanjut saja" jawab Bang Zaldi sebelum om-om itu meninggalkan tempat.


Malam hari Arnes dan Bang Zaldi makan nasi goreng di lapak depan Batalyon setelah berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga. Tak lama Arnes bersandar di bahu Bang Zaldi, badannya juga terasa hangat.


"Badanmu kok demam dek???"


"Sepertinya Arnes PMS deh Bang. Arnes belum minum obat" kata Arnes.

__ADS_1


"Pak, tolong buatkan jeruk hangat ya..!!" pinta Arnes pada pedagang nasi goreng.


Tak lama jeruk hangat pesanan Bang Zaldi sudah ada di meja.


"Minum dulu..!! Masa mau haid aja sampai begini sih dek? Biasanya tanggal 30 khan? Ini masih tanggal 15. Mungkin kamu kecapekan" Arnes pun meminum jeruk hangat dari Bang Zaldi.


"Sudah keturunan dari Mama begitu Bang. Tapi Arnes khan ada riwayat kelebihan hormon"


Bang Zaldi mengangguk mulai paham.


"Terus gimana ini? Mau makan apa nggak? Atau Abang suapi ya?"


"Di suapi Abang"


Bang Zaldi pun tak banyak berdebat. Sejak mengenal Arnes, rasanya dunianya berubah seketika. Kini Bang Zaldi lebih banyak memahami apa arti sebuah rasa sayang. Sifat kakunya perlahan kendor.


Bang Zaldi melihat jam tangannya.


"Satu jam lagi Abang ambil apel dek. Belum sikat sepatu lagi..!!"


"Ya sudah kita pulang saja Bang"


"Santai saja..!! Abang yang ambil apelnya" jawab Bang Zaldi.


-_-_-_-_-


Saat sedang memberi pengarahan. Bang Zaldi melihat ada seseorang masuk ke rumah dinasnya. Saking tidak tenangnya, Bang Zaldi hanya memberikan apel selama lima belas menit saja.


...


Bang Zaldi benar-benar mendengar suara seorang pria di dalam rumahnya.


"Tambah cantik aja kamu" kata pria itu.


"Iihh.. Abang jangan ngeledek" Arnes terlihat akrab sekali dengan pria itu membuat dada Bang Zaldi rasanya panas terbakar. Apalagi Arnes tersenyum malu-malu saat menerima banyak barang dari pria itu.


braaaaakkkkk...


Kakinya yang masih berbalut sepatu PDL segera menendang pintu rumah hingga terlepas engselnya.


"Abaaaaaang..!!!" Arnes menunduk dan hampir tertimpa pintu andaikan pria itu tidak menahan pintunya.


"B******n kamu Righan.. Beraninya kamu mendatangi istri saya saat saya tidak di rumah..!!!!"


"Abang sabar Bang..!!" kata Righan menahan tangan Bang Zaldi juga karena seniornya itu bersiap akan menghajarnya juga.


"Sabar matamu..!!!!!!!!!!" Bang Zaldi sudah terbawa emosi.


"Saya Abangnya Arneees..!!" ucap Righan saat tangan Bang Zaldi mulai melayang.


//


"Kalian berdua ini apa-apaan kucing-kucingan seperti ini?????" tegur Bang Zaldi saat sudah tau cerita yang sebenarnya dari Arnes dan Righan.


"Dan kamu dek. Sudah tau sifat Abang ini keras. Kamu malah menyulut emosi Abang. Kalau Abang sampai menghajarmu juga gimana sayang??????"


Arnes tersenyum kecil. Ini pertama kali sejak mengenal Bang Zaldi.. pria itu memanggilnya 'sayang'.


"Nggak akan. Abang khan sayang Arnes. Iya khan Bang"


"Hmm.." jawab Bang Zaldi singkat sambil mengawasi beberapa anggotanya yang sedang memperbaiki pintu rumahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2