
Penyembuhan seperti ini adalah penyembuhan seumur hidup ya kawan. Bukan untuk sembuh satu atau dua hari seperti kita sakit demam. Menghindari barang tersebut amat sangat butuh perjuangan. Maka kita harus menghargai hidup kita..!!!
🌹🌹🌹
Bang Zaldi berusaha keras membujuk putranya tapi Ibra terlihat masih marah padanya. Perlakuan kasar yang tanpa ia sadari sudah meninggalkan memori buruk pada pikiran Ibra.
"Sebaiknya kamu bersikap mesra saja di hadapan anakmu..!!" nasihat Papa Rinto.
Sebenarnya tanpa di minta pun Bang Zaldi sudah sangat lembut memperlakukan istrinya, jadi tidak sulit juga baginya jika harus bersikap mesra di hadapan kedua putranya terutama Ibra.
:
"Harus mulai darimana? Abang nggak tau bagaimana caranya mesra-mesraan. Abang taunya mesra di kamar" gumam Bang Zaldi sambil memangku Arnes. Tangannya mengusap gemas perut Arnes yang jika di perhatikan memang sudah sedikit buncit.
"Nanti saja kita pikir caranya. Arnes capek sekali Bang, badan Arnes sakit" kata Arnes.
Perlahan Bang Zaldi mengarahkan punggung Arnes agar tidur di sofa. Bang Zaldi menaikan kedua kaki Arnes pada pahanya lalu memijatnya.
"Kapan perutnya besar dek. Abang pengen lihat perutmu besar?"
"Abang mau lihat Arnes jadi gendut?" tanya Arnes sudah penuh ancaman.
"Eehh nggak, maksud Abang.. Kapan kelihatan besarnya si dedek? Papanya kangen ini lho..!!" Bang Zaldi sedikit membungkuk dan menciumi perut Arnes.
"Neng Popon kapan besar, berenang sama papa yuk. Nanti papa belikan b****i" kata Bang Zaldi.
Sontak Arnes menyentil bibir Bang Zaldi.
"Anaknya jangan di ajari jelek dari bayi ya Bang. Harusnya Abang bilang, nanti papa belikan jilbab.. kita belajar ngaji..!!" tegur Arnes tidak terima.
Bang Zaldi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terus terang apa yang dirinya katakan adalah refleks murni pikiran laki-laki.
"Di pikiran Abang juga begitu, tapi malah kata itu yang terlepas dari mulut"
"Sumpah Abang memang mintanya di cakar" Arnes melirik Bang Zaldi dengan tatapan jengkel.
"Eegghh.." Arnes merasa perutnya kram. Tangannya meremas erat jemari Bang Zaldi.
"Abaaang.. Arnes nggak kuat. Sakiiiit sekali..!!!"
"Dek.. kamu kenapa dek..????"
"Mamaaaa.. Arnes ma..!!" teriak Bang Zaldi panik memanggil Mama mertuanya.
...
Bang Zaldi membeli obat sesuai petunjuk yang Mey berikan pada Bang Zaldi. Entah mengapa hari ini banyak sekali orang sakit, di apotik antrian cukup panjang. Jika ingin pindah apotik lagi pasti akan butuh waktu perjalanan dan antrian lagi, maka sabar adalah keputusan yang tepat bagi seorang Zaldi yang tipis punya stok sabar.
:
Beberapa anggota yang tadi di minta mengikuti DanSat tidak bisa menemukan pria yang belum pulih dari masa karantina. Mereka sama sekali tidak bisa menemukan jejak DanSat. Ada berita tidak mengenakan yang sama sekali belum di ketahui DanSat.
__ADS_1
Di tempat lain yang tidak jauh dari sana. Bang Zaldi memijat pelipisnya, macet di jalanan membuatnya semakin gelisah memikirkan Arnes.
"Jiangkriikk.. Ono opo sih????" Bang Zaldi menghantam speedometer motornya dan mengumpat kesal.
Perjalanan yang terasa lambat merambat itu akhirnya terlewatkan sudah.
Sekitar satu jam dalam perjalanan pulang, sampailah Bang Zaldi di depan gerbang asrama. Ia pun segera berbelok melaju cepat agar bisa segera sampai ke rumah.
Begitu sampai di depan rumah, jantungnya serasa berhenti berdetak, darah tak bisa mengalir, nafas pun seakan tiada guna saat matanya menatap bendera kuning berkibar di depan rumah.
Secepatnya Bang Zaldi turun sampai tidak ingat motor kesayangannya belum sempat ia parkir dengan benar sampai Bang Zaldi terjungkal jatuh bangun.
"Dan.. ijin.." Pak Sanusi ingin melaporkan kejadian hari ini.
"Arneess..!!! Arneeeeesss...!!!!!!!!!!" teriaknya histeris tak terkendali.
"Abang.. sabar Bang..!!" Om Adi menyergap Bang Zaldi.
"Aarneeeeesss..!!!!!" Bang Zaldi berontak melepaskan diri sampai menghantam Om Adi dengan sikunya. Bang Zaldi pun berlari meninggalkan Om Adi yang terkapar disana.
Saat kakinya melangkah masuk ke ruang tamu, ada sosok terbaring di atas kasur dan tertutup kain. Kaki Bang Zaldi terasa ringan, ia terduduk di lantai. Tangis itu pecah seketika, dunianya runtuh. Bang Zaldi merangkak menggapai jenazah di hadapannya.
"Jangan ambil Arnesku Tuhan..!!!!!!!!"
"Ya Allah Zaldiii.. dengar papa Zal..!!!!" Papa Rinto panik melihat reaksi menantunya.
Bang Zaldi pingsan seketika, nafasnya pun terasa berat.
"Tolong ambilkan oksigen..!!" perintah Papa Rinto pada Om Adi yang berjalan pelan, wajahnya sesekali masih memercing.
:
"Bang Zaldi.. itu Arnes........"
hhgghh..
Bang Zaldi memegang kuat dadanya dan kembali tidak sadarkan diri.
"Lailaha Illallah.. ini bagaimana mau jelaskan. Belum dengar apapun sudah pingsan. Mau di jelaskan.. pingsan lagi" Papa Rinto kelabakan dan berusaha menyadarkan Bang Zaldi lagi.
"Nggak kebayang pa, amit-amit kalau Arnes ada apa-apa.. Bang Zaldi bisa mati bunuh diri" kata Bang Bima.
"Nes, tunjukan wajahmu..!! Sadarkan suamimu..!! Istri tidur di sebelahnya saja sampai tidak di lihat. Kacau sekali lah Abang ini" gerutu Bang Seno.
"Yang lain ayo bantu urus persiapan pemakaman bibi. Seno sama papa disini. Bima handle pemakaman..!!" perintah Papa Rinto.
...
Dua setengah jam baru Bang Zaldi tersadar. Tubuhnya demam tinggi. Bang Zaldi sangat syok, tiga jam ia meninggalkan Arnes tapi harus melihat ada jenazah terbujur kaku di rumahnya. Begitu matanya terbuka, dirinya kembali hancur lebur.
"Mamaa.. Ibra lapar..!!" suara Ibra menggugah alam bawah sadar Bang Zaldi.
__ADS_1
"Papaa bangun..!!"
Bang Zaldi langsung duduk.
"Apa aku mimpi??" tanyanya sambil meraba dadanya.
Papa Ibra terperanjat kaget saat seluruh tatapan tajam keluarga mengarah padanya.
"Jangan pingsan lagi. Kamu sudah merepotkan semua orang" tegur Papa Rinto.
"Arnes.. mana Arnes..???" tanyanya mulai kelabakan.
"Pelankan suaramu..!!!! Arnes baru bisa tidur Zal" kata Bang Bayu.
Bang Zaldi melihat kesamping kiri, benar saja.. Arnes sedang tidur di sampingnya. Tak tahan lagi, ia pun segera merengkuh Arnes.
"Arnes sayang, Arnes istriku.. Jangan tinggalin Abang ya dek. Sumpah demi apapun, Abang nggak kuat kalau kamu pergi dari Abang"
"Zal, jangan di guncang dulu le. Istrimu sehat, baik-baik saja. Anakmu nge prank papanya. Hanya kram ringan karena Papanya tadi ngajak 'bercanda' " Mama Anye menarik pelan kedua bahu Bang Zaldi.
"Ya Allah ma, dadaku sampai sakit. Takut sekali rasanya" jawab Bang Zaldi kemudian menata posisi tidur Arnes dengan hati-hati.
"Uusshh.. uusshh.. usshhh.. bobok ya sayang..!! Abang disini" Bang Zaldi menepuk paha Arnes seperti seorang ayah yang menidurkan putrinya.
Tak hanya Papa yang menggeleng heran. Abang Arnes saja sampai menepuk dahi, tak lama ada suara cicak berbunyi. Mata Bang Zaldi berkilat tidak suka. Ia mengambil bantal dan menimpuk cicak itu hingga jatuh.
"Kalau sudah begini repot dah urusannya. Siap-siap saja satu kompi ribet" gerutu Bang Bima.
"Diam Bima..!!!!!!" tegur Bang Zaldi pelan, perlahan ia ikut merebahkan dirinya kembali di samping Arnes.
"Siaaap DanSat..!!!"
Mama Anye akhirnya membawa Ibra untuk membujuk cucunya itu untuk makan karena Ibra sedang rewel sedangkan Ryan anteng dalam asuhan Bi Umi, asisten Mama Anye.
-_-_-_-_-
Arnes belum sepenuhnya bisa menanggapi dirinya juga karena obat yang diminumnya membuatnya benar-benar istirahat total. Malam hari Bang Zaldi tanpa sengaja melihat 'obatnya' di saku baju Arnes. Ingin sekali rasanya mengambil dan menelannya tapi ia sudah berjanji akan menahan rasa sakit itu dan tidak ingin lagi ada obat apapun masuk ke dalam tubuhnya.
Ini hari pertama Bang Zaldi melawan segalanya tanpa obat. Biasanya saat sudah seperti ini, Bima dan Bayu akan mengguyurnya lalu diam-diam memberinya penawar. Tapi ia memutuskan menghindar.
Bang Zaldi bangkit dan mengambil rokoknya, lalu mengambil sesuatu di lacinya. Ia mengendap keluar rumah, senyap, tanpa suara.
Aku akan memakainya jika sudah tidak sanggup lagi. Semoga saja aku tetap sadar. Aku ingin lepas dari semua ini. Abang sayang kamu Arnes.
"Terima kasih kamu masih ada disini menemani Abang" Bang Zaldi mengecup kening Arnes.
"Doakan Abang ya..!!!"
.
.
__ADS_1
.
.